Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 207 Jangan berteriak


__ADS_3

"Kamu mau kemana Ayu "


"Aku mau kekamar mandi dulu, kalian duluan saja ke kantin "


"Baiklah Ayu aku tunggu " jawab Aina


Aku hanya menganggukan kepalaku saja dan masuk kedalam kamar mandi perempuan, aku menatap diriku di kaca wastafel.


Aku hanya diam memikirkan keadaan Sinta yang makin kemari makin tak terkendali, dia selalu saja marah-marah bahkan neneknya pun bercerita pada dirinya.


Tiba-Tiba saja pintu kamar mandi terbuka , Ayu yang kaget sampai menjatuhkan ponselnya yang sedang digenggam.


"Ow Ayu aku minta maaf "


"Tak apa "


Ayu mengambil ponselnya dan menatap Aliya yang ada dihadapannya.


"Sekali lagi aku minta maaf karena telah mengangetkan mu "


"Tak apa Aliya, sungguh tak masalah "


"Hemm, ada yang ingin aku tanyakan "


"Apa itu "


"Emm, aku mendengar ada sebuah tabrak lari di daerah mu, apakah kau mengenal orang yang tertabrak"


"Tentu dia sahabatku "


"Ahh maaf aku tak tahu kalau dia temanmu, lalu bagaimana keadaanya apakah dia sudah baik-baik saja"


"Begitulah, kau tahu kan bagaimana orang yang telah kehilangan sesuatu pasti tak akan bisa menerimanya "


"Ya aku mengerti, ya sudah sampai jumpa Ayu"


"Hemm, sampai jumpa "


Ayu membenarkan rambutnya dan keluar dari dalam kamar mandi.


...----------------...


Ayu yang baru saja mau keluar gerbang malah melihat Andaru dan juga Aliya yang seperti sedang bertengkar.


"Jadi kita akan pergi kapan sayang " tanya Aliya pada Andaru sambil mengambil kunci motornya.


"Kembalikan Aliya "

__ADS_1


"Kenapa, ayo kita bicara dan bahas semuanya aku tak mau hubungan kita ini berakhir begitu saja. Apa alasan mu mau pisah dari ku "


"Sudah aku bilangkan aku bosan dengan mu dan aku muak dengan mu "


"Cuman itu alasannya ,kepada hal sepele itu harus dijadikan alasan untuk kita udahan "


"Kamu tahu aku gimana kan ga akan pernah betah dengan satu perempuan jadi udah kita putus "


"Lalu kenapa kau tak menyebarkannya sekalian saja kalau kita sudah berakhir "


"Aku hanya tak mau kau malu saja apa sudah puas "


Andaru mengambil kunci yang dipegang oleh Aliya dan segera melajukan motornya meninggalkan Aliya yang marah, tentu saja dia akan marah.


Ayu yang takut Aliya marah padanya segera pergi dan pulang, sekarang adalah waktunya dirinya menemui Sinta pasti dia sangat kesepian sekali.


...----------------...


"Kenapa Andaru tak ada memberi kabar, ayo beri aku kabar sialan kau Andaru, apakah kau ingin mempermainkan ku "


Sinta melemparkan ponselnya ketempat tidur karena Andaru tak ada memberinya pesan, biasanya Andaru selalu setiap saat memberinya kabar.


Sinta yang moodnya sedang tak baik di kagetkan dengan datangnya Ayu. Ayu tersenyum begitu bahagia dan Sinta tak suka melihatnya.


Apalagi saat Ayu memakai seragam sekolah yang selalu dirinya impikan. "Ada apa kau kemari Ayu "


Sinta mendelikan matanya dan membuang muka" Aku tidak mau kemana-mana, apakah kau tak lihat keadaanku yang seperti ini, aku lumpuh dan aku tak akan bisa kemana-mana apakah kau senang saat aku nanti di cemooh oleh orang-orang apakah kau suka itu "


"Kenapa fikiran mu begitu, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan aku ingin menemanimu "


"Aku tak mau jalan-jalan dan aku tak mau ditemani oleh siapa pun termasuk dirimu Ayu, aku tidak mau. Aku tahu kau hanya ingin pamer kan padaku dengan memakai seragam sekolah itu "


Ayu mengelengkan kepalanya tak menyangka Sinta akan berbicara demikian "Aku sama sekali tak ada niatan untuk pamer padamu, aku hanya ingin bersamamu saja Sinta. Baiklah jika kau tak mau aku temani, aku akan pulang dan besok aku akan kesini lagi ya "


"Tidak usah, kau tak usah kemari lagi, aku tidak butuh dirimu, aku tak butuh ditemani oleh mu. Pergi kau dari rumahku Ayu, aku tak mau ditemani oleh mu " jerit Sinta.


Wajah Ayu sudah begitu kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Sinta " Ku kira kita sahabat dekat Sinta, tapi nyatanya seperti ini, kau bahkan tak membolehkan aku hanya untuk menemani mu saja. Aku hanya ingin membuatmu merasa tak sendiri. Aku kesini tak ada niat untuk pamer karena seragam ini, bukannya dirimu sendiri kan yang menginginkan ku masuk sekolah itu ? "


Ayu mengusap air matanya saat Sinta tak meresponnya, malah Sinta menutup pintu kamarnya dengan kasar. Ayu segera pergi dari kamar Sinta, untuk apa disini juga kalau Sinta tak menginginkannya.


Sinta yang sudah kembali lagi ketempat tidurnya mengambil ponselnya dan menelfon Andaru tapi tak diangkat.


"Akhh sialan kemana kau Andaru, apakah kau sedang berpacaran, kau mau menipuku ya "


Sinta melempar ponselnya dan mengatur amarahnya yang sudah mengebu-gebu.


...----------------...

__ADS_1


"Ayu kau kenapa "


"Tidak Mamah aku tidak apa-apa "


Ayu segera berlari kearah kamarnya tapi tangannya sudah digenggam erat oleh ibunya " Ceritakan pada mamah ada apa, apa disekolah kau diganggu ? "


"Tidak Mamah aku baik-baik saja tak ada yang mengganggu ku, aku baik-baik saja sungguh aku baik-baik saja "


"Kenapa ada bekas air mata, jangan berbohong pada mamah Ayu, jangan membuat mamah khawatir ada apa"


"Sinta tak menginginkan aku lagi mamah, dia tak mau bersamaku "


"Sudah mamah bilangkan jangan hiraukan anak itu, dia itu memang seperti itu, kau hanya pergi fokus pada sekolah mu saja . Biarkan Sinta jangan terus menghawatirkan ya"


"Tapi dia sahabat ku mamah, aku tak bisa membiarkannya. Apalagi dia lumpuh gara-gara aku "


"Jangan terus menyalahkan dirimu Ayu, sudah mamah bilang ini bukan salah mu "


"Tetap saja aku yang salah "


Ayu melepaskan pegangan tangan mamahnya dan masuk kedalam kamarnya. Ibu Ayu yang melihat anaknya begitu sedih akhirnya pergi keluar dan akan berbicara pada Sinta.


Tak terima dirinya anaknya sampai sesedih itu, Sinta sudah sangat keterlaluan padahal keluarga dirinya lah yang membantu semua pengobatannya, kalau tak ada dirinya siapa lagi coba.


Tok tok tok


"Ehh mamah Ayu "


"Nek saya mau ketemu sama Sinta "


"Sinta ada dikamarnya "


Dengan cepat ibunya Ayu melangkah masuk kedalam kamarnya Sinta, ternyata dia sedang melihat keluar jendela.


"Sudah aku bilangkan Ayu, aku tak mau ditemani oleh mu, pergi kau " jerit Sinta.


"Kau sudah sangat keterlaluan Sinta "


Sinta yang mendengar itu bukan Ayu segera membalikan kursi rodanya "Maaf Tante "


"Tak seharusnya kau berteriak seperti itu pada anakku, aku tahu anakku yang salah karena telah membuatmu seperti ini, tapi semua ini bukan salah Ayu sepenuhnya kau sendiri yang teledor. Jika kau ingin tahu semua pengobatan aku yang menanggung, aku yang membayar semua biaya rumah sakit, tapi ternyata kau begitu kasar pada anakku "


"Tak masalah jika kau tak memaafkan Ayu, tapi setidaknya jangan mengusir Ayu seperti itu, atau pun berteriak seperti itu. Bicaralah baik-baik dia juga kemari niat baikkan ingin menemani mu "


"Sekali lagi kau kasar pada anakku, akan aku hentikan biaya pengobatan mu itu. Kau tidak tahu siapa keluarga Ayu yang sesungguhnya "


Ibu Ayu pergi begitu saja tak mau mendengarkan jawaban dari Sinta. Biarkan anak itu berfikir.

__ADS_1


__ADS_2