
"Aakhh kenapa dia mematikan sambungannya"
Aliya menjambak-jambak rambutnya tak terima Andaru mematikan sambungannya dengan tidak sopan seperti itu. Seharusnya Andaru berkata dulu padanya bukan langsung di matikan begitu saja.
"Ada apa Aliya apakah kau baik-baik saja "
"Kenapa Bunda selalu saja bertanya padaku apakah aku baik-baik saja atau tidak, selalu itu pertanyaan Bunda. Apakah tidak ada pertanyaan yang lain yang bisa Bunda tanyakan padaku"
"Bunda selalu mengajakmu untuk jalan-jalan, mengngobrol bersama tapi kau tidak pernah mau. Kau hanya terus menghabiskan waktu dengan teman-temanmu saja lalu bunda harus seperti apa denganmu Aliya "
"Ya sudah Bunda tidak usah ikut campur dan jangan terus bertanya padaku. Percuma Bunda mengajakku jalan-jalan ataupun bertanya padaku. Tapi Bunda tetap saja sayang pada Kakak bukan padaku"
"Kenapa kau selalu saja membandingkan dirimu dengan Kakakmu, kasih sayangku padamu sama dengan kakakmu. Harus bagaimana aku mengungkapkannya. Selama kau mempunyai masalah aku tidak pernah memberitahu ayahmu ataupun kakakmu aku menutupi semua kesalahanmu"
Aliya malah tertawa dan menghampiri bundanya lalu menatapnya dengan tajam"Hati bunda terlalu busuk dan bunda terlalu banyak drama "
Aliya mendorong bundanya sendiri, dia sama sekali tak kasian ataupun merasa bersalah.
"Aliya "
Aliya menatap kearah suara itu, ternyata ada Kakaknya "Kau tidak perlu berteriak padaku, karena tanpa kau berteriak pun aku bisa mendengarnya"
"Kau sudah sangat keterlaluan kau ini makin besar makin melunjak "
Alvaro membatu bundanya bangkit dan menatap sengit adiknya "Kau akan merasa kehilangan saat nanti bunda tak ada "
"Itu semua tidak akan pernah terjadi padaku, malah aku senang kalau Bunda tidak ada lebih baik tidak ada Bunda. Aku jadi tenang dan tak ada yang merecoki ku lagi "
Plak Alvaro menampar Aliya dengan begitu keras, sampai-sampai Aliya terjatuh dan sudut bibirnya berdarah. Sani yang melihat anaknya tersungkur langsung membantunya bangun tapi malah ditepis begitu saja.
"Jangan kau sentuh aku "
"Berani sekali kau "
Alvaro langsung menggusur Aliya, Sani mencoba untuk memberhentikan Alvaro agar tak memperlakukan adiknya seperti itu.
Tapi Alvaro tak peduli, dia terus menarik Aliya dan mengunci kamar mandi. Lalu dinyalakannya air shower dan mengurus tubuh Aliya.
__ADS_1
"Kau kepalamu harus dibersihkan, maka ini yang harus aku lakukan. Kau tidak boleh seperti itu pada Bunda dia itu ibumu sendiri"
"Hentikan, airnya begitu dingin aku tidak peduli, aku benci padamu Kak. Aku benci "
"Aku tidak peduli kau benci padaku atau tidak. sudah di sekolah membuat onar di sini kau tidak patuk pada orang tua dan tidak hormat juga. Kau ini sebenarnya anak apa anak setan "
Aliya menangis kepalanya di pegang dan itu membuatnya tak bisa melawan. Apalagi tubuhnya dihimpit oleh sang Kakak.
"Bee tolong Aliya didalam bersama Alvaro "
"Ada apa ini "
"Tolong mereka dulu bee "
"Al ini papih buka pintunya. Apa yang kau lakukan buka pintunya "
Pintu langsung dibuka dan menampakan Alvaro dengan baju yang setengah basah. Lalu Aliya yang mengikuti dari belakang sambil menangis.
"Kalian semua tak pernah sayang padamu "
Aliya langsung pergi dari hadapan orang tuanya dan juga Kakaknya. Saat Sani akan mengejar Alvaro langsung menahannya.
...----------------...
"Aku begitu senang kau datang kemari " Gumam Sinta.
"Maksudnya apa Sinta " tanya Aina yang mendengar gumaman itu.
"Tidak aku hanya senang saja Andaru datang kemari dan memberikan jaket ini padaku, aku begitu senang sekali hari ini adalah hari terbahagiaku. Biar aku pakai dulu ya sweater ini"
Sinta sudah memakainya dia memeluknya dengan erat "Aku tidak menyangka dia bisa datang kemari. Padahal kita tidak saling kenal tapi dia datang ke sini untuk menyemangatiku dan memberikan sweater ini aku senang sekali. Sebentar lagi aku akan menyusul kalian sekolah di sana. Aku akan bergabung dan aku akan segera memakai jaket ini tidak hanya di rumah tapi di sekolah itu juga"
"Tapi kalau di sekolah Andaru itu kan sangat jutek ya dingin. Aku merasa aneh saja dia tiba-tiba datang kemari dan memberikan itu padamu. Aneh sekali kan "curiga Aina.
Ayu langsung bangkit dan memeluk Sinta "Tidak apa Aina yang terpenting Sinta senang Andaru mungkin hanya ingin menyemangati Sinta saja dia tahu tentang cerita Sinta kan. Bagaimana perjuangan Sinta untuk bisa berjalan kembali aku senang kau bahagia kembali"
"Aku juga senang sekali Ayu. Sebentar lagi kita akan bersama-sama kita akan sekolah. Aku akan berjalan lagi dan aku akan memakai sweater ini hangat sekali"
__ADS_1
Sinta makin mempererat pelukannya pada Ayu. Aina yang melihat kelakuan dua temannya hanya bisa tersenyum.
Mereka memang sahabat sejati, semenjak kedatangan Ayu kemari. Sinta makin ceria dan makin aktif saja. Mereka sama-sama anak yang ceria dan saat digabungkan mereka menjadi lengkap.
...---------------...
"Ayu kau sudah pulang "
"Sudah mah "
"Bukannya kalian akan menonton film ya, apa sudah selesai"
"Sudah mah. Aku hanya ingin pulang cepat-cepat saja aku mengantuk"
Ayu duduk disamping Mamahnya dan memeluknya dengan erat "Bagaimana keadaan cinta, apakah dia sudah baik-baik saja"
"Sudah mah, dia sudah kembali menjadi Sinta yang dulu sangat ceria sekali apalagi saat tadi Andaru datang dan memberikannya hadiah"
"Andaru anak yang datang kemari memberikan ponsel itu "
"Iya Mah "
"Mama seperti tak asing dengan nama itu, mama seperti mengenal nama itu tapi ya sudahlah kau jangan terlalu dekat ya dengan laki-laki itu. Mama rasa ada sesuatu yang dirinya simpan dan ingin dirinya cari"
"Mama tenang saja Ayu bisa jaga diri Ayu. Ayu akan selalu waspada dia hanya teman Ayu saja tidak lebih kok. Ayu juga di sekolah itu kan pengen banyak temen makanya Ayu berteman sama siapa aja ga pilih-pilih"
"Iya tapi kamu harus hati-hati ya, pokoknya mama punya firasat buruk tentang anak itu, kamu jangan terlalu dekat deh emang boleh berteman tapi jangan terlalu dekat"
"Iya Iya Mah. Ya udah Ayu mau ke kamar dulu ya mau siap-siap buat tidur. Mama juga cepat tidur ya jangan terus main HP Ayu lihat-lihat Mama terus main aja HP"
"Iya iya ini juga udah "
"Selamat malah Mah "
Ayu melambaikan tangannya pada mamahnya dan masuk kedalam kamar. Rasannya badannya ingin segera menyentuh tetap tidur dan terlelah dengan nyenyak.
"Andaru apakah anaknya dari Adipramana. Jangan sampai mereka dekat dan tahu siapa Ayu yang sebenarnya jangan sampai itu terjadi "
__ADS_1
Nadia jadi gelisah dengan keadaan ini. Bagaimana kalau keluarga Adi tahu. Dirinya tak akan bisa melepaskan Ayu begitu saja. Dirinya terlanjur sayang pada Ayu.