
"Jelaskan dulu Cempaka. Ada apa kenapa kamu tiba-tiba begitu panik"
"Bagaimana aku tidak panik Aksa. Budi sekarang ada didalam tong sampah. Dia juga tidak tahu dirinya Dibawa kemana. Pasti ini ulah dari teman-teman kalian yang menyebalkan itu "
"Lah kenapa kita yang disalahin" ucap mereka bertiga serempak.
"Salah bicara maksudnya, mantan temen kalian dan mantannya Andaru. Pasti ini kelakuan dia deh ga salah. Pasti mereka yang udah lakuin ini aku harus nyusulin Budi, jauh banget dia sebenarnya mau dibawa ke mana. Lihat nih sherlock-nya itu kayak dibawa ke jurang gitu"
"Yaudah ayo susul "
Cempaka langsung saja masuk kedalam mobil Aksa, mereka berempat bergegas pergi, bahkan Cempaka sudah memberikan sherlock tadi pada saudaranya Aksa.
"Sekarang bagaimana, apa yang kamu rasakan Budi. Kamu dibawa ke mana lagi, aku sekarang sedang nyusul kamu ke sana tenang ya, aku pasti akan nolong kamu"
"Iya Ayu tolong aku. Aku nggak tahu ini dibawa ke mana. Pokoknya mobil mereka sekarang berhenti beneran berhenti, diam dulu diam dulu aku mau tahu mereka mau bawa aku ke mana"
Cempaka terus saja menunggu jawaban dari Budi, lama sekali dia menjawab. Sedangkan sekarang Budi mendengar kalau tong sampah ini didorong.
Lalu berhenti sejenak tapi tak butuh waktu lama dirinya malah terguling-guling didalam tong sampah itu sakit sekali.
"Aduh aduh Ayu aku menggelinding, aduh aduh badanku pasti akan patah-patah aduh Ayu sakit"
"Apa yang mereka lakukan, apa kamu dibuang ke jurang"
"Ga tahu aku juga ga tahu, masa sih aku dibuang ke jurang. Aduh badanku benar-benar sakit Yu, ini benar-benar siksaan yang menyakitkan, bener bener nih sekolah"
__ADS_1
"Ya udah tenang terus ada air ga atau air masuk gitu ke dalam sana"
"Tak ada Ayu kering, tapi tunggu aku dengar ada yang buka itu dikunci"
Benar saja saat Budi mendorongnya bisa terbuka, Budi keluar dengan keadaanya berantakan. Apalagi wajahnya sudah sangat memerah.
"Ayu aku ada dibawah, aku dijatuhkan dari atas yang begitu curam "adu Budi.
Budi melihat keatas ada orang yang sedang memfotonya. Bahkan orang itu tersenyum padanya.
"Sialan kamu, awas ya "teriak Budi
Budi membaringkan tubuhnya, tubuhnya begitu lemas dan bau sampah "Ayu mereka memang sangat biadab. Lihatlah aku malah difoto, mereka entah akan mengirimkannya pada siapa. Aku rasa pelakunya ini Galang kalau bukan dia siapa lagi atau mungkin Aliya yang menyuruhnya, tidak ada lagi kan yang berani melakukan ini selain mereka berdua"
"Oh ya Ayu, satu lagi jangan datang kemari sendirian. Ingat kamu harus datang kemari dengan polisi atau ambulans atau dengan pamanku saja. Aku tidak mau nanti kamu malah celaka ya, datang dengan banyak orang kalau bisa mau sekampung, mau sert juga tidak masalah"
"Iya iya aku tunggu "
Budi memejamkan matanya, menunggu Ayu yang akan datang. Sungguh tubuhnya sangat lemas sekali. Tapi dirinya bersyukur bisa lepas dari dalam sini. Kalau tidak mungkin dirinya akan mati.
...----------------...
"Hahaha bagus sekali dia keluar dari dalam tong sampah, sesuatu yang menyenangkan untukku Galang"
"Bagaimana apakah itu sudah membuatmu senang, aku sudah melakukan apa perintahmu untuk membuatmu kembali senang dan bahagia. Saat melihat ini bagaimana"
__ADS_1
"Aku begitu bahagia dan senang sekali. Akhirnya mood ku kembali naik dan ini adalah satu hal yang membuatku sangat bahagia sekali. Kamu sangat bagus sekarang membuatku bahagia sekali rasanya. Lihatlah wajahnya begitu merah pakaiannya berantakan ya ampun pasti badannya bau sekali, aku tidak mau menghirupnya itu sangat menjijikkan sekali"
"Makanya tidak kita langsung yang mengeksekusinya di sana. Mungkin kalau kita yang langsung ke sana kita akan sedikit mempermainkan dia untuk pingsan di dalam tempat sampah itu, apalagi saat aku tadi buka tempat sampah itu sangat banyak sekali sampahnya dan itu sangat menjijikan"
"Aku tidak bisa membayangkannya pasti sangat-sangat menjijikan sekali, tapi kenapa ya dia tidak pingsan. Padahal kita membawa dia ke tempat yang sangat jauh, bahkan orang yang kamu suruh untuk menendang tempat sampah itu sampai bergelinding-gelinding kan. Tapi dia masih bisa sadar seperti itu ya, kuat sekali dia apakah ini akan menjadi ancaman untuk pamannya itu. Aku ingin lihat ekspresi pamannya akan seperti apa melihat keponakannya kita permainkan seperti ini"
"Yang pasti pamannya akan sangat ketakutan, aku yakin itu dia tidak mau kalau Budi sampai celaka. Kamu tahu sendiri kan Bagaimana sayangnya pamannya Budi itu. Dia tidak akan membiarkan keponakannya itu celaka dan kita dengan seenaknya malah membuat laki-laki itu celaka, ternyata membuat permainan seperti ini menyenangkan juga ya bermain dengan nyawa lebih menyenangkan daripada mengolok-olok mereka. Itu sudah sangat membosankan sekali "
"Kamu yakin, yakin nanti saat ada yang melaporkan kamu, kamu siap dipenjara tidak akan takut akan ditanya-tanya "
"Untuk apa aku takut, aku bisa keluar dengan mudah tidak usah takut kapan lagi kita mempermainkan orang lain seperti ini. Ini akan sangat menyenangkan masa-masa SMA kita akan segera berakhir maka kita harus terus menjalankan kegiatan yang selalu kita lakukan. Meskipun Andaru sekarang tidak ikut-ikutan lagi dia sudah cemen, dia malah mundur dan menjadi anak baik-baik padahal kan ini akan menjadi kenang-kenangan"
"Jangan bawa-bawa Andaru, dia tidak tahu apa-apa biarkan dia hidup tenang tapi mungkin kalau kita ada masalah dia akan terseret-seret lagi karena kita hanya bisa berlindung dengan namanya saja kan "
"Kamu menjadikannya dia tameng ? "
"Iya mungkin begitu, meskipun aku sekarang menyesal karena telah memutarbalikkan fakta yang sesungguhnya di kantor polisi tapi itu demi kebaikanku juga kan "
"Berpikirlah demi kehidupanmu, belum tentu Andaru akan mencintaimu lagi lebih baik jebak saja dia sampai dia masuk ke dalam penjara, buat dia menyesal saja "
"Kita lihat saja nanti permainan papi ku, akan sampai mana"
"Baiklah aku akan meminta jatah aku tadi, kamu sudah berjanji kan akan menciumku maka lakukan, aku sudah tak sabar "
Aliya dengan senang hati mencium pipi kanan dan pipi kiri Galang "Apakah bibirnya tidak akan"
__ADS_1
Aliya malah tersenyum dan mengalihkan pandangannya, Galang juga sendiri tidak meneruskan kata-katanya karena itu hanya sebuah lelucon saja. Siapa tahu dengan memancing seperti itu Aliya akan memberikannya.