
Aliya duduk di tempat tidur, rasanya kenangannya itu sangat membekas sekali. Aliya mengusap kepala Andaru dan Andaru malah terbangun.
"Kau ada di sini Aliya"
"Kenapa kau seperti kaget, sudah biasa kan aku masuk ke dalam kamarmu. Lalu apa salahnya sekarang aku ada disini tak salahkan aku ada disini "
Andaru langsung bangun dan membenarkan pakaiannya maksudnya bajunya yang tersingkap, tak terasa dirinya tadi tertidur sesudah menghubungi Cempaka.
"Bukannya kita tadi sudah bicara ditelepon, lalu untuk apa kau datang kemari malam-malam seperti ini. Aku tidak mau tanggung jawab ya kalau terjadi apa-apa denganmu ingat itu aku tidak mau tanggung jawab "
"Kenapa kau tiba-tiba saja pergi dari sekolah, apa alasannya apa masalahmu"
"Kau tahu apa masalahku, jadi aku tidak perlu mengatakannya lagi padamu kan. Kau sudah tahu semuanya jadi jangan pura-pura bodoh"
"Iya aku tahu semuanya tentang dirimu, tapi bisakah kita kembali seperti dulu lagi. Aku ingin kita seperti dulu lagi banyak kenangan yang begitu melekat dalam benakku. Bahkan kamar ini adalah saksi kalau kita pernah bersama dan saling mencintai. Aku tidak mau kau jatuh pada tangan perempuan lain, apalagi kau sampai mencintainya "
"Kita sudah mencobanya beberapa kali Aliya, tapi itu percuma saja kan. Aku sudah bilang kalau kita tidak akan pernah bisa kembali lagi sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa kembali lagi. Sudahlah Jangan berharap lebih aku juga sudah lelah terus dikejar-kejar olehmu, carilah laki-laki yang cocok denganmu dan memang mencintaimu. Jangan terus berharap padaku"
"Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa. Aku tidak bisa melepas kamu begitu saja andaru. Aku sedang membuat sebuah rencana untuk kita bisa bebas dari kasus itu tapi kenapa kau malah begini "
"Sudahlah jangan libatkan siapa-siapa lagi. Aku sudah capek dengan permainanmu itu jangan melibatkan seseorang lagi dalam masalah ini, apakah kau tidak lelah "
"Kita dari awal ingin mencegah agar Ayu tidak menghancurkan semuanya, agar dia tidak mengatakan apa-apa tapi kenapa sekarang kau seperti menutup-nutupinya dan kau seperti melindunginya saja. Apakah kau yakin mencintainya Andaru bukankah dia adikmu. Bukankah dia adalah adikmu yang hilang itu. Apakah wajar seorang kakak mencintai adiknya sendiri"
Andaru hanya diam saja, dia menatap Aliya "Jawab aku kau mencintai adikmu sendiri, ayo kau bilang jangan diam saja "teriak Aliya.
"Kalau iya kenapa, itu tidak ada urusannya dengan mu, aku mencintai siapapun itu bukan urusanmu. Lebih baik kau pergi sekarang juga dari sini, sudah aku bilang kita tidak akan pernah bisa bersama sampai kapanpun. Aku tidak akan kembali padamu Aliya aku tidak akan pernah kembali. Permainanmu sudah menghancurkan hidupku, dengan membawa perempuan lumpuh itu ke sekolah dan Galang juga membuatnya kacau, aku yang harus menjadi tumbal di sini padahal kalian yang melakukannya"
Aliya langsung menangis mendengar semua itu, dia bangkit dan menatap Andaru untuk terakhir kalinya "Aku tidak menyangka kalau kau akan seperti ini, aku akan bilang pada tante Bella semuanya. Kalau kau telah mencintai adikmu sendiri, bahkan saat aku meminta bantuan padamu untuk menganti kertas DNA pun kau tidak mau, ternyata ini kau ingin serumah dengannya agar kau bisa melakukan apa saja bersamanya. Lihat saja aku akan berbicara pada tante Bella kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Cempaka adikmu sendiri. Aku akan mencegahnya Andaru "
Aliya langsung keluar dan membanting pintunya, Aliya malah berpapasan dengan Cempaka yang sedang membawa cemilan.
"Aliya kau ada di sini, mau bergabung denganmu menonton film tentang perempuan jahat yang selalu membully disekolah "
"Kenapa memangnya kalau aku ada di sini memang masalah untukmu"
"Hanya bertanya saja, tidak usah sewot seperti itu. Aku bertanya baik-baik kau jelek sekali saat menangis, ingusmu juga dimana-mana "
"Sialan kau, akan aku adukan kau dan juga Andaru. Lihat saja aku akan membongkar semuanya. Mungkin sekarang aku menutup nutupi tentang dirimu di sekolah, tapi lihat saja aku akan menghancurkan mu"
"Aku tahu kenapa kau menutup-nutupiku di sekolah, karena kau takut anak-anak malah berteman denganku karena tahu kalau aku adalah anak dari yang punya sekolah. Dan mereka jadi tidak akan takut lagi denganmu. Aku tunggu ya permainanmu yang tak ada apa-apanya. Aku sudah kangen dengan gangguan mu yang tak ada artinya itu "
Cempaka langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Aliya dengan cepat menurunnya tanggal sambil menelpon seseorang. Sungguh sekarang dirinya sangat hancur sekali, mendengar jawaban dari Andaru. Kenapa harus seperti itu, kenapa Andaru membuangnya begitu saja.
Sedangkan orang yang sedang ditelepon oleh Aliya, dia sedang bersenang-senang dengan seorang perempuan di dalam kamar. Mereka entah sedang melakukan apa tapi Galang tidak peduli dengan ponsel yang terus saja berdering dari tadi.
Itu tidak penting yang sekarang paling penting adalah kesenangan ya. Sudah lama dirinya tak melakukan kesenangan yang satu ini karena sibuk mengurusi masalah tabrak lari yang tak ada ujungnya.
...---------------...
Sinta menata foto-foto Andaru yang sudah dirinya sobek-sobek itu. Untung saja tidak dibuang ke tong sampah. Sinta menempelkan kembali foto itu satu persatu. Menyatukan kembali foto itu satu persatu menjadi utuh lagi. Dia tersenyum senang menatap foto Andaru yang tampan.
Begitu bahagia dirinya bisa bertemu dengan Andaru dan mengatakan apa isi hatinya selama ini. Rasanya bahagia sekali bisa bertemu dengan kekasih hati.
Andaru begitu baik dan sangat tampan, dia begitu perhatian padanya tak ada kata-kata yang membuat dirinya sakit hati. Andaru begitu lemah lembut makin cinta kan dirinya.
Sinta mengambil ponselnya dan segera memberikan pesan pada Andaru.
Sinta : Aku kan sudah memberikan nomor ponselku padamu. Lalu kenapa kau tidak memberikan nomor ponselmu kepadaku, seharusnya kita sudah bertukar nomor telepon kan.
Sinta kembali menyimpan ponselnya dan kembali fokus ke foto-foto Andaru, yang sedang dirinya satu-satukan lagi itu.
__ADS_1
...----------------...
Galang yang sudah selesai dengan aktivitasnya bersama perempuan itu segera memakai pakaiannya dan melihat ponselnya. Sinta perempuan lumpuh itu memberikan pesan padanya. Baiklah dirinya sudah lelah menghadapi perempuan ini yang menurutnya sangat terobsesi pada Andaru.
Lebih baik berikan saja nomor Andaru itu akan membuat dirinya lebih tenang dan juga membuat dirinya tidak terlibat dalam masalah ini lagi. Kan orang pertama yang selalu bertukar kabar dengan perempuan ini adalah Andaru.
"Galang aku mau pulang "
"Iya tenang saja aku sudah memesankan taksi. Ayo kita ke depan pasti taksi sudah sampai kesini "
"Iya "
Mereka bergandengan keluar dari kamar itu, benar saja taksi sudah ada di sana. Galang menatap perempuan itu dengan lekat.
"Saat di sekolah kita jangan seperti ini, anggap saja kita tidak pernah melakukan apa-apa ya. Ingat sesuai perjanjian kita "
"Tentu saja aku akan menganggap kalau ini tidak pernah terjadi, aku akan diam di sekolah aku janji itu padamu Galang "
"Bagus gadis yang pintar, kau sangat pintar Keisha kapan-kapan kita harus menghabiskan waktu lagi ya"
"Tentu kita harus menghabiskan waktu lagi, aku sudah tak sabar "
Aliya menatap Galang dan juga Keisha, dia masih ada didalam mobil.
"Yasudah aku pulang. Sepertinya Aliya sangat membutuhkan mu "
Keisha segera masuk kedalam taksi dan meninggalkan kedua temannya itu. Aliya langsung turun dari dalam mobil.
"Jadi dia yang membuatmu tidak mengangkat teleponku. Padahal aku terus meneleponmu dari tadi, tapi kau sama sekali tidak mengangkatnya"
"Aku habis belajar bersama Keisha. Memangnya kenapa"
"Kau belajar bersama Keisha yakin, aku tidak yakin kalian belajar tentang pelajaran sekolah "
Aliya masih diam, dia tidak menjawab pertanyaan dari Galang, "Biar aku tebak pasti ini ulah Andaru kan, aku yakin ini adalah ulah Andaru "
Aliya hanya menganggukan kepalanya saja "Lebih baik kita masuk ya, kita bicara didalam saja agar lebih enak saja "
Aliya lagi-lagi menganggukan kepalanya dan berjalan terlebih dahulu masuk kedalam rumah Galang.
...----------------...
Bu Bahar dan Pak Renaldi sedang merubah kelas menjadi berbeda. Mereka membuat kelas seperti di ruangan sidang.
Bu Bahar yang melihat tingkah Pak Renaldi yang terus menggenggam tangannya lalu mengigit kukunya langsung bertanya "Sepertinya kau sedang gugup Pak Renaldi ada apa"
"Ya beginilah kalau aku sedang gugup, seperti ini sudah kebiasaan aku"
"Semuanya akan baik-baik saja Pak, semuanya akan beres kita sudah selesai mengerjakan ini dan mereka harus mengakui semuanya tentang kesalahan yang mereka lakukan"
"Iya kau sangat teliti melihatku. Begini Bu Bahar bisakah kita tidak memanggil seperti ini saat berdua. Jangan berbicara ibu atau bapak kita kan masih muda, agar lebih akrab saja jangan seperti ini "
"Baiklah aku harus memanggilmu apa" ucap Bu Bahar sedikit canggung
"Panggil saja namaku itu akan lebih nyaman, kita akan seperti kawan "
"Baiklah Renaldi"
"Kau juga bisa memanggil Aldi itu adalah sebutan masa kecilku"
"Baiklah tinggal apa yang belum kita pasang"
__ADS_1
"Itu yang belum kita pasang, mari kita selesaikan Bu Bahar "
Bu Bahar dan juga Pak Renaldi mengambil apa yang belum lengkap di kelas itu. Dia menempelnya di tempat yang tepat untuk anak-anak bisa membacanya dengan jeli.
...----------------...
Pagi sekali Sinta sudah siap dengan seragamnya dan neneknya sekarang membantunya untuk memancingi kancing paling atas. Tapi dia menolaknya saat neneknya sangat lambat sekali dan tidak selesai-selesai.
"Sudahlah nenek, nanti aku minta bantuan Aliya saja, sudah-sudah jangan merepotkan. Aku akan meminta bantuan temanku saja "
"Kau tidak bisa melakukannya sendiri, bagaimana kalau Aliya risih, nenek saja yang melakukannya sama saja kan "
"Tidak masalah, dia kan temanku mana mungkin dia risih aku hanya menyuruhnya untuk mengancingi pakaianku saja"
Sinta mengambil ponselnya untuk menghubungi Aliya, karena sampai sekarang Aliya belum sampai juga di rumahnya. Tidak biasanya "Aku akan menghubungi Aliya dulu. Sepertinya dia telat hari ini, mungkin dia bangun kesiangan "
"Benarkah telat bagaimana kalau dia lupa, biasanya dia tak menjemputmu Sinta "
"Tidak mungkin nenek, tidak mungkin Aliya lupa untuk menjemputku dia sudah berjanji padaku kalau dia akan terus menjemputku setiap hari"
Sinta segera menelpon Aliya tapi tidak diangkat. Sedangkan Aliya sendiri dia sudah ada di sekolah dia sudah duduk manis di depan lapangan bersama Galang dan dua teman laki-lakinya yang kemarin, tapi mereka tidak ikut duduk hanya Aliya saja yang duduk.
Aliya yang mendengar suara ponsel yang terus berdering langsung mematikan ponselnya, muak dirinya melihat telepon dari perempuan ini. Menganggu saja.
"Gimana Galang kalau kita ketahuan, aku takut terjadi sesuatu pada kita. Bagaimana kalau kita dikeluarkan dari sekolah"
"Sudahlah kalian ini diam, jangan terus bicara. Kalau sampai ada yang mendengarnya bagaimana, bisa kacau semuanya kita akan hancur diam kalian semua jangan berbicara terus-menerus berisik "
"Tapi kami takut, bahkan kemarin yang menolong perempuan itu adalah guru langsung bukan orang sembarangan. Ya maksudnya dia bisa terus mendesak perempuan itu untuk jujur, kau tahu sendiri kan bagaimana guru disini "
"Sudahlah kita punya banyak alibi, sudah jangan banyak bicara nanti yang ada kita akan kacau kita akan hancur kalau ada yang tahu sudah diam dan jangan banyak bicara"
"Kalian ini kenapa sih dari tadi terus saja berbisik-bisik seperti itu, ada masalah apa sih sebenarnya "
Galang langsung menatap ke arah Aliya yang masih duduk manis "Tidak ada masalah apa-apa"
"Siapa perempuan yang sedang kalian bicarakan sepertinya sangat penting sekali, sampai-sampai kalian harus berbisik-bisik seperti itu"
"Tidak itu perempuan sebelah sekolah itu tuh. Ini nih dia lagi mau deketin "
"Yang mana"
"Sudahlah Aliya yang cantik sudah-sudah tidak penting itu tidak usah dibahas"
Aliya akhirnya diam tak bertanya apa-apa lagi. Masalahnya saja banyak untuk apa dirinya memikirkan tentang masalah orang lain. Sudahlah biarkan saja.
...----------------...
Saat murid murid kelas Aliya masuk mereka kaget dengan keadaan kelas yang berbeda.
"Ada apa ini, kenapa kelas berbeda sekali. Akan ada apa ini ya " ucap salah satu murid.
Cempaka dan juga Aina yang baru masuk kaget melihat keadaan kelas yang berbeda "Ada apa ini Ayu, kenapa berbeda. Apa akan ada sesuatu yang terjadi itu juga di papan tulis ada tulisan pengadilan perundungan"
"Entahlah aku juga tidak tahu Aina, kita lihat saja apa yang terjadi. Sepertinya akan sangat menyenangkan dan akan ada kejutan "
Sedangkan Lia sendiri dia sudah duduk manis di sana, sejak awal dia sudah ada di sana. Dari tadi mungkin dia datang pagi-pagi. Aliya dan juga Galang yang baru masuk juga kaget melihat keadaan kelas yang seperti ini.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan Galang, sampai-sampai kelas kita berubah menjadi seperti ini harus duduk berdempet-dempetan dengan yang lain"
"Aku tidak melakukan apa-apa Lia"
__ADS_1
Di belakang mereka juga ada Bu Bahar dan juga Pak Renaldi. Mereka sudah siap mengeksekusi seseorang atas apa kesalahan mereka yang begitu fatal dan bisa menghabisi orang.