Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 246 Seorang mata-mata


__ADS_3

"Maaf Pak kepala sekolah saya menganggu apa ada waktu "


"Iya Bu Bahar ada apa, ada yang bisa saya bantu. Apa tentang anak beasiswa itu, apa mereka membuat masalah Bu Bahar "


"Tidak Pak, bukan tentang mereka tapi ini tentang petisi "


"Petisi apa ?"


"Begini Pak apa anda mengetahui tentang petisi Pak Farhan "


"Tidak, aku tidak tahu petisi apa "


"Surat pengaduan tentang sekolah kita Pak, pasti anda tahu sesuatu tentang itu "


"Sura pengaduan ? sepertinya tak ada Bu Bahar. Jangan mengada-ngada "


"Begini Pak ada murid yang berbicara pada saya "


"Siapa dia, beritahu aku "


"Emm, ada pak intinya ada yang berbicara pada saya"


"Siapa saya harus tahu siapa orang itu, dia sudah memberikan kebohongan pada Bu Bahar. Saya harus menegurnya siapa dia Bu "


"Menurut saya dia tidak akan berbohong tentang masalah ini Pak. Untuk apa dia berbohong"


"Saya tahu Bu Bahar sangat menyayangi anak-anak di sini, tapi Bu Bahar tidak bisa percaya langsung pada mereka. Mereka itu bisa saja berkata mengada-ada saja. Kenapa Ibu langsung percaya katakan pada saya siapa orang itu ?"


Bu Bahar hanya diam saja lalu kepala sekolah melanjutkan kata-katanya " Lebih baik ibu tinggalkan saya, pekerjaan saya masih banyak. Ingat jangan terlalu percaya pada murid-murid disini mungkin mereka hanya ingin membuat lelucon saja bersama ibu jadi lebih berhati-hati dan lebih pintar saja ya Bu"


Bu Bahar hanya menganggukan kepalanya saja. Lalu keluar dari ruangan kepala sekolah. Tapi dirinya masih saja curiga dengan gelagat kepala sekolah seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Bu Bahar akhirnya dan kembali ke ruangannya dia masuk kedalam gudang dan mencari berkas-berkas Pak Farhan.


Dari laci satu ke laci seterusnya, lalu Bu Bahar mencari ditumpukan kardus yang berisi berkas- berkas dan ketemu ada tulisannya kalau ini milik Pak Farhan.


Dengan langkah cepat, Bu Bahar membawa semua berkas ini keruangannya. Jangan sampai ada orang yang tahu kalau dirinya mengambil berkas-berkas Pak Farhan.


Bu Bahar langsung membongkar semuanya dan mencari apa yang dia butuhkan. Satu persatu dicek dan tak ada yang aneh.

__ADS_1


Namun saat membuka satu makalah ada sesuatu yang menyelip Bu Bahar mengambilnya dan segera menyimpannya didalam tasnya. Takut-takut ada kepala sekolah yang datang keruangannya.


...----------------...


"Maaf saya menganggu waktu anda Tuan Adi "


"Tak apa Renaldi ada apa, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku. Kau sudah menata-matai Ayu kan "


"Sudah Tuan, sepertinya Ayu sedang ada masalah tapi saya tidak bisa membuatnya untuk jujur pada saya. Dia selalu saja bungkam dan tidak mau mengatakan apa masalahnya pada saya, bahkan saya sudah memancingnya untuk berkata yang sejujur-jujurnya apa yang terjadi padanya di sekolah tapi dia tidak mau menceritakan semuanya Tuan, tapi masalah ini berhubungan dengan Aliya aku yakin dialah pembuat onarnya "


"Kenapa kau bisa sangat yakin sekali "


"Begini Tuan selama saya mengajar Aliya tidak pernah patuh ataupun hormat pada saya selayaknya pada guru. Dia menjadi seorang bos di sekolah itu dan memerintah murid-murid yang lain. Itu seharusnya tidak terjadi kan di sebuah sekolah. Sepertinya Tuan harus cepat bertindak sebelum semuanya terlambat dan beberapa kali saya juga melihat Aliya berbicara dengan Ayu. Seperti bertengkar dan juga dengan Andaru sepertinya mereka punya masalah Tuan"


"Baiklah besok aku akan pergi kesekolah, kau hanya perlu awasi Ayu saja disana. Jika ada masalah apapun kau beritahu aku. Aku pasti akan membantumu "


"Baik Tuan "


Sambungan langsung diputuskan dari Tuan Adi. Pak Renaldi menyimpan ponselnya dan bersiap untuk pulang. Sebenarnya dirinya disekolah ini bukan semata-mata menjadi guru.


Tapi dirinya adalah anak buah Tuan Adi yang mencari keberadaan anak tuan Adi, yaitu Cempaka. Makannya dirinya dimasukan kesekolah ini untuk memata-matai Ayu.


...----------------...


"Ayu "


"Iya Bu "


"Lebih baik kau pulang. Ini sudah malam bagaimana kalau orang tua mu mencari. Biar buku-buku ini dibereskan nanti saja ya, nanti pagi kau bisa datang kemari lagi"


"Tidak bisa Bu, aku pagi-pagi harus mengepel lantai. Aku tidak akan punya waktu untuk ke sini, akan ada waktu nanti sore besok aku ke sini lagi. Makannya sekarang aku harus membereskan tugas ini dulu agar besok tidak menumpuk"


"Kau yakin"


"Tentu aku yakin Bu, tak masalah aku membereskan buku ini sekarang. Aku juga sudah memberitahu ibuku"


"Baiklah ibu tinggal ya"


"Iya Bu"

__ADS_1


Ayu segera membawa buku-buku yang dia bawa, lalu masukkan ke dalam rak satu persatu Ayu susun dengan rapih .


"Kau sangat suka dihukum ya "


Ayu membalikan badannya ternyata itu Andaru mengagetkan saja "Bisakah kau tidak mengagetkanku seperti hantu, aku tak suka itu "


"Aku sama sekali tidak mengagetkanmu. Boleh kubantu"


"Tidak usah, aku bisa mengerjakannya sendiri. Lebih baik kau pulang daripada nanti bermasalah dengan pacarmu itu. Pacarmu itu kan sangat sensitif "


"Aku akan bantu"


Andaru mengambil buku-buku yang belum dibereskan dan kembali berhadapan dengan Ayu.


"Kenapa kau tidak pernah melepaskan gelang itu, gelang yang selalu mempertemukan kita"


"Maksud mu gelang ini " sambil mengangkat tangannya yang memakai gelang.


"Iya gelang itu"


"Pasti aku akan selalu pakai gelang ini, karena gelang ini adalah pemberian dari Sinta. Ini adalah kado ulang tahun darinya aku tidak mungkin melepaskannya"


"Seberapa berartinya Sinta untukmu"


"Sangat berarti, sampai-sampai tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri dan aku sangat-sangat menyayanginya. Dia adalah bagian dari hidupku tapi setelah masalah itu, setelah orang yang telah menabraknya tidak bertanggung jawab dan sekarang dia tidak bisa berjalan rasanya hidupku hampa "


"Bukannya sekolah sudah menawarkan juga kan pada Sinta untuk bersekolah di sini"


"Apakah kau tidak berpikir. Apakah harus Sinta pergi ke sekolah kemari menggunakan kursi roda. Apakah kau ingin pacarmu mengolok-olok temanku itu"


Ayu yang kesal memberikan semua buku pada Andaru dan kembali mengambil buku yang baru, tapi Andaru malah mengikutinya dari belakang "Maafkan aku jika menyinggungmu"


"Sudahlah tidak usah memikirkan hal itu lagi. Kau tahu kan aku sangat sensitif jika ada yang menanyakan tentang Sinta. Apalagi seperti mu yang meremehkannya"


"Aku tidak meremehkannya yah, aku hanya bertanya saja "


"Sudah kalau kau memang ingin membantuku maka bantulah. Jangan banyak bicara dan jangan mengajak ngobrol. Aku sedang kesel padamu Andaru "


Ayu melengos pergi dari hadapan Andaru dan menyusun kembali buku-buku yang tadi dirinya bawa. Ingin cepat selesai dan pulang saja.

__ADS_1


__ADS_2