Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 199 Apa yang harus dipilih


__ADS_3

"Kau tidak sopan seperti itu pada orang dewasa Ayu, kau aku ajarkan tidak untuk marah-marah pada orang dewasa seperti itu, sungguh aku malu dan tak suka dengan sikapmu itu "


"Aku hanya kesal saja Mama, dia sudah mengatakan kalau dia sudah tahu anak-anak itu masuk ke sekolah itu, ke sekolah elit itu. Tapi tiba-tiba dia mengubah jawabannya kalau matanya tidak fokus lah, apalah dia sepertinya berbohong Mama "


"Sudahlah, kau jangan terlalu ikut campur biarkan polisi yang mengatur semuanya. Ayo cepat sekarang masuk kamar dan istirahat jangan terlalu memikirkan Sinta dia itu hanya temanmu saja tidak lebih, jadi masuk ke kamarmu dan istirahat"


"Kenapa mamah berkata seperti itu, bukannya mamah juga menyayangi Sinta "


"Iya Mama tahu kok mama menyayangi Sinta, tapi rasa sayang mama sama Sinta dan kamu itu beda. Udahlah biarin dia itu anak orang lain yang penting bukan kamu yang nabraknya"


"Tapi semua itu gara-gara Ayu Mah, kalau saja Ayu nggak ngambil ponsel itu mungkin semua ini nggak akan pernah terjadi mah ,mungkin Sinta akan baik-baik aja ini salah Ayu"


"Jangan pernah bicara itu pada polisi, cukup pada Mama saja, pokoknya kau harus tutup mulut"


"Kenapa Mama egois"


"Mamah tidak egois, Mama melakukan ini demi kebaikan kamu, sudah ayo masuk kamar dan istirahatlah jangan pikirkan Sinta ,Sinta dan Sinta cepat masuk kamar dan tidur yang banyak "


Ayu tanpa bicara langsung masuk ke dalam kamarnya, mamahnya sepertinya sedang kambuh lagi. Dia begitu kasar dan sangat beda dari biasanya. Biasanya Mama akan selalu lemah lembut tapi sekarang dia berteriak dan berteriak.


Ayu diam di pojokan kamar, menangis meratapi apa yang telah terjadi pada sahabatnya Sinta. Kenapa semua ini bisa terjadi pada Shinta mungkin kalau berandai-andai dirinya tidak akan pernah merebut ponsel itu.


Bagaimana dengan Sinta sekarang ? Apakah dia sudah menerima dengan keadaannya saat ini, tadi diberitahu oleh dokter Sinta begitu terpukul atas kelumpuhannya dan itu sulit sembuh, kata dokter juga kemungkinan akan sembuh tapi tidak tahu kapan sedangkan Sinta hanya tinggal bersama neneknya saja.


"Maafkan aku Sinta, aku sungguh minta maaf"


Ayu memeluk lututnya dengan erat, rasa bersalah itu sangat melekat dalam hatinya. Semua ini memang gara-gara dirinya semua terjadi karena dirinya yang ceroboh dan ingin tahu tentang masalah orang lain.


...----------------...


"Andaru, Aksa, kenapa jam segini kalian berdua baru pulang ? "

__ADS_1


Andaru dan Aksa yang tadi mencoba untuk mengendap-endap masuk ke dalam rumah akhirnya ketahuan juga kan oleh mamahnya yang tiba-tiba saja muncul. Andaru dan Aksa segera menghampiri mamanya dan memeluknya.


"Kita nggak dari mana-mana kok mah, kita cuman ngerjain tugas saja, tanya saja Aksa. Kapan sih Andaru bohong sama Mamah yang cantik ini "


Bella melepaskan pelukan kedua anaknya dan menatap satu persatu wajah anaknya itu "Jangan membuat Mama khawatir kalian harus selalu memberi kabar pada Mama, tidak ada yang balap-balapan lagi. Mama tidak mau kalau sampai ada korban jiwa itu mungkin hobi kalian tapi jangan di jalan yang memang banyak orang kalau memang mau balapan ya di tempatnya, tapi tetap saja Mamah tak akan mengizinkan "


"Yah Mah, kita kan suka balap-balapan " keluh Andaru.


"Kamu tahu kan luka mamah belum sembuh, mamah ga mau sampai kehilangan lagi, mamah ga akan pernah siap. Cukup Cempaka saja. Mamah ga mau kalian pergi ninggalin mamah "


Andaru menghembuskan nafasnya dan memegang kedua tangan mamanya "Maaf mah kita nggak akan kebut-kebutan lagi deh. Maaf ya udah buat Mama khawatir, kita janji gak akan kebut-kebutan "


"Pokoknya Mamah ga mau kehilangan lagi, mamah takut, lukanya begitu dalam sampai-sampai tak akan sembuh"


"Kita janji sama mama, kita nggak akan apa-apa Aksa sama Andaru pasti akan baik-baik saja. Mama jangan nangis-nangis lagi ya Aksa juga tahu Mama sering nangis kan di belakang kita"


Bella tersenyum pada anaknya Aksa dan mengelus rambutnya, tak terasa anak-anaknya sudah besar bahkan sekarang tingginya sudah melebihi dirinya.


Andaru menggaruk kepalanya "Kita simpan di garasi mah, bosen aja mau ganti helm aku sama Aksa Mah. Udah Mama juga istirahat kita udah pulang kan maaf ya kita pulang kemalaman besok-besok kita nggak akan pulang malam lagi deh janji"


"Janji ya "


"Iya kita janji "ucapan mereka serempak.


Andaru dan Aksa menuntun mamanya untuk naik lantai 2, sesekali mereka bercanda untuk menghibur mamanya yang selalu saja murung.


Memang setelah ditinggalkan oleh Cempaka mamanya sedikit berubah dia tidak seceria dulu. Mama juga jadi lebih pendiam.


Sedangkan Ayah selalu membujuk mama dan menghibur Mama agar Mama selalu tersenyum dan baik-baik saja. Memang Ayah tak pernah membiarkan Mamah melamun Ayah selalu saja melakukan apa saja untuk mama senang dan bahagia selalu.


...----------------...

__ADS_1


Tok tok tok


"Ayu ayo bangun ini sudah siang, mama punya kabar baik buat kamu. Ayo cepet buka pintunya"


Ayu yang ketiduran di lantai segera bangkit dan menatap jam ternyata baru jam 07.00 pagi, dengan cepat Ayu membuka pintu dan Mamanya sudah berdiri di sana dengan senyum yang begitu lebar.


"Ada apa sih mah pagi-pagi"


"Mamah punya kabar baik dan bagus banget. Kamu harus masuk ke sini, sekolah SMA nusa bangsa merah putih mau kasih beasiswa cuma 4 orang dan Paman Dion tadi nawarin kamu buat masuk ke SMA Nusa bangsa merah putih, kamu harus masuk Mamah yakin kamu bisa di sana"


"apa Paman Dion? "


"Iya paman Dion, dia dapat perintah dari sekolah SMA Nusa bangsa merah putih untuk cari 4 orang buat masuk ke sana pakai beasiswa. Mama pengen kamu ikut pokoknya kamu harus masuk sekolah itu. Mama pengen kamu di sana berbaur sama anak-anak di sana, punya temen yang lebih dari di sini"


"Mama gimana sih, apa Mama nggak mikirin tentang Sinta apa Paman Dion disogok sama kepala sekolah di sana dan ngasih 4 beasiswa buat anak-anak di sini, jadi nyawanya Sinta itu diganti sama 4 beasiswa gitu mah,apa semurah itu nyawa Sinta mah "


"Kenapa jadi bawa-bawa Sinta. Ini bukan tentang Sinta tapi tentang beasiswa, ini tidak ada hubungannya dengan Sinta. Kamu ini bagaimana sih sudah pokoknya kamu harus masuk ke sana. Mama mau kamu sekolah di sana ya ini adalah kesempatan yang harus kamu ambil jangan pernah sia-siakan kesempatan ini"


"Aku nggak mau. Ini adalah sogokan agar mereka tak dipenjara, aku yakin Paman Dion tuh kerjasama sama sekolah itu buat ngumpetin semua masalah ini aku yakin itu"


Tiba-tiba saja mamaku mencengkram kedua bahuku dengan begitu erat, sampai-sampai aku merasakan sakit yang begitu ngilu.


"Mamah lepasin sakit "


"Udah Mama bilang kan, kamu harus masuk sana ya masuk sana. Jangan pernah mikirin nasib orang lain tapi pikirnya nasib kamu, kamu itu harus sukses dan banggain Mama."


Mamah langsung melepaskan cengkraman di bahuku, aku yang kesal dengan sikap mamah langsung menutup pintu dengan keras dan menguncinya.


Mama di luar sana menggedor-gedor pintu dengan keras, dia berteriak sampai-sampai aku menutup kedua telingaku dari dulu mama selalu saja seperti ini, tapi kakek tidak pernah menjelaskan tentang keadaan Mama.


Aku masih tidak percaya kalau SMA Nusa bangsa merah putih memberikan beasiswa, dulu tidak pernah seperti ini. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Sinta ?

__ADS_1


Lalu apa yang harus aku pilih. Mama ingin masuk aku ke sana tapi aku tidak mau, ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya aku ambil, karena bayarannya adalah Sinta, dia lumpuh sedangkan aku malah enak-enakan nanti sekolah di sana Sinta yang ingin masuk ke sana bukan Aku.


__ADS_2