Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 312 Rencana mereka berdua


__ADS_3

"Nah begini dong, Cempaka harus tegas ga boleh mau-maunya dicaci maki terus sama perempuan itu. Aku ga suka sama dia dari awal. Kamu yakin mau minta Ayah buat ngeluarin dia "


"Ga tahu, aku juga masih pusing. Aku tadi marah banget sama dia. Dia selalu aja nyalahin aku setiap apa yang aku katakan selalu saja salah di matanya. Setiap apa yang aku lakukan salah saja tidak ada yang benar di matanya, aku pusing sekali "


"Sudah makannya jangan pernah bantu dia lagi, untuk apa kamu bantu dia. Dia juga tak menghargai apa yang kamu lakukan "


"Tapi kadang hati kecilku selalu berteriak untuk membantunya, mau bagaimanapun dia temanku. Dia selalu ada dulu saat aku susah mau pun senang, dia selalu ada dia tidak pernah pergi dari sampingku"


"Hemm, tapi kamu sudah lihat kan bagaimana dia yang sebenarnya, mata kamu harus terbuka, dia itu bukan teman yang baik "


Cempaka membuka ponselnya saat mendengar ada notifikasi "Siapa "


"Andaru "


"Apa katanya "


"Jangan pernah dengarkan kata-kata dari mereka, cukup kamu percaya sama aku aja itu udah buat aku senang. Aku ga bersalah. Itu kata Andaru "


"Tapi Aksa benarkan kalian tidak terlihat"


Aksa menundukan kepalanya lalu menatap adiknya "Susah buat dijelasin, yang pasti pelakunya bukan aku ataupun Andaru"


"Hemm, baiklah jika kamu masih belum bisa cerita semuanya padaku "


"Ada saatnya kamu akan tahu semuanya Cempaka"


"Ya aku tahu "


Mereka masuk kedalam kelas, teman-teman Cempaka menatap sinis pada Cempaka, tapi Cempaka tidak peduli.

__ADS_1


...----------------...


"Aina kamu dengan tadi kata-kata dari Ayu, apakah aku orang yang terakhir mendengarnya. Kenapa Ayu tak bilang padaku terlebih dahulu. Seharusnya aku yang tahu lebih dulu "


"Aku juga tidak tahu tentang kebenaran itu, Ayu tidak pernah cerita padaku mungkin waktu itu dia mau cerita tapi tidak jadi. Karena ada sesuatu yang mendesak aku juga tidak tahu kalau Andaru, Aksa dan juga Ayu itu mereka saudara kandung. Karena yang kita tahu kan Ayu hanya tinggal bersama ibunya saja"


Sinta tak menjawab dia langsung saja menjalankan kursi rodanya, dikepalanya banyak sekali pertanyaan dan dirinya harus menanyakan lagi pada Ayu.


Mana bisa Ayu bersaudara dengan Ayu, dirinya ingat waktu itu ada yang mencari Ayu kan berarti itu Ayahnya, tapi dirinya masih tak percaya kalau Ayu anak orang kaya..


Dari pertama datang laki-laki itu Sinta menyangka kalau itu hanya salah orang saja. Karena Ayu pun tak ada bicara. Mustahil saja Ayu bisa jadi anak orang kaya.


Sinta masuk kedalam kelas dan mendekati Ayu yang sedang duduk bersama Aksa. Sinta berhenti dan berhadapan dengan Ayu.


"Kamu sedang berbohong kan padaku Ayu "


"Sudahlah aku tidak mau bicara denganmu, apakah yang tadi masih tak jelas. Sudah lelah aku menghadapi sikap mu yang seperti itu"


"Terserah "


Cempaka malah asik memainkan ponselnya, Aksa menatap Sinta dengan tajam. Sinta yang ditatap tajam seperti itu langsung ciut.


Wajah itu sangat mirip dengan Andaru, tapi sangat menyeramkan. Dia adalah fersi jahatnya dimana Sinta.


...----------------...


Brak pintu dibuka dengan kasar oleh Galang "Pak Ginanjar kenapa kamu membiarkan Aliya dibawa oleh polisi itu, kenapa kamu tidak melakukan apa-apa lalu om Sena ayahnya Aliya apakah dia sudah tahu kalau anaknya dibawa oleh Polisi"


"Tenang seharusnya kamu itu mengetuk pintu dulu jangan langsung membuka seperti itu tidak sopan. Aliya akan baik-baik saja, dia akan menjadi saksi saja dia tidak akan menjadi tersangka tenang saja. Ini semua adalah ide dari tuan Sena ayahnya sendiri "

__ADS_1


"Apa kenapa bisa begitu. Bagaimana kalau polisi sudah mencari tahu semuanya, bagaimana kalau polisi sudah tahu Aliya pelakunya "


"Itu tidak akan pernah terjadi, Aliya hanya akan menjadi saksi saja yang menjadi tersangka itu adalah Andaru. Tenang saja semua ini sudah diatur oleh ayahnya Aliya sendiri, jadi kamu tidak usah sepanik ini jangan memperlihatkan kalau kamu itu pelakunya rileks dan cuci wajahmu itu agar tidak ketahuan oleh orang lain"


"Andaru dia tidak salah bagaimana kalau Ayahnya tahu, bagaimana kalau malah kita yang dituntut olehnya, bisa gawat semuanya bisa hancur"


"Tidak akan pernah, Andaru tidak akan pernah berani berbicara pada Ayahnya, sudah tenang saja semuanya sudah diatur sedemikian rupa untuk kita yang menang di sini dan Andaru yang akan menjadi tersangka. Kamu tidak usah khawatir Aliya juga nanti akan pulang lagi dia akan baik-baik saja. Sekarang ayahnya saja sedang menuju ke kantor polisi, lebih baik kamu masuk kelas dan jangan membuat ulah atau terlihat gusar seperti ini "


"Baiklah "


Galang dengan lunglai keluar dari ruangan kepala sekolah, sebenarnya fikirannya masih kalut, takut kalau semuanya akan terbongkar. Bagaimana kalau Andaru malah minta bantuan ayahnya bisa terbongkar semuanya.


Pak Ginanjar mengambil ponselnya dan menghubungi Sena "Hallo tuan Sena "


"Ya ada apa Ginanjar "


"Aliya dan juga Andaru sudah dibawa ke kantor polisi, seperti rencana kita"


"Baiklah aku juga sekarang sedang menuju kantor Polisi. Aku berharap Aliya tidak luluh dan malah mengakui semuanya semoga saja dia mengikuti kata-kataku"


"Iya Tuan pasti dia mengikuti kata-katamu. Lalu bagaimana dengan Tuan Adi apakah dia tidak akan mengetahui tentang kelakuan kita ini"


"Tidak akan ada, dia saja tidak tahu kalau sekolah itu sudah menjadi milikmu. Sudahlah dia itu terlalu lemah biarkan saja "


"Baiklah tuan, kalau begitu kita bisa lebih leluasa lagi"


"Ya kamu benar kita bisa melakukan apa saja. Ya sudah aku sedang buru-buru "


"Iya tuan "

__ADS_1


Sambungan langsung dimatikan, Pak Ginanjar menyenderkan tubuhnya dan menatap ruangannya yang sudah menjadi miliknya lagi.


__ADS_2