
"Gimana sayang air terjunnya bagus kan, kamu suka kan di sini"
"Bagus mas hanya masih belum banyak yang datang ke sini ya, kayaknya ini baru ya"
"Iya, ini baru banget dibangun Nona kau suka di sini"
Adi dan Bella segera melihat kearah belakang, kearah laki-laki yang tadi berbicara.
"Kau ada disini, mau apa kau disini ? "
"Kenapa aku juga di sini bayar, jadi aku boleh dong datang kemari memangnya ini punyamu"
"Aku sudah menyewa di sini dan tidak boleh ada orang yang masuk ke dalam air terjun ini utamanya dan kau berani-beraninya ke sini "
"Oh ya, tapi kenapa tidak ada yang melarangku untuk datang kemari atau mungkin kau lupa tidak menyewanya untuk istri kesayanganmu ini. Benarkan istrinya bukan adik atau simpanan ? "
"Kau ya sialan, punya masalah apa kau denganku"
Adi menarik pakaian laki-laki itu, dirinya tak bisa menahan lagi emosi, berani-beraninya dia.
"Sudah mas, kita kemari bukan untuk bertengkar lebih baik kita yang mengalah untuk apa kau bertengkar dengan orang seperti dia "
Bella menarik suaminya, lalu dia yang maju "Jangan pernah sembarangan mengatakan kalau aku perempuan simpanan ingat itu, kau tidak tahu kan kehidupan kami jadi tidak usah asal bicara dan kau juga tidak berhak untuk menghina suamiku"
Adi menarik istrinya dan dia yang maju lagi " tenang Nona, jika kau memang bukan simpanan kau tidak usah marah seperti itu. Aku hanya bertanya pada dia"
"Anjing ya lo "
Adi menghajar laki-laki itu dengan amarah yang sudah tak bisa ditahan, laki-laki itu tidak tinggal diam dia juga membalas pukulan yang Adi berikan.
Mereka sampai terguling-guling ke air dan berkelahi lagi disana " Mas sudah mas, ayo naik mas "
Adi yang sudah puas melihat laki-laki itu tak berdaya lagi segera naik dan menarik tangan istrinya. "Mas"
"Maafkan aku sayang semua jadi gagal, gara-gara laki-laki itu. Aku tidak bisa menahan amarahku aku harus mengeluarkannya, dia sudah sangat keterlaluan dia sudah menghinaku lalu menghinamu juga"
"Tak masalah mas, aku juga jadi tak suka padanya dia terlalu angkuh menyebalkan sekali. Kalau kau tadi tidak memukulnya aku sendiri yang akan memukulnya"
"Memangnya tadinya kau suka padanya"
"Tidak, bukannya aku suka hanya biasa saja lah tidak benci begitu, tapi setelah melihat dia yang angkuh dan sangat menyebalkan sekali aku menjadi benci padanya. Lebih baik kita di pantai saja bergabung dengan yang lain mas, tak apalah tidak di air terjun juga yang terpenting tidak ada pengganggu seperti dia. Aku tidak suka"
Adi memeluk istrinya dari samping dan menciumi pipinya juga " Ya sudah kita bergabung dengan yang lain ya, maafkan aku semua ini jadi gagal "
"Tak masalah mas, sudah aku bilangkan tak masalah kita lebih baik bersenang-senang dengan yang lain saja "
"Baiklah sayang "
Adi kembali mengandeng tangan istrinya mereka sedikit berlari dan tiba-tiba buk, ada yang memukul Adi dari belakang sampai-sampai Adi terjatuh dan pingsan.
"Mass " teriak Bella dengan histeris.
Bella melihat kearah belakang ternyata laki-laki tadi, dia membawa balok besar " kau " teriak Bella.
Laki-laki itu tak tinggal diam, dia juga memukul Bella, tapi Bella masih bisa menghindar " jangan jadi pengecut kau, kalau berani lawan dengan tangan kosong"
"Berani sekali kau, baiklah "
Laki-laki itu membuang baloknya dan segera memasang kuda-kuda tapi Bella yang tak mau berlama-lama menendang laki-laki itu.
"Tak usah banyak gaya lawan saja aku"
"Huff, perempuan yang berani sini maju "
Bella diam, dia tak maju, ditangannya sudah ada pasir untuk melukai matanya.
"Ayo cantik majulah kemari, jangan diam saja "
Bella berlari dan langsung melempar pasir yang dibawa " akhhh sialan kau"
Bella segera menendang perut laki-laki itu, lalu menyiku lehernya dan menonjok hidungnya sampai berdarah.
Setelah melihat laki-laki itu tidak berdaya Bella beralih ke arah suaminya dan mencoba untuk menggusurnya pergi dari sini, tapi sulit sekali. Bella melihat ke kanan dan kiri tapi tidak ada siapa-siapa.
"Mas bertahan lah, ayo bangun mas kita harus lari "
Angin datang, Bella menatap ke arah atas dan ada helikopter yang terbang dan ada beberapa orang juga yang mengarahkan senjata pada mereka berdua.
__ADS_1
"Angkat tangan kalian "
Bella mau tidak mau angkat tangan dan membaringkan suaminya lagi.
"Kalian semua cupu beraninya keroyokan seperti ini "jerit Bella agar mereka semua bisa mendengarnya.
"Tembak perempuan itu "
Dor dor dor
Benar saja Bella di tempak, Bella mencoba untuk menghindar tapi untuk tembakan yang ketiga tidak bisa. Peluru itu mengenai bahu kanan Bella.
"Sialan "
Bella berlari kearah suaminya " Mas bangun mas " sambil menggoyang-goyangkan bahu suaminya.
Bella menahan rasa sakitnya, dirinya harus kuat tak boleh ikut pingsan juga. Sudah ada beberapa orang yang turun dari helikopter itu lalu tiba-tiba saja ada yang memukul Bella dengan ujung pistol yang mereka bawa tepat di kepalanya, sampai-sampai Bella terjatuh.
Bella melihat suaminya dibawa, kepalanya begitu pusing Bella dengan cepat berdiri meskipun dia terjatuh "Lepaskan suamiku. Mau dibawa kemana dia"
Tapi lagi-lagi orang yang membawa pistol panjang memukul Bella tepat di bahunya yang ditembak.
"Masss " teriak Bella saat suaminya sudah dibawa pergi.
Bella dengan sekuat tenaga berdiri dan berlari, mencoba untuk mengejar namun lagi-lagi dirinya ditembaki dan mengenai perutnya.
Bella tak bisa berlari lagi, tak bisa mengejar suaminya, Bella memegang perutnya darah sudah mengalir deras. "Mas "
Bella terjatuh dan pandangannya buram, tiba-tiba bayangan suaminya muncul, bayangan saat sedang bersama dan akhirnya gelap tak tersisa apa-apa.
...----------------...
"Kenapa rumah sangat berantakan Kak Zack, kak Sera " tapi tak ada yang menyahut.
Rizki berlari kedalam rumah lebih dalam lagi, tapi yang dirinya lihat malah para pelayan yang sudah terkapar dengan darah yang sudah mengalir banyak.
Rizki berlari kearah anak-anak yang mengikutinya " ayo lari, kita harus lari "
Rizki memangku Cempaka dan kedua kakaknya mengekor"Mau ke mana kalian, aku mencari kalian tapi tak ada ambil anak perempuan itu dan bawa dia "
Rizky menurunkan Cempaka "Bawa adikmu Andaru bawa dia pergi cepat "
"Mau apa kau kemari untuk apa, untuk apa mengambil Cempaka pergi kau dari sini"
"Hahaha memangnya aku akan takut dengan gertakan mu itu. Tidak ada perempuan tangguh itu kan di rumah ini, maka semuanya akan musnah"
Dor dor dor dor Rizki yang belum menghindar dia tertembak di beberapa bagian tubuhnya, Rizki langsung ambruk dan laki-laki itu menginjak dada Rizki, sampai-sampai darah keluar dari mulut Rizki.
"Kau tidak akan bisa melawan dan kau tidak akan bisa melindungi anak itu, aku akan mengambil anak bungsu dari Adipramana agar dia tahu bagaimana kehilangan seorang anak perempuan, dia belum tahu siapa aku"
"Jangan lari kau Andaru "
Laki-laki itu segera berlari dan mengarahkan anak buahnya untuk mengejar Andaru yang sudah jauh keluar dari dalam rumah.
"Andaru aku capek"
"Kau harus bertahan Cempaka. Sini kau naik ke punggungku aku gendong"
Cempaka dengan cepat segera mengikuti apa kata-kata Andaru. Setelah adiknya ada di punggungnya Andaru kembali bangkit dan berlari. Aksa juga dia memegang pakaian Andaru mereka bertiga mencoba untuk mencari tempat aman.
"Ayo masuk kemari, kita harus diam disini "
Andaru terlebih dahulu memasukan adiknya kedalam sebuah ruangan kecil, lalu Aksa dan dirinya menyusul. Andaru menutup pintunya.
"Andaru aku takut " bisik Cempaka.
"Kau bisa tenang di sini ada aku"
Andaru memeluk kedua adiknya, dirinya sekarang harus melindungi kedua adiknya.
"Keluar kalian, aku tahu kalian pasti mengumpat di daerah sini keluar berikan anak perempuan itu"
Cempaka sudah menangis, "Diam Cempaka jangan menangis aku disini " bisik Andaru.
Cempaka hanya bisa membekap mulutnya dan mempererat pelukannya pada sang kakak.
"Baa tertangkap kalian bertiga "
__ADS_1
Andaru menendang laki-laki itu "Ayo keluar "
"Sialan kalian " teriak laki-laki itu sambil memegang *********** yang ditendang Andaru.
Dor laki-laki itu menembakkan timah panas itu lagi dan mengenai kaki Andaru " Akhh mamah sakit "
Andaru memegang kakinya sakit sekali "Andaru "
"Lari Cempaka cepat lari jangan tunggu aku, Aksa bawa Cempaka lari cepat"
"Tapi kau "
"Lari " teriak Andaru
Mau tidak mau mereka bertiga meninggalkan Andaru yang sedang kesakitan laki-laki itu malah tertawa dan berjalan untuk mengejar Cempaka, dia sama sekali tidak berlari. Andaru memegang kaki laki-laki itu saat melewatinya, untuk tidak mengejar adiknya.
"Tolong jangan sakiti adikku" Andaru mencoba untuk memohon.
"Dasar kau bedebah " buk, laki-laki itu menendang wajah Andaru.
Lalu dia berlari bersama anak buahnya yang lain untuk mengejar Cempaka. Andaru menangis " Mamah aku harus bagaimana "
Andaru menyobek kan kemejanya dan mengikat kakinya "Akhhh "
Dengan sekuat tenaga Andaru bangkit, dia menggusur kakinya untuk mengejar adik-adiknya. semoga saja tak tertangkap adiknya.
"Aksa kita mau kemana ? "
"Sudah jangan banyak bicara ayo kita harus lari"
"Tapi, bagaimana dengan Andaru dia tadi kakinya berdarah aku harus kembali padanya "
Aksa mengusap air mata adiknya " Andaru menyuruh kita untuk pergi, maka kita harus pergi. Ayo keselamatanmu yang utama kita harus lari dari sini"
Cempaka mengikuti langkah kakaknya meski sekali-laki dirinya melihat kebelakang siapa tahu kakaknya ada.
"Hey kalian jangan berlari, aku akan menangkap mu "
"Ayo Cempaka kita harus lari "
Aksa menarik tangan adiknya dan buk Cempaka malah terjatuh" akhh sakit kakiku Aksa, sakit "
"Ayo kita harus berlari "
Aksa menggusur tangan adiknya, "sudah tertangkap tidak bisa pergi ke mana-mana lagi anak bodoh"
Laki-laki itu memangku Cempaka dan membawanya pergi. Aksa mengikutinya dari belakang "Tolong jangan bawa adikku tolong"
"Pergi kau " laki-laki itu mendorong Aksa.
"Aksa tolong aku Aksa"
Cempaka dibawa ke dalam mobil dan mereka langsung melaju meninggalkan rumah Adi yang sudah berantakan. Ada beberapa mobil yang pergi berarti mereka sangat banyak.
"Cempaka " teriak Aksa.
"Aksa mana Cempaka "
"Cempaka dibawa oleh mereka harus bagaimana, bagaimana bilang pada Mama. Bagaimana bilang pada Ayah"
Andaru ambruk dan menangis " Andaru kau baik-baik saja "
Andaru tidak menjawab dia hanya memegang kakinya yang tadi ditembak.
"Kita harus ke rumah sakit ayo aku gendong kita pergi ke rumah sakit"
"Tidak, kita harus mengejar mobil itu dan menemukan Cempaka"
"Tapi, kakimu terluka. Ayo kita obati dulu aku juga khawatir dengan keadaanmu. Maafkan aku tidak bisa melindungi Cempaka"
"Tidak itu bukan salahmu, ini salahku. Seharusnya aku yang menjaga adik-adikku aku yang tidak becus"
Aksa malah ikut menangis saat kakaknya berbicara seperti itu, tapi, Andaru dengan cepat mengusap air matanya dan mengusap air mata adiknya juga.
"Ayo Andaru aku gendong, kalau kakimu terluka seperti ini kita tidak akan menemukan Cempaka, kita tidak bisa berlari kalau mereka mengejar nanti "
"Kita juga harus menyelamatkan Paman Rizki dia pasti terluka parah "
__ADS_1
Dengan susah payah Andaru bangkit dan berlari. Meskipun dengan kaki yang sakit, Aksa yang melihat kakaknya pergi segera mengejarnya dan memapahnya membantunya untuk berjalan. Mereka berlari ke arah Rizki yang sudah tidak sadarkan diri.
Andaru menatap Paman Rizki dengan lekat, lalu terduduk dan diam cukup lama, darah dimana-mana. Apa Paman Rizki akan baik-baik saja.