
Sinta benar-benar diantarkan kerumahnya, dia sampai diantarkan masuk kedalam rumah "Kenapa kamu pulang nak"
Zack sendiri langsung pergi dan meninggalkan rumah itu. Barulah Sinta berani berbicara "Ini gara-gara Ayu nek, aku diusir, aku dikeluarkan "
"Apa kenapa bisa, ada apa ini kenapa bisa karena Ayu, mana mungkin Ayu seperti itu "
"Benar nek ini gara-gara Ayu, mana mungkin aku bohong aku tak pernah bohong "
Sinta sudah berlinang air mata, dia sakit hati oleh Ayu karena tiba-tiba saja dikeluarkan apalagi diumumkan didepan banyak orang.
Kenapa begitu jahat, kenapa harus dikeluarkan seperti itu kan bisa dibicarakan baik-baik. Memangnya dia itu anak emas sampai-sampai orang yang menyakitinya harus dikeluarkan dari sekolah.
"Nenek akan kesekolah "
"Jangan nenek nanti yang ada nenek malah dipermalukan di sana sepertiku, aku dipermalukan di sana sudah jangan seperti itu. Aku tidak mau malah nenek nanti dipermalukan"
"Yang sabar ya nak, kita cari sekolah yang lain. Tak masalah bukan sekolah disana yang terpenting kamu bisa sekolah dulu "
"Tidak mau aku tidak mau sekolah di mana-mana selain di tempat itu, nenek tahu kah sekolah itu adalah impianku. Aku tidak masuk sekolah di mana-mana. Lebih baik aku tidak sekolah saja kalau tidak sekolah di sana"
"Nak jangan seperti itu, kenapa berbicara seperti itu. Kamu sudah pernah kan sekolah disana mau apa lagi. Kamu sudah merasakan bagaimana sekolah disana, tolong jangan egois ya "
Sinta mengelengkan kepalanya, dia langsung masuk kedalam kamarnya. Hatinya sakit sekali awas saja Ayu adalah orang yang pertama dirinya benci.
...--------------...
Adi menatap kedua orang yang sudah ada dipenjara bawah tanah, "Bagaimana kalian suka bermain-main denganku "
"Apa-apaan ini Adi, keluarkan aku Aliya sedang ada dikantor polisi"
"Iya aku tahu anakmu sedang di kantor polisi dia harus menerima apa yang pernah dia lakukan. Kamu jangan terus membelanya dan melimpahkan semuanya pada Andaru, aku sudah tahu semuanya dan bukti-bukti sudah aku berikan pada polisi semuanya lengkap tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih"
Sena kaget mendengar itu, kenapa Adi bisa tahu "Aku juga sudah tahu kamu memberikan sekolahku pada laki-laki ini. Memangnya kamu siapa sampai berani memberikan sekolah yang aku bangun sendiri dengan uangku sendiri diberikan kepada orang lain hah "
Sena diam, dia menundukan kepalanya "Aku harus menolong Aliya "
"Dalam mimpimu saja, biar aku perlihatkan padamu bagaimana keadaan anak kesayanganmu itu "
__ADS_1
Adi memutar video itu dan disana Aliya sudah ada didalam jeruji besi. Aliya sedang berteriak-teriak ingin dikeluarkan. Tapi tak ada yang menghiraukannya.
"Lihatlah aku sudah membuat anakmu ada didalam penjara maka nikmati saja "
"Adi aku minta ampun "
"Bukannya kamu sudah tahu siapa aku. Kenapa kamu berani main-main denganku. Kamu sudah tahu kan aku ini orang seperti apa"
"Iya aku minta maaf tolong keluarkan aku, pasti anakku dan juga istriku sangat membutuhkan ku "
Adi hanya mengangkat bahunya saja "Akku tidak peduli, sekali bermain-main denganku dan juga anak-anakku maka inilah akibatnya aku sudah terlalu baik padamu jadi kamu semena-mena padaku"
Adi pergi dari tempat sumpek itu, sedangkan Sena bersandar dan terduduk dengan lemas, menjambak rambutnya dia binggung dengan keadaan anak dan istrinya itu.
Bagaimana mereka, apakah mereka baik-baik saja perusahannya juga bagaimana, kenapa semua ini bisa ketahuan kenapa bisa coba.
Baru saja Adi masuk sudah ada Sani yang menangis memegang tangan istrinya "Ada apa kamu disini "
"Tolong Adi, anakku di penjara sedangkan suamiku tidak ada entah ke mana dia perginya"
Adi hanya diam dan pergi begitu saja, Bella langsung menenangkan Sani "Yang sabar, kenapa tidak dari awal saja Aliya mengaku "
Bella diam, sebenarnya dia tahu semuanya tapi hanya diam saja. Suaminya bilang harus diam karena ini sudah menyangkut keluarganya.
Bella hanya bisa mengikuti kata-kata suaminya, dengan siapa lagi dirinya hidup kalau bukan dengan suaminya.
"Bagaimana ini Bella "
"Lebih baik kamu pulang dan terima semuanya kalau Sena tak pulang-pulang maka urus perusahan oleh mu dulu bersama Alvaro, pasti dia akan membantumu. Apakah Alvaro mau membantumu "
"Untuk masalah kantor aku tidak terlalu khawatir, karena ada Alvaro yang mengurus semuanya tapi dia tidak mau membantu adiknya dia tidak peduli. Karena dia bilang adiknya itu salah maka harus dipenjara, aku tidak bisa melakukan apa-apa aku juga tahu dia salah tapi setidaknya aku ingin Alvaro menguatkan adiknya, bukannya memarahi di kantor polisi seperti tadi"
"Iya aku mengerti, kamu harus memahaminya bagaimana Alvaro kerasnya dia. Yang terpenting kamu selalu datang ke kantor Polisi untuk melihat keadaan Aliya, terima saja semua ini karena apa yang pernah Aliya lakukan sudah sangat fatal"
Sani menganggukan kepalanya dia mengerti, semua harus dihukum dengan adil. Sani tak masalah anaknya dihukum asal anaknya bisa berubah.
"Baiklah aku pergi dulu terimasih atas nasihatanya, aku masih akan mencari suamiku dengan Alvaro, aku pulang ya Alvaro sudah menungguku "
__ADS_1
"Baiklah hati-hati ya "
Sani menganggukan kepalanya dan pergi, dia juga tak bisa terus memaksa Bella untuk membantunya. Apalagi Adi tapi begitu sinis padanya pasti dia sangat marah sekali.
...----------------...
"Ada apa Andaru kenapa kamu mengumpulkan kami disini "
Andaru menatap semua keluarganya "Aku ingin mengatakan sesuatu, mungkin ini konyol tapi aku ingin pindah sekolah saja ayah Mama aku akan pergi untuk menyelesaikan sekolahku, tapi tidak di sini. Kalian sudah tahu kan aku ini aneh mencintai adikku sendiri Cempaka. Kalian juga pasti tahu kan tidak usah aku beri tahu, aku ingin melupakan semua itu aku ingin hubunganku dan juga Cempaka seperti adik kakak yang lainnya. Maka aku harus pergi dari sini aku akan menata kembali hidupku dan melupakan semua tentang perasaanku ini"
"Kalau aku terus di sini yang ada aku tidak akan pernah melupakan Cempaka sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakannya. Yang ada aku akan terus mengingatnya, ingin menikahinya itu konyol sekali kan aku seperti terobsesi pada adikku sendiri, jadi aku sudah putuskan kalau aku akan pergi dan hidup mandiri. Mungkin kalian boleh main padaku satu tahun sekali bisa kan Ayah kamu mengabulkannya, aku akan tinggal di rumah opah yang ada di Belanda saja aku akan sekolah di sana"
Adi menatap sang istri yang sudah menangis, Adi menghembuskan nafasnya "Baiklah ini juga demi kebaikan keluarga kita kan, aku akan memberi kamu waktu sampai lulus kuliah di sana dan kamu harus melupakan Adik kamu. adan ayah mau Bianca menemanimu di sana"
Andaru menatap Bianca"Tak masalah, toh Bianca juga temanku. Dia akan bisa mengajariku untuk melupakan Cempaka adikku. Aku tidak pernah masalah dengan itu"
"Bagaimana Bianca "tanya Adi.
"Aku harus mengurus pekerjaanku dulu om, apakah tidak masalah aku bersama Andaru"
"Tidak usah memikirkan tentang pekerjaanmu, om akan mengurus semuanya. Tentang biaya kamu juga tidak usah memikirkannya om yang akan membiayai sekolah kamu, kamu hanya perlu sekolah di sana menemani Andaru dan bimbing dia untuk tidak kembali mencintai adiknya"
Cempaka yang mendengar itu hanya bisa menundukan kepalanya, dirinya juga sebenarnya sudah sangat tertarik pada kakaknya Andaru.
"Baiklah om, aku akan mengikuti kemauan om "
"Bagus, akan ayah urus semuanya, kalian berdua hanya perlu beres-beres ya "
Andaru dan juga Bianca menganggukan kepalanya, mereka semua langsung bubar kecuali Bella dan Adi. Bella menatap suaminya.
"Apa kamu yakin mas "
"Aku yakin demi kebaikan anak-anak kita mereka satu darah, Andaru sudah memutuskannya maka kita hanya perlu mengikutinya. Semuanya akan baik-baik saja "
"Lalu Sena dan juga kepala sekolah itu "
"Biarkan mereka mendapatkan hukumannya, biarkan Renaldi yang membalasnya sudah tenang ya hidup kita akan baik-baik saja. Tak usah sedih Andaru bersama Bianca, mereka akan baik-baik saja Bianca akan bisa menasehati Andaru dan Andaru akan bisa menjaga Bianca dengan baik "
__ADS_1
Bella tak menjawab dia langsung saja memeluk suaminya, belum rela berpisah dengan sang anak. Karena memang dirinya tak mau jauh-jauh dari anaknya.