
"Kau mau membeli apa "
"Ibu apakah ibunya Ayu"
"Iya aku ibunya Ayu ada apa"
"Bisakah kita bicara dulu Bu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan"
"Baiklah ayo kita bicara di sana saja "
Ibunya Ayu membawa perempuan itu masuk ke dalam ruangannya. Tiba-tiba saja ada yang datang ke butiknya dan menanyakan apa dirinya ibunya Ayu atau bukan.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan "
"Aku Aliya temannya Ayu"
"Iya lalu "
Tiba-tiba saja Aliya menangis. Nadia yang kaget bingung harus melakukan apa tiba-tiba saja anak ini menangis di hadapannya.
"Ada apa denganmu "
"Aku begitu sakit hati dengan Ayu, kau tahu keluargaku sangat sibuk sekali bekerja mereka tidak ada yang peduli padaku. Aku sendirian aku begitu tak disayangi oleh mereka "
Nadia yang kasian menggenggam tangannya Aliya, anak itu malah makin menjadi-jadi saja menangisnya.
"Memangnya apa yang Ayu lakukan"
"Ayu telah merebut pacarku dia telah merebut Andaru dariku. Bisakah Ibu berbicara pada Ayu untuk tidak seperti itu. Aku begitu menyayangi Ayu aku menganggapnya saudara tapi Ayu malah memperlakukan aku seperti ini Bu. Pertama kali aku melihat Ayu aku begitu senang dan langsung menyukainya tapi dia malah menusukku dari belakang dia merebut pacarku Bu"
Nadia diam, masih mendengarkan anak ini, "Bahkan kemarin Ayu bolos dari sekolah Bu, dia pergi bersama Andaru mereka berkencan, mereka bolos bersama-sama. Mereka sudah merencanakan ini semua bu. Tolonglah Bu dari awal Andaru sudah ada bersamaku dia yang selalu menguatkan ku saat kedua orang tuaku sibuk bekerja saat mereka tidak peduli padaku. Aku hanya punya dia "
"Aku ambilkan minum dulu "
Nadia pergi meninggalkan Aliya. Wajah Aliya langsung berubah dari yang sedih langsung menyebalkan. Sungguh pintarnya Aliya. Saat Nadia kembali datang, Aliya kembali menangis..
__ADS_1
...----------------...
"Ayu apakah kau membawa alat make up-mu. Aku tidak mungkin pulang dengan wajah yang seperti ini bisa-bisa orang tuaku curiga"
"Maafkan aku "
"Kenapa kau tiba-tiba minta maaf"
Ayu menarik tangan Budi "Ada apa Ayu "
"Aku melaporkan Andaru ke kantor polisi" bisik Ayu.
"Apa kenapa kau lakukan itu. Apakah kau gila"
"Aku hanya mau keadilan untuk Sinta, aku melihat bukti ada di lokernya Andaru makanya aku melaporkannya"
"Bukannya kasus itu sudah ditutup kan, Kalau sekolah ini tidak ada sangkut pautnya. Bahkan pamanku Dion sudah mengecek ke dalam sekolah ini tidak ada bukti, tidak ada orang-orang itu yang menabrak Sinta. Sudah Ayu kau jangan terlalu ikut campur tentang masalah ini. Masalah ini sudah ditutup kan mau cari di mana lagi kau ini bukan Polisi"
"Aku tahu kalau aku bukan Polisi, tapi aku ingin keadilan untuk temanku. Kau tahu kan bagaimana sakit hatinya aku saat melihat Sinta tidak bisa berjalan lagi. Aku tidak bisa tinggal diam aku akan menemui Andaru sekarang"
Ayu tak menggubris Budi dia pergi begitu saja. Dirinya harus menemui Andaru dan menanyakan semuanya.
Saat Ayu sudah ada dikelasnya Andaru, Ayu celingak-celinguk mencari Andaru tapi tak ada "Apakah kau melihat Andaru " Ayu mencoba untuk bertanya pada temannya Andaru.
Tapi mereka mengelengkan kepalanya. Ayu keluar dari kelas Andaru dan mencari ketempat lain. Ayu kearah loker tapi tak ada Andaru. Sudah menanyakan pada yang lain tak ada yang tahu.
Baru ingat Ayu pasti Andaru ada di ruang musik, terakhir kali dirinya bertemu dengan Andaru ada di ruang musik. Ayu segera bergegas pergi kesana.
Saat pintu dibuka benarkan Andaru ada disana. Dengan marah Ayu menghampiri Andaru dan membuka headset yang dipakai Andaru.
Andaru langsung bangkit dan menatap Ayu "Apa yang kau lakukan pada temanku, aku disini yang mempunyai masalah denganmu. Lalu kenapa kau malah melukai temanku langsung saja hadapi aku"
"Itu adalah konsekuensi yang harus kau terima, kau sudah berani bermain-main denganku. Aku padahal sudah baik padamu tapi ini balasanmu"
"Aku hanya butuh keadilan di sini, kau tahu temanku sampai lumpuh dia tidak bisa berjalan. Kau menghapus semua cita-cita dari temanku. Kau sangat menjijikan, kau orang jahat, sangat jahat sekali seharusnya kau mengakui semuanya"
__ADS_1
"Mengakui apa memangnya aku salah apa. Jadi sekarang kau ke sekolah ini untuk apa, kau di sini bukan untuk sekolah kan, kau hanya ingin bermain detektif-detektif-an saja"
"Aku butuh keadilan untuk temanku, aku tidak bisa tinggal diam seperti ini. Temanku harus mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan"
"Carilah bukti sebanyak-banyaknya sampai kau lelah. Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menemukan bukti-bukti itu."
Andaru langsung pergi, bahkan dia menyenggol bahu Ayu cukup keras. Ayu hanya bisa menatap Andaru saja.
...----------------...
"Andaru kau dari mana saja, kau tahu Ayu mencarimu dari tadi. Dia menanyakan ke setiap orang, dia itu ancaman untuk kita"
"Aku sudah bertemu dengannya Aksa, aku sudah berbicara juga dengannya "
"Lalu apa yang harus kita lakukan, sekarang kita tidak bisa mendiamkannya terus begini. Kita harus memberinya pelajaran. Sepertinya dia belum jera dengan apa yang kita lakukan. Harus dengan cara apa lagi kita membuat dia berhenti dan tak mencari bukti "
"Lihatlah ke depan siapa yang datang Aksa "
Aksa mengikuti apa yang Andaru katakan, ada Ayahnya disini. "Ayah kau kemari " tanya Aksa basa-basi.
"Ayo kita keruangan kepala sekolah "
Mereka berdua segera mengikuti Ayahnya pasti ini masalah kemarin. Andaru dan Aksa tak bisa melakukan apa-apa.
Pintu ruangan kepala sekolah sudah terbuka Pak Ginanjar seperti kaget melihat Ayah datang "Tuan kenapa kau tak menghubungiku dulu "
"Memangnya aku harus menelpon mu dulu saat aku akan datang ke sekolahku"
Adi langsung duduk diikuti oleh kedua anaknya "Sebenarnya ada masalah apa di sekolah ini sampai-sampai anakku ditemui oleh Polisi. Ada apa ini apa karena masalah anak yang ditabrak itu. Bukannya masalah itu sudah selesai kan bahwa pelakunya tidak ada di sekolah ini, tapi kenapa tiba-tiba diperpanjang lagi"
"Sepertinya ada yang melaporkan Tuan, tapi nyatanya di sini tidak ada buktinya. Bahkan loker Andaru juga sudah dibuka tapi tidak ada bukti di sana. Kami hanya mengikuti saja prosedur yang dilakukan oleh Polisi tidak mungkin kan tidak diizinkan nanti malah dia curiga"
"Aku tidak mau sampai-sampai sekolahku tercoreng jelek karena masalah itu yang tak tahu siapa pelakunya. Jangan sampai terjadi seperti ini lagi. Dan kau Andaru Aksa kau juga jangan membuat ulah"
"Kami tidak pernah membuat ulah Ayah " jawab mereka serentak.
__ADS_1