
Satu minggu kemudian aku yang sudah lama tidak bertemu dengan Sinta segera membawa kue buatan mamaku. Sekarang mamaku sudah terlihat baik-baik dan tidak membahas tentang beasiswa itu.
Dia memberikan kue dan menyuruhku untuk memberikannya pada Sinta, memang saat di rumah sakit aku hanya menengoknya sebentar karena Sinta tidak mau ditengok oleh siapa-siapa. Makanya aku hanya menunggu di luar saja tidak diam lama.
Saat aku mengetuk pintu neneknya lah yang membuka "Akhirnya Ayu kamu datang kemari juga. Sinta dari kemarin nggak mau makan, nenek udah siapin nasi goreng kesukaannya. Tapi dia nggak mau makan dia cuman diem ngelamun saja, tolongin nenek ya bujuk Sinta buat dia makan nenek udah nggak tahu harus gimana lagi"
Ayu memegang tangan nenek dan menganggukkan kepalanya "Aku akan coba bujuk Sinta nenek tenang saja ya, pasti Sinta akan mau makan kalau sama aku"
"Ya udah kamu langsung saja ke kamarnya ya"
"Iya Nek"
Aku berjalan ke arah kamar Sinta dan mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Dengan perlahan aku membuka pintu kamar Sinta dan masuk ke dalam lalu menutup pintu kembali.
Aku melihat Sinta yang sedang diam duduk di kursi roda sambil menatap ke arah luar rumah. Dengan perlahan aku menyimpan kue itu di meja belajar Sinta dan berjalan ke arahnya. Aku berjongkok dan memegang tangan Sinta tapi pandangannya kosong.
"Sinta apakah kau masih marah padaku, aku sungguh minta maaf. Ini semua salahku kau pasti akan sangat membenciku"
Sinta masih diam, pandangannya pun masih kosong dan tiba-tiba saja dia menatapku dan raut wajahnya menjadi marah padaku. Memang pantas ini yang pantas aku terima.
"Selamat ya kalian akan masuk ke SMA nusa bangsa merah putih, aku salut pada kalian bisa dapat beasiswa itu. Aku ikut senang sekali "
"Kenapa kamu bicara kayak gitu, aku nggak akan masuk ke sana kok. Aku akan sekolah di SMA biasa kamu kan yang mau masuk ke sana, harusnya kamu yang masuk sana bukan aku "
"Aku yang harus masuk ? "Sinta menunjuk dirinya sendiri dengan mata melotot" Dengan keadaanku yang lumpuh seperti ini ? Lalu saat nanti di sekolah akan seperti apa aku, mereka akan menghina aku Ayu. Apakah kau tidak melihat keadaanku yang lumpuh, tidak bisa berjalan dan tidak bisa melakukan apa-apa seperti ini. Apa yang bisa aku harapkan dari hidupku ini, hidupku sudah hancur Ayu aku tidak punya apa-apa lagi. Semuanya hancur tidak ada yang bersisa dan masa depanku pun juga hancur"
"Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf karena aku kau seperti ini"
"Tidak ini bukan kesalahanmu, ini memang sudah takdirku yang memang harus lumpuh dan tidak bisa melakukan apa-apa. Sudah orang miskin, lumpuh, tidak bisa mengejar impiannya. Pokoknya aku adalah orang tersial di dunia ini"
__ADS_1
"Jangan seperti itu. Aku berjanji akan menemukan orang yang telah membuatmu seperti ini aku janji padamu"
Mata Sinta langsung meneduh. Dia memegang tanganku dengan erat "Berarti kau harus masuk ke sana, kau harus cari orang itu pasti orang yang telah menghancurkan masa depanku itu adalah anak di sana. Kau yang bilang padaku kan Paman Dion bilang kalau anak-anak yang pakai motor itu masuk ke sekolah itu kan, berarti murid dari salah satu mereka itu ada yang menabrak aku. Kau harus masuk sana Ayu aku mohon kau masuk sana ya"
Aku diam menatap wajah Sinta yang memohon, aku begitu kasihan padanya, tiba-tiba saja dia berkata "Kau jangan mengasihani ku seperti itu. Aku hanya ingin orang yang telah membuat aku seperti ini tertangkap saja agar aku puas dan tidak merasa tidak adil saja"
"Iya, aku akan masuk sekolah itu, aku akan menemukan orang itu, aku janji padamu akan menemukan orang yang telah membuatmu seperti ini. Jadi tolong jangan marah padaku. Ayo kita makan nasi goreng itu ya, nenek sudah membuatkan nasi goreng itu untukmu"
"Tidak mau, nasi goreng itu adalah makanan yang akan aku jauhi. Kau tahu kenapa ? Itu adalah makanan terakhirku saat aku ditabrak jadi aku tidak mau mengingat tentang tabrak lari itu, lebih baik kau pulang saja. Aku ingin istirahat dan merenung"
Sinta mengarahkan kursi rodanya ke arah tempat tidur, dengan cepat aku mendorongnya namun Sinta langsung menatapku dengan tajam "Aku tidak butuh bantuanmu. Aku tidak mau dibantu, aku bisa sendiri kau jangan seolah-olah aku ini tidak bisa melakukan apa-apa. Biarkan aku bergerak sendiri"
"Kenapa kau menjadi sensitif seperti ini Sinta. Aku hanya ingin menolong mu saja tidak ada maksud aku ingin membuatmu merasa kalau aku mengasihanimu "
"Sama saja, sudah kau pulang saja jangan ganggu aku. Aku tidak mau diganggu tolonglah mengerti"
"Baiklah, aku akan pulang tapi kau harus makan kue mu itu ya, itu mamahku yang buat"
"Ya aku akan memakannya, sudah kau pulang saja dan tutup pintunya kembali ya. Aku baik-baik saja dan kau jangan pernah mengkhawatirkan aku, karena aku tidak suka dikhawatirkan dan dikasihani aku masih mampu melakukan apapun sendirian"
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku dan pergi meninggalkan Sinta sendirian di kamar lagi, aku juga tidak tahu kenapa Sinta begitu sensitif padaku.
Seharusnya aku tidak usah berpikir kenapa karena jawabannya adalah aku yang salah, kalau saja aku tidak membuat onar pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Sudahlah aku pulang saja daripada mengganggu Sinta kasihan dia.
...----------------...
Sinta mengambil ponselnya dan menunggu balasan dari seseorang yang sangat dirinya tunggu-tunggu dan tiba-tiba pesan itu datang . Orang yang ditunggu-tunggu oleh Sinta akhirnya ada juga.
Sinta membuka pesan dari Andaru dia tersenyum senang lalu membacanya.
__ADS_1
Andaru : kau ke mana saja, kenapa saat aku telepon dan WhatsApp kau tidak membalas. Apakah kau baik-baik saja selama seminggu ini kau menjauh dan menghilang.
Sinta : Maafkan aku, aku bersama ayah dan ibuku jalan-jalan ke Jepang makanya aku hanya fokus jalan-jalan dan tidak mengecek ponselku, maafkan aku ya tapi mulai sekarang aku akan ada bersamamu aku janji itu.
Andaru : Bagaimana dengan sekolahmu , kau jadi kan masuk ke SMA Nusa bangsa merah putih ?
Sinta : Sepertinya aku tidak akan masuk sana. Ibu dan ayahku ingin aku masuk ke sekolah lain.
Andaru: Kukira kau akan masuk sini, aku berharap kau masuk sini karena aku meneruskan sekolah di sini, mamaku ingin tetap aku sekolah di sini dari dulu, ya dari SD,SMP dan SMA sekarang aku meneruskannya di sini betapa bosannya aku ini 😌
Sinta : Kenapa harus bosan kan jadi tidak ganti-ganti teman.
Andaru: Ya tetap saja bosan, kalau kau nanti masuk sini kau pasti akan kaget karena aku ada dua.
Sinta : Maksudnya ada dua itu seperti apa. Memangnya kau kembar ?
Andaru : Iya, aku kembar tiga aku anak pertama dan adikku laki-laki lalu perempuan.
Sinta : Wow sepertinya sangat menyenangkan. Kalian pasti begitu bahagia.
Andaru : Tidak juga, adik perempuanku sudah meninggal. Dia tidak ada tapi ya sudahlah itu sudah berlalu nanti akan aku kenalkan ya kau bersama Aksa saudara kembarku. Kau pasti tidak akan bisa membedakan kami.
Sinta: Baiklah, kapan-kapan kita ketemu ya kau tidak tidur.
Andaru : Sekarang aku mau tidur, kau juga segeralah tidur.
Sinta: Hemm, baiklah aku juga tidur selamat malam Andaru.
Andaru :Malam.
__ADS_1
Sinta tak membalas lagi pesan dari Andaru, tapi dia menyimpan ponselnya dan tersenyum-senyum senang. Andaru adalah laki-laki tampan yang sudah mengambil hatinya. Rasanya bahagia sekali bisa mengenal Andaru dan berhubungan seperti ini, meskipun banyak kebohongan yang dirinya simpan dari Andaru.