
"Aliya ngapain sih di sini ayo ke kelas "ajak Cassandra.
Aliya menatap teman-temannya "Aku tidak akan belajar hari ini. Aku akan bolos tapi kalian berdua harus menutupi semuanya jangan sampai kedua orang tua ku tahu. Ada sesuatu yang harus aku lakukan"
"Kau mau kemana " tanya Abigail.
"Intinya harus ada yang aku kerjakan, kalian hanya perlu mengikuti apa kata-kata ku dan lakukan apa yang aku suruh. Ini untuk memberi efek jera pada perempuan perebut pacar orang itu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya. Lebih baik sekarang kalian pergi dan aku juga akan pergi"
"Bagaimana kalau ada yang bicara pada orang tuamu. Apalagi kau baru saja dipanggil kan oleh guru bahasa Indonesia itu. kau jangan buat masalah lagi sudahlah"
"Tidak bisa Abigail, aku tidak bisa diam saja aku tidak bisa membiarkan anak beasiswa itu bahagia di sini dan mendapatkan pacar ku "
"Ada cara lain kan"
"Tidak ada Abigail. Lalu apanya gunanya kalian di sini kalau kalian tidak bisa membantuku. Kalian tetap di sekolah dan bantulah berbohong pada guru-guru dan jangan sampai ada yang berbicara pada orang tuaku. Jika sampai itu terjadi aku akan menyalakan kalian berdua"
Aliya langsung pergi meninggalkan kedua temannya, dia memberikan tugas yang cukup berat.
...----------------...
Sedangkan Sinta yang menunggu kabar dari Ayu sangat begitu khawatir. Dia sangat takut kalau-kalau Andaru akan dipenjara bagaimana ini.
Sinta segera menelpon Ayu dan tak lama kemudian diangkat oleh Ayu. Untung saja dia langsung mengangkatnya kan "Bagaimana Ayu apakah sudah ada jawabannya, aku begitu ingin tahu, katanya kau mau menelfon tapi tak ada "
"Baru saja aku mau nelpon. Maafkan aku telat tadi aku harus cepat-cepat pergi ke sekolah. Aku takut telat "
"Ya aku tahu bagaimana kau sudah ke kantor polisi kan, lalu apa katanya. Apa jawabannya "
__ADS_1
"Tidak ada, semua yang aku lakukan semuanya sia-sia. Semua bukti itu tidak ada pada Andaru. Aku yakin dia sudah menghilangkan buktinya "
Sinta tersenyum senang. Dirinya sangat bahagia sekali bukan Andaru pelakunya "Sudah aku bilang kan bukan dia pelakunya. Kau ini tidak percaya padaku"
"Kenapa kau ini sangat percaya sekali kalau Andaru bukan pelakunya. Jelas-jelas aku melihat kalau bukti itu ada di loker Andaru dia ada di sana. Kenapa kau seolah-olah meragukan ku Sinta "
"Tapi apa nyatanya tidak ada kan, bukan Andaru yang salah. Aku begitu yakin kalau Andaru bukanlah orang yang telah menabrak ku, aku sangat yakin "
"Kau begitu yakin ya sampai-sampai aku curiga kalau kau punya hubungan dengan Andaru dan takut pacarmu itu tertangkap oleh Polisi. Apakah kau sangat senang kalau pelaku dari tabrak lari mu itu tidak ditemukan"
"Apa yang kau katakan Ayu. Mana mungkin aku mengenal Andaru, aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku tidak punya hubungan apa-apa bersamanya hanya saja firasat ku mengatakan kalau bukan Andaru lah pelakunya. Aku ingin keadilan itu Ayu. Tapi aku tahu bukan Andaru yang melakukannya"
"Iya iya terserah kau saja. Ya sudah aku matikan dulu"
Ayu langsung mematikan sambungannya dan menghampiri ketiga temannya, saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba saja ada bola basket yang menghantam kepala Budi.
Andaru terlihat begitu marah padaku. Budi segera mererainya dan mengambil bola itu "Apa kalian ingin main bersamaku tidak usah seperti itu. Biasa-biasa saja aku pasti akan mau bermain dengan kalian. Ayo kita bermain basket, aku sangat jago bermain basket "
"Ya sudah kemarilah. Ayo kita bermain" ucap Galang
Ayu menatap wajah Andaru dengan kesal. Mereka masih saling tatap tapi Aina segera menarik tangan Ayu untuk masuk ke kelas bersama Danu juga.
Selama memainkan bola basket itu teman-teman Andaru bermain dengan begitu kasar, bahkan sampai menyiku dada Budi, wajah, punggung, menabraknya dengan sengaja. Lalu melempar bola itu ke kepala Budi lagi. Pokoknya permainan mereka begitu kasar.
"Yang tenang yang tenang main bolanya, jangan seperti ini dong biasa-biasa saja" ucap Budi
Tapi mereka bukanya mendengarkan apa kata-kata Budi mereka makin kasar, saat Budi akan memasukkan bolanya ke dalam ring Andaru meloncat dan menyiku wajah Budi.
__ADS_1
Budi sampai terjatuh dan tergeletak begitu saja, tapi teman-teman Andaru malah melemparkan bola itu ke perutnya Budi. Mereka malah tertawa saat melihat hidung Budi berdarah tak ada rasa kasihan atau apapun dia hati mereka.
...----------------...
Baru saja Ayu duduk, teman-teman Aliya sudah datang dan menghampirinya dan menarik dasinya.
"Kau ini anak baru, anak beasiswa tapi sudah berani pada Aliya. Kau tahu Aliya itu bukan orang sembarangan dia bisa melakukan apa saja padamu jangan mentang-mentang Aliya mendekatimu lalu kau bisa leluasa seperti itu" marah Casandra.
"Memangnya apa yang aku lakukan sampai-sampai Aliya marah padaku. Aku tidak pernah membuat masalah padanya"
"Benarkah kau tidak pernah membuat masalah pada Aliya. Ingat-ingat lagi anak kampung apa yang sudah kau lakukan sampai-sampai Aliya akan membencimu dan akan membully mu. Kau tidak akan pernah lepas darinya sampai kapanpun. Kau akan habis olehnya lihat saja kau tidak akan tenang sekolah di sini"
Ayu melonggarkan kembali dasinya dan mendelikan matanya pada mereka berdua "Aku tak peduli "
"Songgong sekali kau, lihat saja kau akan habis oleh Aliya"
Mereka berdua pergi begitu saja. Lalu Budi masuk ke dalam kelas dengan darah yang mengucur dari hidungnya. Ayu sangat khawatir dia langsung menghampiri Budi dan berjongkok di hadapannya "Ada apa denganmu. Kenapa tiba-tiba berdarah seperti ini apa yang mereka lakukan padamu"
Budi yang sudah duduk menghela nafas dan mengusap hidungnya "Tenanglah Ayu ini hanya permainan seorang laki-laki. Memang seperti ini permainan laki-laki aku baik-baik saja"
"Aku tahu bagaimana permainan laki-laki, kau ini sudah dilukai oleh mereka aku akan membalas mereka"
"Sudahlah Ayu jangan membuatku malu dengan kau datang pada mereka dan berbicara apapun itu. Aku baik-baik saja ini cuman masalah kecil jangan dibesar-besarkan Ayu"
Ayu segera bangkit dan melihat kedua temannya yang diam dan menatap Budi juga " Baiklah aku akan diam, tapi kalau sekali-kali lagi seperti ini aku tak akan tinggal diam "
Ayu kembali ketempat duduknya kembali. Andaru sungguh keterlaluan sekali. Apakah karena masalah dirinya melaporkannya ke kantor polisi makannya dia membalasnya pada Budi. Kenapa tidak langsung pada dirinya saja.
__ADS_1