Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 192 Kematian Cempaka


__ADS_3

Mobil berhenti dan Bella, Adi juga Zack turun dari dalam mobil, mereka berjalan beriringan masuk kedalam sebuah markas, sepi tak ada orang.


"Adi mau apa kau kemari "


Adi tak bicara dia langsung mencekik laki-laki itu dan membantingnya "Apa-apaan ini " teriak seorang perempuan.


Bella langsung menodongkan pistolnya "Duduklah jika kau masih ingin hidup, bekerja samalah dengan kami maka kau akan selamat"


"Kau ini siapa "


"Aku bilang duduk " teriak Bella.


Dengan patuh perempuan itu duduk dan Zack memborgol perempuan itu. Adi mengeluarkan foto anaknya Cempaka. "Kau lihat foto ini dengan baik-baik, anakku hilang dan ada komplotan mafia yang telah bekerja sama dengan seseorang. Kau juga ikut terlibat kan bersama Mario"


"Kau datang hanya untuk menanyakan itu saja Adi, kenapa tidak lewat telepon saja. Aku sama sekali tidak ikut dengan komplotan itu, aku sudah lama berhenti untuk menjadi seorang mafia. Aku ingin hidup biasa-biasa saja seperti orang lain. Aku tidak tahu tentang anakmu yang hilang dan aku juga tidak ikut dalam komplotan itu"


"Bohong, aku tidak pernah percaya dengan orang sepertimu Zean "


"Aku tidak peduli yang terpenting aku sudah mengatakan dengan jujur, kalau aku tidak ikut komplotan itu dan aku tidak tahu menahu tentang anak perempuanmu. Bahkan aku tidak tahu kalau kau sudah menikah dan mempunyai anak. Aku sudah meninggalkan dunia hitam itu Adi, sudah lama jadi jangan melibatkan aku lagi"


Zack tiba-tiba memukul perempuan itu yang sudah diborgol tadi, Bella langsung menahan tangan Zack yang akan memukul untuk kedua kalinya.


"Jangan sakiti dia"


"Aku sudah mengatakan dengan jujur Adi, jangan sakiti dia, dia pacarku dia tidak tahu apa-apa lepaskan dia"


Adi malah memukul perut Zean lalu Adi mengeluarkan tambang dan membelikannya ke leher Zean, menariknya dengan kuat.


"Katakan dengan jujur Zean "


"Tolong jangan apa-apakan Zean, dia tidak tahu apa-apa dia sudah tidak lagi dunia hitam itu. Tolong jangan sakiti dia sungguh dia sudah berkata jujur"


Tapi Adi tak henti-hentinya memukul Zean, Bella segera melerainya dan berjongkok menatap Zean yang sudah babak belur " apa jaminannya kalau kau tak ikut menculik anakku "


"Kau tahu siapa aku, kau bisa datang kemari lagi dan menghabisi ku jika sampai aku terlibat dalam komplotan itu dan menculik anakmu, untuk apa aku menculik anak Adi, aku ingin melupakan semua masa lalu aku tidak mau terlibat lagi dalam masa lalu itu, tolong jangan apa-apakan pacarku "


"Ya aku tidak akan melakukan apa-apa pada pacaran asal kau berkata jujur"

__ADS_1


"Aku sudah berkata jujur harus bagaimana lagi " teriak Zean yang mulai kesal.


Bella bangkit dan menarik tangan suaminya "Aku sekarang sudah percaya kalau kau berkata jujur Zean" ucap Adi


Adi menyimpan beberapa gepok uang dan pergi begitu saja, pacar Zean segera memeluk Zean dengan erat, dia menangis sejadi-jadinya karena takut dengan komplotan Adi.


"Kemana lagi Zack kita akan pergi"


"Theodore kita akan pergi ke tempat dia Tuan. Sepertinya dia sedang sendirian dan tidak ada siapa-siapa. Jadi kita aman untuk menginterogasinya "


"Baik kita pergi kesana "


Mereka masuk kembali kedalam mobil dan meninggalkan tempat ini.


...----------------...


"Cepat Cempaka jangan lelet, bereskan taman belakang sampai beres dan jangan sampai ada yang terlewat sana-sana cepat kau ini begitu lelet "


"Sebentar Tante, tanganku sakit, lihatlah "


"Tak peduli aku " sambil menepak tangan Cempaka.


"Cepat kau bereskan Taman itu, lihatlah banyak daun kering sapu itu lalu kumpulkan kemari aku tunggu jangan lama 1 jam harus beres"


"Iya Tante "


Cempaka dengan patuh melakukan apa yang Dania katakan, meskipun panas Cempaka terus saja menyapu daun-daun itu dan mengumpulkannya pada satu kresek besar. Setelah selesai Cempaka berlari ke arah Dania "Sudah selesai Tante semuanya"


"Apakah kau ingin makan"


"Iya aku sudah lapar"


"Tunggu di sini"


Cempaka hanya bisa mengganggukan kepalanya, menunggu kedatangan Sania. Sebenarnya dirinya tidak percaya kalau Tante itu akan memberikannya makanan, tapi ya sudahlah tunggu saja. Apakah dia benar akan memberi makanan atau tidak.


Dania datang dan melemparkan nasi itu sampai-sampai terjatuh, Dania mengambil piring itu dan menunjuk nasi yang ada di bawah itu "kau makan nasi itu sekarang juga, ayo cepat "

__ADS_1


"Tapi Tante itu sangat kotor. Aku tidak mau "


"Aku bilang makan ya makan, kenapa kau sulit sekali " sambil mendorong kepala Cempaka kearah makanan itu.


"Aku tidak mau, kenapa Tante begitu jahat padaku padahal aku tidak pernah jahat pada Tante, aku tidak mengenal siapa Tante, tapi Tante memperlakukan aku seperti hewan. Aku ini bukan hewan Tante aku ini manusia. Kenapa kau memperlakukan aku sekejam ini, apa salahku"


"Kau memang pantas diperlakukan seperti ini.


Seharusnya aku lebih-lebih melakukan hal yang lain padamu"


Cempaka mengambil nasi itu dan melemparkannya ke wajah Dania, lalu berlari meninggalkan Dania " heyy kau dasar sialan, kemari kau sini "


Cempaka terus saja berlari menghindari Dania, jangan sampai tertangkap, Dania sudah membawa sapu dan Cempaka tahu apa yang akan terjadi padannya.


Saat Cempaka akan membuka pintu pakaiannya ditarik oleh Dania, lalu rambut Cempaka di jambak dan kepala Cempaka di jedotkan ke tembok "Ampun tante, ampun ini sakit, tolong jangan sakiti aku Tante tolong"


Lalu Dania melempar Cempaka sampai-sampai kepala Cempaka terbentur lagi ke lantai, Cempaka sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Orang-orang yang ada di rumah itu pun tidak menolong Cempaka mereka hanya diam menatap Dania menyiksa Cempaka dengan begitu brutal.


Lalu Dania memukul tubuh Cempaka memakai sapu itu, Cempaka sudah tidak bisa bersuara lagi ataupun bergerak lagi, dia diam kaku darah sudah mengalir dimana-mana.


"Apa yang kau lakukan Dania. Apakah kau gila apakah kau ingin dipenjara atau mungkin kau memang sudah gila menyiksa anak sekecil ini seperti itu. Cempaka Cempaka bangunlah "


Dodi menghampiri Cempaka dan memangku kepalanya, wajahnya sudah dipenuhi oleh darah, Dodi melihat ke arah Dania dengan benci "Kau dasar anak setan, memperlakukan anak kecil seperti ini Dania, sepertinya memang aku harus membawa ke rumah sakit jiwa atau mungkin ke penjara "


Dodi memegang tangan Cempaka dan mengecek nadinya, lalu dia menggelengkan kepalanya "Kau sudah membunuh anak Adipramana, kau akan habis Dania habis, kau keterlaluan Dania "


Wajah Dania langsung pucat dia diam dan tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan menatap Cempaka. Dania menutup wajahnya "Kau jangan mempermainkan aku ayah"


"Kau sudah membunuhnya kau keterlaluan Dania"


Dodi memangku tubuh Cempaka dan entah membawanya kemana, Dania masih diam tak bergerak, pandangannya kosong.


"Aku tidak mungkin membunuh anak itu, aku hanya memukulnya sedikit. Aku tidak melukainya dengan keras. Aku hanya ingin memberi pelajaran. Aku benci pada ibunya. Aku tidak suka pada ibunya, aku sungguh benci pada ibunya Bella, dia telah merebut apa yang aku mau "


"Tidak tidak itu tidak mungkin, pasti ini hanya mimpi. Mana mungkin aku membunuh anak kecil, tidak mungkin ini pasti mimpi, ini mimpi siapa saja tolong bangunkan aku ini mimpi kan"


"Tidak Nona ini bukan mimpi ini kenyataan. Kau telah melukai anak kecil itu, tuan sekarang sedang menangis kau sudah melukainya kau melukainya terlalu dalam"

__ADS_1


"Tidak mungkin, itu tidak mungkin aku tak mungkin membunuh anak kecil itu, aku tak percaya kalau dirimu ini bisa membunuh, aku tidak mungkin melakukan itu "


Dania menarik rambutnya, dia menangis histeris, masih tak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan, sungguh dirinya tak percaya akan sekejam ini pada Cempaka karena rasa benci pada ibunya Bella.


__ADS_2