
Ziva yang mendengar ada suara mobil di depan rumahnya segera keluar dan benar apa tebakannya mereka berdua keluar Adi dan juga perempuan itu Bella dia keluar. Bahkan Adi menggandeng tangannya tapi perempuan itu anteng-anteng saja dan menerima setiap perlakuan Adi apa perempuan itu sudah berubah dan sekarang mencintai Adi suaminya, tidak jangan sampai terjadi.
Ziva dengan cepat menghampiri suaminya dan menatap Bella dari atas ke bawah sungguh jijik dan muak dirinya melihat perempuan ini "ada apa kak Ziva kenapa menatapku seperti kau jijik saja padaku, memangnya aku kotoran sampai kau melihatku seperti itu "
Ziva hanya diam saja dan menatap ke arah suaminya "kau ini apa-apaan rumah dipenuhi bunga hanya untuk perempuan ini saja, apa kau sudah gila Adi kau saja padaku tidak pernah seperti ini lalu pada perempuan ini kau berubah kenapa ada apa denganmu"
Bella langsung mencari apa yang di katakan Ziva, mana bunganya apakah benar Adi membelikannya bunga Bella dengan senang langsung memegang kedua tangan Adi "mas beliin aku bunga beneran, bunga yang aku mau waktu di pernikahan itu kamu beliin "tanya Bella dengan ceria
Adi mengaukan kepalanya "Iya sayang aku membelikannya coba kau cek di kamarmu aku sudah menyiapkan semuanya"
"Terima kasih" Bella langsung mengecup pipi sebelah kanan Adi dan langsung berlari tanpa menghiraukan tatapan horor dari Ziva, Bella memang sengaja melakukan itu ingin menyadarkan perempuan itu kalau dirinya harus membantu dirinya kabur dari rumah ini bukannya malah benci.
"Sejak kapan dia memanggilmu mas memangnya kamu apa mas mas aku nggak suka ya Adi aku nggak suka perempuan itu terlalu dekat sama kamu"
"Kita bicara di kamar sekarang"
Adi langsung menarik tangan Ziva untuk naik ke lantai atas tidak mungkin kan berbicara di luar seperti ini dan didengar oleh anak buahnya dan pelayannya juga, itu tidak enak dan akan memalukan sekali. Setelah sampai di kamar Adi langsung mengunci pintunya dan menatap Ziva dengan tatapan yang sedikit horor karena Adi kesal Ziva telah membocorkan kejutannya.
"Ayo jelaskan padaku kenapa perempuan itu menjadi lengket padamu"
__ADS_1
"Kenapa memang itu kan yang kau mau, dia harus selalu dekat denganku bukannya kau ingin cepat-cepat punya anak kita memberi dia jangka dua bulan untuk mengandung anak. Jadi apa salahnya jika dia terus ada bersamaku wajar kan kau sudah setuju Ziva maka kau tidak boleh marah-marah seperti ini dan protes apapun yang aku lakukan dengan Bella"
"Ya tapi kau luangkan waktu untukku jangan terus bersama perempuan itu selama menikah aku tidak pernah semanja itu padamu, semenjak kita menikah aku tidak pernah kau ajak jalan-jalan hanya berdua seperti perempuan itu, kau hanya sibuk bekerja bekerja dan bekerja dan sibuk dengan pekerjaan mafiamu yang menyebalkan itu. Dan satu lagi kau tak pernah memberikan ku kejutan "
"Itu adalah pundi-pundi uang untuk kita kalau aku tidak bekerja aku tidak akan punya uang, memangnya kau mau menafkahiku tidak mungkin kan seorang laki-laki dinafkahi oleh seorang perempuan itu akan sangat memalukan Ziva, jadi kau harus mengerti kenapa aku seperti itu pada Bella karena aku juga ingin cepat-cepat mengakhiri hubungan ini aku ingin cepat-cepat semuanya berakhir setelah Bella melahirkan anak, kita akan menjadi keluarga lagi kau ingat itu"
"Yah aku ingat tapi aku tidak suka kau terlalu dekat padanya seperti itu dia sudah berani memegang mu mencium mu "
"Sudahlah kemari peluk aku, sudah lama kita tidak bertemu sayang aku merindukan mu "
Ziva langsung memeluk suaminya dengan begitu erat, dirinya juga tidak rela kalau suaminya dipeluk oleh perempuan lain. Ada nggak sih perempuan yang mau suaminya dibagi cuman gara-gara harus punya anak tuntutan dari orang tua laki-laki
Saat Bella masuk ke dalam kamar benar semuanya bunga kamarnya penuh dengan bunga so sweet tapi ingat dia adalah suami orang. Jangan sampai terbuai dengan apa yang dia berikan.
Bella melihat-lihat semua bunga itu dan memang sama seperti bunga pernikahan yang kemarin, bunganya begitu wangi dan indah Bella mengelilingi semua kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dia memikirkan kalau semua hadiah ini Alvaro yang memberikan, Alvaro yang memberikan kejutan pasti dirinya akan sangat bahagia sekali.
"Apakah kau di sana mencariku, apakah kau akan mau bersamaku nanti jika aku pulang dan mendengar semua ceritaku ini, apakah kau akan menerimaku kembali apakah kau akan membuangku atau mungkin sekarang kau sudah bahagia dengan Sani, aku tidak tahu aku begitu ingin bertemu denganmu dan aku ingin terus bersama denganmu Alvaro"
"Tapi apakah mungkin itu semua akan terjadi apakah mungkin kamu akan menerima aku dengan kondisiku yang seperti ini Alvaro. Aku tahu aku sudah hina aku sudah gagal menjaga apa yang seharusnya aku jaga tapi aku di sini bertahan hidup Alvaro, aku harus bertahan hidup aku belum siap untuk mati aku ingin bertemu denganmu dulu dan menjelaskan semuanya, menjelaskan tentang masalah ini bahkan sampai sekarang aku belum tahu siapa yang menjualku pada Adi. Aku tidak tahu siapa orang itu dan saat aku tahu apa yang aku harus lakukan Alvaro apakah aku harus menghinanya, apakah aku harus memukulnya ataukah aku harus melaporkannya pada polisi apa yang harus aku lakukan. Aku di sini ada di posisi serba salah"
__ADS_1
Bella segera bangkit dan keluar dari kamar dia perlahan-lahan menuruni tangga dan rumahnya begitu sepi namun sudah direnovasi cukup baik. Bella duduk di ruang tengah dan menyalakan tv entahlah sudah lama dirinya tidak menonton TV rasanya ingin sekali.
Pada saat dia menyalakan tv sudah ada berita tentang penusukan Arzan. Bella sampai mengerutkan kening Arzan temannya kah dan benar saat melihat wajahnya memang Arzan temannya ada apa dengan teman-temannya dan di sana juga ada Alvaro, Bella melihat kalau Alvaro sehat dan dia sedang menemani Arzan tiba-tiba saja air matanya mengalir mengingat tentang kisah mereka berdua kisah persahabatan mereka semua.
"Aku begitu merindukanmu Alvaro sangat-sangat merindukanmu kapan kita bisa bertemu, kapan Al "
"Siapa yang telah membuatmu menangis "
Bella segera mengusap air matanya saat mendengar suara yang begitu dirinya kenal dirinya tidak mau kalau Alvaro sampai terkena masalah, dia tak mau Alvaro menanggung kemarahan laki laki ini "
"Tidak mas aku hanya sedang melihat berita ini saja kasihan dia ditusuk apa salahnya, tiba-tiba saja aku menangis sudahlah aku alihkan saja"
"Tunggu tidak aku ingin melihat"
"Tidak usah ini cuman orang lain saja tidak usah kau lihat, aku ingin nonton yang lain rasanya aku bosan di dalam kamar apakah boleh aku menonton TV seperti ini"
"Tentu saja nanti aku akan memberikan TV untuk di kamarmu agar kau bisa menikmatinya di sana, tv yang lebih bagus "
Bella yang kesal selalu saja dikurung di dalam kamar segera bangkit "aku tidak mau, aku tidak mau terus-menerus ada di dalam kamar kamu egois, katanya kamu mau memperlakukan aku seperti istrimu tapi aku terus saja di kurung di kamar memangnya aku ini Rapunzel"
__ADS_1
Bella yang kesal langsung meninggalkan Adi yang masih saja berdiri sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Kenapa saat pulang begini Adi malah menyebalkan apa karena ada istrinya kak Ziva