
"Aku akan membiarkan kasus itu, aku ingin tahu kenapa kamu melakukan itu. Aku tahu kamu yang selama ini selalu bertukar pesan denganku, kenapa kamu lakukan itu kenapa "
"Baiklah pilihan yang tepat, aku juga melakukan itu karena Andaru yang meminta ya aku akui memang aku yang melakukan itu. Aku yang telah mengirimkan pesan padamu "
"Andaru yang meminta tidak salah ? "
"Tidak, tidak ada yang salah "
Galang mendorong kursi roda Sinta, di kepala Galang sudah penuh dengan rencana-rencana liciknya. Sinta pasti dibuat boneka olehnya.
"Kamu tahu Andaru sendiri yang berbicara padaku, kalau kamu yang telah melakukan itu. Dia juga mengaku kalau pada awalnya memang dia yang bertukar kabar denganku, tapi setelah kamu yang melakukannya kan "
"Ya begitu mungkin "
"Katanya kamu mau jujur "
"Aku sudah jujur "
Galang yang akan mendorong Sinta agar terjatuh ke tanga langsung ditahan oleh Sinta "Tidak semudah itu untuk mencelakaiku. Memangnya kamu saja yang bisa licik di sini aku juga bisa"
"Hemm, mau bekerja sama denganku "
Galang membawa Sinta ketempat yang lebih aman "Kerja sama apa. Apa yang kamu tahu tentang Ayu"
"Seharusnya kamu yang lebih tahu. Bukannya kamu teman dekatnya Ayu"
"Ya itu dulu "
"Dulu. Baiklah mungkin kamu sudah ketinggalan informasi kalau Ayu adalah adiknya Andaru, bagaimana info yang sangat mengejutkan untukmu kan "
Sinta menatap Galang "Kamu yakin jangan berbohong"
"Aku tidak berbohong tanya saja pada Aliya, dia tahu semuanya kalau Ayu adalah adik kandung Andaru dan juga Aksa mereka kembar tiga. Jadi bagaimana apakah kamu mau bekerja sama denganku "
"Baiklah aku mau "
Galang membisikan rencananya pada Sinta, Sinta dengan baik mendengarkannya. Sinta menganggukan kepalanya seperti setuju dengan Galang.
...----------------...
Tok tok tok
Bu Bahar langsung masuk saat sudah dipersilahkan masuk oleh kepala sekolah "Pak apa kamu mengetahui tentang kronologi awalnya. Kenapa mereka bisa ditangkap oleh Polisi"
"Belum aku masih mencarinya. Tenang saja semuanya akan baik-baik saja mereka mungkin akan menjadi saksi saja tidak lebih dari itu"
"Aku harus pergi ke sana Pak, aku harus melihat keadaan mereka. Mereka sedang membutuhkanku, apalagi Andaru baru saja kecelakaan pasti dia sangat terpukul tiba-tiba didatangi polisi seperti itu. Apakah Tuan Adi sudah tahu tentang masalah ini "
"Sepertinya kamu lebih baik di sekolah saja, mengajar seperti biasanya aku sudah mengirim pengacara ke sana. Jadi tidak usah khawatir di sini murid-murid kamu bukan hanya Andaru dan Aliya saja. Masih banyak murid yang lain yang butuh kamu ajari "
"Tapi tetap saja mereka murid yang sedang membutuhkan aku sebagai gurunya di sana, aku akan datang ke sana Pak untuk menenangkan mereka, pasti mereka sangat ketakutan sekali "
__ADS_1
"Sudah aku bilang kan tidak usah. Kamu hanya perlu mengajar di sini tidak usah terlalu ikut campur urusan mereka. Semuanya akan baik-baik saja dan untuk tuan Adi tidak usah datang kesana. Sekolah sudah mengurus semuanya "
"Kenapa tidak diberitahu. Dia kan ayahnya Andaru, harusnya dia tahu tentang kejadian ini agar dia bisa datang ke sana dan melihat keadaan anaknya. Aku akan pergi ke sana, aku tidak peduli kamu melarangku atau tidak karena yang pasti sekarang mereka sangat membutuhkan aku. Kamu terlalu tenang Pak dalam masalah ini, padahal masalah ini tidak terjadi setiap hari tapi kamu sangat tenang dan seperti tahu sesuatu"
Bu Bahar langsung saja keluar dari dalam ruangan Pak Ginanjar. Bu Bahar juga menghubungi Pak Renaldi yang belum datang.
"Kamu masih di mana Pak Renaldi. Andaru dan juga Aliya ditangkap polisi"
"Baiklah aku akan menjemputmu ke sana jangan kemana-mana dulu ya. Kita akan pergi ke kantor polisi sama-sama. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya karena saat aku datang semuanya sudah terjadi, mereka berdua sudah dibawa "
"Aku sekarang berangkat ke sana Pak, tunggu jangan kemana-mana ingat"
"Baiklah "
Bu Bahar masuk lagi kedalam mobil dan segera meluncur ke rumah Pak Renaldi. Galang juga tak diberi tahu kalau dirinya pergi kekantor polisi.
...---------------...
Andaru dan Aliya digiring masuk kedalam kantor polisi, wajah Aliya yang sudah sangat pucat. Aliya yang sangat ketakutan sekali disini. Karena memang yang bersalah adalah Aliya bukan Andaru.
Andaru dibawa kesebuah ruangan dengan pengacara sekolah "Aku akan bertanya dan kamu yang akan menjawab semuanya ingat itu harus jujur" ucap inspektur
"Apakah sepeda motor ini tidak asing untukmu "
"Itu punya Aliya "
"Kapan kamu terakhir kali mengunakan sepeda motor itu, kalian kan sepasang kekasih "
Sekarang Aliya yang ditanya dengan pertanyaan yang sama "Waktu itu Andaru meminjam sepeda motorku katanya ingin mengetes mesinya, hampir seharian penuh dia meminjam sepeda motorku dan mengembalikannya lagi, setelah itu aku tak pernah memakainya lagi. Karena aku lebih nyaman mengunakan mobilnya "
"Jadi kamu tak pernah mengunakannya lagi, sekalipun Aliya "
"Ya sudah aku bilangkan aku lebih nyaman mengunakan mobil, aku tak akan kepanasan "
Inspektur mengeluarkan bukti kuat itu dihadapan Aliya, Aliya yang melihat itu kaget. Tapi dia sebisa mungkin tak terlihat mencurigakan.
"Apa pendapatmu tentang helm ini, apa ada yang kamu ingat tentang barang ini "
Aliya menatap inspektur, Aliya makin ketakutan saja saat ditanya seperti itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku sudah bilangkan kalau aku bukan pelakunya aku sudah berkata jujur"
"Mungkin kamu sudah lupa dengan kejadian waktu itu kalau ada laporan diloker kamu ada helm ini. Masih ingat kan Andaru "
"Tapi kenyataannya apa tidak ada kan, kamu juga sudah membongkarnya sendiri kan pihak polisi juga sudah membongkarnya kalau apa yang dituduhkan itu tidak ada dalam loker"
"Tidak ada yang perlu diceritakan, Ayu adalah seorang pembohong kenapa kamu mempercayai perempuan itu. Dia itu hanya mengarang cerita untuk mendapatkan keadilan. Untuk sahabatnya dan menuduh orang-orang yang di sekolah itu "teriak Aliya bahkan Aliya sudah akan menangis saking takut semuanya terbongkar.
"Baiklah. Lalu bagaimana dengan pemutaran film yang ada di sekolah kalian seolah seperti seorang penjahat dan sangat ketakutan. Kalau kamu bukan pelakunya, kamu tidak akan bereaksi seperti itu kamu akan santai dan tidak usah menanggapi film itu"
Aliya mencengkram roknya dengan kuat, amarahnya akan meledak tapi Aliya tahan agar semuanya sesuai rencananya papihnya.
__ADS_1
"Aku tidak takut, aku sangat marah karena namaku jadi jelek kalau sampai ayahku tahu dia akan salah faham " ucap Andaru dengan berani
"Film itu adalah film yang menjebak aku dan Ayu, mereka hanya ingin mempermalukan aku dan Ayu di depan teman-temanku. Makanya aku marah dan kalau sampai Ayahku tahu, Ayah pasti akan menghukum ku karena telah mencium adikku sendiri"
"Kalau sudah tidak ada pertanyaan aku ingin keluar sudah selesai kan"
"Tidak bisa "
"Kenapa ? "
"Andaru lebih baik kamu mengaku saja sekarang, daripada aku menelpon ayahmu. Sidik jarimu ada dalam sepeda motor itu dan sepeda motor itu adalah yang menabrak Sinta"
"Bagaimana bisa "
"Itu tidak mungkin klienku sudah bilang kan, kalau dia tidak pernah menggunakan sepeda motor itu. Mana bisa sidik jarinya ada di sana pasti sudah banyak yang menggunakan sepeda motor itu " bela pengacara Andaru.
"Sidik jari Andaru ada di di setiap body motor itu, apalagi di pedal gasnya banyak sekali sidik jari Andaru, itu adalah bukti yang sudah pasti kalau Andaru adalah pelakunya"
"Pak masa klienku menempelkan setiap sidik jarinya di sepeda motor itu, apakah itu tidak terlihat ganjil, mungkin kalau dia pernah menggunakannya itu wajar karena dia dan juga Aliya berpacaran. Mana mungkin seorang pacar membiarkan perempuan yang dia sayangi mengendarai motornya sendirian. Jadi kalau sudah tidak ada yang dibicarakan kami ingin keluar, inilah alasanmu memanggil kami"
Pak inspektur hanya menganggukan kepalanya saja, dia langsung saja pergi meninggalkan ruang interogasi.
...----------------...
"Ayu apakah kamu tidak melupakan kami, kamu harus menjelaskan sesuatu tentang apa yang kamu akui pada Sinta tadi"
Ayu menarik tangan Aina, Budi dan juga Danu. Mereka berjalan kearah kantin. Ayu juga memesankan mereka minuman terlebih dahulu.
"Jadi jelaskan Ayu, kenapa kami tidak tahu tentangmu padahal kita ini teman "
"Aina aku pernah bilang kan sama kamu kalau aku ingin bicara sama kamu waktu itu, tapi nggak jadi terus sama banyak banget halangannya ini yang aku pengen ceritain. Sebenarnya aku itu sama Andaru dan Aksa itu saudara kembar yang dulu sempat terpisah gitu, kalian jangan salah paham. Sebenarnya aku pengen cerita dari dulu tapi waktunya nggak tepat terus"
"Terus Sinta juga belum kamu kasih tahu "
"Mau gimana kasih tahu, sedangkan dia aja ga pernah dengerin kata-kata aku. Dia itu sibuk dengan pemikirannya sendiri aku sudah capek tahu ga sih, dengan kelakuan Sinta yang terus seperti itu. Sekarang aku mundur untuk menjadi sahabatnya ini tolong kembalikan barang yang pernah Sinta berikan, bukan karena aku sudah menjadi orang kaya atau bagaimana aku sudah lelah ada di sampingnya selalu saja aku yang di pojokan, di sudutkan percuma aku mau bantunya tapi ujung-ujungnya aku yang terus dia salahkan"
Aina langsung menggenggam tangan Ayu "Jangan gitu Ayu, kalau kamu mundur gimana Sinta itu sekarang masih pusing dan dia itu masih plin-plan kamu itu sahabat sejatinya jangan mundur kayak gitu aja"
"Dia pusing sama plin-plan, dia itu udah dewasa harusnya bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah, tapi dia selalu saja menyalahkan aku. Meskipun aku tidak salah dia akan terus menyalahkanku sampai kapanpun Aina. Aku lelah mendengar semua omong kosongnya yang terus saja mengoceh dihadapanku "
"Tapi kita harus menyelesaikan kasusnya"
"Aku bilang aku mundur. Biarkan saja dia yang mencari tahu siapa pelakunya dan aku juga percaya bukan Andaru pelakunya "
"Kalau misalnya Andaru pelakunya bagaimana "
"Aku tahu betul bagaimana Andaru, dia tidak mungkin melakukan itu kalau dia bersalah dia akan mengatakan yang sesungguhnya. Dia akan terus terang tidak akan berbohong "
"Kamu lebih baik sekarang bicara dengan Sinta "
"Apalagi yang perlu kami bicarakan, sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Aina. Dia saja sudah menuduhku seperti itu kalau misalnya kita berdua sekarang bicara yang ada masalah tidak akan pernah selesai. Dia akan terus menuduhku dan terus mengoceh apa kalian bisa memberhentikan kata-katanya itu tidak kan, dia akan terus berbicara sampai dia puas aku malas membahas dia. Kalau kalian memang mau bertemu dengan dia silahkan aku tidak mau "
__ADS_1
Cempaka meminum jusnya, hatinya sekarang sedang sangat kesal sekali. Marah sekali semuanya bercampur aduk.