Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 304 Gagal sudah


__ADS_3

Paman Dion benar-benar datang, dia menghampiri Aliya yang sudah duduk manis disana sendirian.


"Kenapa kamu tidak memesan apa-apa biar aku pesankan ya "


"Tidak usah, aku tidak mau kita langsung ke intinya saja"


"Baiklah ini yang sudah aku siapkan, kita selesaikan masalah ini agar enak kan "


Paman Dion duduk dan menyerahkan rincian yang sudah dirinya buat, ya meskipun dirinya yang salah tetap saja dirinya merinci semuanya.


Tapi Aliya malah menyingkirkan surat itu "Baiklah untuk masalah itu kita sudahi saja. Aku tidak akan menuntut apa-apa padamu tapi ada satu hal yang ingin aku bicarakan padamu"


"Apa, bicara apa "


"Tentang sesuatu yang seharusnya tidak kau punya, ingat sesuatu yang seharusnya tidak kau simpan"


"Apa memangnya aku menyimpan apa "


"Masih bisa mengelak, apakah kamu ingat sesuatu yang seharusnya tidak kamu punya, tapi kamu mau mempunyainya"


"Apa sungguh aku tak mengerti kamu begitu berani padaku yang lebih tua dari ku "


"Kenapa aku harus takut, apa yang harus aku takuti . Kamu menyimpan sebuah video yang seharusnya tidak kamu miliki"


"Aku tahu kalau kamu suka meminta uang pada Pak Ginanjar, aku tahu semuanya tidak ada yang aku tidak tahu. Kamu ingat itu aku tidak pernah takut untuk kamu gertak. Aku tahu betul bahwa kamu tidak akan memberikan video itu kepada polisi, sebelum kamu mendapatkan uang yang banyak kan atau mungkin kamu tidak akan pernah berani memberikan video itu karena takut disalahkan dan membunyikan bukti "


"Iya, karena aku tidak punya video apapun biar aku ulangi lagi, aku tidak punya video apapun. Apapun yang kamu maksud aku tidak mempunyainya"


Paman Dion memegang tangan Aliya. Di bawah tangan Aliya itu ada ponselnya. Entah kenapa harus seperti itu "Berani sekali kamu memegang tanganku"


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa angkatlah tanganmu sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan, ayo singkirkan tanganmu itu jangan menyembunyikannya dari ku "

__ADS_1


Paman Dion menggeser kan tangan Aliya dan melihat ponsel Aliya, ternyata Aliya sedang merekam pembicaraan mereka berdua" Baiklah biar aku langsung katakan di sini saja. Nona Aliya aku tidak punya video apapun jadi kamu tidak bisa terus menyudutkan ku "


Paman Dion langsung menyimpan ponsel itu. Bahkan sampai membantingnya, dia juga mengambil kertasnya tadi "Kalau kamu bukan perempuan mungkin saja aku sudah menghajarnya di sini, tapi aku sadar diri kamu seorang perempuan dan ini tempat umum. Aku tidak peduli kamu anak kaya sekalipun "


Paman Dion langsung pergi begitu saja meninggalkan Aliya sendirian, sedangkan Aliya sendiri dia diam dan merasa gagal sekali rencananya harus gagal secepat ini.


...----------------...


"Jadi kamu gagal membuat laki-laki itu untuk jujur Aliya "


"Ya aku gagal, mau bagaimana lagi dia sudah mengetahuinya, dia mengetahui kalau aku sudah merekam semuanya gagal semuanya. Aku tak tahu harus bagaimana lagi Galang "


"Punya rencana lain, siapa tahu kamu punya stok rencana "


"Aku tidak punya, semuanya sudah buntu. Aku tidak punya lagi ide yang bagus "


"Atau mungkin Pak Ginanjar sudah berbohong padamu. Mungkin saja dia hanya menakut-nakutimu saja, dengan mengatakan kalau pamannya Budi itu mempunyai sebuah video tentang kejadian kecelakaan itu. Bisa saja dia berbohong kan"


"Aku akan menelpon Andaru dulu, aku akan mencari solusi bersamanya Galang pasti dia akan memberikan sebuah ide "


"Sudahlah jangan bicara sekarang. Besok saja Aliya, besok kita akan bertemu dengannya pasti dia akan masuk sekolah kan. Tidak mungkin dia terus bolos, jangan menelponnya yang ada dia tidak akan menanggapinya. Kamu tahu sendiri kan sekarang bagaimana Andaru sudah sangat berubah"


Aliya memperlihatkan sebuah foto pada Galang "Apa ini, ada sebuah perundungan untuk Pak Renaldi ? "


"Kita harus pergi ke sekolah sekarang, itu sangat bagus"


"Tidak bisa, aku tidak mau pergi ke sekolah rasanya aku ingin pulang tidur dan beristirahat"


"Jangan seperti itu, ini adalah hal yang sangat langka maka kita harus pergi ke sekolah dan membuat perhitungan pada Pak Renaldi agar dia tahu siapa kita, dia sudah bermain-main dengan kita maka inilah balasannya. Sudah aku bilang kan aku tidak akan membiarkan orang lain yang telah mempermalukan kita hidup dengan nyaman"


Aliy hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya bahwa dia setuju untuk melakukan itu pada Pak Renaldi. Untuk mengolok-olok guru itu entah apa yang ada di pikiran mereka berdua. Mungkin saja tulisan itu dilakukan oleh Galang.

__ADS_1


Mungkin ada yang tahu tentang kejadian itu selain Andaru, semuanya bisa terjadi di sana siapa saja bisa menjadi penghianat.


...----------------...


Sedangkan di dalam kelas, Pak Renaldi malah melamun dia tidak mengajar. Anak-anak juga malah tidak peduli mereka mengobrol dengan teman-temannya dan tidak mau berhenti.


Pak Renaldi juga tidak memberhentikan mereka, Pak Renaldi masih memikirkan tentang masalah tadi, tentang kesalahannya yang telah dilakukan di masa lampau.


Cempaka yang muak melihat semua ini segera berdiri dan berteriak ke arah Pak Renaldi" Pak Renaldi ayolah kita belajar, masa kita harus diam seperti ini. Lihatlah mereka berisik kamu suruh mereka diam, ayo kita belajar pak "


"Pasti ada pelajaran yang harus kita bahas kan Pak, jangan diam saja pak "


Pak Renaldi tidak mendengarkan teriakan dari Cempaka, dia masih saja melamun. Abigail langsung menimpali kata-kata Cempaka "Sudahlah Cempaka ini adalah cerminan dari dirinya. Jadi biarkan saja,biarkan dia merenung apa yang telah dia lakukan"


"Hati-hati kalau berbicara Abigail. Kamu tidak boleh seperti itu mau bagaimanapun dia guru kita, itu hanya masa lalu seharusnya kita menjadikannya sebuah pembelajaran agar kita tidak seperti itu "


Abigail malah tertawa mendengar Cempaka yang berbicara seperti itu, rasanya tidak berguna juga kata-kata dari Cempaka.


Aliya dan juga Galang yang baru datang langsung memberikan sebuah kotak pada Pak Renaldi "Pak maafkan kami berdua, karena datang telat tapi kami memberikan sebuah hadiah buat bapak, ini begitu spesial "


Masih saja diam, Pak Renaldi masih diam. Aliya dan juga Galang segera duduk, teman-temannya langsung berhenti berbicara saat kedatangan Galang dan Aliya, mereka tahu apa yang akan Galang dan Aliya lakukan.


"Pak apakah kamu tidak akan membuka kado dari kami berdua, ayo cepat bukalah itu adalah sesuatu yang sangat bagus untukmu" ucap Galang


"Baiklah biar aku bantu saja ya "Galang segera bangkit dan membuka kotak itu. Ternyata isinya adalah sarung tinju semua anak-anak langsung tertawa.


Mereka mengolok-ngolok Pak Renaldi dengan kata-kata 'Apakah Pak Renaldi juga tidak akan memukul murid-muridnya' banyak sekali olokan yang dilontarkan oleh anak-anak itu.


"Selamat datang Pak, ternyata selama ini kita tidak berbeda sama sekali, kita sama "Celetuk Aliya.


Pak Renaldi langsung menatap ke arah belakang mejanya dan melihat hadiah itu. Hadiah yang sungguh membuatnya kecewa bukan karena mengharapkan sesuatu hadiah yang bagus tapi murid-muridnya malah mengolok-oloknya seperti ini. Padahal dirinya ini adalah seorang guru..

__ADS_1


__ADS_2