Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 223 Ini salah faham


__ADS_3

"Kenapa kau pagi-pagi sekali meneleponku dan memintaku untuk dirimu bertemu dengan Ayu. Apa karena masalah kemarin karena foto itu kau khawatir pada Ayu"


"Sudahlah Budi antarkan aku, jangan banyak bicara bisalah kau lebih cepat lagi "


"Tidak, aku tidak mau sampai kau jatuh, aku tidak mau itu sampai terjadi "


"Sudahlah Budi, ayo cepat aku ingin segera bertemu dengan Ayu "


"Begitu khawatir kah kau padanya Sinta. Ya sudah aku akan mempercepatnya "


Budi mendorong kursi roda Sinta dengan cepat, wajah Sinta sangat takut tapi dia harus cepat-cepat bertemu dengan Ayu.


Sinta berpegangan pada kursi rodanya takut terjatuh "Ayu" panggil Budi.


Ayu membalikan badannya dan senang melihat Sinta ada dihadapannya. Dengan cepat Ayu berlari ke arah Sinta dan mencium pipinya, tapi Sinta sama sekali tidak memberikan respon dia malah seperti jijik Ayu melakukan itu.


"Aku senang kau bisa jalan-jalan seperti ini, bisa keluar seperti ini nanti kita jalan-jalan sama-sama ya. Nanti aku pasti akan membawamu kemanapun kau mau"


"Budi Bisakah kau pergi dari sini dan tinggalkan aku bersama Ayu. Biarkan Ayu yang mendorong kursi roda aku" Bukannya menjawab Ayu Sinta malah mengusir Budi.


"Apakah aku hanya dibutuhkan saat awalnya saja Sinta, aku juga ingin mengobrol bersama kalian aku sudah kangen ingin bersama-sama lagi"


"Aku sudah bilang pergi dari sini Budi. Aku ingin berbicara dengan Ayu"


"Kenapa kau menjadi jutek seperti ini Sinta, aneh sekali kau ini memangnya aku salah apa sampai-sampai kau melakukan ini padaku"


"Sudah aku bilang kan pergi dari sini" jerit Sinta.


"Baiklah baiklah aku akan pergi. Jangan begitulah ucapanmu biasa-biasa saja Sinta tanpa kamu berteriak pun aku akan pergi"

__ADS_1


Budi segera pergi dan Ayu mendorong kursi roda Sinta. Ayu sangat senang sekali melihat temannya akhirnya bisa keluar rumah dan menikmati pagi yang indah ini. Sinta mengerem kursi rodanya dan Ayu yang bingung langsung mampirnya dan beralih berhadapan dengan Sinta.


"Ada apa denganmu. Kenapa kau memberhentikan kursi rodanya. Bukannya tadi kamu mau jalan-jalan bersama aku, aku akan bolos agar bisa pergi jalan-jalan bersamamu "


"Kita sudah berteman sejak kapan"


"Sudah lama, kita sudah lama berteman memangnya kenapa. Kau kan teman pertamaku saat aku pindah rumah kemari "


"Lalu apakah kau pernah berbohong padaku ? "


"Tidak pernah, aku sama sekali tidak pernah berbohong padamu. Kapan aku berbohong padamu Sinta. Apapun selalu aku ceritakan padamu. Aku tidak pernah membohongimu sama sekali"


Sinta mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan foto Ayu dan juga Andaru "Lalu ini apa, apakah ini hanya editan saja. Kau sudah berbohong padaku Ayu kau sudah berbohong " Sinta langsung melemparkan ponselnya dia langsung menangis tersedu-sedu.


"Ini cuma salah paham "Ayu segera mengambil ponsel Sinta dan memberikannya kembali pada Shinta, lalu Ayu berjongkok untuk menenangkan Sinta.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu dengarkan aku dulu. Biarkan aku bicara "


"Ini hanya salah paham saja"


Sinta malah tertawa, dia tertawa sambil menangis "Jadi selama ini kau sekolah di sana bukan untuk membantuku. Jadi selama ini kau masuk ke sana hanya untuk mendekati Andaru"


Sinta berhenti berbicara lalu memukul-mukul kakinya "Aku percaya padamu untuk mencari orang yang telah membuat aku seperti ini. Aku sudah sangat percaya padamu Ayu tapi kau menghianatiku, kau datang ke sekolah itu bukan untuk mencari siapa pelakunya tapi kau malah mendekati Andaru. Kau suka kan padanya"


"Sudah jangan menyakiti dirimu seperti ini, apa yang kau maksud aku sama sekali tidak suka pada Andaru. Kalau aku memang suka pada Andaru dari awal aku tidak akan melaporkan dia ke kantor Polisi. Untuk apa aku cape-cape melakukan itu "


Ayu akan memeluk Sinta tapi Sinta langsung menepis tangan Ayu "Sudah aku bilang kan lepaskan aku, pergi sana aku tidak mau ada kau di sini, aku bisa pulang sendiri tanpa dirimu aku mampu untuk pergi sendiri tanpa bantuan dirimu sama sekali. Jangan pegang aku "


"Aku harus menjelaskan bagaimana lagi Sinta. Kau hanya salah paham kau juga berbohong kan padaku kau bilang kau tidak kenal dengan Andaru, tapi nyatanya sekarang saat kau melihat foto itu kau marah padaku. Kau menangis berarti selama ini kau juga berbohong padaku ku"

__ADS_1


"Kau malah memutar balikkan fakta. Aku kecewa karena melihat foto ini ternyata kau hanya santai bersama laki-laki ini, ternyata kau ke sana hanya untuk pacaran saja, bukan untuk membantuku "


"Sekarang aku tahu kenapa kau tidak mau sampai Andaru masuk kantor polisi, sampai dia di penjara. Ternyata kau memang sedang dekat dengannya kan. Selama ini laki-laki yang selalu kau sembunyikan dariku itu adalah Andaru"


"Tidak, aku tidak pernah dekat dengannya jangan asal bicara kau"


Sinta segera membalikkan kursi rodanya, namun Ayu segera mengejarnya "Sudah biar aku antarkan kau ke rumah, tidak usah ngotot ingin pulang sendiri"


"Tidak aku bisa pulang sendiri tanpa kau bantu. Pergi sana aku tidak butuh bantuanmu lagi Ayu, pergi kau kejar laki-laki itu sampai dapat "


"Kau egois, ayo aku antarkan"


Kursi roda Sinta malah terjatuh. Ayu kebingungan Ayu ingin membantu Sinta untuk bangun, tapi lagi-lagi Sinta menolak bantuannya. Lalu Ayu mengguncang bahu Sinta.


"Kau ini kenapa hanya karena laki-laki itu kau memarahiku seperti ini, sampai salah sangka seperti ini hah"


"Sudah aku bilang bukan karena dia, aku kecewa padamu karena kau tidak fokus untuk mencari siapa pelaku yang telah membuat kakiku tidak bisa berjalan seperti ini. Kau berbohong padaku kau mempermainkan ku Ayu.Aku percaya padamu kalau kau akan menemukan semuanya tapi nyatanya tidak"


Ayu membenarkan kursi roda Sinta dan membantunya untuk bangun, meski Sinta terus saja meronta dan sampai menyiku wajahnya tapi Ayu tidak peduli yang terpenting sekarang adalah dirinya mengantarkan Sinta ke rumahnya.


"Sudah aku bilang kan aku bisa pulang sendiri" jerit Sinta sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Sudah kau diam, biar aku antarkan tidak usah bicara. Aku akan mengantarkan mu ke rumah sampai selamat"


Ayu mendorong kursi roda itu. Sedangkan Sinta masih saja menangis dia terus saja menolak untuk kursi rodanya didorong oleh Ayu, tapi Ayu yang ngotot melakukannya. Banyak orang-orang yang melihat mereka tapi Ayu tidak peduli.


Saat sudah ada di dekat rumah Sinta, Sinta mengerem kembali kursi rodanya lalu membalikan kursi rodanya ke hadapan Ayu. Dia mendorong tubuh Ayu sampai-sampai Ayu terjatuh.


"Sudah aku bilang kan, aku bisa pulang sendiri tanpa bantuanmu"

__ADS_1


Sinta langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Ayu sendirian. Ayu hanya bisa menahan amarahnya jangan sampai dia terbawa emosi. Ini hanya salah paham saja.


__ADS_2