Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 292 kasus selesai


__ADS_3

"Baiklah hari ini kita akan mempelajari sebuah pelajaran yang sangat berarti, kalian sudah membacakan tentang pengadilan perundungan"


"Di sini aku sudah menyiapkan kursi untuk mengadili seseorang, tapi ini hanya drama, jadi kalian bisa tenang jadi siapa yang mau jadi pelaku "


Tidak ada yang mengacungkan tangan, mereka semua diam tak ada yang mau hanya menatap Pak Renaldi dan juga Bu Bahar dengan malas. Pak Renaldi langsung menunjuk salah satu orang "Kau laki-laki berambut merah maju ke depan"


"Kenapa harus aku Pak "


"Ini hanya berakting saja, jadi kau tidak usah takut, tidak ada yang mau maka aku harus menunjuk dari sekian banyak murid di sini. Lalu yang kedua kau yang duduknya paling pojok. Ya kau kau mari kesini dan temani teman mu ini "


"Dan untuk tersangka ketiga kau saja Galang, kau lebih cocok menjadi tersangka maju sekarang "


"Baiklah Pak, karena aku penasaran maka aku akan maju. Kalau tidak mungkin aku tidak akan pernah maju. Aku mau karena penasaran dan ini hanya akting saja kan menjadi seorang aktor aku harus menjadi apa saja"


"Sudahlah langsung saja ke depan dan bergabung dengan kedua temannya Galang "


"Baiklah kita sekarang membutuhkan peran sebagai korban. Siapa yang mau jadi korban di sini hanya peran saja ini tidak lebih"


Lia masih saja menunduk, dia masih takut tapi tiba-tiba saja dengan berani dia mengangkat tangannya "Saya mau Pak menjadi korban"


"Baiklah Lia kemari duduk disini "


"Kita sekarang butuh pengacara untuk membela korban"


"Pak Lia sudah memiliki pengacara. Siapa lagi kalau bukan Ayu yang selalu ada di sampingnya" ucap Aliya sambil menatap Cempaka.


Ayu membalas menatap Aliya dengan sinis, lalu dia mengangkat bahunya dan maju menghadiri Lia. Siapa takut dirinya tak akan takut dengan siapa-siapa.


"Kalau begitu tidak adil masa korban harus punya pengacara, maka aku pun pelaku harus punya pengacara dong Pak" protes Galang.


"Kau boleh memilih siapa pengacaramu"


"Baiklah aku akan memilih Aliya, karena dia orang yang paling pas menjadi pengacaraku dan dia tahu tentang aku. Dia akan membelaku apapun yang terjadi. Jadi Aliya aku angkat kau menjadi pengacaraku"


"Baiklah aku mau jadi pengacaramu, lalu mana naskahnya biar aku baca dulu agar aku bisa memerankan peran ini dengan baik dan benar"


"Tidak ada naskah, jadi kita akan memerankannya seperti hari-hari biasanya saja"


"Baiklah kita mulai Lia adalah sebagai korban dan kau adalah pelaku Galang dan teman-teman mu, lalu kalian yang di depan adalah pengambil keputusan maka kalian harus adil jangan sampai membela yang salah ingat itu "


...----------------...


Sedangkan Budi dia masih sakit. Bahkan dia sedang ada di taman bersama Cassandra, Cassandra bahkan tidak masuk sekolah untuk menjaga Budi.


"Cassandra aku begitu pusing dan kepalaku sakit. Bisakah kau menyembuhkan ku aku begitu kesakitan"


"Benarkah kau sangat kesakitan. Harus bagaimana aku menyembuhkannya"


"Peluk saja aku, aku ingin tertidur dalam pelukanmu"


"Baiklah tapi kau jangan mengorok, tidurnya harus biasa-biasa saja"


"Iya iya hanya biasa saja tidur biasa saja"


"Untung saja kau masuk kriteriaku, jadi kau aku terima"


"Memangnya kriteriamu ada berapa banyak sekali ya" tanya Budi dengan polos.


"Entahlah aku dulu tidak mempunyai kriteria, tapi melihatmu aku jadi mempunyai kriteria laki-laki yang seperti dirimu. Untung saja kan kau mendekatiku dan aku mau bersamamu"

__ADS_1


"Kau ini yah memang benar-benar"


"Kenapa memangnya dengan aku"


"Kau cantik"


"Bisa saja kau"


Casandra langsung memukul kepala Budi, Budi langsung kesakitan dan menetapkan Casandra dengan manja "Kau memukul kepalaku, ya ampun sakit sekali sayang"


"Maafkan aku, aku tidak sengaja mana-mana biar aku obati"


"Baiklah obati cium aku di sini, mungkin akan sembuh cium dulu"


"Kau ini ya"


"Ayo sayang cium aku dulu, baru aku akan memaafkanmu dan rasa sakit ini pun akan hilang"


Dengan malu-malu Cassandra mencium kepala Budi dan Budi juga malah mencium Cassandra. Budi langsung saja membaringkan kepalanya di atas paha Cassandra.


...----------------...


"Misalnya kau Lia sudah dirundung apakah kau akan Bicara pada Kami ? Lalu bagaimana rasanya saat itu ?"


Lia langsung menatap ketiga orang itu, ketiga orang yang telah membuatnya sesak nafas dan hampir mati. Lalu Lia menatap mata Pak Renaldi karena dia takut dengan tatapan Galang yang begitu tajam padanya.


"Aku merasa tidak berdaya Pak, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sangat malu"


"Itu sebabnya kau tidak memberitahu kami, kau menyimpan semua rahasia itu sendirian"


"Aku takut makanya aku tidak memberitahu siapa-siapa. Aku tidak mau orang lain terlibat dalam masalahku dan dia yang menjadi korbannya nanti. Aku juga tidak mau memperpanjang masalah ini dan nantinya malah aku yang akan dirundung kembali"


"Mereka orang berpengaruh di sekolah ini dan aku tidak bisa melawan. Aku tidak bisa memberitahu kelakuan mereka pada siapapun"


Pak Renaldi langsung berbalik ke arah Galang dan teman-temannya" Baiklah sekarang aku akan bertanya padamu. Kenapa kau melakukannya, kenapa kau melakukan peruntungan itu"


"Aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak bersalah dalam hal ini"


"Kita sedang berakting Galang berpura-pura lah kau menjadi seorang tersangka, kita sedang membuat drama di sini"


"Baiklah aku pikir itu hanya sebuah candaan saja, hanya permainan biasa. Sudah biasa kan di sekolah ada peruntungan itu hanya main-main saja. Sesama teman sekelas tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan tidak perlu ada yang ditakutkan. Tujuannya hanya untuk bersenang-senang saja ayolah come on rileks sedikit dan jangan terlalu terbawa suasana"


"Candaan macam apa itu, sampai-sampai harus membully orang "Sela Cempaka.


Cempaka langsung melanjutkan kata-katanya" Kau tidak bisa bersenang-senang menyakiti orang lain seperti itu, itu bukanlah sebuah candaan yang harus dilakukan anak sekolah"


Sekarang Aliya angkat bicara "Aku tidak setuju bukan kesalahan klienku, kalau seseorang tidak mengerti candaan itu bodoh saja dia tidak bisa bermain-main dengan teman-temannya"


"Candaan adalah sesuatu yang membuat orang tertawa. Kenapa kita harus mentertawakan orang yang sedang dipermainkan. Apakah itu menyenangkan jika kau ada di posisi orang itu apakah kau akan senang diperlakukan seperti itu. Penyiksaan fisik dan psikologis bukanlah lelucon"


"Jika Lia tidak menganggap itu begitu serius dan mendramatiskannya, dia bisa bersenang-senang dengan tiga orang ini, bahkan kau juga pengacara"


Teman-teman Aliya langsung bertepuk tangan dengan apa yang Aliya utarakan. Mereka begitu senang dengan ucapan Aliya tapi Cempaka langsung memotongnya. Meskipun mereka masih berisik.


"Aku lebih suka membosankan diam di perpustakaan tidak bermain-main dengan yang lain, daripada bersenang-senang untuk menjatuhkan mental orang lain dan mempermalukan seseorang seperti kalian semua atau bahkan menempatkan nyawa seseorang dalam bahaya. Itu bukan lelucon nyawa tidak akan bisa kembali lagi"


Kembali teman-teman Aliya bersorak riuh, mereka seperti mendukung ucapan Cempaka tapi Pak Renaldi langsung menyuruh mereka untuk diam.


"Ingat ini adalah pengadilan, kalian tidak boleh berisik, kalian ingatkan ini adalah pengadilan. Jadi diam dan jangan berisik lagi "

__ADS_1


Aliya dan Cempaka malah saling tatap, tatapan mereka seperti tatapan yang memang saling membenci dan tidak mau kalah satu sama lain.


Cempaka langsung memutuskan tatapannya bersama Aliya dan menatap kedua gurunya "Inilah yang terjadi pada klienku, dia dirundung oleh ketiga orang ini yang ada di hadapan kita semua terus-menerus, mereka tidak ada hentinya untuk merundung klien ku ini "


Galang langsung bangkit dan menunjuk Cempaka "Tidak, aku tidak menerima tuduhan itu mengapa kita menyebutnya perundungan bukannya ini sebuah permainan saja. Hanya drama yang sedang kita mainkan"


"Aku juga tidak setuju"


"Aju juga sama, kami disini seperti dipojokan "


Dua teman Galang langsung bangkit dan membela diri masing-masing. Padahal sudah jelas-jelas kalau mereka itu salah.


"Duduklah kenapa kalian menjadi emosi seperti ini, bukannya ini hanya permainan kenapa kalian menjadi emosi. Teman-temanmu yang akan memutuskan bukan aku. Jadi duduk kembali dan tenang sudah aku bilang kan ini adalah pengadilan"


Mereka bertiga langsung duduk kembali dengan wajah yang begitu tidak enak dipandang. Lalu Pak Renaldi segera berkata "Apakah kalian pikir ketiga laki-laki ini akan menyakiti seorang gadis ? Itu pertanyaannya siapa yang setuju kalau mereka bisa menyakiti seorang gadis "


Semua orang diam, tidak ada yang mengangkat tangannya mereka seperti mendukung apa yang Galang lakukan.


Sekarang Bu Bahar yang berbicara "Murid-muridku tersayang sebelum kalian mau memutuskan sesuatu, ingatlah kalian berarti juga terlibat dalam kejahatan ini jika kalian tidak berbicara dan menanggapi. Maka kalian mendukung para perundungan ini dan jangan lupa suatu hari salah satu dari kalian mungkin akan menjadi korban perundungan ini oleh mereka bertiga atau oleh komplotan yang lainnya. Harap pertimbangkan setiap keputusan yang akan kalian ambil ini demi kesejahteraan sekolah"


"Kalian dengarkan apa yang dikatakan oleh Bu Bahar maka pilihlah dengan benar dan jangan gegabah. Aku akan bertanya lagi siapa yang bilang iya"


Aksa yang paling pertama mengacungkan tangannya, disusul oleh yang lain yang melihat Aksa langsung mengacungkan tangan.


"Mereka telah dinyatakan bersalah oleh mayoritas suara, sekarang saatnya membuat keputusan untuk ketiganya yang telah dinyatakan bersalah. Dinyatakan bersalah karena telah melakukan sebuah perundungan yang hampir saja menghilangkan nyawa seseorang"


Semua orang langsung bingung menatap satu sama lain, mereka tidak tahu tentang ini. Tak ada yang tahu tentang masalah ini.


"Pak Renaldi dan Bu Bahar beri kami sebuah hukuman agar kami bisa cepat pergi dari sini" ucap Galang


"Besok pagi aku mengharapkan kalian semua untuk ada di bawah, sejam sebelum kelas dimulai"


Bell berbunyi tandanya istirahat "Baiklah sudah selesai maka kalian boleh istirahat"


Mereka semua langsung keluar tidak dengan Aliya dan yang lainnya. Aliya masih menatap Ayu dengan kesal tatapannya begitu benci sekali, tapi Ayu malah tersenyum dia menanggapinya dengan senyum mengejek sih.


Galang langsung bangkit dan keluar begitu saja, sedangkan Bu Bahar dan juga Pak Renaldi mereka belum pergi mereka tersenyum karena keberhasilan ini.


Bu Bahar dan juga Pak Renaldi segera keluar dari ruangan itu. Lia menghampiri Ayu dan menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku karena aku dulu pernah ingin menjatuhkan mu Ayu, aku sungguh minta maaf aku terlalu terpengaruh oleh ucapan-ucapan yang diberikan kepala sekolah kalau dia akan melindungi aku dari semua orang yang telah merundung ku. Aku minta maaf padamu"


"Sudahlah Lia tidak usah memikirkan itu. Semuanya sudah terjadi tidak usah ada yang dihiraukan lagi dan tidak usah kau pikirkan lagi. Semuanya sudah selesai kan masalah itu sudah selesai sejak lama. Aku juga sudah memaafkanmu tanpa kau meminta maaf padaku, aku tahu kau mungkin khilaf dan aku mengerti dengan keadaanmu dan posisimu"


"Terima kasih kau telah memaafkanku dan terima kasih juga kau sudah mau membela aku tadi, ku kira tidak akan pernah ada keadilan untukku ternyata semua itu ada. Aku dapat keadilan dan mereka mungkin akan sedikit takut untuk tidak membully ku kembali. Karena rasanya aku sudah lelah sekolah di sini dan terus saja dibully, mungkin kalau bukan karena aku butuh dengan sekolah ini aku tidak akan sekolah"


"Jangan mengeluh seperti itu, semuanya akan baik-baik saja kau hanya perlu mengikuti semuanya dan kau bisa melawan mereka"


"Iya Ayu aku akan mencoba melawan mereka. Terima kasih sekali lagi aku bahagia sekali mempunyai teman sepertimu"


Cempaka langsung memeluk saja Lia, karena dirinya juga tidak mungkin terus marah pada sosok Lia yang selama ini selalu dirundung. Sebelum dirinya datang kemari kan dia yang selalu disakiti oleh teman-teman sekelasnya sendiri.


"Kedua guru itu sudah bermain-main dengan kita Galang. Mereka sepertinya mempunyai hubungan sampai-sampai mereka berdua kompak melakukan hal ini"


"Ya mungkin mereka mempunyai hubungan, makanya mereka kompak melakukan hal ini. Tidak ada guru yang berani melakukan ini pada kita, tapi setelah kedatangan Pak Renaldi semuanya kacau, Bu Bahar pun jadi ikut-ikutan"


Galang menarik tangan Aliya dan menatap matanya dengan tajam "Aku akan melakukan hal yang lebih fatal lagi jika mereka terus ikut campur masalahku. Aku tidak peduli orang yang aku bully mau mati ataupun tidak aku kesal dengan kejadian ini"


Aliya hanya tersenyum, dia seperti setuju dengan apa yang Galang bicarakan memang sama saja sih Aliya dan juga Galang tidak ada bedanya, mereka memang sangat cocok jika disatukan.

__ADS_1


__ADS_2