
Aliya yang sudah sampai dirumahnya menarik nafasnya dan membuka pintunya dengan sangat perlahan.
Papihnya ada disana, diruang tamu sedang memaku laptopnya "Papih "
"Kamu sudah pulang Aliya, kenapa sebentar "
"Tapi belajar cuma beres-beres di pemukiman dam setelah itu kami diperbolehkan pulang "bohong Aliya.
"Baiklah segeralah istirahat nak "
"Ada yang ingin Aliya bicarakan "
Papihnya langsung memberhentikan pekerjaannya. Melepaskan kaca matanya dan menatap anaknya "Bicara apa Aliya "
Aliya dengan perlahan mendekati papihnya dan duduk bersebrangan dengan papihnya. "Pih, Pak Ginanjar sudah mengundurkan diri. Dia juga bilang kalau saksi mata itu sudah tahu siapa yang sudah menabrak Sinta, bagaimana pih "
Sena menatap anaknya "Kamu yakin kepala sekolah itu keluar ? "
"Iya pih yakin, bahkan tadi dia bicara padaku. Aku takut pih kalau semua tahu. Aku takut akan dipenjara harus bagaimana aku pih. Aku binggung bahkan tadi aku ketemu sama saksi itu "
Sena diam, masih memikirkan bagaimana caranya agar masalah anaknya ini tidak terbongkar dan membuat anaknya harus dipenjara.
"Papih akan fikirkan caranya, untuk sekarang kamu jangan terus buat onar. Sekolah seperti biasa dan jangan sampai kamu memperlihatkan ekspresi apapun seperti biasa saja seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa "
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian bicarakan "
Aliya yang melihat Bundanya langsung bangkit "Ya udah Aliya istirahat dulu ngantuk mau bobo siang dulu "
"Yaudah sayang "
Aliya hanya menganggukan kepalanya dan segera naik kelantai atas, dimana kamarnya berada. Istirahat adalah jalan dirinya agar tidak ditanya-tanya oleh bundanya.
----------------
"Kamu istirahat ya "
"Adik adik belum pulang mah "
"Belum sayang, udah ga sabar ketemu adiknya "
"Kamu istirahat dulu aja ya, nanti kalau adik-adik pulang kamu bangun "
"Hemm,"
Andaru mencoba untuk membaringkan tubuhnya. Meskipun sulit dan tangannya sakit tapi dirinya harus terbiasa terlebih dahulu.
Baru juga akan memejamkan matanya setelah mamahnya pergi, ponselnya malah berdering dan Aliya yang menelfon.
__ADS_1
"Mau apa sih "
Andaru dengan kesal langsung mengangkatnya "Ada apa aku harus istirahat"
"Jangan seperti itu, aku ingin bicara sesuatu padamu ini sangat penting sekali. Ini tenang kecelakaan itu, kamu masih ingatkan tentang kecelakaan itu "
"Ya memangnya kenapa "
Andaru yang masih tidak tahu kalau semua sudah mulai terbongkar hanya diam, menunggu jawaban dari Aliya.
"Saksi mata itu mempunyai fidio saat kita masuk kedalam sekolah, dia adalah pamannya Budi, dia yang mempunyai bukti itu dan dia tahu juga siapa yang melakukan tabrak lari itu. Aku sengaja memberitahu ini agar mau tahu, bagaimana dengan aku Andaru "
Andaru langsung kaget, bukanya semuanya sudah aman lalu kenapa tiba-tiba malah seperti ini "Katamu semuanya aman kenapa tiba-tiba jadi seperti ini "
"Ya aku memang berkata seperti itu, tapi tapi Pak Ginanjar bilang kalau semuanya sudah diketahui, kita bisa dipenjara Andaru, bagaimana apakah kau sudah berbicara pada ayahmu "
"Kamu gila aku bicara pada ayahku, yang ada aku habis "
"Kamu mungkin tak akan dipenjara tapi aku pasti akan dipenjara, karena aku lah melakukan, bagaimana ini aku sudah bertemu dengan saksi mata itu "
"Aku juga binggung harus bagaimana Aliya, harus minta bantua siapa, aku tidak mungkin minta bantuan ayahku "
"Baiklah aku mengerti, tapi tolong selalu ada disisiku agar aku bisa menghadapi semuanya "
__ADS_1
"Aku tidak janji "
Andaru langsung mematikan sambungan dengan sepihak, tanpa mau menanggapi Aliya yang kembali menelfon.