
"Ya ampun semoga sama baik-baik saja Lia "
Galang sudah sangat ketakutan, dia bahkan melajukan mobil dengan ugal-ugalan.
"Seharusnya aku tidak menyuruh kalian berdua. Dasar bodoh aku sudah bilang kan keluar kan dia dari lemari itu, bagaimana kalau dia mati siapa yang akan tanggung jawab"
Galang mengklakson setiap mobil, wajahnya begitu ketakutan. Kalau Lia sampai mati pasti habis dirinya ini. Tak akan selamat pastinya.
"Awas awas kalian kenapa menghalangi jalanku, awas kalian semua jangan halangi jalanku "
"Akhh awas sialan mereka "
"Yang sabar Galang, bisa-bisa kau celaka "
"Kau bilang tenang, lalu kalau dia mati siapa yang akan bertanggung jawab hah "
Kedua teman Galang diam, mereka lebih baik diam saja dari pada Galang makin marah pada mereka berdua.
...--------------...
Cassandra yang sudah dari tadi menunggu Budi melihat ke arah jamnya. Kenapa Budi belum sampai juga dengan cepat Cassandra segera menelpon Budi.
"Kenapa kau lama, di mana Budi kenapa lama sekali. Aku sudah menunggumu di sini hampir 30 menit, apakah kau mau membuat aku menunggu lebih lama lagi "
"Iya iya sebentar ini juga aku sebentar lagi sampai, sebentar kau tenang ya, aku tidak akan lama"
"Ya sudah makannya cepat. Aku sudah menunggumu dari tadi kenapa kau lelet sekali, aku kesal tahu "
"Iya ini sebentar lagi sampai sayang, sebentar lagi sampai tenang-tenang ya "
Budi terus saja berbicara tanpa melihat ke arah kanan kiri dan ternyata di sana ada orang yang mengikutinya, orang itu mendorong Budi sampai dia terjatuh dan kepalanya terhentak ke jalan raya.
Cassandra yang memang ada di sana, kejadian itu tepat di depan matanya segera berlari menghampiri Budi "Ya ampun Budi Budi"
Orang-orang yang ada di sana juga cepat-cepat menolong Budi. Cassandra sampai takut kalau Budi kenapa-napa "Panggil ambulan, panggil ambulans kita ke rumah sakit sekarang kita ke rumah sakit"
"Tidak usah, kita tidak usah ke rumah sakit. Aku baik-baik saja kita kan akan berkencan "
Budi memegang kepalanya yang sakit dan ternyata darah" Akhh kenapa ada darah kenapa ada darah Cassandra. Bagaimana ini kepalaku kenapa ada darah"
"Budi bangun Budi "
Budi malah pingsan melihat darahnya sendiri memang aneh dia ini. Tadi bilang tak apa-apa tapi sekarang malah pingsan seperti ini memang dasar Budi ya.
__ADS_1
...----------------...
OB yang ada di sana melihat ada tas masih tergeletak di kursinya dan juga buku-buku yang berserakan di mejanya. Dengan cepat dia menghampiri meja itu.
"Pasti dia lupa membereskan barangnya. Lia Lia kau ini ke mana coba tidak biasanya "
Ob itu segera menghubungi nomor Lia, tapi tidak aktif nomornya tidak aktif. Dengan cepat dia keluar dari kelas itu dan mencari keberadaan Lia.
Satu persatu ruangan dibuka oleh OB itu, di ruangan pertama tidak ada, di ruangan kedua tidak ada, ruangan ketiga pun tidak ada. Pak Renaldi yang memang masih ada di sekolah segera menghampiri OB itu dan menegurnya.
"Ada apa kenapa kau seperti sangat khawatir, ada sesuatu yang terjadi "
"Lia dia tidak ada, Lia tidak ada tasnya masih ada di kelas, buku-bukunya juga masih ada aku. Tadi aku mencoba meneleponnya tapi nomornya tidak aktif"
"Baiklah tenang-tenang kita akan mencarinya ya, kita mencarinya sekarang"
OB itu menganggukan kepalanya dan segera mencari keberadaan Lia bersama Pak Renaldi. Dia begitu khawatir takut terjadi apa-apa pada Lia.
Galang yang baru saja sampai, langsung keluar dari mobilnya dan menyuruh teman-temannya untuk segera lari ke ruangan bawah tanah.
"Ayo cepat lari-lari "
Galang yang baru sampai di bawah tanah langsung berteriak "Lia Lia kau baik-baik saja kan, kau dengar aku kan Lia Lia "
"Lia kau dengar aku kan, kau mendengarkan suaraku kan. Kau baik-baik saja kan, kau baik baik saja "
Tak ada jawaban, Galang sudah sangat panik sekali, Galang melihat kearah kedua temanya. Mereka juga sama paniknya.
"Mana kuncinya mana " teriak Galang
"Bukannya ada padamu Galang "
"Anjing aku memberikannya padamu, sialan kalian "
Mereka mencari kunci itu di saku mereka masing- masing tapi tak ada.
"Mungkin kuncinya terjatuh di mobil biar aku cari "
Galang segera memberikan kunci mobilnya "Lia Lia bertahanlah aku akan menolong mu "
"Kau bertahan disana "
"Aku akan mengeluarkan mu "
__ADS_1
"Bertahan Lia "
Galang mencoba untuk menarik pintu itu tapi sulit, sedangkan temannya yang ada bersama Galang hanya diam saja dengan wajah yang panik sekali.
Dia sama sekali tak bergeming, hanya melihat Galang yang sedang ketakutan dan seperti akan menangis Galang, karena tidak bisa membuka kunci.
Pak Renaldi dan juga OB itu pergi keperpustakaan, mereka menanyakan Lia pada penjaga perpustakaan siapa tahu ada disana.
"Tidak ada di sini, Lia tidak ke sini aku sungguh ingat siapa saja yang datang ke perpustakaan. Hanya beberapa orang yang datang dan aku juga tidak melihat Lia dari tadi pagi masuk ke dalam perpustakaan"
"Ya ampun ke mana kau Lia, kenapa bisa seperti ini"
"Pak Mamat apakah ada tempat yang belum kau cari"
"Iya ada ruangan bawah tanah, ruangan bawah tanah aku belum ke sana. Aku belum mengecek ke sana Pak "
"Ya sudah ayo kita ke sana "ajak pak Renaldi
Mereka segera bergegas pergi dari perpustakaan dan akan segera mengecek keruangan bawah tanah.
Galang sendiri dia sudah kebingungan harus melakukan apa, dia mengacak-ngacak apapun yang ada disana mencari sesuatu yang bisa membuka pintu itu.
Galang menemukan sebuah penggaris besi dan mencongkel pintu itu mengunakan penggaris dan teman yang satu lagi disuruh memegang pintu "Yang sabar Lia aku akan membantumu, aku janji akan menyelamatkan mu "
Galang mencongkelnya dari atas, dan pintu terbuka tapi Lia langsung terjatuh. Orang yang mengambil kunci juga baru datang dan syok melihat keadaan Lia yang sudah terbaring seperti itu.
"Lia kau baik baik saja "
"Periksa dia periksa dia "teriak Galang
Teman Galang mau tidak mau memberanikan diri, dia mengerak- gerakan pipi Lia namun Lia tak bangun sama sekali..
"Dia tidak bangun, aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak "
"Bagaimana ini " ucapa Galang
"Lebih baik kita pergi saja, daripada kita harus bertanggung jawab kita tinggalkan saja dia di sini. Siapa tahu nanti ada yang menemukannya dan dia yang jadi tersangka kita harus pergi dari sini"
"Bagaimana kalau ketahuan "
Laki laki yang tadi mengambil kunci itu langsung sadar dan menatap kedua temannya "Sebenarnya apa yang sudah kita lakukan. Bagaimana ini, apa yang terjadi pada Lia bagaimana ini, aku takut "
Galang malah bersandar kearah tembok, wajahnya sudah sangat pucat sekali dia sudah sangat ketakutan sekali dengan kejadian ini. Tidak tahu harus melakukan apa bahkan penggaris yang tadi dia pegang terjatuh begitu saja dari tangannya.
__ADS_1