
"Sayang kau mau kemana, kenapa kau sudah cantik seperti ini "
Bella menatap suaminya "memangnya selama ini aku tak pernah cantik"
"Tidak sayang kau selalu cantik, kau mau kemana "
"Aku harus ke rumah sakit menemui mami"
"Aku temani ya"
"Tidak usah mas. Kau jaga saja anak-anak ya, sepertinya Aksa dan juga Andaru belum berbaikan coba kau buat mereka baikan"
"Padahal aku ingin ikut denganmu"
"Untuk kali ini kau diam saja di rumah, aku ingin menemui mamiku dan berbicara empat mata"
"Baiklah tapi Zack akan mengantarmu ke sana\="
"Tentu mas"
Setelah berpamitan pada suaminya Bella pergi bersama Zack, saat melihat Andaru dan juga Cempaka yang sedang bermain bola Bella hanya tersenyum.
Aksa tak pernah bergabung dengan saudara-saudaranya, dia hanya diam di kamar belajar itu saja, entah kenapa Aksa memang sangat berbeda dari dua saudaranya entah mirip siapa.
...----------------...
Tok tok tok
"Apakah Ayah boleh masuk Aksa"
__ADS_1
"Masuk saja pintunya tidak dikunci"
Adi segera masuk dan melihat anaknya yang sedang membaca buku, Adi mendekatinya dan menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan sang anak.
"Kenapa kau sering tidak bergabung dengan saudara-saudaramu, mereka bermain bola main sepeda lari-larian sedangkan kau hanya diam saja di kamar, membaca buku ada apa Aksa apakah kau tak nyaman"
"Tidak, Aku lebih suka di kamar dan membaca buku saja ayah, aku tidak mau main bola, jika mau main bola nanti saja di sekolah bersama teman-teman yang lain, kalau cuma main bertiga kan nggak seru apalagi ada perempuannya Cempaka, dia itu cerewet dan pasti apa-apa akan menangis kalau di rumah aku harus belajar memperdalam ilmuku"
"Ya tapi kan kau juga harus bergabung bersama saudara-saudaramu, jangan menyendiri terus menerus seperti ini Aksa"
"Akan aku coba nanti "
"Apakah kau masih marah pada kakakmu Andaru"
"Tidak terlalu, dia terlalu nakal seharusnya dia tidak mengambil makananku seperti tadi, aku sedang makan enak-enak tapi dia merebutnya seperti itu membuatku tidak mood saja "
"Aku hanya ingin menenangkan diri dulu ayah, aku tidak akan lama-lama marah pada Andaru, asalkan dia berubah jangan seperti itu terus aku lelah kalah terus-menerus dipermainkan olehnya, aku tidak pernah mengganggu Andaru tapi dia selalu saja menggangguku"
Adi mengusap rambut anaknya, sepertinya akan sulit mendekatkan anak anaknya ini, Aksa begiru keras kepala dan Andaru nakal tapi dia mudah sekali meminta maaf dan memaafkan.
"Kalian berdua kan besok harus sekolah sama-sama, kan, masa di dalam mobil kalian tidak akan saling sapa"
"Mungkin besok aku sudah tidak marah lagi pada Andaru, kita lihat saja ayah, untuk sekarang aku tidak mau ditemui Andaru dulu. Biar dia berpikir kalau kesalahannya itu sangat fatal dan jangan dia pikir dengan kata maaf saja semua apa yang dia lakukan bisa dimaafkan oleh orang lain, masih ada rasa kesal dalam hati orang lain saat dia melakukan kejahilannya. Memang mengucapkan kata maaf itu gampang tapi memaafkan itu kadang sulit ayah"
"Iya ayah tahu, ayah mengerti perasaan mu Aksa. Apakah kau mau jalan-jalan bersama ayah membeli es krim atau yang lainnya keluar"
"Tidak aku tidak mau aku mau membaca buku saja, kalau ayah, Andaru dan juga Cempaka mau beli es krim silakan. Aku mau di dalam kamar saja membaca buku dan belajar besok akan ada ulangan dan aku harus mempelajarinya supaya nilaiku besar"
"Baiklah kalau kau tak mau, ayah tinggal dulu yah, ayah akan bekerja dulu di ruangan ayah, kalau ada apa-apa temui ayah "
__ADS_1
"Baiklah ayah "
Sungguh dirinya tidak bisa membujuk anak-anaknya sehebat istrinya, istrinya pasti bisa saja mengakurkan anak-anaknya ini. Kesalahan ini bukan satu dua kali saja terjadi tapi sering sekali. Memang mau bagaimana lagi Andaru memang begitu sifatnya sulit untuk menjadi anak yang baik.
Setelah ayahnya pergi Aksa membuka jendela dan melihat kakak dan juga adiknya sedang main bola, memang kelihatannya sangat menyenangkan tapi dirinya tidak mau ikut di luar cuacanya sangat panas dan begitu terik. Apalagi dirinya sedang marah pada Andaru.
"Andaru Andaru lihatlah itu Aksa melihat kita yang sedang main bola. Apakah dia ingin ikut main bola bersama kita"
"Mungkin saja dia mau ikut tapi gengsi, Aksa kemarilah kau mau ikut main bola " teriak Andaru
Tapi bukan sahutan yang mereka terima malah Aksa pergi begitu saja tidak berdiri lagi di jendela.
"Dia masih marah sepertinya padaku Cempaka, apa yang harus aku lakukan"
"Sepertinya kau tidak boleh mengusik lagi Aksa, kau selalu saja membuatnya marah"
"Tapi, aku hanya main-main saja Cempaka kau saja sering aku jahili kan. Tapi kau tidak pernah semarah itu padaku"
"Karena aku dan juga Aksa berbeda Andaru, jadi jangan samakan kita berdua kau tahu sendiri kan dari dulu Aksa memang sulit untuk bergabung dengan kita, dia terlalu pendiam. Apakah aku terlalu cerewet apakah aku harus mengajari Aksa untuk cerewet"
"Tidak usah kau mau apa mengajarinya, dia juga bisa bicara kan jadi tidak usah diajari ayo cepat kita main bola lagi daripada memikirkan Aksa lebih baik kita bermain saja, terserah dia saja lah mau marah atau tidak padaku yang terpenting aku sudah minta maaf kan padanya"
Andaru mengambil bolanya dan segera memainkannya, Cempaka juga segera mengikuti kakaknya, meskipun dirinya kadang kadang kalah karena melawan kakaknya Andaru.
Aksa yang tadi menjauh karena dipanggil oleh Andaru mengambil kembali bukunya dan membacanya, tapi, tiba-tiba saja dirinya tidak fokus untuk membaca.
"Apakah aku sudah keterlaluan karena tidak memaafkan Andaru dengan cepat. Tapi, kalau tiba-tiba aku memaafkannya dia pasti akan melakukan hal yang sama lagi padaku, dia pasti akan mempermainkan aku lagi aku tidak mau dia permainkan terus-menerus biarkan dia mau marah balik pun yang terpenting aku sudah memberikannya pelajaran, supaya dia sadar apa yang dia lakukan itu tidak benar pada siapapun dia berani"
Aksa mengambil buku pelajarannya dan membaca semuanya, dirinya harus menjadi juara kelas, Andaru tidak pernah belajar dengan baik tapi dia selalu saja dapat rangking 1 sedangkan dia di bawah Andaru terus-menerus aneh sekali kan.
__ADS_1