
Cempaka yang memang sengaja keluar dari rumah, melihat Ayahnya yang masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Ayah mau kemana, sepertinya aku tak pernah melihat Ayah masuk kesana "
Cempaka dengan langkah yang cepat mengikuti Ayahnya, semoga saja Ayahnya tak mendengar langkah kakinya.
Cempaka hampir saja bersin karena banyaknya debu disini. "Ya ampun ini tempat apa, kenapa begitu pengap "gumam Cempaka.
Cempaka berhenti cukup jauh saat Ayahnya berhenti di depan sebuah sel penjara. "Ini penjara bawah tanah"
Cempaka menatap Ayahnya yang duduk dengan mengangkat salah satu kakinya. Lalu Ayahnya tiba-tiba tertawa.
"Bagaimana Dania, apakah senang hidup di sini dan Ayahmu keadaannya sepertinya sangat mengkhawatirkan dia sekarat"
"Tolong bawa Ayahku ke rumah sakit, dia sangat butuh pertolongan jangan jadi orang jahat. Seharusnya kamu juga berterima kasih padaku karena aku telah merawat anakmu dengan baik, apakah ini balasanmu"
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk merawat anakku, kamu sendiri yang telah menculiknya. Aku tidak pernah menitipkan anakku padamu. Kalau kamu memang tidak sanggup menjaga anakku kenapa kamu tidak kembalikan saja dia padaku dulu, aku selalu mencari keberadaan anakku kenapa kamu tidak serahkan saja padaku. Aku tidak akan pernah berterima kasih karena kamu telah merawat anakku"
Terdengar suara isakan, Cempaka yang mendengar semua pembicaraan itu hanya diam. Itu kan suara mamahnya.
Berarti mamanya dan kakeknya selama ini ada disini. Kenapa mereka harus dipenjara seperti ini. Cempaka yang ingin menghampiri Ayahnya mengurungkan niatnya.
Kalau sampai dirinya menemui kedua orang itu yang ada Ayahnya akan memindahkan mamanya dan juga kakeknya.
"Gimana ya, aku harus bikin rencana untuk mengeluarkan Kakek dan mamah, apa aku harus meminta bantuan Bianca, tapi apakah benar dia mau membantuku? "
"Pertama kali aku minta bantuan saja dia tidak mau, apalagi sekarang pasti dia akan menolak, diakan teman dekatnya Andaru "
__ADS_1
Kembali ayahnya berbicara, Cempaka makin penasaran apa lagi pembicaraan yang akan mereka ucapkan.
"Lepaskan aku Adi. Aku dan Ayahku tidak akan mengganggu keluargamu lagi dan aku juga tidak akan mengambil hak asuh lagi Cempaka, tolong lepaskan aku. Aku ingin hidup seperti orang lain aku ingin menata hidupku kembali, jangan memperlakukan kami seperti ini tolong ampuni kami berdua"
"Aku tidak akan bisa dibujuk olehmu dengan cepat, aku tidak akan pernah mengikuti kata-katamu "
"Egois kamu, kamu sudah mendapatkan anakmu apalagi yang kamu inginkan "
"Kalian berdua hancur, karena kalian sudah berani bermain-main denganku dan menjauhkan aku dengan anakku. Satu lagi kalian berdua telah membuat istriku selalu sedih karena kehilangan anak perempuannya. Maka inilah yang harus kalian hadapi kalian yang memulai maka kalian yang harus menyelesaikannya. Ini mungkin tidak seberapa untukku kalau aku mau aku bisa membuat kalian mati perlahan dengan kesakitan yang sangat mendalam"
Cempaka kembali mendengar sebuah tangisan, Cempaka mengigit bibir dalamnya, sambil memikirkan harus melakukan apa. Menyelamatkan Kakeknya dan mamahnya atau membiarkannya begitu saja.
Tapi mereka yang telah mengurus dirinya selama ini, mereka yang selalu ada disampingnya selama ini. Kalau tanpa mereka dirinya tak akan bisa hidup seperti ini.
"Aku harus melepaskan Mamah dan Kakek"
Cempaka dengan langkah pelan naik kembali, dirinya akan mematangkan dahulu rencana semoga saja Bianca mau membantunya.
Sinta yang mendengar Andaru menelfonya dan mengatakan itu menjadi lemas. Air matanya tak henti-hentinya mengalir.
"Pasti Andaru bohong kan, mana mungkin dia berani membohongiku seperti itu, Andaru pasti cuman mau buat Ayu dan Aliya senang saja. Hanya aku yang berhak bersama Andaru. Andaru pasti sangat mencintaiku. Tidak mungkin dia berani mempermainkan aku "
Sinta mengusap air matanya, dia mencoba untuk tersenyum tapi sulit air matanya pun kembali mengalir dengan tiba-tiba "Apa Ayu yang sudah menyuruh Andaru untuk mengatakan ini semua. Apakah Ayu yang menyuruh Andaru untuk berbohong padaku, kalau dia tidak pernah bertukar kabar denganku. Tidak mungkin kan ini ulah Galang mana mungkin dia melakukan ini, pasti ini adalah ulah Ayu yang tidak suka aku dekat dengan Andaru, pasti dia tidak suka Andaru menyukaiku "
Sinta menarik nafasnya, lalu mencoba membuat dirinya lebih tenang lagi dan berpikir positif bahwa Andaru hanya sedang pura-pura saja dan mencoba untuk meyakinkan perempuan-perempuan yang selalu ada di samping Andaru, yang selalu saja ingin ada di samping Andaru.
"Baiklah lebih baik sekarang tenang dulu. Aku akan membereskan masalah ini besok "
__ADS_1
Sinta membawa kusir rodanya ke tempat tidurnya. Dia membaringkan tubuhnya. Tapi entah kenapa air matanya terus saja mengalir, dirinya seperti membodohi dirinya sendiri padahal jelas-jelas Andaru yang mengatakannya langsung tapi Sinta merasa tidak percaya.
"Andaru akan menjadi milikku selamanya, dia harus menjadi pendampingku selamanya "
...----------------...
Bruk
"Maaf mah Cempaka ga sengaja "
"Kamu itu kenapa sih kayak ketakutan banget Cempaka, kamu habis dari mana. Kenapa buru-buru kayak gitu kayak dikejar-kejar hantu aja "
"Gini mah, tadi tuh lagi tungguin Bianca pulang, tapi ga ada terus aku buru-buru masuk karena dingin aja gitu dan gatal banyak nyamuk, makanya aku buru-buru pengen ke kamar dan cepat-cepat pakai selimut dingin banget diluar mah "
"Bianca ? Kamu bener nunggu Bianca. Dia baru aja masuk masa kalian ga ketemu emang kamu tunggu di mana, sampai-sampai ga bisa ketemu gitu"
"Tadi aku tunggu di taman. Aku kira kalau di taman nunggunya bakal kelihatan dari gerbang kalau Bianca pulang, ternyata ga kelihatan ya. Ya udah deh Mah aku pergi ke kamar dulu ya mau temuin Bianca ada sesuatu yang harus aku bicarakan tentang pelajaran. Ada yang aku ga ngerti sepertinya Bianca udah belajar deh tentang yang itu"
"Ya udah kalau kamu benar-benar enggak bisa nanti tanya aja sama Mama, nanti mama bantu buat kamu kerjain tugas kamu ya"
"Iya Mama sayang, aku minta bantuan dulu sama Bianca ya, kalau emang Bianca nggak bisa nanti aku minta bantuan sama mama"
"Iya sayang"
Cempaka segera berlari ke arah kamarnya, sungguh jantungnya sudah berdebar-debar saking takut Mamanya malah mengetahui kalau dirinya sedang menguping pembicaraan Ayahnya dengan mamanya Nadia.
Bisa-bisa mamanya ini berbicara pada ayahnya, dan semua rencananya pasti akan gagal. Untuk melepaskan mama dan juga kakeknya.
__ADS_1
Mau bagaimanapun caranya dirinya harus melepaskan mamanya dan juga kakeknya, mereka harus hidup bebas tidak boleh terkurung seperti itu mereka sudah baik pada dirinya.
Maka mereka harus pergi jauh dari sini. Kalau perlu dirinya akan ikut pergi bila ayahnya kembali mencari mamahnya dan kakeknya itu untuk dikurung.