
Ayu yang sedang berjalan tiba-tiba saja dipanggil oleh Sinta yang ada di pekarangan rumahnya. Dengan langkah yang gontai Ayu menghampirinya.
"Iya Sinta"
"Ikut aku kekamar "
"Ada apa Sinta "
"Ikut saja"
Ayu dengan patuh mengikuti Sinta masuk ke dalam rumahnya. Ayu akan mendorong kursi roda itu tapi Sinta langsung menepisnya "Tidak usah kau bantu aku dan jangan kau pegang aku"
Setelah ada di kamar Shinta, Ayu menutup pintunya dan duduk berhadapan dengan Sinta.
"Apakah kau tidak merasa bersalah. Apakah tidak akan ada yang kau jelaskan padaku"
"Sekarang aku sedang pusing Sinta tolong beri waktu aku untuk bernafas dan tenang dulu "
"Pusing kenapa karena Andaru karena Aksa. Apakah kau pusing akan memilih yang mana diantara kedua orang itu"
"Kau ini kenapa sih sensitif sekali padaku, baik akan aku jelaskan aku melakukan itu untuk mengungkap semuanya untuk mencari pelakunya"
"Tapi akhirnya apa kau mempermalukan aku kan "
"Aku sama sekali tidak mempermalukanmu Sinta. Aku hanya ingin mengungkap semuanya. Aku kira kau tidak akan datang"
"Begitu ya kalau aku tidak datang kau akan lebih mempermalukan aku lagi kan. Lebih baik sekarang kau stop jangan pernah mencari lagi bukti tentang siapa yang menabrak diriku, kau tidak usah ikut campur lagi karena pelakunya sudah ada di hadapanku"
"Apa maksudmu, kenapa kau berkata seperti itu. Aku akan mencarinya kenapa kau tidak pernah menghargai apa yang aku lakukan untukmu Sinta. Kenapa aku selalu saja salah di matamu"
__ADS_1
Sinta mendorong bahu Ayu "Kalau saja bukan karena dirimu mengambil ponselku mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi, kalau saja kau tidak kepo dengan apa yang aku lakukan mungkin semua ini tidak akan terjadi. Sekarang sekarang kau tahu kan siapa pelakunya kau pelakunya Ayu, bukan mereka tapi kau pelakunya kau yang salah"
Ayu yang mendengar itu menangis "Aku dengan susah payah mencoba untuk memaafkan diriku sendiri Sinta, tapi kenapa kau berkata seperti itu padaku memang aku salah aku sudah minta maaf kan padamu. Aku juga sangat merasa bersalah dan benci pada diriku harus bagaimana lagi aku ini "
"Memang itu yang harus kau lakukan kau benci pada dirimu sendiri. Seharusnya kau yang dipenjara karena kau yang telah melakukan ini padaku, kalau bukan karena kau mungkin aku bisa berjalan dan bisa sekolah di sana. Ini semua gara-gara mu Ayu kau ini pembawa sial dari dulu sampai sekarang kau tidak pernah membuat aku bahagia. Lebih baik persahabatan ini cukup sampai di sini dan kau jangan pernah temuin aku lagi aku tidak butuh persahabatan ini"
Ayu menggapai tangan Sinta namun dengan kasar Sinta melepaskannya dan mengangkat tangannya supaya Ayu tidak memegang tangannya "Jangan seperti itu Sinta aku tidak mau persahabatan ini sampai hancur. Kenapa kau berkata seperti itu kita sudah membina persahabatan ini cukup lama. Tapi kenapa harus hancur"
"Sudah kau pergi jangan ada di kamarku lagi, aku tidak sudi kau ada di sini. Cepat pergi aku tidak mau ada dirimu. Dasar kau pembawa sial, kau yang telah membuat aku seperti ini Ayu masih tak sadar kau "
Ayu terus saja mendekati Sinta, tapi Sinta terus saja mendorong Ayu tidak peduli Ayu sakit ataupun terjatuh.
"Cepat keluar Ayu, kau bukan siapa-siapa aku lagi, kita sudah tidak bersahabat lagi kau bukan temanku lagi dan sampai kapanpun kita tidak akan pernah bersahabat lagi. Keluar dari kamarku dan jangan pernah datang lagi"
"Ada apa ini"
Ayu dengan masih menangis segera keluar dari kamar Sinta. Setiap kata-kata yang Sinta lontarkan terngiang-ngiang terus di kepalanya. Sinta bilang kalau dirinya pelakunya.
Ayu berjalan ke sekolah dengan mata yang kosong, pikirannya terus mengigat kata-kata Shinta, sampai dirinya tak sadar kalau sekarang dirinya ada di tengah-tengah jalan dan mobil terus saja mengklaksonnya.
Hatinya hancur, belum juga tentang jati dirinya terbongkar tapi Sinta sahabatnya sudah menyakitinya lagi. Apa selama ini perjuangannya tidak bisa dihargai oleh Sinta.
Dirinya sudah akan bertanggung jawab atas apa yang pernah dirinya lakukan, dengan mencari siapa pelakunya tapi apapun yang dirinya lakukan tidak pernah Sinta hargai sedikitpun. Tidak pernah Sinta hargai.
"Ayu apa yang kau lakukan ayo sini masuk"
Ayu dibawa masuk ke dalam mobil. Ayu melihat siapa orangnya itu ternyata Aksa.
"Ada apa denganmu. Kenapa kau melamun di tengah jalan seperti itu apakah kau ingin bunuh diri"
__ADS_1
"Ternyata selama ini aku yang salah ya. Aku mencari pelaku siapa yang telah tabrak lari Sinta ternyata aku sendiri pelakunya"
Ayu menangis sambil tersenyum kecewa pada Aksa"Apa yang kau katakan, mana mungkin kau pelakunya selama ini kau yang mencari pelakunya. Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri. Tenangkan dulu pikiranmu dan jangan memikirkan tentang masalah itu. Ada apa sebenarnya apa yang terjadi apa perempuan itu mencaci makimu lagi"
"Aku memang bukan sahabat yang baik ya, sampai-sampai Sinta memutuskan persahabatan ini denganku. Seharusnya dari dulu aku sadar kalau pelakunya ini aku sendiri bukan orang lain. Itu semua karena keteledoran ku sendiri, kalau saja aku tidak mengambil ponsel Sinta, mungkin dia masih bisa berjalan seperti apa yang dia katakan dia bisa sekolah, di sekolah impiannya dan semuanya akan baik-baik saja kan Aksa "
"Jangan pikirkan tentang masalah itu, nanti aku akan bicara dengan sahabatmu maksudku perempuan itu"
Ayu malah makin menjadi jadi saja menangisnya. Rasanya hatinya perih sekali. Aksa meminggirkan dahulu mobilnya dan memberikan air minumnya pada Ayu.
"Ayo kau minum dulu dan tenangkan fikiran mu Ayu jangan seperti ini ya"
Ayu mengambil botol air minum itu dan segera meminumnya dengan cepat.
"Kau sudah tenang"
"Sedikit "
Aksa langsung mengusap air mata Ayu yang terus saja mengalir "Sudah jangan memikirkan tentang masalah itu. Ini adalah sebuah kecelakaan, murni sebuah kecelakaan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Jadi kau jangan pernah salahkan dirimu sendiri. Sekarang kita pergi sekolah atau mungkin kau ingin pulang biar aku antarkan pulang saja ya"
"Aku ingin pergi sekolah saja"
"Kau yakin kau akan baik-baik saja saat pergi sekolah nanti, kurasa kau sedang drop sekali lebih baik pulang saja dan beristirahat ya aku akan mengizinkanmu pada sekolah tenang saja"
"Tidak Aksa aku lebih baik sekolah saja, aku tidak mau pulang ke rumah dan nanti mama malah akan khawatir denganku yang kembali lagi ke rumah. Lebih baik aku sekolah saja aku baik-baik saja"
"Baiklah kita pergi ke sekolah sekarang ya"
Ayu hanya bisa menganggukan kepalanya saja pikirannya masih saja terngiang-ngiang setiap kata-kata yang diucapkan oleh Sinta.
__ADS_1