
Bella melemparkan tanah merah kearah suaminya yang ada didalam kamar, Adi hanya diam sambil menatap tanah merah itu..
"Anakmu meninggal, tapi kau sama sekali tak datang ke pemakamannya, ayah macam apa kau ini hah " teriak Bella dengan histeris.
Adi membersihkan pakainnya, dia bangkit dan menatap istrinya.
"Itu bukan Cempaka, aku tahu itu bukan anakku, seharusnya kau yang lebih tahu Bella karena kau adalah ibunya "
Bella menarik pakaian suaminya " Jelas-jelas sudah ada mayatnya di depan matamu, apalagi yang perlu kita buktikan, kita sudah mencari Cempaka kemana-mana tapi hasilnya nol besar. Kita sama sekali tidak menemukan Cempaka. Lalu tiba-tiba ada seorang mayat yang memakai pakaian Cempaka, kalung Cempaka dan semuanya yang Cempaka punya. Apakah di dunia ini ada orang yang sama seperti Cempaka, memakai pakaian sama semuanya sama dan dibunuh hanya untuk mengelabui kita saja"
Adi mencoba untuk menahan amarahnya " Aku masih tak percaya itu Cempaka, aku yakin dia masih ada. Hatiku mengatakan kalau anak perempuan ku masih ada, dia masih hidup "
"Hidup di man, dia di mana. Ayo tunjukkan padaku dan bawa aku pada Cempaka"
Adi memeluk istrinya, kalau dirinya menjawab malah akan makin keruh suasananya.
Bella memberontak tak mau dipeluk suaminya, tapi Adi dengan sekuat tenaga tak melepaskan pelukannya, istrinya merosot dan menangis kembali.
__ADS_1
"Sudah sayang, aku janji padamu akan menemukan Cempaka yang sesungguhnya, aku yakin Cempaka masih ada "
Bella tidak menjawab dia malah berteriak memanggil nama Cempaka anak bungsunya.
...----------------...
"Paman kenapa ini bisa terjadi pada keluarga kita " tanya Andaru sambil mengusap air matanya.
Mereka bertiga masih ada dipemakan Cempaka, karena Cempaka dimakamkan disamping rumah mereka. Bella ibunya tak mau jauh-jauh dari anaknya.
"Ini sudah sakdir Andaru "
"Hey jangan berbicara seperti itu, "
Rizki memeluk bahu Andaru dan melihat kearah Aksa yang melamun sambil menatap tanah merah itu. Aksa berjalan menjauh, dia tak berkata apa-apa.
"Kita masuk ya Andaru "
__ADS_1
"Tidak, aku ingin menemani adikku Cempaka, aku mau disini saja. Aku tak mau kemana-mana Paman "
"Tapi ini sudah larut Andaru kau harus masuk rumah, ayo kita masuk dan nanti pagi kita kembali kesini, kau harus temani Aksa, sepetinya dia sangat terguncang, aku tahu kau pun sama, tapi sebagai kakak cobalah kau menenangkan adikmu Aksa "
"Baiklah Paman, mari kita masuk rumah "
Dengan lesu Andaru bangkit dan berjalan dengan gontai, rasanya masih tak percaya adiknya meninggalkannya begitu cepat.
Kenapa dunia begitu kejam, kenapa harus adiknya, kenapa harus dia. Cempaka adalah matahari dirumah ini, lalu lalu Cempaka tak ada bagaimana keadaan rumah nantinya.
Mamah pasti akan sangat sedih sekali, mamah pasti akan terpuruk, aku yakin mamah tak akan pernah bisa menerima semua ini, Cempaka adalah segalanya untuk keluarga besar ini.
"Paman apakah rumah ini akan baik-baik saja tanpa Cempaka "
"Semoga saja baik-baik saja Andaru, tak akan ada yang pernah tahu kematian akan menghampiri kita kapan, maka kita harus selalu siap. Tuhan terlalu menyayangi Cempaka makannya Tuhan lebih dulu mengambil Cempaka"
"Hemm begitu Paman rasanya aku tak sanggup "
__ADS_1
Rizki mengusap rambut Andaru dan menutup pintu utama, Rizki mencoba untuk kuat, meski hatinya pun sama sakitnya ditinggal Cempaka.