
Sinta yang baru pulang diam dia menatap Aliya yang mengoceh "Aku tidak menyangka kalau kita malah seperti ini, kita kalah orang mereka aku masih tidak percaya "
Sinta hanya diam saja. Dia harus mengimbangi semuanya tak mungkin kan dirinya kalah dengan perempuan itu.
"Sinta kenapa kamu diam saja aku bicara sama aku "
"Iya Aliya maaf, bila aku tak fokus aku masih mengigat bagaimana respon orang tua Andaru. Ternyata dia akan dijodohkan "
Sinta sepertinya akan mulai menyerah, dia sudah tak mau lagi untuk mengejar Andaru. Tapi Aliya yang melihat itu langsung menyalakan kembali semangat Sinta yang hilang.
"Hey, jangan seperti itu. Tante Bella memang seperti itu, dulu saja aku seperti itu dan sekarang dia baik-baik saja memang kadang-kadang Tante Bella berbicara kemana saja. Jangan menyerah ya kalau kamu suka sama Andaru maka jangan lelah"
Sinta menganggukan kepalanya dan melihat Aliya yang sedang mengambil tas nya dan mengeluarkan sesuatu "Semangat lah jangan putus asa, aku yakin kita akan baik-baik saja. Lihatlah aku pertama juga seperti itu lama lama juga tidak "
"Tapi tadi respon mamahnya padaku sepertinya sangat jelek, lalu kenapa kamu makin membesarkan hatiku "
"Iya aku tahu, tapi kamu harus tahu itu adalah salah satu cara untuk Tante Bella memilih calon istri untuk Andaru. Sudahlah jangan takut berjuang saja. Aku akan pulang nanti kapan-kapan kita akan main lagi kesana. Kamu juga pasti ingin kesana lagi "
__ADS_1
Sinta diam saja, Aliya langsung saja pergi, Aliya tersenyum melihat Sinta yang diam. Sinta harus sadar siapa dirinya, yang dilihat olehnya sepetinya Sinta akan berhenti mengejar Andaru.
Sebenarnya Aliya pura-pura memberi semangat, agar terlihat baik saja. Padahal dirinya bersyukur kalau sampai Sinta mundur.
"Sinta "
"Apakah kita bisa menjadi orang kaya nenek "
"Apa maksudmu, kenapa tiba-tiba berkata seperti itu"
"Kenapa kita harus seperti ini, kenapa aku harus lahir dengan keadaan seperti ini. Kenapa "
"Aku muak menjadi orang seperti ini "
"Sepertinya kamu harus berhenti bergabung dengan perempuan itu. Aku rasa dia penyebabnya dulu bersama Ayu tak seperti ini. Nenek akan membereskan rumah dulu. Kamu sudah jangan terus memikirkan semua pertanyaan yang ada di kepala kamu. Bersihkan dirimu ini dan istirahat "
Sinta membawa kursi rodanya kedalam kamarnya. Fikirkan sedang penuh patah hati sudah. Inginnya mendapatkan perhatian dari mamahnya Andaru ini malah membanding-bandingkan. Kalau saja dirinya kaya pasti tak akan seperti ini, pasti tak akan dibandingkan sampai kapanpun.
__ADS_1
...---------------...
"Teman kamu nak "
Cempaka yang sedang melamun mengalihkan pandangannya "Iya mah dia temenku, tapi sekarang dia udah ga anggap aku "
"Kenapa "
"Rumit intinya kami udah ga sama-sama lagi "
"Bagus mamah rasa dia bukan orang baik, dia orangnya egois ya "
"Benarkah "
"Yang mamah lihat sih seperti itu. Apalagi sudah bergabung dengan Aliya sudahlah tak akan benar dia itu memang kadang akan mempengaruhi teman-temanya "
Cempaka menganggukan kepalanya membenarkan apa kata mamahnya, mamahnya ini sudah sangat mengenal Aliya makannya tahu semuanya.
__ADS_1
"Peluk dong mah "
Bella mendekati anak gadisnya itu dan memeluknya dengan erat sekali. Sesekali mencium keningnya. Anak perempuan yang dulu hilang sudah kembali. Sebenarnya Bella masih merasa mimpi kalau ini terjadi tapi dirinya yakin kalau ini kenyataan.