
Sekarang Aliya dan juga Galang sedang bertemu di sebuah pantai. Mereka akan membicarakan tentang masalah ini karena Andaru tidak bisa lagi dihubungi dia tidak akan bisa lagi bekerja sama dengan mereka berdua.
"Kamu yakin laki-laki itu mengetahui semuanya"
"Iya masa Pak Ginanjar bohong. Aku sudah mengatakan padamu waktu itu, aku harus mengulanginya lagi berapa kali "
"Ya sudah, kamu minta bantuan saja pada papimu lagi apa salahnya"
"Aku sudah meminta bantuan pada Papiku, tapi dia masih mencari cara. Kalau menunggu Papiku bertindak akan gawat semuanya akan terbongkar bisa-bisa aku akan dipenjara secepatnya"
"Itu tidak akan mungkin terjadi, makanya kamu tunggu saja keputusan dari papimu itu"
"Aku tidak bisa begitu saja menunggu keputusan dari Papiku. Aku akan melakukan sesuatu dan ini akan berhasil"
"Sesuatu bagaimana"
"Aku akan bertindak dulu sendiri dan mencari cara agar bisa mengalahkan pamannya Budi"
"Kamu yakin sendiri"
"Iya mau bagaimana lagi. Aku harus bertindak sendiri terlebih dahulu siapa tahu aku bisa melakukannya dan papiku tidak usah turun tangan lagi"
"Aku bisa membantumu. Aku tahu kamu akan butuh bantuanku"
"Kamu ingin membantuku"
"Iya aku akan membantumu, aku akan selalu ada di pihakmu"
"Baiklah sekarang kamu harus bisa membuat rencananya lancar"
"Tentu saja "
Galang langsung mencium tangan Aliya begitu saja, tapi Aliya tidak marah dia malah mengeluarkan ponselnya "Aku akan menghubungi laki-laki itu dulu kita jebak dia"
"Baiklah "
"Halo Tuan Dion, ini aku Aliya kamu masih ingat kan dengan aku yang tadi siang"
"Tentu saja aku masih ingat"
"Untuk masalah tadi mari kita bicara besok, aku tidak bicara pada Papiku lebih baik kita selesaikan saja masalah ini berdua bagaimana"
"Kamu tidak berbicara pada papimu ? Itu lebih bagus itu sangat bagus kalau kamu tidak bicara pada orang tuamu"
"Baiklah kita ketemu besok ya"
"Tentu baik kita ketemu jam berapa "
"Sebelum aku berangkat sekolah, aku tunggu di restoran dekat rumahmu"
__ADS_1
Aliya langsung mematikan sambungannya sepihak, dia tak mau mendengar lagi jawaban dari laki-laki itu.
...----------------...
Paman Dion yang memang baru pulang segera masuk rumahnya. Kenapa sangat gelap di mana Budi ? Paman Dion terus melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Budi kamu ke mana. Kenapa rumah sepi seperti ini"
Tak ada jawaban paman Dion terus perjalan kearah ruang tamu, rumahnya begitu berantakan. Sangat berantakan sekali.
"Ya Allah ada apa dengan rumahku ini, kenapa rumahku berantakan seperti ini "
Paman Dion melihat gelas yang pecah,lalu koleksi parfumnya dan banyak lagi barang yang rusak, sungguh ada apa dengan rumahnya ini kenapa begitu berantakan.
"Siapa yang telah melakukan ini pada rumahku, ya Allah kenapa bisa seperti ini "
Paman Dion mencoba untuk menghubungi Budi, tapi nomornya malah tidak aktif. Dengan langkah cepat Paman Dion keluar dari rumahnya tapi malah ada Pak Ginanjar di sana yang mengagetkannya.
"Kamu membuatku kaget saja ada apa kamu kesini "
Pak Ginanjar hanya tersenyum saja dan duduk dikursi yang ada dirumah paman Dion. Paman Dion yang binggung akhirnya ikut bergabung duduk berhadapan.
"Ada apa kenapa kamu seperti orang misterius "
"Tak biasanya kamu datang ke rumahku "
"Pistol ? Tolong jangan apa-apa kan aku sungguh aku minta maaf"
Pak Ginanjar malah tersenyum dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan ternyata itu adalah uang. Pak Ginanjar menyimpan beberapa gepok uang di hadapan Panan Dion.
Lalu kembali mengeluarkan beberapa lagi, sangat banyak sekali yang dikeluarkan oleh Pak Ginanjar bahkan paman Dion yang melihatnya sampai kaget dan hanya bisa melongok saja melihat uang yang begitu banyak dan bertumpuk di hadapannya.
Bahkan tak terhitung olehnya sendiri, saking banyak uang yang ada dihadapannya. Baru pertama kali dirinya melihat uang sebanyak ini.
"Ini uang untukku ya, Tuan Sena sudah memberikan uangnya, dia baik sekali ya "
Paman Dion yang akan mengambil uang itu langsung ditahan oleh Pak Ginanjar. "Tenang dulu, ini bukan uang dari tuan Sena. Ini adalah uang pribadiku "
"Apa yang kamu mau, agar aku bisa mendapatkan uang ini "
"Semua salinan fidio kecelakaan Sinta, semuanya aku ingin rekaman fidio itu tak terkecuali "
"Tidak ada negosiasi juga, kamu hanya boleh menjawab mau atau tidak "
"Maka semua uang ini menjadi milikmu, aku hanya ingin fidio itu dan semua salinannya "
Paman Dion masih diam menatap wajah Pak Ginanjar, masih tak percaya kalau uang ini akan menjadi miliknya.
Uang sebanyak ini, yang tak pernah terbayang oleh dirinya kalau ini akan menjadi miliknya.
__ADS_1
...----------------...
"Kamu yakin Andaru akan pergi sekolah sekarang tangan kamu masih sakit "
"Benar Mama Andaru akan sekolah, tangan kiri kan yang sakit bukan tangan kanan, Andaru masih bisa menggunakan tangan yang satunya lagi"
"Jangan dulu Andaru "
"Hemm, Baiklah aku tidak akan membantah "
Andaru akhirnya tak jadi pergi sekolah padahal dia sudah siap dengan seragamnya, sudah tinggal berangkat.
"Ya sudah kalian bertiga segera berangkat "Ucap Bella pada Aksa, Cempaka dan juga Bianca.
"Iya mah kita mau berangkat "
Setelah berpamitan dengan Bella, mereka bertiga pergi bersama-sama karena itu adalah permintaan Bella sendiri untuk Cempaka, Bianca pergi bersama Aksa saja jangan naik bis lagi.
...----------------...
"Ada apa itu kenapa berkumpul lagi dilapangan "tanya Aina.
"Entah Aina mungkin yang kemarin belum selesai"
Budi melihat kebelakang dan ada Sinta "Kamu lihat putri dari kayangan tidak diantarkan lagi oleh supir pribadinya"
Aina menatap kearah belakang ternyata Sinta "Sudahlah budi jangan mengomentari hidup orang lain"
"Iya iya hanya aneh saja, tiba-tiba dia dicampaka seperti itu "
Aina langsung saja menarik tangan Budi, takut-takut Sinta akan mendengarnya. Malah bisa gawat kan kalau itu sampai terjadi.
"Apakah ini benar Danu " tanya Aina yang sudah selesai membaca yang ada di kaca itu.
"Aku tidak yakin, kamu tahu sendiri kan bagaimana orang-orang disini. Mereka bisa melakukan apa saja"
Pak Renaldi yang baru datang langsung mengernyitkan dahinya saat anak-anak malah berkumpul dilapangan.
"Ada apa ini kenapa kalian berkumpul di sini"
"Bukannya seharusnya kami yang bertanya itu pada Bapak. Ini maksudnya apa Pak ? "
Pak Renaldi segera membacanya, ternyata itu adalah kisah masa lalunya yang pernah membuat seseorang lumpuh dan tak bisa melakukan apa-apa lagi.
Pak Renaldi menatap murid-muridnya "Ya aku tahu, aku pernah melakukan itu tulisan itu sangat benar sekali "
Pak Renaldi langsung saja pergi, dia begitu kecewa dengan Andaru yang telah menyebarkan ini semua. Padahal dirinya hanya ingin menyertakannya saja tapi Andaru malah melakukan ini.
Semua murid kaget mereka malah sengaja memfotonya dan membagikannya, mereka senang bisa mengetahui kelemahan Pak Renaldi. Dia tak akan semena-mena lagi pada mereka.
__ADS_1