Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 324 mengadukannya


__ADS_3

"Mah kenapa mereka datang kemari, udah malem padahal kan "


Bella langsung menetap Putri satu-satunya itu "Mereka itu tamu Cempaka hormati mereka, meskipun kamu dan juga Aliya punya masalah hormati mereka ya, mereka sudah datang jauh-jauh kemari siapa tahu aja yang ingin dia bicarakan"


"Tapi aku tidak mau ikut bergabung mah, lebih baik aku di kamar saja bersama Bianca, rasanya aku tidak bisa kalau harus satu ruangan bersama Aliya yang ada kami berdua akan bertengkar mah"


"Hanya sebentar temani saja dulu ya, jangan memperlihatkan kalau kamu dan Aliya tidak mempunyai hubungan yang baik sedangkan Mama bersama Bundanya Aliya itu teman, masa kalian tidak bisa berteman sama sekali"


"Itu tidak akan terjadi mah, aku dan Aliya tidak akan pernah bisa berteman, sampai kapanpun rasanya sangat mustahil sekali. Mama tahu kan aku dan Aliya dari awal tuh seperti apa, aku muak sama dia "


"Iya Mama tidak akan memaksa. Tapi sebentar saja temani di sana ya, mamah juga kan ada di sana atau perlu Bianca dipanggil untuk menemani kamu"


"Tidak jangan mah, kasihan dia sedang banyak PR. Biarkan saja dia mengerjakan tugas-tugasnya dulu kasihan kalau kita menyuruhnya untuk kumpul, dia juga tidak suka pada Aliya. Memangnya Mama mau lihat aku Bianca dan Aliya bertengkar tidak kan"


"Ya sudah, kamu tadi pulang tidak bersama kakakmu Andaru, dia jam segini belum pulang juga '


"Tidak, aku tidak pulang bersama Andaru, dia marah padaku mana mungkin dia mau pulang bersamaku. Sudah ma aku duduk di sana dulu ya tapi nanti aku langsung pergi ke kamar ya, aku tidak akan lama ya mah"


"Iya sayang ga apa-apa ga lama yang terpenting kamu disana sebentar ya "


Cempaka melangkah ke arah ruang tamu, di sana sudah ada keluarga Aliya, lengkap dengan ibu dan ayahnya sangat lengkap. Kenapa tidak semua saja kakek nenek Kakak datang ke sini malam-malam.


Bella terus menghubungi anak sulungnya dan untungnya langsung diangkat "Mah ada apa"


"Kamu di mana Andaru, adik-adik kamu udah pulang sedangkan kamu belum pulang di mana kamu sekarang "


"Di depan rumah di depan parkiran mobil mah "


"Terus kamu ngapain di sana, masuk dong di sini ada Aliya sama keluarganya "


"Ya udah ga apa-apa aku pulang nanti setelah Aliya pulang, aku ga mau ketemu sama dia mah, mamah ngertiin aku. Tolong ngertiin posisi aku, aku lagi nggak mau ketemu sama perempuan itu. Aku muak sama dia intinya aku nggak mau deh ketemu dia dulu, biarin untuk beberapa hari ataupun beberapa bulan. Mungkin beberapa tahun aku tidak berhubungan dulu dengan perempuan itu, aku minta sama mamah bilang sama ayah kalau mereka membahas tentang perjodohan batalin ya, aku ga mau "


"Ada Tante Sani juga, kamu ga mau temuin dia dulu"


"Engga mah, aku malas bertemu dengan anaknya, pasti dia akan terus menempel padaku. Aku tidak mau ketempelan mah "


"Baiklah tapi kamu harus pulang kemari ya, jangan terus di sana nanti kalau kamu ketiduran bagaimana"


"Iya Mamah Andaru nanti ke sana, setelah mereka pulang baru Andaru akan masuk. Sekarang tumbalin dulu Aksa mah, dia pasti tidak akan keberatan ada disana. Kalau aku yang disana akan ribet mah "


"Baiklah sayang, mamah matikan dulu ya "


Bella menyimpan ponselnya kembali, Bella tahu dengan keresahan anaknya dan dirinya tidak akan memaksa Andaru untuk pergi ke rumah kemari dan menemui Aliya. Biarkan saja kalau dia maunya seperti itu ya tidak apa-apa. Bella mengambil nampan berisi minuman yang sudah disediakan oleh pelayan.


"Gimana tante Andaru nya ada"


Baru juga Bella datang sudah ditanyain Andaru oleh Aliya, Bella membagikan minumannya dan duduk di samping suaminya "Andaru ada tugas katanya, harus dikerjain dia kan udah nggak masuk beberapa hari jadi dia harus menyelesaikan tugas-tugas yang lain. katanya nggak bisa dikerjain di rumah juga dia lagi di rumah temennya"


"Memangnya di rumah mana Tante, temennya yang mana"


"Tante lupa buat nanya tadi, tapi dia buru-buru banget katanya pengen selesai dan mungkin akan malam pulangnya"

__ADS_1


"Begitu ya Tante"


"Yang ditanyain itu Andaru aja padahal anak mama tuh ada tiga ada Aksa, ada aku juga masih bisa ditanyakan kan"


"Ngapain nanyain kalian berdua ,nggak penting. Apalagi kamu Cempaka "


"Ya baiklah. Mamah aku ke kamar dulu ya kasihan Bianca sendirian. Tante Om permisi"


Langsung saja Cempaka berdiri dan malah menginjak kaki Aliya, karena mereka tadi duduk bersampingan, tapi Cempaka tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan.


Sekarang Sena yang berbicara "Adi kita kan sudah berteman lama jadi bagaimana tentang jodoh anak kita, tentang menjodohkan anak kita itu apakah jadi"


Adi menatap Sena dengan tajam "Aku tidak tahu, karena keputusan ada di anak-anakku apakah Andaru atau Aksa mau. Aku tidak bisa memaksa mereka untuk menikah dengan Aliya tanpa cinta. Aku ingin anak-anakku hidup dan menikah dengan orang yang dia cintai bukannya aku menolak, ya semoga saja salah satu dari anakku ada yang tertarik pada anakmu. Meskipun anakku dulu pernah berpacaran dengan Aliya kan tapi sekarang mereka sudah putus"


"Iya juga sih tidak boleh memaksakan anak-anak, untuk menikah dengan orang yang tidak dia cintai, tapi pikir-pikir lagi ya untuk mempererat persaudaraan kita. Kalau anak kita menikah kita makin erat"


"Ya itu bagus sih, tapi Sena apakah ada yang ingin kamu katakan padaku, sesuatu yang mungkin sedikit melenceng dari pembicaraan atau sesuatu yang sedang kamu sembunyikan"


Sena langsung gelagapan mendengar pertanyaan Adi, apakah Adi sudah tahu kalau sekolah akan dirinya berikan pada Ginanjar "Maksudnya pembicaraan yang mana ya Adi. Memangnya selain perjodohan anak kita ada yang harus kita bicarakan lagi sepertinya tidak ada"


"Begitu ya. Aku kira kamu datang kemari ingin membicarakan sesuatu yang sangat sensitif sekali, bahkan sangat tidak masuk akal kalau aku pikir-pikir ya Sen, mengambil aset orang lain " Adi terus saja memojokkan Sena, tapi Sena seperti sudah kebal.


"Tidak ada sih, sepertinya tidak ada hanya saja tadi putriku bercerita kalau putrimu Cempaka sudah membully anakku, jadi dia sudah membuat malu anakku"


"Benarkah Cempaka melakukan itu, apa yang dia lakukan hebat juga anakku ya. Dia pendiam tapi bisa melakukan itu "


"Loh loh kok kamu malah banga sama dia Adi, bukannya seharusnya kamu marahin dia ya itu kan perlakuan tidak baik membully orang itu tidak baik, seharusnya menasehati dia dong Adi "


Sena tidak bisa berkutik lagi, tadinya ingin membuat Cempaka dimarahi di hadapan mereka semua tapi nyatanya Adi menanggapinya dengan sangat santai sekali. Malahan sangat sangat santai seperti semua ini tidak ada masalahnya seperti apa yang dilakukan Cempaka itu hal biasa dan ya sudah lupakan saja begitu.


Sena juga menatap anaknya, Aliya langsung menundukan kepalanya, karena memang dirinya juga selalu membully. Apa yang dikatakan oleh ayahnya Andaru benar sekali. Pasti nanti dirumah akan diceramahi.


...---------------...


Andaru yang sedang melamun dikagetkan dengan ponselnya yang berdering, ternyata Cempaka yang menelpon Andaru langsung tersenyum senang saat tahu siapa yang menelponnya.


"Iya Cempaka ada apa"


Tidak ada kata apapun yang diucapkan Cempaka, hanya helaan nafas saja yang terdengar "Cempaka ada apa, kenapa malah diam"


"Di mana kamu tidak akan pulang. Memangnya kamu masih marah ya padaku karena aku telah membully pacarmu"


"Tidak, memangnya aku harus marah hanya aku tidak suka saja kamu yang seperti itu. Kata siapa aku dan Aliya pacaran kita sudah putus, kita hanya mantan. Aku ada di parkiran rumah hanya saja enggan untuk masuk karena ada Aliya"


"Begitu ya, dia sangat menyebalkan sekali lain kali kalau cari pacar itu yang bener yang baik-baik deh. Jangan seperti ini Aliya akan sangat merepotkan sekali nantinya "


"Ya kan kamu nanti pacar aku istri aku juga "


"Jangan main-main Andaru, aku tidak suka ya"


"Aku ga main-main Cempaka, apa yang aku katakan memang kenyataan seperti itu "

__ADS_1


"Susah berbicara denganmu malah membuatku stress. Aku hanya ingin menanyakan kamu di mana saja tapi malah ke mana saja pembicaraan nya "


Benar saja Cempaka mematikan sambungannya,


Andaru tersenyum-senyum setelah mendengar jawaban Cempaka, memang dirinya bisa menerima Cempaka sebagai adiknya, tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau dia masih mencintai Cempaka.


...----------------...


"Kenapa sih cemberut terus Cempaka, aku tahu pasti kamu mikirin tentang tadi ya, ya memang itu tidak bisa dikatakan benar sih perbuatan kita tadi, tapi ya sudahlah semua itu sudah terjadi dan rencana kita juga sudah terjadi juga kan tidak bisa diulangi lagi"


"Ya mungkin, aku dinasehati dari sana-sini mungkin nanti ayah yang akan menasehati ku gara-gara masalah ini. Baru pertama kali aku membuat masalah tapi sudah banyak yang menasehati ku. Aku binggung saat Aliya yang melakukannya didiamkan begitu saja"


"Tapi kita jarang-jarang loh mempunyai guru seperti Pak Renaldi, dia begitu care pada setiap muridnya dia begitu peduli pada kita semua. Dia tidak mau kalau sampai ada yang dibully kan dia sangat baik sekali. Aku tahu dia ingin kamu tidak seperti itu lagi"


"Tapi aku malah jadi malu pada diriku sendiri, karena telah melakukan itu padahal apa yang aku lakukan bisa disebut pembullyan, aku telah melakukan itu pada perempuan menyebalkan itu. Tapi kan awalnya memang ingin balas dendam. Karena dia sudah memasukkan Budi ke dalam tempat sampah, gini yah logikanya kalau misalnya kita telat atau kalau misalnya Budi kehabisan nafas bagaimana kalau dia lewat itu kan sangat keterlaluan sekali, yang pasti mereka tidak akan pernah mengaku, pura-pura tidak tahu tentang masalah ini"


"Benar juga, mereka akan diam saja, satu hal yang ingin aku tanyakan aku masih bingung dan masih bertanya-tanya selalu saja yang ada di kepalaku tuh ini Andaru kan mencintaimu, maksudku lebih dari seorang adik apakah kamu juga seperti itu padanya "


"Entahlah aku juga bingung, tapi yang pasti kalaupun aku mencintai Andaru kita berdua tidak akan pernah bisa bersama sampai kapanpun. Aku dan dia punya ikatan darah aku dan dia disusui oleh satu orang perempuan yaitu Mamaku. Jadi tidak mungkin kalau kita bersama ataupun melakukan hubungan terlarang. Aku tidak akan pernah mau aku tidak mau mengecewakan orang tuaku"


"Bertahanlah Cempaka jangan sampai kamu tergoda dan malah mau nanti kalau misalnya diajak pacaran sama Andaru, soalnya dia tuh merayunya gila banget"


"Kamu pernah dirayu olehnya Bianca?"


"Ya ga maksudnya aku kenal dia dari dulu, aku tahu gimana sepak terjang dia selama sekolah pacaran sana-sini jadi playboy, mutusin ini pacaran sama ini mutusin ini pacaran sama ini, tapi setelah putus dari Aliya dan ketemu kamu dia nggak cari perempuan lagi. Makannya aku aneh sama dia "


"Ya mungkin dia mau berubah, itu kan bagus kalau dia ga kayak gitu lagi berarti dia udah sadar apa yang dia lakuin itu nggak bener. Cuman buang-buang waktu aja kan "


"Tapi seandainya ya Cempaka, jika kalian tidak bersaudara jika kalian itu asing maksudnya tidak punya ikatan darah sekalipun dengan Andaru dan keluarga ini apakah kamu mau bersama Andaru "


"Kenapa kamu malah membicarakan ini Bianca"


"Tidak ada aku hanya penasaran saja, apakah kamu akan menyukai Andaru dan terpikat olehnya terus melakukan hubungan bersamanya, berpacaran begitu"


"Mungkin aku bisa berpikir seperti itu, tapi kenyataannya tidak akan pernah bisa mungkin aku sekarang bisa berandai-andai. Tapi tetap saja aku harus kembali pada kenyataanku, kalau aku dan Andaru tidak akan pernah bisa bersama sampai kapanpun. Mau aku berjuang sekuat tenaga pun bersamaan Andaru, tapi tetap saja semua itu tidak akan pernah ada hasilnya semua itu akan hancur sehancur-hancurnya. Karena memang kami ini bersaudara dan tidak boleh sampai seperti itu"


"Ya kamu benar, cinta bisa datang pada siapa saja dan berlabuh pada siapa aja, tapi ujung-ujungnya dia malah salah berlabuh dia malah melabuh pada seorang adik kakak dan itu sangat-sangat fatal sekali"


"Iya kamu bener sekali, malah jatuh pada aku yang tak tahu apa-apa dan harus melakukan apa coba"


Cempaka memeluk kakinya dengan erat, rasanya masih bingung harus melakukan apalagi untuk membuat Andaru sadar.


Apakah harus menjodohkan Andaru tapi dengan siapa, Cempaka menatap Bianca, cocok tapi apakah mereka berdua mau.


"Ada apa Cempaka "


"Aku berfikir untuk menjodohkan kamu dengan Andaru "


Bianca langsung melempar bantal sofa "Enak aja ga akan pernah "


"Siapa bilang "

__ADS_1


__ADS_2