
Tok tok tok
Pintu terbuka dan memperlihatkan neneknya Sinta"Ayu kau kemari "
"Iya Nek aku membawa kue kesukaan Sinta, dia belum tidur kan"
"Belum, ayo masuk Ayu "
Ayu dengan senang segera masuk, mamahnya tadi membuat kue dan memintanya untuk memberikannya pada Sinta.
Sedangkan Sinta sendiri dia sedang sibuk dengan ponselnya dan sedang membahas pesan dari Andaru..
Sinta : Kenapa kau bisa marah. Memangnya apa yang terjadi
Andaru : Aku sedang marah pada seseorang dan dia sudah mengusik hidupku, dia sudah membuat Mamahku malah menjadi curiga padaku. Dia memang sangat gegabah sekali.
Sinta : Kenapa bisa. Memangnya kau membuat salah apa.
Andaru :Ada masalah di sekolah, biasa masalahnya sih tidak terlalu besar tapi tetap saja aku kesal pada orang itu.
Sinta : Kau yang sabar, kalau aku ada di sekolahmu mungkin aku akan membelamu dan melabrak orang itu. Aku akan memarahinya karena telah membuatmu jadi tak dipercayai oleh mamamu sampai-sampai kau dicurigai seperti itu.
Sinta yang menunggu balasan dari Andaru melihat ke arah pintu, karena tadi dirinya mendengar ada langkah kaki itu ternyata Ayu, dengan cepat Sinta membalikkan ponselnya dan tersenyum pada Ayu.
"Kenapa kau diam saja, ayo masuk ada apa denganmu"
Ayu tersenyum dan langsung masuk "Wah kau membawa kue kesukaan ku "
"Iya mamah yang buat, ayo ini makan "
Sinta dengan senang hati mengambil kue itu dan memakannya " Bagaimana dengan di sekolah. Apakah ada kemajuan"
__ADS_1
"Iya ada, aku sudah menemukan barang buktinya. Sudah aku katakan kalau orang yang telah melakukan tabrak lari padamu ada di sekolah itu kan dan benar saja orang itu ada di sana"
"Benarkah siapa orang itu "
"Andaru "
Uhuk uhuk Sinta langsung tersedak. Ayu memberikan air minum pada Sinta " Ada apa dengan mu ini, ini cepat minumlah dulu "
"Kau yakin kalau Andaru yang telah melakukannya, mana mungkin dia melakukan itu, dia anak dari yang punya sekolah itu. Mana mungkin dia melakukan tabrak lari dia pasti akan bertanggung jawab "
"Aku melihatnya sendiri helm yang aku lihat itu ada dalam loker Andaru dan aku yakin dialah orangnya. Dari pertama aku masuk sekolah itu aku sudah sangat curiga pada laki-laki itu. Dia itu laki-laki berandalan dan pasti tidak akan bertanggung jawab. Apalagi dia yang punya sekolah itu maksudnya anak yang punya sekolah itu pasti dia akan lebih semena-mena lagi dan tidak akan bertanggung jawab"
"Dia itu laki-laki terhormat. Mana mungkin dia melakukan itu, kalau dia pasti akan tanggung jawab. Aku yakin itu, mama mungkin dia tak bertanggung jawab. Kau tahu siapa kan orang tuanya "
"Iya aku tahu siapa orang tuanya, maka dari itu dia pasti tidak akan bertanggung jawab. Dia itu orang kaya dia bisa melakukan apa saja, dia bisa mengubah cerita dan memanipulasi semuanya. Dia bisa melakukan apa saja dengan uang yang dia punya"
"Tapi aku yakin bukan Andaru yang melakukan itu aku benar-benar yakin"
"Aku sangat ingin orang yang telah menabrakku bertanggung jawab Ayu. Aku ingin dia merasakannya tapi aku tidak yakin kalau Andaru yang melakukannya. Aku sama sekali tidak mengenalnya hanya firasatku saja mengatakan kalau Andaru tidak mungkin melakukan itu"
Ayu diam, dia menatap lekat Sinta. Ada yang berbeda dari Sinta dia terlalu membela Andaru seperti mengenal dekat sama Andaru. Sinta sekarang sudah mulai tertutup padanya.
Bahkan tadi saat dirinya akan masuk, Sinta langsung menutup ponselnya seperti ada yang disembunyikan oleh Sinta.
...----------------...
Pagi-pagi sekali Ayu sudah siap dengan seragamnya, rambutnya dikepang satu, Ayu mengambil tasnya untuk sarapan, tapi tiba-tiba ponselnya berdering ternyata dari Sinta.
"Ada apa Sinta "
"Bagaimana apakah kau sudah dapat informasi dari polisi. Apakah benar Andaru orang yang telah melakukan tabrak lari itu, kau sudah mendapatkan informasi ? "
__ADS_1
"Aku belum mendapatkan informasi, ini aku mau sarapan dan nanti pergi ke kantor polisi. Aku akan menanyakan semuanya pada inspektur. Semoga saja apa yang selama ini aku curigakan itu terbukti kalau Andaru adalah orang yang telah melakukan tabrak lari itu. Aku akan sangat puas bila dia tertangkap dan memang bersalah"
"Nanti setelah kau dapat informasi tolong kau kabari aku. Aku ingin tahu tentang kelanjutan kasus ini. Kau langsung hubungi aku ya secepatnya aku menunggu kabarmu Ayu, aku sangat mengandalkanmu"
"Iya kau bisa tenang, semuanya akan lancar aku akan pergi ke kantor polisi dan aku yakin orang itu sudah tertangkap. Pasti dia sudah didalam jeruji besi "
"Hemm, baiklah aku matikan dulu "
"Iya "
Ayu segera keluar dari kamar dan duduk dimeja makan, mamahnya sudah menyiapkan segalanya.
"Apakah kau masih mengikuti tentang kasus Sinta "
"Iya Mah aku masih mengikuti kasusnya, Bahkan aku sudah menemukan barang buktinya. Aku yakin kalau orang yang menabrak Sinta dari sekolah itu dan aku menemukan orang itu"
"Mama minta kau jangan terlalu ikut campur tentang kasus itu, kau di sana untuk sekolah bukan untuk mencari bukti siapa yang telah mencelakai Sinta. Mama tidak mau kau terluka . Kau tahu kan orang-orang itu memiliki segalanya. Mama tahu mama bisa membantumu untuk lepas nantinya jika mereka memutar balikkan fakta, tapi mama tidak mau kau terlibat masalah"
"Iya Mah aku di sana untuk sekolah, untuk belajar aku akan fokus pada pelajaranku. Tapi aku tidak bisa tinggal diam saat sahabatku Sinta tidak mendapatkan keadilan, dia harus mendapatkan keadilan mah"
"Mamah mengerti, tapi ada polisi yang bisa melakukan itu. Polisi akan mencari buktinya tanpa kau harus ikut campur. Mama minta mulai sekarang kau jangan terlalu ikut campur tentang masalah itu nanti kau yang akan kena batunya nanti kau yang akan diincar oleh mereka semua"
Ayu menganggukan kepalanya dan segera melahap makanannya, "Ingat jangan melanggar apa yang Mama suruh. Mama tidak mau kita harus pindah rumah ke sana kemari mencari tempat yang aman lagi"
"Iya mah aku mengerti, aku tak akan membuat mamah kecewa ataupun khawatir aku akan mengikuti apa kata-kata mamah "
"Baiklah, mamah pegang kata-katamu Ayu, kau hanya perlu fokus sekolah dan menjadi lah anak yang berprestasi seperti dulu "
"Iya mah, aku tak akan mengecewakan mamah "
"Baguslah "
__ADS_1
Ayu hanya bisa membatin, meminta maaf pada mamahnya kalau dirinya akan melanggar janji itu, dirinya tak bisa membiarkan Sinta berjuang sendirian.