Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 295 Kecelakaan


__ADS_3

Andaru hanya bisa melamun saja, bahkan dirinya menyetir juga tidak fokus. Pikirannya terus tertuju pada Cempaka.


Kenapa harus Cempaka yang menjadi adiknya. Kenapa tidak perempuan lain, saat dirinya sudah yakin dan sangat mencintai perempuan itu tapi takdir berkata lain, takdir mengatakan kalau Cempaka bukanlah orang yang akan menjadi jodohnya.


Tin tin bruk, brang mobil Andaru tertabrak sebuah truk bahkan Andaru sampai keluar dari dalam mobilnya karena dia tak memakai sabuk pengaman.


Andaru batuk-batuk, darah dimana-mana. Orang-orang sudah mengerubungi Andaru yang mulai tak sadarkan diri. Bahkan Andaru juga memuntahkan darah.


Andaru hanya mengigat saat bersama Cempaka, canda tawa Cempaka, pertemuan mereka dan juga saat dirinya mengungkapkan semua isi hatinya pada Cempaka.


"Panggil ambulans cepat panggil ambulans " teriak orang yang ada disana.


Mereka segera menghubungi ambulans jalanan menjadi macet sekali, mereka tak berani menolong Andaru hanya diam menunggu ambulans saja.


...----------------...


Andaru sudah ada di ambulans dan sedang diberi penangan darurat, seorang suster langsung mengelengkan kepalanya.


"Pasien tidak sadarkan diri, jantungnya makin melemah "


"Kita kehilangan pasien"


Sedangkan Aliya yang kesal dengan kelakuan Andaru pergi ke rumahnya, dia terus saja menghubungi Andaru baru saja akan masuk ke dalam rumah malah berpapasan dengan Bella yang sudah menangis di papah oleh Aksa.


"Tante kenapa, ada apa Tante kenapa menangis "


"Andaru, Andaru Aliya "


"Ada apa Tante "


"Awas jangan halangi jalan, Andaru kecelakaan dan ada dirumah sakit awas " ucap Aksa dengan kesal.


Aksa membawa mamahnya kedalam mobil dan segera pergi meninggalkan Aliya, yang masih diam mematung mendengar kata-kata dari Aksa.


Di Ambulans kembali suster mencoba untuk melakukan CPR pada Andaru "1,2,3 aku benar-benar tak bisa mengembalikan detak jantungnya. Kita benar-benar kehilangan pasien " Wajah suster itu sudah sangat panik sekali. Bagaimana ini.

__ADS_1


"Mulai pasang oksigen sekarang " kembali suster itu melakukan CPR "1,2,3,4 ayolah bernafas-bernafas bertahanlah"


"Hei cepat lebih cepat lagi membawa ambulansnya"


...----------------...


Sedangkan Cempaka yang tidak tahu keadaan kakaknya dia hanya diam di sebuah taman. Dirinya masih pusing memikirkan tentang Andaru yang terus saja memaksanya. Bahkan dia sekarang mengingat kembali saat tadi di taman Andaru menangis.


Saat dirinya akan pergi dari Andaru untuk yang kedua kalinya Andaru memberhentikan langkahnya lagi, sungguh dia tak ada takutnya dengan ayahnya sendiri.


"Dengarkan aku kau pegang dadaku ini, pegang Cempaka "


Tangan Cempaka diarahkan ke arah dada Andaru. Cempaka sudah sangat takut dan juga gelisah dengan keadaan semua ini "Ini tidak mungkin Andaru, kamu harus sadar aku ini Adik kamu, kita ini satu darah kita ini tidak bisa bersama sampai kapanpun. Kamu lupakan aku saja, kita belajar untuk menjadi kakak adik kita belajar untuk bisa menerima kenyataan"


Andaru yang mendengar penuturan Cempaka hanya bisa tersenyum kecut. Selalu saja itu jawabannya. Andaru sekarang yang pergi kearah sekolah.


Cempaka yang takut Andaru melakukan sesuatu mengikuti Andaru dan mereka masuk kedalam lift, Cempaka masih binggung dengan apa yang akan Andaru lakukan.


"Apa yang akan kau lakukan"


"Kamu sudah gila, kenapa harus melakukan itu kamu tidak harus keluar dari sekolah ini"


"Aku harus keluar dari sini, aku tadi mengungkapkan semua perasaanku padamu tapi kau tidak menjawabnya"


"Harus bagaimana lagi aku Andaru, kamu itu Kakakku. Apa kamu gila kalau aku harus nerima kamu gimana nanti perasaan mama sama ayah"


"Aku tahu kau juga menyimpan rasa kan padaku, kamu hanya sedang bersembunyi Cempaka, kamu sedang menyembunyikan semuanya"


"Menyembunyikan apa, kamu akan lari dari semua masalah Andaru, kenapa kamu tidak menghadapi semuanya saja "


"Menghadapi semuanya, lebih baik aku pergi saja kamu juga tidak akan bisa menahanku"


"Aku bisa menahanmu, kamu tidak bisa pergi dari sini"


"Kamu akan menahanku di lift? "

__ADS_1


"Iya aku akan menahan kamu di lift kalau bisa, sungguh aku tidak mau kamu keluar dari sekolah ini karena cuman masalah ini"


"Aku tidak bisa Cempaka. Aku harus pergi kamu juga sebenarnya suka kan padaku, tapi kamu hanya menyembunyikan semuanya. Bahkan detak jantungnya bisa terdengar sampai sini. Aku bisa mendengar semuanya kau hanyalah seorang pengecut yang tidak bisa mengungkapkan semua rasa yang ada dalam hatimu"


Tiba-tiba saja air mata Cempaka mengalir begitu saja, saat dia akan menekan lift untuk keluar Andaru langsung menggenggam tangan Cempaka dengan erat


"Kamu hanya perlu jujur Cempaka "


"Lalu kalau aku jujur apakah semuanya akan baik-baik saja. Apakah dunia ini akan menerima kita. Apakah orang tua kita akan menerima tentang hubungan ini, tidak akan ada. Kamu harus berpikir dewasa kita berdua ini sudah dewasa dan tidak seharusnya kita berdua melakukan ini. Aku tidak mau membuat semua orang sakit hati"


"Lalu dengan aku, apakah kamu mau membiarkan aku sakit hati sendirian"


"Tolong jangan egois, sadar aku minta kamu jangan keluar dari sekolah ini. Jika kamu mau aku yang akan keluar dan pindah sekolah dan aku akan minta sama ayah untuk aku sekolah di sekolah asrama saja. Agar kita berdua tidak bertemu lagi"


"Kamu tidak usah keluar dari sekolah ini, kenangan kita terlalu banyak sekali. Yang sudah kita lalui Cempaka"


Andaru mengusap air mata Cempaka yang terus saja mengalir, ditatapnya wajah Cempaka dengan lekat-lekat rasanya tak sanggup menghilangkan semua rasa yang telah ada.


Cempaka memegang tangan Andaru yang terus saja mengusap pipinya "Cinta tidak menyembuhkan, dia akan hanya membuat luka baru Andaru. Luka yang lebih dalam dari yang sekarang kita rasakan. Lebih baik kita berdamai dengan keadaan dan mencoba untuk menerima semua keadaan. Kalau kita memang ditakdirkan hanya untuk menjadi seorang kakak dan adik saja tidak lebih dari itu"


Cempaka langsung melepaskan tangan Andaru dan keluar dari lift itu. "Tidak kau harus melupakan semuanya, semua ini tidak baik untuk selalu kau ingat"


Cempaka mengambil ponselnya yang berdering ternyata itu dari Bianca "Iya Bianca ada apa"


"Kamu di mana. Bukannya kamu ingin membantuku di restoran aku menunggumu"


"Iya iya aku lupa. Sebentar lagi aku datang ke sana ya"


"Kamu baik-baik saja kan"


"Tentu aku baik-baik saja, sebentar lagi aku akan menyusulmu kamu tunggu saja aku di sana ya. Aku tidak akan lama"


"Benar kamu baik-baik saja. Sepertinya kamu sedang sedih dan memikirkan sesuatu kalau begitu kau pulang saja ya tidak usah membantuku"


"Tidak tidak, aku akan membantumu. Tenang saja aku sekarang pergi ke sana"

__ADS_1


Cempaka segera mematikan sambungan teleponnya, dia mencoba untuk mengatur nafasnya dan mengusap air matanya yang tadi tak sengaja keluar kembali.


__ADS_2