Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 189 Kesengsaraan Cempaka


__ADS_3

"Bagun kau ini sudah pagi, enak-enaknya tidur"


Cempaka langsung bangun dan menatap orang yang menyiramnya dengan air satu ember, Cempaka terbatuk-batuk karena air masuk sebagian kedalam hidungnya.


"Apakah tante tidak bisa membangunkan ku dengan baik-baik, tanpa Tante menyiramku pun aku akan bangun"


"Ahh sudah cepat kau harus bangun dan beres-beres turun anak nakal, ayo cepat turun "


Tangan Cempaka ditarik oleh Dania dan dibawa keluar dari kamar itu. Seluruh bada Cempaka basah orang-orang di sana melihat ke arah Cempaka. Tak ada yang berani menolongnya, mereka hanya diam menatap dirinya yang ditarik paksa.


"Bibi ajari dia untuk beberes rumah, bagaimana cara memasak, bagaimana cara membersihkan rumah dan semuanya ayo cepat"


"Tapi Nyonya, dia terlalu kecil untuk diajarkan. Apakah nanti tunggu saja dia dewasa"


"Masih kecil ? dia itu sudah dewasa hanya pikirannya saja yang masih kecil. Ayo cepat ajarkan jangan pernah bantah kata-kataku. Apakah kau ingin aku pecat, iya kau ingin aku pecat "


"Tidak nyonya "


"Makanya kerjakan apa yang aku suruh, apa sulitnya kau mengajari dia memasak, beberes itu saja. Setelah itu kerjaanmu akan ringan dia yang akan mengerjakannya cepat"


Cempaka didorong dan untuk saja ada Dodi yang menangkapnya " Ada apa denganmu Dania. Kenapa kau begitu kasar pada dia, dia tidak salah apa-apa. Ayahnya yang salah bukan anak ini, ayah menculiknya bukan untuk dikasari seperti ini. Tapi, untuk memberi pelajaran pada Adi agar dia tahu bagaimana kehilangan seorang anak perempuan. Kenapa kau malah menyiksanya "


"Sama saja Ayah kau tahu Ziva juga di sana disiksa, apalagi oleh perempuan penghianat itu. Ziva diperlakukan tidak baik olehnya. Sudah ikuti saja apa kemauanku Ayah jangan membelanya. Apakah Ayah ingin membela anak kecil ini terus-menerus"


"Iya ayah akan selalu membela dia, Ayo Cempaka ganti pakaianmu sekarang, kau panggil aku kakek ya. Aku sudah membelikan beberapa pakaian untukmu. Ayo kita ganti pakaianmu kalau kau tidak ganti pakaian kau akan menggigil dan sakit"


Dodi menarik tangan Cempaka dengan perlahan dan membawanya kembali kelantai atas, Dania hanya diam sambil menatap kepergian Cempaka.


Setelah ada dikamar tangis Cempaka keluar, dia menangis sesegukan "Kenapa kau menangis, jangan menangis seperti ini "


"Aku hanya tidak suka saja diperlakukan kasur seperti itu oleh tante. Apakah tidak bisa dia perlahan membangunkanku, aku juga pasti akan bangun tanpa harus menyiramku dengan air sebanyak itu. Air itu masuk ke dalam hidungku dan kepalaku juga pusing. Tante tiba-tiba saja menarikku dan membawaku keluar. Aku malu menggunakan pakai basah seperti ini dan dilihat oleh banyak orang"


"Sudah jangan menangis sekarang kau mandi dan ganti pakaianmu ini, kakek akan di sini menunggumu agar tante tidak bisa melakukan apa-apa padamu. Setelah itu kita sarapan sama-sama ya"


"Benarkah kau tidak akan galak seperti tante padaku, kan. Kau tidak akan menyiksaku. Apakah kau kakek ku, tapi kakek dari mana. Aku masih punya opa dia Ayah dari mamaku dan kakek ayah dari ayahku lalu kau dari siapa?"


Dodi hanya tersenyum mengusap rambut Cempaka dengan sayang "Sudah jangan pikirkan aku dari kakek yang mana, yang terpenting kau panggil aku kakek, aku mulai sekarang adalah kakekmu dan aku yang akan melindungimu dari siksaan tante jahat itu. Ayo cepat sekarang mandi dan kita sarapan sama-sama ya"


"Hemm, baiklah aku tak akan lama "


Cempaka dengan takut-takut melangkah ke arah kamar mandi sambil memegang erat pakaian yang diberikan oleh kakek. Baiklah mulai sekarang dirinya harus memanggil pria itu dengan sebutan Kakek, dia juga baik dan tidak jahat padanya tapi dia jahat pada Andaru lalu harus bagaimana.

__ADS_1


...----------------...


Andaru dan juga Aksa yang sedang makan bubur tiba-tiba dikagetkan dengan telepon Andaru yang berdering, itu telepon dari mamanya. Andaru melihat ke arah Aksa dan lalu ke arah kakeknya yang juga sedang sarapan di sana.


"Ada apa Andaru, Aksa kalian seperti takut"


"Mama menelpon apa yang harus kami katakan kakek"


"Jawab saja, tidak akan apa-apa"


"Baiklah kakek "


Andaru segera mengangkat telfonnya, terdengarlah suara mamahnya yang lembut dan penuh kasih sayang, bahkan sekarang mamahnya menganti teleponnya menjadi video call.


"Bagaimana keadaan kalian anak-anak. Apakah baik-baik saja di sana"


"Kami baik Mama, bagaimana di sana kenapa kemarin Mama tidak bisa dihubungi dan ayah juga sama. Apa kalian begitu sibuk sampai-sampai tidak bisa mengangkat telepon dari kami semua"


"Bukan begituan Andaru disini ada sedikit masalah, di mana Cempaka Mama ingin bicara dengan Cempaka dan S


Sepertinya kalian juga tidak di rumah. Ayo jujurlah pada mamah apa yang terjadi di sana"


"Lalu Paman Rizki di mana? "


"Paman_"


"Mama sudah tahu semuanya Andaru, jangan simpan itu sendirian Mama tahu yang terjadi di rumah dan Mama tahu kau sedang di rumah sakit, kan. Sekarang kakimu tertembak dan Cempaka sekarang sedang diculik. Mama tahu semuanya Paman Rizky juga sekarang sedang koma, bagaimana keadaanmu Mama begitu khawatir. Mama hanya ingin kejujuran saja darimu tapi kau tidak menjawabnya Andaru "


"Bukannya aku tidak mau menjawabnya Mama atau berbohong, aku hanya tidak mau membuatmu khawatir. Biar aku saja di sini yang kebingungan mencari Cempaka, mama biar berlibur saja dengan ayah aku tidak mau kalian memikirkan hal yang ada di rumah. Biar aku saja yang mencarinya. Aku adalah kakak dan aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Cempaka"


Bella malah menangis mendengar anaknya mengatakan itu, anaknya Andaru sudah besar "Kau jangan memikirkan itu semua, itu tanggung jawab mama dan ayah, kau tidak usah memikirkan hal yang memusingkan itu. Mamah dan ayah akan mencari Cempaka. Sebentar lagi mama dan ayah akan pulang kau tunggu ya. Kakimu bagaimana sekarang dan adikmu Aksa bagaimana dia"


Aksa memperlihatkan wajahnya ke arah mamahnya dan tersenyum, meskipun senyum itu sangat sulit untuk dia lakukan. Tapi hanya demi mamanya dia lakukan.


"Aku di sini Mama, maafkan aku tidak bisa menahan Cempaka saat kaki Andaru di tembak. Aku membawa lari Cempaka tapi aku tidak bisa menyelamatkannya. Maafkan aku, aku sudah gagal menjaga Cempaka"


"Kalian berdua hebat, karena mempertahankan adik kalian berdua. Mama bangga pada kalian mulai sekarang jangan pikirkan itu, biar mama dan ayah yang mencari adikmu ya"


"Tidak Mama, kami berdua pun ingin mencari Cempaka, kita cari sama-sama ya. Mama jangan sedih pasti Mama di sana terus menangis kan maafkan kami ya mama"


"Kalian jaga diri baik-baik di sana ya. Mama tutup dulu teleponnya ya, ayah sudah memanggil Mamah "

__ADS_1


"Mamah juga disana baik-baik kami tunggu kedatangan Mamah "


Bella menganggukan kepalanya, Bella menyimpan ponselnya dan tangisnya datang lagi, setelah pulang dari sana dirinya menangis terus mengigat keselamatan anaknya Cempaka.


Bagaimana keadaanya, apakah dia baik-baik saja, apakah dia sudah atau belum, lalu apakah dia nyaman disana banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam kepalanya.


"Nyonya maaf saya menganggu, Tuan sudah sadar "


Bella mengusap air matanya terlebih dahulu dan menatap kearah anak buah suaminya "Baiklah, terima kasih atas informasinya aku akan ke sana sebentar lagi"


"Sama-sama Nyonya "


Bella melihat pantulan dirinya di kaca sangat pucat sekali, Bella mengambil bedak dan mencoba untuk menutupi wajahnya yang pucat ini. Lalu memakai lipstik juga agar terlihat fresh dan terlihat baik-baik saja di hadapan suaminya.


Bella membuka pintu kamarnya dan pergi keruangan rawat suaminya, saat Bella membuka pintu suaminya sudah tersenyum padannya.


"Sayang kau baik-baik saja "


Bella menggapai tangan suaminya dan menciumnya "Aku baik-baik saja Mas, bagaimana keadaanmu badanmu pasti sakit semua kan. Mereka memukulimu kan tidak hanya satu orang yang memukulimu"


"Aku baik-baik saja malah aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Mario bilang kau sudah tiada, tapi aku tidak percaya kalau kau akan meninggalkanku secepat itu. Bagaimana keadaan Cempaka apakah kau sudah tahu keadaan anak kita itu dan Andaru apakah dia tidak kenapa-napa"


"Mario sudah aku bawa kemari untuk kita introgasi lagi, aku tidak membunuhnya. Cempaka juga belum ditemukan sedangkan Andaru sekarang ada di rumah sakit bersama Aksa, dia baik-baik saja aku bersyukur dia tidak terluka. Andaru kita dia sudah dewasa Mas dia sudah tidak nakal lagi"


"Kita harus segera pulang dan membawa Mario juga ikut pulang, dia adalah kunci dari segalanya, dia yang tahu dimana Cempaka. Andaru sudah dewasa. Aku tidak sabar ingin melihatnya"


"Tapi apakah kau yakin pulang dengan keadaan seperti ini, lalu apa tanggapan anak-anak, apa yang akan mereka tanyakan dan kau juga akan menjawab apa. Apakah kita harus berbohong lagi pada mereka, aku saja tadi sudah berbohong. Aku menyuruh Andaru untuk tidak berbohong, tapi aku sendiri malah berbohong padanya"


"Kita berdua berbohong untuk sebuah kebaikan, jangan sampai tahu Andaru dan Aksa apa yang terjadi pada kita di sini, mereka tidak boleh tahu semuanya mereka masih kecil kita pulang saja. Aku tidak akan tenang di saat anakku tidak ada dan anakku yang lain terluka, aku tidak bisa diam saja sayang kita harus pulang dan melihat keadaan Andaru dan mencari Cempaka"


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan mengikuti semuanya. Aku akan membereskan barang-barang kita dan segera pulang dari sini. Aku juga akan menyuruh anak buahmu untuk membantumu nanti karena tidak mungkin juga kan, kau jalan kau masih lemas, aku tak mau membuatmu sakit lagi "


Adi tersenyum dan hanya bisa menganggukan kepalanya, Adi membiarkan istrinya pergi dan sekarang dirinya yang melamun memikirkan keluarganya yang tiba-tiba saja diserang.


Siapa yang bekerja sama dengan Mario, perempuan mana yang Mario bawa-bawa. Banyak sekali yang sudah menjadi korbannya, siapa perempuan itu yang dimaksud Mario. Apakah penting dalam hidupnya. Apakah dia orang yang sudah lama bersamanya sampai-sampai orang tuanya balas dendam seperti ini.


Setahu dirinya kalau dirinya membunuh orang lain pasti akan dirinya habiskan sampai akar-akarnya bersama orang tuanya. Apakah ada seorang perempuan yang dirinya lewatkan dan dirinya tidak bunuh orang tuanya, tapi kalau dipikir-pikir sudah semuanya bahkan Ziva saja kedua orang tuanya sudah dirinya lenyapkan.


"Semua ini makin membingungkan karena Mario tidak mau buka mulut, dia menyimpan semuanya sendiri dan membiarkan tubuhnya hancur"


"Mario sangat sekeras kepala. Padahal kalau saja bekerja sama dengan diriku semuanya akan baik-baik saja, aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan pada Mario, aku akan mengembalikan perkebunannya kembali. Aku akan membangun rumahnya semuanya yang Mario minta pasti aku akan berikan, hanya satu yang aku mau anakku Cempaka kembali. Aku tidak akan menuntut mereka yang telah menghancurkan rumahku, aku hanya ingin anakku saja, kenapa harus Cempaka. Kenapa tidak aku saja yang mereka habisi, biarkan keluargaku hidup dengan nyaman tanpa harus mengusik mereka, aku disini yang salah masa laluku yang telah membuat hidup anak-anakku tidak nyaman"

__ADS_1


__ADS_2