
"Silahkan kalian berkeliling dan cari apa yang kalian mau" ucap Pak Ginanjar
Pak Dion dengan langkah angkuhnya segera berkeliling dan polisi juga berpencar. Pak Dion sudah mencari kemana-mana tapi nihil tidak ada satupun motor di sini kosong.
"Bagaimana apakah ada "
"Jangan kau sembunyikan mereka "
"Kenapa aku harus menyembunyikan mereka, lihat saja apakah ada tidak kan "
"Hemm, aku yakin kau sudah menyembunyikan mereka "
"Silahkan kau cari sepuasnya, silahkan cari "
Pak Dion kembali berkeliling di ikuti oleh Pak Ginanjar, mereka masuk kedalam gudang tapi tak ada juga.
"Kemari Pak Dion "
"Ada apa, "
"Kemari saja "
Lalu Pak Ginanjar membisikan sesuatu pada Pak Dion dan entah apa yang mereka bicarakan. Pembicaraan itu sangat serius dan hanya mereka saja yang tahu.
...----------------...
Pak Dion dan para polisi segera keluar dari dalam sekolah itu, lalu orang-orang yang menunggu di sana berbondong-bondong mendekati Pak Dion ingin tahu tentang anak-anak itu.
"Gimana ada kan anak-anak itu, kenapa ga dibawa kesini ayo dong Dion bawa kemari "
Pak Dion mengangkat kedua tangannya dan menyuruh mereka semua untuk berhenti berbicara dan mendengarkan apa kata-katanya.
"Aku sudah mengecek ke dalam bersama polisi dan juga kepala sekolah di sini anak-anak itu tak ada, mungkin aku salah lihat mungkin mereka masuk ke tempat yang lain kita pulang kita pulang, aku salah maafkan aku karena sudah membuat kalian harus kemari, aku salah lihat ayo ayo "
"Kau jangan main-main Dion, kita semua sudah kemari kata kau tadi melihat mereka semua masuk kemari, tapi kenapa tiba-tiba saat kau masuk tidak ada. Kau jangan berbohong kami sudah kemari untuk menghajar anak-anak itu. Tapi kau malah berbicara seperti itu"
Aku sudah mengecek semuanya, kalian tidak percaya padaku. Aku sudah mengelilingi semua sekolah ini dibantu oleh para polisi, tapi tidak menemukan motor itu sama sekali atau anak-anaknya. Mungkin memang aku salah lihat sudah ayo kita pulang dan tidak usah mengurusi ini semua, ayo pulang, pulang, pulang kita pulang"
"Huuuh kau tak benar Dion.Kau hanya menghabiskan waktu kami saja, kalau tahu akhirnya seperti ini kami tidak akan kemari dan mengikuti perintahmu, dasar pembohong kau "
"Aku ini hanya manusia dan aku juga tidak luput dari kesalahan, sudahlah aku sudah berkata jujur kalau di dalam itu tidak ada orang. Ayo bubar bubar kita pulang kita pulang biar polisi yang mencari penjahat itu. Yang penting kita sudah datang kemari dan membuktikan kalau mereka tidak ada. Mungkin mataku sudah tidak bagus. Ayo cepat pulang, pulang, pulang jangan membuat keributan malu "
Mereka semua segera membereskan barang-barang yang mereka bawa sambil menatap pak Dion dengan kesal, padahal dia sendiri tadi yang mengatakan kalau para geng motor itu masuk sini.
...----------------...
"Selamat malam Ayu, bisa saya bicara dengan anda"
"Iya Pak tentu "
Ayu mengusap air matanya dan melihat pak polisi yang mulai berdatangan menghampirinya. Lalu ada salah satu polisi duduk di hadapannya.
"Kau adalah saksi mata di sana. Aku ingin bertanya padamu Ayu. Apakah kau mengingat plat nomor dari salah satu motor itu"
__ADS_1
"Tidak, aku sama sekali tidak melihat plat nomornya, aku begitu shock melihat Sinta yang ditabrak begitu saja"
"Apakah ada sesuatu yang kau lihat, misalnya seperti logo yang menempel di motornya atau di helmnya ? "
"Helmnya, aku melihat ada salah satu dari mereka memakai helm yang ada stiker dua anak kecil laki laki dan satu perempuan"
"Baiklah ada yang kau lihat lagi"
"Tidak, aku tidak melihat lagi, hanya itu yang aku lihat karena aku syok melihat sahabatku tergeletak begitu saja. Aku tak fokus , aku hanya fokus pada Sinta saja "
"Baiklah, kami akan menyelidikinya. Apakah Sinta sudah baik-baik saja"
"Sepertinya dia masih syok dengan apa yang baru saja dia dengar, mungkin nanti dia bisa untuk diajak bicara saya minta tolong Pak untuk orang yang telah menabrak Sinta agar dicari dan ditangkap, saya tidak rela teman saya menjadi lumpuh gara-gara dia, dia harus tanggung jawab dia harus dipenjara"
"Tentu kami pasti akan menemukan pelaku itu, kami akan terus mencari pelakunya kau bisa tenang ya kami pasti akan membantu kalian"
"Terima kasih Pak "
"Sama-sama "
Pak polisi kembali ke pergi meninggalkan Ayu dan juga ibunya.
"Ayu lebih baik kita pulang saja dulu ya, kau juga harus istirahat kau harus sekolah dan tidak mungkin terus menunggu di sini. Mamah tak mau kau kelelahan mamah juga besok harus ke butik "
"Tapi mah, aku harus di sini menunggu Sinta dia itu tidak punya kerabat lagi selain neneknya dan kita"
"Mamah tahu, tapi kita harus pulang kau harus istirahat tidak boleh menunggu di sini. Apakah kau tidak mau mendengarkan apa kata-kata mamamu ini"
"Baiklah kita pulang mah"
Kadang-kadang kasar dan kadang-kadang juga baik perhatian. Apa mungkin mamahnya punya penyakit entahlah dirinya juga tidak pernah tahu. Kakek juga tidak pernah bercerita.
...----------------...
"Ini ambil uang dan kau tutup mulut, awas saja kalau sampai berita ini tersebar berarti kau yang menyebarkannya "
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi Dion. Kenapa kau tiba-tiba memberi aku uang, aku jadi curiga padamu "
"Ini adalah uang tutup mulut untuk kita, jadi kau jangan pernah bilang pada siapapun kalau aku memberi uang padamu. Hanya kau yang aku beri uang maka berterimakasih lah, aku masih mau membagi uang ini padamu"
"Jadi benar kan mereka semua masuk ke dalam sekolah itu. Aku sudah curiga dari awal padamu. Kau diberi uang oleh kepala sekolah itu"
"Makannya aku memberikan uang tutup mulut ini padamu, karena aku tahu pasti kau akan curiga padaku Tentu aku diberi uang yang banyak dan ini untukmu cukupkan untuk tutup mulut"
"Ini sangat cukup untukku. Terima kasih Dion kau sangat pintar mengambil uang ini dan menutup mulut atas kejadian ini"
"Tentu saja uang segalanya untukku, sudah kau pulang jangan membuat mereka tahu apa yang aku lakukan"
"Ok"
Setelah laki-laki itu pergi, Dion menghitung uangnya kembali dan menyimpannya di laci. Lalu dirinya tersenyum senang saat tadi penawaran kepala sekolah yang sangat menggiurkan.
flashback on
__ADS_1
"Apa kamu gila ingin menyogoku dengan uang, aku tidak akan mau disogok olehmu. Sinta adalah wargaku tidak mungkin aku membiarkan dia tidak mendapat keadilan. Aku tidak akan menerima uang darimu, Sinta adalah warga ku dan aku harus memberi keadilan padanya, aku tak bisa membiarkan dia seperti itu terus "
"Apakah kau tidak tergiur dengan uang yang aku berikan, aku janji akan memberikan 50 juta padamu. Kau hanya perlu tutup mulut dan aku juga memperbolehkan wargamu yang mungkin nanti akan masuk SMA masuk sekolah ini dengan jalur beasiswa hanya 4 orang, aku memberikan 4 orang untuk masuk ke sekolah ini "
"50 juta Apa itu tidak sedikit, aku ingin lebih, lebihi sedikit akan aku terima "
"Itu sudah sangat besar 50 juta untukmu saja, hanya perlu tutup mulut dan diam saja jangan pernah ada yang curiga lagi ke sekolah ini atau datang polisi lagi kemari. Beasiswa untuk 4 orang apakah itu tidak cukup, itu akan membuat anak di tempatmu merasakan sekolah di tempat mewah seperti ini, dan akan terjamin juga mereka akan bahagia sekolah disini "
"Akan aku pikir-pikir dulu, karena aku juga tidak mau Sinta tidak mendapatkan keadilan, dia harus mendapatkan keadilan yang sepadan "
"Aku hanya akan memberi waktu sebentar padamu Mau uang atau keadilan untuk Sinta, kau pilih antara itu. Kalau kau mau kau juga nanti bisa aku beri lagi uang tidak usah khawatir aku tidak akan pelit padamu, aku akan memberikan uang lagi "
"Baik aku ambil uang dan aku akan tutup mulut, aku akan carikan 4 orang untuk mendapatkan beasiswa yang kau bicarakan tadi, ada yang baru keluar sekolah dan akan melanjutkan SMA mereka pasti akan senang dan salah satunya adalah saudaraku, mana uangnya aku ingin sekarang tak mau nanti-nanti takutnya nanti aku berubah fikiran lagi"
Tanpa fikir panjang lagi pak Dion mengambil penawaran itu, dia tergiur dengan uang itu, awal yang ingin memberi keadilan untuk Sinta tak jadi.
"Ini ambil"
Dion mengambil uang di dalam amplop itu dan mencoba menghitungnya, tapi sudahlah ini terlalu banyak Dion menyimpannya di dalam jaketnya. Menyembunyikannya agar orang-orang diluar tidak tahu.
"Deal kita kerjasama dan tidak boleh ada yang membocorkan, kalau kau sampai membocorkan tentang hal ini aku tidak akan segan-segan memutar balikan fakta, ingat itu aku punya segalanya dan apa yang aku mau bisa terwujud "
"Tentu tentu tenang saja, aku bukanlah orang yang mudah membuka suatu aib. Jadi kau bisa tenang rahasia kalian semua akan aku simpan baik-baik, hanya tetap saja uang mu mengalir padaku seperti apa yang kau bilang, kau akan memberikan uang lagi padaku "
"Yah nanti aku akan memberikan uang susulan padamu, tapi kau jangan pernah datang kemari hanya untuk meminta uang padaku, biar aku yang nanti memberi uang padamu "
Iya, iya aku tahu aku mengerti"
"Ya sudah kau usir semua wargamu itu dan jangan pernah datang kemari lagi, bilang pada mereka kalau anak-anak tidak ada di sini, atau mungkin kamu bisa membuat alasan yang lebih bagus. Keluar cepat aku tak punya waktu lagi"
"Baik "
Dion dengan senang pergi keluar, dirinya banyak uang sekarang. Lumayan kan memeras orang kaya. Pasti sebentar lagi juga dirinya akan kaya.
flashback of
"Paman Dion"
Dion tersadar dan melihat Ayu yang ada di hadapannya "Ayu ngagetin aja. Ada apa sih malam-malam kemari"
"Gimana apa mereka ada di sekolah itu Paman udah urus semuanya kan, tadi Paman telepon Ayu katanya para geng motor itu masuk ke sekolah Nusa bangsa merah putih terus sekarang gimana apa udah ketemu ? "
"Kayaknya mata Paman Dion yang nggak baik deh. Paman nggak nemu tadi juga Paman udah cek kok ke dalam sekolah tapi nggak nemu juga, udahlah biar polisi aja yang cari bukti-buktinya kita tunggu aja kabar darinya ya"
Ayu mengebrak meja dan menatap Paman Dion dengan mata yang melotot "Paman Dion jangan macam-macam, Paman tadi bilang kalau Paman yakin mereka masuk ke dalam sana. Tapi sekarang jawaban Paman berbeda, jangan bermain-main denganku ini tentang nyawa ini tentang tanggung jawab Paman " teriak Ayu.
Paman Dion yang kesal langsung bangkit dan mendorong bahu Ayu "Aku sudah berusaha, aku sudah mencari mereka. Lalu kenapa kau menyalahkanku dan menajamkan matamu itu padaku ,aku tidak tahu tentang penabrakan itu mungkin itu sudah nasib Sinta saja tertabrak seperti itu, jangan menyalahkan ku. Bukan aku juga kan yang membuat dia celaka "
"Tapi, kau sudah memberikan aku harapan yang besar Paman, kau sudah membiarkan aku menunggu jawaban yang tidak pasti tapi pada akhirnya kau tidak menemukan mereka, kau sungguh pembohong Paman "
"Sudah sudah kau pergi Ayu, kau hanya membuat ribut saya disini, aku tak punya waktu untuk menghadapi anak seperti mu ayo keluar sana "
"Ayu, ayo pulang apa-apaan kau berbicara seperti itu pada Paman Dion, kau sungguh tak sopan sekali "
__ADS_1
Mamah Ayu segera menarik tangan Ayu untuk keluar dari rumah Paman Dion, tapi tatapan Ayu masih menatap pada Paman Dion yang langsung duduk dan mendelikkan matanya pada Ayu.