Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
79 Sudah diketahui


__ADS_3

Setelah membaringkan anaknya ayah Bella mengusap rambut anaknya, anak yang telah dirinya sakiti anak yang selalu dirinya beda bedakan karena Serena yang sudah mengalami trauma dirinya hanya fokus pada Serena tanpa memikirkan anaknya Bella bagaimana.


Dirinya hanya mencukupi Bella dengan uang saja dengan kasih sayang yang kurang, dirinya sudah gagal menjadi ayah, dirinya sudah membuat semuanya kacau, dirinya tak pantas untuk dipanggil seorang ayah disini.


"Maafkan papih nak maafkan papih, papih sudah gagal nak "


Ayah Bella mencium tangan anaknya, memegangnya dengan erat dan langsung memeluk tangan anaknya itu. Wajah anaknya begitu damai tidur seperti ini. Di satu sisi dirinya senang bisa kembali lagi bersama sang anak tapi disisi lain dirinya kecewa dengan dirinya sendiri karena telah berbuat demikian pada Bella.


"Bella papih akan memperbaiki semuanya papih akan memperbaiki semua sikap papih yang dulu menjadi lebih baik, papih akan menjagamu menyayangimu lebih dari dulu, tapi siapa nak yang telah menjualmu papih akan membalas orang itu, papih sendiri yang akan melakukannya "


**


"Kau akan pulang kemana Ziva "


"Aku akan tetap pulang kerumah Adi "


"Bagaimana kalau dia menyakitimu bagaimana kalau dia kepikiran untuk membunuh mu lagi "


"Aku tidak punya tujuan lalu aku harus pergi kemana, satu satunya rumah yang aku punya adalah rumah Adi, aku pasti akan baik baik saja, sudahlah kau bisa mengantarkan ku kerumah ku saja bersama Adi aku jamin semuanya akan baik baik saja, Adi adalah suamiku "


"Kau yakin "


"Ya aku yakin tentang semua itu "


Piyan segera mendorong kursi roda Ziva untuk keluar dari rumah sakit sebenarnya Ziva belum dibolehkan untuk keluar dari rumah sakit tapi dia ngeyel dan ingin pulang alhasil seperti ini kan pulang, ya sudahlah ini kemauannya Ziva sendiri makan kita turuti saja.


"Pikirkan lagi apakah suami mu tak akan tiba tiba membunuh mu "


"Tak akan sudah ayo antarkan aku pulang saja "


Piyan akhirnya mengalah saja sudahlah ini kemauan Bella sendirian, ya sudah kita antarkan kerumah suaminya meskipun dirinya takut Ziva kenapa napa.

__ADS_1


"Piyan kau ada disini "


Piyan menatap kearah depan ada istrinya Amelia, Piyan masih tenang mendorong kursi roda Ziva dan langsung berhadapan dengan Amelia istrinya .


"Sayang kau ada dirumah sakit ini "


"Ya aku ada disini dan anak mu dirawat disini "


"Ya nanti aku akan ke ruangannya "


"Nanti, siapa perempuan ini " tunjuk Amelia pada Ziva.


"Dia adalah temanku dia kecelakaannya makanya aku membantunya untuk ke rumah sakit, maafkan aku karena tidak mengabarimu Amelia aku ingin cepat-cepat bertemu dengan anak kita tapi bagaimana dengan temanku ini dia butuh bantuan dan aku harus membantunya"


"Teman seperti apa teman ranjang atau teman kantor atau teman apa"


"Teman kantor sayang "


"Biarkan aku mengantarkannya pulang dulu "


"Dia punya keluarga dan dia bisa menghubungi keluarganya "


Amelia berjongkok dan menatap Ziva dengan mata yang marah "kau Nona temannya Piyan bisa kan pulang sendiri tanpa harus diantar oleh suami orang atau perlu aku pesankan taksi dan jika kau tidak punya uang aku bisa membayarkannya, tidak apa itung-itung aku mau membantu mu untuk bisa pulang ke keluargamu. Piyan punya istri dan anak dan sekarang anaknya sedang membutuhkannya. Kau bisa hubungi keluargamu sendiri tidak usah merepotkan orang lain sampai-sampai harus minta diantarkan pulang"


Ziva diam mendongakan kepalanya kearah Piyan, namun Piyan hanya diam saja tak mengatakan apa apa.


"Kau pergilah ke kamar anak mu, aku yang akan mengantarkan perempuan ini ke taksinya "


Piyan dengan patuh langsung pergi dan yang mendorong Ziva digantikan oleh Amelia.


"Kau tak usah repot repot membantuku "

__ADS_1


"Sama sekali tidak repot aku hanya ingin berbicara dengan selingkuhannya Piyan bagaimana Nona Ziva, apakah kau suka berselingkuh dengan suamiku. Bukannya kau juga sudah bersuami bahkan suamimu lebih kaya lalu apa yang membuatmu ingin berselingkuh dengan orang seperti Piyan yang tidak ada apa-apanya dengan suamimu"


Ziva diam dia kaget istrinya Piyan sudah tahu dan setenang ini, apa istrinya Piyan tak akan mencelakainya.


"Tidak aku sama sekali tidak selingkuh dengan suamimu mana mungkin aku menyelingkuhi Adi, kau jangan asal bicara mungkin suamimu pergi dengan perempuan lain, sekarang kau malah melihat aku bersama Piyan makanya kau menuduhku kalau aku adalah selingkuhan suamimu, jelas-jelas aku tidak berselingkuh dengan suamimu aku sama sekali tidak berselingkuh kau salah paham, coba kau tanyakan lagi pada suamimu yang sebenarnya" Ziva mencoba untuk mengelak.


"Tidak usah bertanya langsung pada Piyan karena aku sudah mengetahuinya dan aku sudah punya bukti, memangnya aku tak bisa melakukan sesuatu,memangnya aku tak bisa mengirimkan foto itu pada suamimu dan mengatakan kalau kau telah berselingkuh dengan suamiku, aku bisa melakukannya Nona jika kau tidak menjauhi suamiku secepatnya maka aku akan mengirimkan fotomu dan juga foto suamiku yang sedang bermesraan di hotel di restoran di mall itu, akan jatuh pada tanggal suami mu "


"Kau gila, kau ingin main-main denganku kau yang akan mati di tanganku, memberikan foto pada suamiku dengan tidak jelas seperti itu tidak akan diterima, dia pasti akan berfikir mungkin saja kau hanya mengeditnya dan hanya ingin menguras harta suami ku saja "


Amelia memberhentikan dorongannya lalu memutar kursi roda itu dan kembali berjongkok berhadapan dengan Ziva. Menepuk pipi Ziva perlahan "sebenarnya aku ingin menghajarmu atau mungkin menamparmu, menjambakmu, tapi aku melihat keadaanmu yang sangat memprihatinkan aku tidak jadi melakukan itu. Kau seharusnya sadar kalau yang kau lakukan adalah salah kau telah berselingkuh dengan suami orang lain kau telah menyakiti perempuan lain jika laki-laki itu sudah bosan dengan istrinya belum tentu selingkuhannya adalah perempuan yang lebih baik dari istrinya, jadi jangan terbang dulu sayang nanti kalau kau bersama Piyan mungkin selanjutnya kau yang akan diperlakukan seperti ini oleh Piyan"


Ziva dia tidak menjawab apa-apa hanya diam dan tak bisa mengatakan apa-apa lagi, sebenarnya dirinya bisa melawan tapi dengan keadaan seperti ini sangat terancam kalau tiba-tiba didorong bagaimana coba.


"Kau bisa kan pulang sendiri tanpa harus aku menyetopkan taksi, kau punya uang kan suamimu orang kaya mana mungkin kau tidak punya uang dan tak menyimpan uang, jadi mulai sekarang akhiri semua hubunganmu bersama suamiku atau aku akan benar-benar melakukan apa yang sudah aku katakan tadi padamu, aku Amelia tidak akan pernah main-main dengan semua kata-kataku mungkin nanti kau akan dibunuh bersama suamiku dan aku tidak akan pernah peduli itu yang terpenting rasa sakit hatiku sudah terbalaskan"


Amelia mendorong kursi roda itu dan langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan apakah Ziva jatuh atau tidak, yang terpenting amarahnya sudah sedikit terlampiaskan pada perempuan itu.


Dirinya sudah sejak lama tahu kalau Ziva dan juga suaminya menjalin kasih dia tahu semuanya, dirinya tahu selama ini dirinya mengikuti kemanapun suaminya pergi.


Memang dirinya merasa ada yang berubah dengan suaminya dan inilah perubahannya memang dirinya tidak berbicara pada suaminya hanya ya berbicara kalau suaminya berubah, padahal dirinya sudah mengetahui semuanya perselingkuhan ini Ziva adalah mantan pacar suaminya jadi dirinya tahu semua itu.


Saat Amelia masuk ke dalam ruangannya suaminya sudah ada di sana duduk dan memegang tangan anaknya


"Jika kau masih ingin bersama anakmu maka kau jangan pernah bertemu lagi dengan Ziva selingkuhanmu"


"Aku sama sekali tidak selingkuh kau ini suka mengada ngada Amelia, dia hanya teman kerjaku saja itu saja tak lebih"


"Mana ada laki-laki selingkuh jujur tak akan ada mereka akan merasa benar dengan apa yang mereka lakukan dan kau adalah salah satu dari laki-laki brengsek itu, sudah punya istri tapi masih saja selingkuh tidak tahu diri"


Amelia pergi lagi dari ruangan itu setelah mengatakan kata-kata itu pada suaminya, hatinya sedang tidak baik hatinya sedang sakit dan ingin sendiri untuk menenangkan fikirannya, menenangkan pikiran dan hatinya dan akan memikirkan ke depannya akan seperti apa.

__ADS_1


Sebuah perselingkuhan bukanlah hal bisa dimaafkan dengan gampang dan bisa untuk dilupakan dengan gampang juga, mungkin memaafkan bisa tapi untuk melupakan sulit.


__ADS_2