
Di dalam taksi Aina menatap Sinta lalu berkata "Aku tahu Ayu melakukan hal baik, seharusnya kau jangan seperti itu Sinta. Kau dengarkan dulu penjelasannya, Ayu melakukan ini untukmu untuk siapa lagi Ayu mengambil resiko senekat ini, hanya untukmu saja"
"Semua orang membela perempuan itu, apakah kau juga ingin membela perempuan munafik itu sudah kau lihat kan dia mempermalukan aku di sana, dia sudah menginjak-injak harga diriku dengan menunjukku seperti tadi kata-katanya sudah menyakiti hatiku Aina"
"Tapi dia juga sudah minta maaf kan, kalau apa yang dia katakan tadi itu tidak sengaja. Dia sedang emosi kau lihat kan Ayu bahkan dikelilingi oleh orang-orang jahat itu, tapi dia dengan berani membelamu di hadapan mereka. Kau tidak tahu apa saja yang sudah terjadi pada Ayu selama sekolah di sana, apa saja yang sudah Ayu lakukan hanya untuk mendapatkan bukti siapa orang yang telah membuatmu seperti ini"
"Terus saja kalian membela Ayu, semuanya bela saja Ayu kalian sudah termakan omongan perempuan munafik itu. Mau apapun yang terjadi pada Ayu aku tidak peduli. Mau dia dibully, mau dia dilecehkan, mau dia dibunuh atau apapun aku tidak peduli"
"Ya Allah kata-katamu itu Sinta begitu keji dan begitu jahat "ucap Danu yang duduk di depan
Sinta tidak menjawab apa-apa. Dia malah mendelik kan matanya dan menatap keluar jendela. Sekarang hatinya sedang marah sangat marah.
Andaru membawa perempuan itu, membawa perempuan munafik itu. Lalu tadi laki-laki yang mirip Andaru memarahinya dan memakinya dia juga mengatakan kalau dirinya ini perempuan lumpuh, berani sekali dia memarahinya.
...----------------...
"Kita mau ke mana Andaru, kenapa kau membawa mobil secepat ini. Pelan kan laju mobilmu ini"
"Kenapa kau takut, tapi membuat masalah kau tidak takut kan"
"Turunkan aku di sini, aku tidak mau ikut denganmu aku sudah bilang kan aku tidak mau ikut denganmu. pelan kan laju mobilmu kenapa kau makin kencang"
Ayu mencoba untuk membuka pintu mobil, tapi susah pasti Andaru sudah menguncinya "Buka Andaru, aku mau pulang aku tidak mau ikut"
__ADS_1
"Diamlah Ayu. Bukannya kau ingin tahu apa yang sebenarnya. Kau ingin tahu siapa pelakunya kan, bukannya itu yang kau mau kan, kau sudah mempermalukan kami semua tadi di hadapan semua orang. Maka aku akan membantumu untuk mendapatkan orang yang telah membuat temanmu itu lumpuh"
"Andaru pelan kan laju mobilnya, jangan seperti ini" teriak Ayu
Andara tidak menggubris, dia makin mengencangkan mobilnya. Dia tidak segan-segan untuk menyalip sana-sini. Bahkan mobil yang lain sudah mengklaksonnya tapi Andaru tak peduli.
...---------------...
Sinta sudah dibantu turun oleh Danu dan didudukkan di kursi roda "Biar aku temani kau ya "ucapan Aina
"Sudahlah kau tidak usah menemaniku. Lebih baik kau cari perempuan munafik itu, bukannya kalian itu sangat ingin mencari dia kan. Sudah cari saja dia aku baik-baik saja tanpa kalian"
Nenek Sinta keluar dan menatap 3 orang itu "Sudah kuduga kan pasti kalian datang, bagaimana Sinta apakah jalan-jalanmu menyenangkan"
Neneknya segera mengambil alih kursi roda itu dan membawa masuk Sinta. Neneknya tadi ingin menanyakan apa yang terjadi tapi sepertinya Sinta sangat ingin cepat-cepat masuk ke rumah.
Setelah Sinta dibawa masuk rumah Aina dan Danu pulang ke rumah. Rumah Aina dan Danu tidak terlalu jauh. Rumah mereka bahkan berdekatan hanya terhalang tiga rumah saja.
"Makin ke sini aku makin tidak mengenal Sinta Aina. Kenapa dia begitu membenci Ayu. Padahal niat Ayu baikan dia ingin membongkar semuanya tapi sikap yang diperlihatkan oleh Sinta malah seperti itu"
"Aku juga tidak tahu kenapa Sinta menjadi seperti itu, yang aku anehkan ya sepertinya Sinta menyukai Andaru. Kau lihat tadi saat melihat foto Andaru dan Ayu sedang berciuman Sinta langsung menangis kan, kurasa dia menyimpan rahasia dari kita"
"Bisa jadi juga sih, dia cemburu melihat Ayu dan juga Andaru tapi kan itu bukan salah Ayu semuanya. Mungkin saja Andaru tertarik dengan Ayu, mungkin saja Andaru dan Sinta hanya chattingan di sosial media saja kan, tidak langsung bertemu sedangkan dengan Ayu sendiri mereka setiap hari bertemu dan kulihat mereka sering bersama-sama juga"
__ADS_1
"Iya Kau benar, aku juga bingung dengan pertemanan mereka, di satu sisi Ayu mempertahankan dan mencari tahu tentang masalah ini, tentang siapa yang telah menabrak Sinta. Di satu sisi Sinta tidak menerima itu, dia malah terus membuat masalah dengan Ayu. Bahkan dia memberatkan Ayu. Kau tahu kan dengan kata-katanya tadi dia seperti tidak peduli dan acuh pada Ayu "
"Iya aku dengar kata-katanya, aku sangat kaget dan merasa kalau yang munafik itu bukan Ayu tapi Sinta yang munafik. Nanti aku akan bicara dengan Ayu agar tidak terus mencari tentang kebenaran ini, biarkan saja perempuan itu yang mencari. Aku sudah muak dengan kata-kata Sinta tadi, aku ingin marah tapi di satu sisi dia itu seorang perempuan. Aku tidak mungkin menghancurkan mentalnya dengan kata-kata mutiara aku yang sangat pedas ini. Sebagai teman aku harus membela yang benar kan. Kita ini ada ditengah-tengah ya Aina "
"Iya, kita ini ada di tengah-tengah harus membela yang mana, tapi aku lebih kasihan pada Ayu dia sudah mengalami berbagai hal di sekolah, tapi tidak ada satupun yang dihargai oleh Sinta. Aku menjadi merasa kasihan sekali dengannya, mati-matian dia mencari bukti tapi dengan mudahnya Sinta berkata seperti itu pada Ayu. Bahkan dia tadi mendorongnya"
"Kurasa pertemanan kita memang sudah hancur, kurasa pertemanan ini hancur hanya karena seorang laki-laki saja. Ya sudah kau masuk rumah aku pun akan segera istirahat dan besok kita juga harus sekolah kan"
"Iya aku sekarang masuk rumah, kau juga segera masuk dan istirahat ya. Aku lelah ingin istirahat dan kepalaku juga pening sekali memikirkan semua masalah ini. Aku harus bagaimana dan bagaimana keadaan Ayu sekarang"
"Kita teleponin saja terus dia, nanti kita hubungi terus dia takut-takut Andaru melakukan sesuatu padanya"
"Ya aku juga takut kalau Andaru akan melakukan hal yang mengerikan pada Ayu "
"Ya sudah sekarang kau masuk rumah. Cepat masuk rumah dan istirahat"
"Baiklah bye aku masuk ya"
"Ya masuklah "
Aina segera masuk ke dalam rumah, setelah Aina masuk Danu melangkah pergi dan masuk ke rumahnya juga l. Hari ini sangat melelahkan dan hari ini pula dirinya melihat topeng Sinta yang sesungguhnya.
Topeng yang dulu dijaga dengan baik sekarang terbongkar juga, hanya karena sebuah foto yang menurutnya biasa-biasa saja itu hal yang wajar.
__ADS_1