
Ayu yang sudah selesai berdandan membantu Aina mengepang rambutnya. Ayu hanya memakai pakaian sederhana saja.
Kemeja warna biru langit dan juga rok berwarna yang senada. Rambutnya tak diapa-apakan didiamkan tergerai saja. Setelah mengepang rambut Aina, Ayu memakai sepatunya.
Aina menatap foto Ayu dan juga Sinta, lalu menatap Ayu "Mamaku kemarin menengok Sinta, katanya Sinta tidak seperti dulu. Dia kecil dan tatapannya juga selalu kosong"
Ayu menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menatap Aina "Iya aku tahu, kecelakaan ini telah merubah Sinta menjadi lebih pendiam dan selalu ingin menyendiri"
"Hemm, kau benar "
"Aku juga tidak bisa memberitahu tentang pesta ini pada Sinta. Aku takut dia drop dan makin kesal pada keadaannya sekarang , aku tidak mau sampai itu terjadi"
Pintu kamar Ayu dibuka dan mamahnya masuk dengan senyum yang dipaksakan.
"Sayang, kapan kalian akan berangkat, itu Budi, Danu dan paman Dion ada diluar menunggu kalian "
"Iya Mah sekarang kita mau berangkat kok "
Ayu dan Aina segera keluar dari kamar, tapi tangan Ayu digenggam erat oleh mamahnya "Mamah ingatkan lagi jangan dekat-dekat dengan keluarga Adipramana "
"Iya Mah, Mamah tenang saja semuanya akan baik-baik saja, aku akan mengigat semuanya "
Ayu segera menyusul teman-temannya yang sudah menunggu, Mamahnya ini sangat ketakutan sekali. Apa sebenarnya masalahnya itu. Sepertinya harus dirinya cari tentang masa lalu mereka ini.
...----------------...
Mereka berlima sudah sampai dipesta itu, begitu meriah sekali dan sudah ada beberapa orang tua disini. Ayu yang sedang fokus melihat sekitar dikagetkan dengan genggaman ditangannya.
Saat Ayu lihat itu Nyonya Bella. Ayu tersenyum padanya, Ayu yang ingin menghindar tak bisa seperti ada ikatan yang mengikat mereka berdua.
"Kau akhirnya datang Ayu, ayo kesana "
Ayu dibawa kearah meja Nyonya Bella dan teman-temannya berbaur dengan yang lain.
"Kau sudah makan Ayu "
"Sudah Nyonya tadi sebelum pergi ke sini aku makan dulu nyonya hanya untuk mengganjal saja"
"Baguslah, bisa tidak kamu memangil ku Mamah "
Aku yang binggung tak menjawab, menatap nyonya Bella yang begitu berharap kalau aku akan memangil dia dengan sebutan Mamah.
Aku yang kasian dan tak mau membuat hatinya sakit akhirnya menganggukan kepalaku "Tentu Mamah,"
Nyonya Bella langsung memelukku dengan sangat erat, dan aku rasakan nyonya Bella menitihkan air mata.
Aliya yang baru datang langsung menghampiri teman-temannya " Mana Andaru "
__ADS_1
"Entahlah kami tidak melihat mereka datang, tapi orang tua mereka sudah datang dari tadi "jawab Cassandra
Aliya membuka ponselnya dan menghubungi Andaru, tapi tak diangkat sama sekali. "Kemana coba dia ihh kesel deh, ditelfon dari tadi ga diangkat "
Sedangkan Andaru dan juga Aksa yang baru datang diam dimobil, mereka melihat panggilan dari Aliya.
"Aku yakin kau tidak akan pernah bisa lepas dari perempuan itu Andaru, kau salah memilih pacar aku sudah bilang kan dari awal kau jangan pernah dekat dengan Aliya, karena kalau kau sudah terjebak dengannya kau tidak akan bisa lepas"
"Ya karena aku penasaran padanya "
"Nah itu, karena penasaran akhirnya begini kan"
"Ya, yasudah ayo kita masuk "
Mereka berdua keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk. Aliya yang melihat kalau Andaru datang segera menghampirinya.
"Ke mana saja kau, dari tadi aku menelponmu sudah 3 jam aku menelponmu dari sejak aku pergi dari rumah. Temui dulu Papihku "
"Sudah aku bilang kan, jauhi aku. Aku tidak mau dekat denganmu kita sudah putus. Jadi kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi kau mengerti kan dengan kata PUTUS"
Andaru melepaskan pegangan tangan Aliya dan pergi begitu saja. Aksa yang dibelakang Andaru berhenti dihadapan Aliya.
"Kalau sudah diputuskan ya sudah jangan dikejar-kejar. Jadilah perempuan terhormat jangan jadi perempuan murahan yang mengajak laki-laki "
"Sialan kau "
"Mah "
"Andaru, Aksa kalian akhirnya datang juga "
"Iya Mah masa kita ga dateng, Ayu ada disini " ucap Aksa sambil menatap Ayu.
"Iya Mamah tadi yang meminta "
Andaru dan Aksa hanya bisa menganggukan kepalanya saja. Mereka berdua senang saat melihat mamahnya lebih bahagia lagi saat bersama Ayu.
...----------------...
"Mengapa kau kemari Dion "
"Kau bertanya kenapa aku kemari apakah kau tak ingat katanya kau akan terus memberikan aku uang, tapi mana ini sudah 1 bulan kecelakaan Sinta tapi kau masih tidak memberikan aku uang"
"Kau tak usah datang kemari, aku pasti akan mengirimnya"
"Iya mana, mana uangnya aku ingin sekarang "
"Nanti akan aku kirim. Apakah kau tidak melihat sekarang sedang acara, apakah kau akan mempermalukanku"
__ADS_1
"Mulut ini bisa langsung berbicara jika kau membohongiku, aku bisa berkoar-koar kemana-mana"
"Setelah beres pesta ini aku akan mengirimkan uangnya"
Ayu yang melihat Paman Dion berbicara dengan kepala sekolah mencoba untuk menguping tapi sulit tangannya terus dipegang oleh Nyonya Bella
Tiba-tiba saja Andaru mencolek dagu Ayu "Kenapa liatin kepala sekolah suka ya "
"Apaan sih engga ya "
"Kirain suka "
Ayu tak menjawab kembali fokus untuk menguping, tiba-tiba kepala sekolah naik keatas panggung dan memulai acara.
"Akhirnya acara bisa diselenggarakan, sekolah Nusa bangsa merah putih sudah berdiri sejak lama dan kami juga sekarang sudah memasukkan 4 orang anak melalui jalur beasiswa. Kami begitu senang mereka bisa masuk kemari. Baiklah kita sambut keempat orang anak ini yaitu Ayu, Aina, Danu dan juga Budi"
Mereka berempat segera maju kedepan, "Untuk Tuan Adi dan nyonya Bella boleh maju "
Setelah semuanya lengkap mereka berfoto dan pesta kembali diadakan. Ayu yang sangat tertarik dengan kue disana langsung mengambilnya.
Baru saja Ayu berbalik malah bertabrakan dengan Andaru, kuenya jatuh, Ayu yang kesal menatap Andaru dengan sengit.
"Aku minta maaf, aku tidak sengaja menabrakmu"
Andaru malah tersenyum dan Ayu segera mengambil kuenya, Ayu yang tak tahu kalau Andaru juga akan mengambil kue itu akhirnya kepala mereka malah bertubrukan.
"Sakit kah "
"Apa menurutmu tidak sakit"
Ayu mengelus-ngelus rambutnya, saat akan pergi Andaru malah memegang tangannya, saat akan dilepaskan gelang mereka malah mengait.
"Lepaskan "
"Sepertinya ini adalah takdir, takdir kalau kita harus berdansa berdua "
"Jangan aneh-aneh Andaru aku tak mau "
Andaru malah menarik tubuh Ayu dan segera membawanya berdansa, Ayu mencoba melepaskan gelangnya tapi Andaru malah makin merapatkan tubuh mereka.
Ayu menatap mata Andaru yang juga menatap dirinya, Ayu yang malu menundukan kepalanya lalu kembali mendongak dan bertatapan.
Andaru tersenyum pada Ayu. Mereka berdua tak menyadari kalau dimeja tengah ada seseorang yang sedang marah.
Orang itu adalah Aliya, Aliya marah melihat Andaru berdansa dengan Ayu. Tangannya sudah mengepal dan ingin menjambak Ayu.
Bahkan matanya tak mengedip terus saja menatap kearah Andaru dan juga Ayu.
__ADS_1