Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 247 Terbongkar isi petisi itu


__ADS_3

Bu Bahar diam di sebuah danau sendirian seperti sedang menunggu seseorang. Dia menunggu dengan sangat gelisah dan benar saja datang Pak Renaldi dan langsung bergabung dengan Bu Bahar.


"Tempat yang bagus Bu Bahar. Aku suka kau memilih tempat yang tepat untuk kita bicara"


"Maafkan aku telah menelponmu malam-malam Pak "


"Tak masalah Bu Bahar, ada yang bisa kita bicarakan"


"Tentu Pak, ada sesuatu yang penting tadinya aku ingin bicara di sekolah, tapi aku merasa tak aman jadi lebih baik di sini saja. Akan lebih aman juga kan dan tidak akan ada yang menguping juga. Takut-takut nanti tentang permasalahan ini akan bocor"


"Tentu tak masalah, aku juga tadi pulang lebih awal karena memang pelajaranku juga sudah beres kan"


"Aku tidak bisa menahannya sampai besok Pak, makannya aku langsung menelpon Bapak meskipun rasanya tidak sopan menelpon malam-malam seperti ini. Ini begitu gawat Pak"


"Ada apa Bu Bahar "


"Lebih baik Bapak duduk dulu ya"


Dengan patuh Pak Renaldi segera duduk, lalu Bu Bahar mengeluarkan kertas yang tadi dia bawa dari sekolah dan menunjukkannya pada Pak Renaldi.


"Ini Pak aku ingin menunjukkan sesuatu pada anda, surat pengaduan Pak Farhan tentang sekolah"


"Kantor pendidikan "


Pak Renaldi langsung membaca surat itu "Saya Farhan guru bahasa Indonesia di Nusa bangsa merah putih. Tulisan petisi ini adalah sikap tegas saya terhadap perundungan yang terjadi di sekolah tempat saya bekerja. Setiap hari saya melihat siswa-siswi saling menggertak tapi ada beberapa yang mencolok dan merekalah yang selalu merundung temannya. Saya sudah hampir putus asa untuk menghentikan perundingan ini. Saya tak di anggap serius saat menyampaikan situasi ini kepada dewan sekolah. Saya bahkan memperhatikan bahwa kepala sekolah kami berusaha untuk menutupi semua masalah yang terjadi di sekolah. Dia menutupi tentang masalah perundungan yang terjadi di sekolah, bahkan sangat acuh sekali. Sebagai seorang pendidik saya tidak ingin berdiam diri lagi. Saya berpikir untuk keluar "

__ADS_1


Pak Renaldi menatap Bu Bahar sebentar lalu kembali fokus pada kertas itu dan membacakannya kembali "Tetapi, saya tak ingin meninggalkan siswa yang tertindas sendirian. Saya dengan hormat meminta anda untuk menindaklanjuti situasi ini dan siswa yang disebutkan di bawah ini adalah siswa yang telah merundung teman-temannya. Alya, Andaru, Galang, Cassandra, Abigail, Keisha"


"Kenapa kau membawa ini padaku Bu Bahar ?" tanya Pak Renaldi setelah beres membaca surat itu.


"Karena aku hanya percaya padamu Pak, aku tidak bisa mempercayai siapa-siapa. Saat aku tadi menanyakan ini pada kepala sekolah dia sepertinya sedang menutupi sesuatu dan aku yakin dia menutupi tentang perundungan ini. Aku tidak bisa berbicara pada siapapun selain dirimu, aku tahu kalau kau belum lama mengajar di sekolah itu. Tapi aku yakin kau bisa membantu tentang masalah ini. Aku buntu aku bingung harus berbicara pada siapa dan harus mendiskusikan semua ini pada siapa Pak"


"Memang sudah terlihat sih dari awal kalau Aliya itu berkuasa, apakah karena dia pacar Andaru ? "


"Saya juga tidak tahu pak. Mungkin itu salah satu pemicunya karena orang tuanya pun salah satu pemegang di sekolah itu, maksudnya Orang penting di sekolah itu. Makanya dia lebih berani lagi dan salah satu yang disebutkan di sini juga Andaru anak dari pemilik sekolah"


"Ya kamu benar kita akan cari solusinya Bu Bahar, karena kita juga tidak mungkin kan harus terus begini dan perundungan ini akan berlanjut sampai kapan kalau kita tidak bertindak secepatnya"


"Benar Pak, makanya aku mencari dirimu dan kau juga kan yang lebih tahu tentang perundungan ini "


"Iya ya sekarang orang yang sedang dirundung menurutku Ayu. Tapi dia bisa melawan aku tahu dia bisa melawan Aliya seperti ibunya yang bisa melawan siapa saja"


"Tidak. Maksudku kan ibu-ibu itu suka hebat melawan seseorang yang julid makanya Ayu lebih bisa mengontrol semuanya dan bisa melawan Aliya, meskipun dia tahu Aliya adalah orang penting maksudku orang tuanya adalah orang penting di sekolah itu, tapi dia tidak melihat siapa Aliya dan anak siapa dia"


"Iya kau benar Pak Renaldi tapi kita tak punya bukti yang kuat "


"Ayu adalah kunci dari semua ini "


Bu Bahar diam dan menatap mata Pak Renaldi.


...----------------...

__ADS_1


"Aku senang sekali Aina, Ayu kalian bisa berkumpul di sini bersamaku. Kita makan-makan sama-sama ya nenek juga sudah menyiapkan semuanya "ucap Shinta dengan semangat.


"Aku juga senang melihatmu ceria kembali, makanan ini sangat enak seperti biasa. Aku senang karena akhirnya kau kembali seperti semula lagi "


Sinta mencoba menggapai sesuatu, Ayu yang akan mengambilkannya langsung ditolak oleh Sinta "Biar aku ambil sendiri ya, aku akan berjuang kalian lihat aku pasti akan bisa mengambilnya"


Sinta dengan susah payah mengambil gelas yang ada di dekat Ayu. Tapi dia bisa menggapainya Ayu hanya bisa diam dan tersenyum senang. Matanya sudah berkaca-kaca melihat temannya akhirnya ada perubahan juga.


Aina yang mengerti kalau Ayu dan Sinta ingin berbicara empat mata, akhirnya mengajak neneknya Sinta untuk mengambil minuman dan yang lainnya.


Setelah mereka berdua pergi Ayu menghampiri Sinta dan memeluknya dengan erat "Aku senang sekali kau sudah kembali ceria dan seperti dulu lagi, aku senang sekali melihatmu seperti ini lagi"


"Jangan menangis seperti itu, kau selalu saja menangis kalau melihat perubahanmu seperti ini"


Sinta mencoba untuk menghapus air mata Ayu yang sudah turun "Aku senang melihatmu seperti ini, aku sangat bahagia sekali akhirnya aku bisa melihat sahabatku ini kembali ceria seperti semula. Kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama lagi kan"


"Tentu, kita akan bisa menghabiskan waktu itu bersama-sama lagi. Apalagi aku sekarang sudah belajar kembali untuk berjalan. Aku tidak akan pernah putus asa aku akan terus berjuang dan aku ingin sekolah bersamamu nanti di sana. Kita akan sama-sama lagi dan kembali menuntut ilmu bersama-sama juga. Aku sangat ingin pergi sekolah lagi bersamamu"


"Aku senang akhirnya kau semangat lagi untuk belajar berjalan. Aku kira waktu itu kau benar-benar tak akan datang lagi ke rumah sakit untuk kontrol. Aku juga ingin cepat-cepat sekolah bersamamu. Kita bersama-sama lagi seperti dulu"


"Tentu itu pasti akan cepat terjadi. Aku rasa kita lebih baik nonton film romance bersama-sama sudah lama kan kita tidak menonton film seperti itu"


"Tentu ayo kita nonton, aku akan ambil laptop dan juga tisu aku yakin kau akan menangis bila menonton film romance yang akhirnya tak bahagia "


"Kau tahu saja aku tunggu di sini ya, jangan lupa bawa tisu yang banyak "

__ADS_1


"Ok siap, tunggu disini ya "


Ayu pergi masuk meninggalkan Sinta sendirian, nenek dan juga Aina masih di dalam menyiapkan semuanya.


__ADS_2