Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 325 ku kira akan marah besar


__ADS_3

Cempaka yang tadinya mau mengambil minum malah melihat ayahnya yang sedang menunggunya keluar dari dalam dapur, pasti ini menyangkut tentang kesalahan yang dia lakukan disekolah.


"Pasti Ayah ingin marah padaku kan gara-gara aku membully Aliya ya tadi pagi"


"Kamu tahu juga ternyata. Kenapa kamu lakukan itu"


"Hanya ingin untuk membuat Aliya lebih baik lagi dan dia merasakan apa yang pernah aku rasakan, itu saja tidak lebih tidak ada maksud aneh juga aku melakukan itu. Banyak teman yang mengeluh tentang hal itu, makannya aku ingin sedikit menghukumnya. Lelah rasannya terus membiarkan dia yang seperti itu"


"Baiklah aku tidak marah dengan apa yang kamu lakukan, tapi harus hati-hati saja. Jangan sampai masalah kamu ini malah menimbulkan sesuatu yang mungkin fatal untuk kamu nantinya. Aliya memang pantas mendapatkan semua ini, Ayah tahu dari dulu dia selalu membeli anak-anak yang lain tidak pernah ada kata jera dalam hidupnya itu. Selalu saja begitu"


"Kukira Ayah akan marah, mungkin akan menghukum ku karena telah melakukan hal itu pada Aliya yang bisa disebut kalau perempuan itu sangat dekat sekali dengan ayah dan juga mama, sedangkan aku orang baru yang baru datang kemari"


"Sudah segeralah tidur lagi Cempaka, ayah tahu kamu ingin membalasnya jangan fikirkan dia lagi"


"Ayah, aku kira kamu akan marah besar padaku" lagi-lagi Cempaka bertanya itu lagi.


"Tapi ayah suka dengan caramu itu, karena kalau dipikir-pikir dia tak akan pernah bisa berubah. Dia akan terus seperti itu "


"Apakah Ayah mendukung apa yang aku lakukan, dengan melakukan hal seperti itu pada temanku sendiri ? "


"Apapun yang kamu lakukan akan Ayah dukung, selagi masih di batas yang bisa Ayah lihat, tidak usah takut semuanya akan baik-baik saja sayang, semuanya akan aman "


"Baiklah kalau begitu, aku ke kamar dulu ayah"


Cempaka dengan langkah yang cepat segera masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya tadi jantungnya sudah sangat berdetak dengan cepat, takut takut ayahnya marah besar tapi jawaban ayahnya malah seperti itu kan.


...----------------...


Sinta yang sedang mengerjakan PR tiba-tiba saja dikagetkan dengan ponselnya yang berdering, dengan malas-malasan dia mengangkat teleponnya"Hallo"


"Iya ada apa Galang. Aku sedang mengerjakan tugasku jika tidak ada yang penting kita akhiri saja, aku malas berbicara denganmu"


"Ini sangat penting jangan kemana-mana dulu ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kamu tidak langsung mematikan sambungan sepihak ketika ada yang ingin aku bicarakan"


"Baiklah apa, apa yang ingin kamu bicarakan"


"Kita harus membicarakan tentang Ayu"


"Ayu ada apa lagi dengan dia, apa yang perlu kita bicarakan. Apa kamu ingin menghabisinya"


"Dengarkan aku saja dulu, ini akan sangat bagus sekali "


"Baiklah "


Sinta mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan oleh Galang. Ide yang mungkin sangat bagus, ya bagus juga.


...----------------...


Galang mematikan ponselnya dan menatap Aliya "Kamu yakin Galang apa yang kita lakukan ini akan berhasil ? "


"Tentu kapan rencanaku gagal, kamu jangan meremehkan ku Aliya, semua yang aku lakukan akan berhasil tidak akan pernah ada yang gagal sedikitpun. Kita akan memenangkan ini Ayu atau Cempaka aku tidak peduli siapapun dia, yang terpenting apa yang pernah dia lakukan harus segera dibalas"


"Hemm, baguslah mari kita pergi dari sini sebelum ada orang yang datang dan memergoki kita yang ada di sini"


Mereka berdua segera keluar, rencana pertama sudah berhasil tinggal menunggu hasilnya saja. Lihat saja semuanya akan berhasil tak akan ada yang gagal sama sekali.


...----------------...


"Andaru "


"Iya pak "


"Apa yang terjadi di kantor polisi ? "


"Entahlah aku juga tidak tahu tidak penting dan sangat membosankan. Apalagi aku juga tidak salah"


"Kamu masih berbuat baik padaku Pak, setelah apa yang menurutmu orang yang menulis di kaca itu adalah aku"


"Jadi"


"Jadi aku tidak melakukannya, untuk apa aku mau beberkan semua itu tidak ada untungnya juga kan untukku. Mungkin selain aku ada yang tahu tentang itu Pak"


Pak Renaldi diam mendengar kata-kata dari Andaru "Benarkah ada yang tahu lagi"


"Mungkin saja Bapak pernah bercerita pada seseorang. Karena aku tidak pernah membeberkan itu atau membicarakan itu pada siapapun. Bapak mau percaya ataupun tidak ya sudah tidak masalah bagiku"


"Pak Renaldi, ada pak inspektur datang"


"Baiklah mari jangan sampai dia menunggu


Pak Renaldi pergi dengan Bu Bahar, sedangkan


Andaru hanya diam saja. Apakah polisi yang menangani kasusnya atau yang lain ya.


...----------------...

__ADS_1


Cempaka yang baru datang tak langsung pergi ke kelasnya, baru saja mau duduk malah mendapatkan pesan dari Sinta tak biasanya.


Sinta : Tolong aku, aku dikunci oleh mereka di ruangan teater, bisa kamu datang sekarang ke sana tolong.


"Benarkah apakah dia sedang tidak berbohong padaku. Apakah aku harus datang ke sana atau tidak, sialan. Kenapa hati kecilku selalu saja ingin menolongnya, ah harusnya aku tak terlalu baik "


Cempaka segera berlari ke arah ruang teater, dia bahkan menelpon Sinta tapi tak diangkat-angkat, malah terus saja berdering "Angkat kenapa diam saja, kesel aku padanya. Kenapa hati kecilku selalu saja ingin menolongnya, padahal aku sudah tidak mau berurusan lagi dengannya, aku tak mau berurusan lagi"


Cempaka makin berlari dengan cepat, pikirannya dan juga hatinya sangat berbeda sekali. Selalu saja mau ikut campur urusan Sinta padahal tak pernah dianggap.


"Sinta"


"Sinta"


Kembali Cempaka menelfonya tapi malah tidak aktif, malah kakaknya yang menelfon.


"Ada apa Andaru, aku sedang sibuk "


"Di mana"


"Aku sedang mencari Sinta. Katanya dia dikurung dikunci di ruangan teater, aku tidak bisa mendiamkannya hatiku berkata lain maka aku harus menolongnya"


"Jangan kemana-mana, kamu tunggu aku jangan kemana-mana kita pergi bersama jangan gegabah, bisa saja itu jebakan untukmu. Diam disana ingat"


Tapi Cempaka yang panik dia malah mematikan sambungannya dan langsung masuk ke ruangan teater itu, sepi tidak ada orang malahan gelap hanya ada sedikit cahaya.


"Sinta kamu di mana. Di mana kamu disembunyikan Sinta"


Tidak ada suara hening sekali, di sini tidak ada siapa-siap. Cempaka berkeliling tapi tidak ada Sinta, tidak ada di sini baru saja dia akan berbalik untuk pergi lagi malah berhadapan dengan Galang.


"Kamu mengagetkan saja di mana Sinta jangan macam-macam, dimana Sinta sekarang hah jangan bermain-main terus "


"Ayo ikut dulu, ayo kemarilah jangan sungkan akan aku tunjukkan di mana keberadaan teman sejatimu itu, aku tidak akan berbohong "


"Jangan main-main ya denganku"


"Aku tidak main-main denganmu, maka ayo ikuti aku jangan terus marah-marah kapan akan selesainya. Jika kamu terus marah-marah seperti ini"


Cempaka mengikuti langkah Galang dari belakang, tapi bukannya Sinta yang ada malah laptop. Galang lalu mem-play sebuah video di sana ada Sinta yang sedang disandera. Bahkan dia sedang menangis.


"Sinta Sinta"


"Kalau kamu punya masalah sama aku selesaikan sama aku, jangan bawa bawa Sinta "sambil mendorong bahu Galang.


"Tenang dulu"


"Lihatlah pahlawanmu sudah datang kemari, hebat ya datang dengan cepat "


Cempaka tidak memperdulikan itu, dia terus saja melihat video Sinta sedangkan di luar Andaru terus saja menggebrak-gebrak pintu, ternyata pintu dikunci oleh Galang.


"Tenang saja pintu sudah aku kunci, jadi pahlawanmu tidak akan bisa masuk"


"Apa maumu sebenarnya. Kenapa kamu melakukan ini"


"Kamu pasti penasaran apa yang aku inginkan"


Cempaka langsung menatap Galang" Apa yang kamu inginkan, apa hah "


"Aku akan melakukan sesuatu pada Sinta mungkin sesuatu yang akan membuatnya malu "


"Sialan apa maumu sebenarnya dengan melakukan seperti ini, memangnya akan membuahkan hasil apa untukmu. Jangan macam-macam di sini. Kalau kamu punya masalah denganku maka akulah yang menjadi korban bukan dia"


"Aku tidak akan pernah menyimpan video ini sendiri. Benar seperti kataku tadi aku akan menyebarkannya ke seluruh media sosial dan semua orang akan tahu. Tapi ada satu syarat jika kamu tidak ingin video ini sampai tersebar kemana-mana, maka bersujud lah padaku menangislah di hadapanku dan memohon-mohon agar video ini tidak tersebar. Maka aku akan pertimbangkan semuanya, mungkin aku akan menyimpan video ini sendirian dan berhenti mengganggu"


Kakaknya terus saja menelpon, tak henti-hentinya dia menelpon dan mengendor pintu. Bukannya dirinya tidak mau atau butuh bantuan kakaknya tapi dirinya tidak mau merepotkannya. Dia saja sudah pusing dengan kasus yang sekarang yang Aliya tujukan padanya, masa harus ditambah lagi dengan ini.


Galang yang melihat Cempaka diam saja langsung menepuk bahunya "Ayo cepat lakukan. Bukannya kamu ingin temanmu itu selamat maka lakukanlah memohon lah"


"Siapa yang ada didalam buka pintunya, Cempaka jangan seperti ini jangan gila cepat katakan sesuatu"


Galang malah tertawa mendengar suara Andaru, "Lihatlah Cempaka Cempaka dia terus saja berteriak, kasian sekali pahlawan mu "


"Kamu masih tidak mau memohon padaku, lihat saja aku tekan satu tombol saja maka video ini akan tersebar dan Sinta temanmu itu akan terkenal, hebat kan aku bisa membuat orang langsung terkenal dan melejit dalam sekejap"


"Cempaka cepat buka siapa di dalam, buka cepat buka"


"Berisik sekali dia dari tadi, cerewet sekali ah Andaru"


"Lihatlah sekali aku pencet bum semuanya tersebar"


Cempaka sampai kaget saat mendengar Galang mengatakan itu, harus bagaimana dirinya tidak sudi harus menangis di hadapannya dan memohon-mohon.


"Lihatlah dia masih berteriak. Semua ada pada keputusan mu, ada di tanganmu aku akan mulai berhitung 10 9 8 ayo memohon lah padaku 7 6 5 4 3 2 1 Baiklah akan aku sebarkan semuanya"


Baru saja Galang akan melakukannya Cempaka langsung berhentikan "Aku mohon kamu jangan melakukan itu, tolong jangan lakukan itu. Aku minta tolong sama kamu "

__ADS_1


"Kemarilah sedikit mendekat, ayo mendekat lah. Lihatlah mataku katakan lebih dengan menghayati jangan seperti itu, seperti tak benar-benar"


"Aku mohon padamu untuk tidak melakukan apa-apa. Aku akan melakukan apapun yang kamu suruh"


"Nol "


"Tidak " Cempaka langsung memegang tangan Galang


Sedangkan Andaru di luar sana masih saja berteriak, dia terus saja berteriak tak karuan takut-takut adiknya diperlakukan semena-mena atau yang lainnya.


Cempaka menatap ke arah laptop itu, lalu ke arah Galang. Cempaka memijat kepalanya kenapa bisa seperti ini,kenapa malah jadi rumit sekali.


"Apa yang kamu lakukan pada Sinta hah"


"Untuk sekarang tidak, aku tidak melakukan apa-apa untuk sekarang itupun "


Cempaka dengan kesal terus saja memukul dada Galang. Dia sangat kesal dia telah mempermainkannya.


"Apa maksudmu melakukan ini "


"Untuk memperingatimu, mungkin untuk peringatan agar kamu tidak terus menggali tentang kecelakaan itu, stop berhenti jika kamu ingin Sinta selamat maka berhentilah, jangan terus masuk "


"Jangan sebarkan"


"Relakan lah, kasus ini waktu itu sudah ditutup tapi kamu terus saya mencarinya maka harus dibuka lagi kan, berhentilah sudah "


"Cempaka buka jangan seperti ini, Cempaka"


Andaru mencari sesuatu, dia ingin cepat membuka pintu itu, dia terus saja mencari alat untuk membukannya.


"Kenapa harus melakukan ini "


"Ya aku harus melakukan ini karena kamu itu tidak terkendali Cempaka, gara-gara kamu semua orang dipanggil oleh Polisi, ditunjuk sebagai tersangka. Semenjak kamu datang kemari semuanya jadi kacau sangat kacau sekali. Aku berharap kamu tak pernah kemari "


"Sebenarnya di sini kamu ingin menyelamatkan siapa, Aliya atau Andaru, tapi kurasa kamu akan menyelamatkan Aliya sih dan menjatuhkan semuanya pada Andaru kan, aku tahu semua ide busuk mu itu "


"Jika kamu tidak mau aku mempermalukan temanmu. Maka menurut lah ikuti kata-kataku jangan terus membantah dan melakukan sesuatu semaumu. Intinya di sini aku tidak mau ada polisi-polisian lagi dan semenjak kamu datang kemari semuanya kacau satu lagi jauhi Andaru"


"Kenapa aku harus menjauhi kakakku sendiri, aku ini adalah saudaranya dan kamu siapa orang lain tidak ada hubungannya dengan kami"


Sedangkan Andaru di luar sedang berusaha membuka pintu, bahkan hampir terbuka tapi belum semuanya


"Pilih saja Ayu, antara Sinta atau Andaru mau yang mana "


Cempaka segera mengambil laptop itu tapi kalah cepat dengan Galang "Tidak semudah itu, pilihlah salah satu"


"Baiklah aku akan mengikuti kata-kata tapi menghapus video itu"


"Baik aku hapus"


Galang kembali mempermainkan Cempaka dengan berpura-pura akan menyebarkan video itu, tapi tidak dia malah tertawa lagi dan langsung menghapus video itu.


"Aku tidak punya banyak waktu, aku harus pergi sekarang. Ini kuncinya dia ada di lorong sebelah kanan carilah pasti akan ketemu kamu kan pintar"


Galang langsung berlari bertepatan dengan pintu yang terbuka. Andaru sudah datang dia langsung memeluk Cempaka dengan arah "Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu bisa di sini kenapa sendirian "


"Aku sudah bilang kan cari Sinta"


Cempaka langsung melepaskan pelukannya dan berlari ke arah tempat yang diberitahu oleh Galang tadi.


...----------------...


Cempaka langsung membuka pintu, benar saja di sana ada Sinta yang sedang menangis, Cempaka langsung memeluknya dengan sangat erat sekali.


"Ayu bantu aku, tolong tolong mereka mempermalukan aku"


"Pakai dulu pakaianmu yah, pakai dulu " Cempaka mengambil seragam Sinta dan membantu memakaikannya.


"Mereka membuat rekaman, mereka memvideo ku, bagaimana aku takut mereka menyebarkan semuanya Ayu. Bagaimana kalau semuanya tersebar aku akan sangat malu, apalagi dengan aku yang berpakaian seperti ini"


"Tenang aku akan membantumu tenang saja, aku akan membantu semuanya. Semuanya akan baik-baik saja ya"


Cempaka mengambil tas Sinta, sedangkan Sinta dia langsung berhenti menangis, tapi saat Cempaka kembali lagi dia kembali menangis. Apakah benar Sinta diculik dan diperlakukan seperti ini atau hanya ini permainan mereka semua untuk menjebak Cempaka.


"Aku akan membersihkan diriku dulu ya, jangan kemana-mana aku sangat ketakutan sekali"


Sinta langsung membawa kursi rodanya, sedangkan Cempaka masih memikirkan masalah ini kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini ya. Kenapa juga Sinta datang pagi-pagi.


...----------------...


"Tidak mungkin, di sekolah ada pembullyan Inspektur. Selama saya menjadi kepala sekolah di sini tidak terjadi hal itu mungkin anda salah"


"Jangan mempermainkan saya. Saya sudah melihat semuanya petisi itu juga sudah ada di tangan saya. Jangan membuat saya pusing dengan kamu yang terus saja mengalihkan pembicaraan dari tadi. Saya ingin bertemu dengan anak-anak itu dan juga orang tuanya"


"Baiklah tentu"

__ADS_1


Pak Ginanjar langsung menatap Bu Bahar dan juga PakRenaldi, dia begitu marah pada kedua guru itu.


__ADS_2