
Mereka semua sekarang sudah ada dirumah sakit dan masih menunggu antrian, Bella dengan anteng diam saja sambil sesekali mengelus perutnya dan disebelahnya ada ka Ziva yang sedang memeluk tangan Adi dengan manja.
Bella sama sekali tak menghiraukannya dia hanya tertuju pada seorang ibu ibu yang sedang didorong dengan kursi roda, dirinya seperti mengenal orang itu. Tapi orang itu sedikit kurusan dan rambutnya digerai begitu saja.
Dan yang mendorongnya pun dirinya seperti kenal, tanpa sadar Bella segera melangkah mendekati orang itu, sekarang dirinya melihat orang itu dengan jelas, ternyata itu memang orang yang dirinya kenal orang selama ini selalu dirinya rindukan " mamih " teriak Bella.
Bahkan Bella sampai berlari mengejar mamihnya, ya mamihnya yang dirinya lihat bersama kakaknya Serena, mamihnya sakit apa.
Saat Bella akan sebentar lagi sampai dihadapan mamihnya tubuhnya ditarik dan dipeluk, sedangkan mamihnya Bella yang mendengar suara anaknya langsung berbalik dan menatap sekitar. Dia mencari orang yang memangilnya dirinya tau itu suara siapa.
"Itu suara Bella Serena "
"Mami sudah jangan terus memikirkan Bella, Bella sudah tidak ada dia sudah meninggal dan kita sudah melihat jasadnya kalau dia sudah tidak ada, mami harus sehat ini semua bukan kesalahan kita, ini semua bukan kita yang salah sudah jangan menyalahkan diri sendiri. Semuanya sudah terjadi dan semua ini tidak akan kembali lagi sudah lupakan Bella. Dia hanyalah sebuah masa lalu dan tak pantas untuk kita ingat "
Mamih Bella tak menjawab dia mengalihkan padannya sambil memegang dadanya, penyesalan begitu besar dalam hatinya, sakit rasanya. Dirinya juga tak bisa menyalahkan anak sulungnya karena dirinya juga ikut serta dalam masalah itu.
Kenapa dirinya harus mengikuti semua kata-kata anak sulungnya, kalau saja dirinya tidak setuju Bella untuk dijual pada laki-laki yang entah dirinya pun tidak tahu wujudnya seperti apa, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi pada anaknya. Bella akan selalu ada di sampingnya hanya karena kekesalan sesaat semuanya hancur suaminya pun sekarang tak tau pergi ke mana.
Mamihnya Bella segera mengusap air matanya yang tak henti hentinya mengalir, Bella memang anak pembangkang namun dia juga bisa menjadi anak penurut, dia baik pintar karena dirinya yang pilih kasih, Bella menjadi keras kepala dan tak mau mendengarkan kata katanya.
Bella yang masih dipeluk hanya bisa menangis, padahal sebentar lagi dirinya akan ada di pelukan mamihnya " tolong nona jangan berteriak lagi, tolong jangan membuat masalah ingat nona perjanjian itu "
Bella tak menjawab perkataan dari Zack dia hanya menangis saja, dan tiba tiba pelukan itu terlepas, Adi langsung menarik tangan Bella dan membawanya masuk kedalam ruangan pemeriksaan.
Mereka bertiga masuk, Ziva pun ikut masuk, selama pemeriksaan Bella hanya diam saja dengan air mata yang tak henti hentinya mengalir.
__ADS_1
"Kandungannya sehat pak Bu, akan saya beri vitamin ya pak Bu, ini untuk resepnya "
Adi segera mengambil kertas itu dan menganggukan kepalanya, kembali Adi menarik tangan Bella untuk keluar setelah pemeriksaan itu " jangan terus menangis sayang " bisik Adi sambil menghapus air mata Bella.
Ziva hanya bisa mendelikan matanya saja melihat pemandangan ini kembali, Adi Adi kau sungguh berbeda kau seperti mempunyai kepribadian ganda.
Saat penebusan obat Adi pergi dan meninggalkan Bella dengan Ziva tentu ada Zack yang berjaga tak jauh dari mereka.
"Apakah kau sangat ingin bertemu dengan ibumu "
"Tentu aku sangat ingin bertemu dengan ibuku mana mungkin aku tidak mau bertemu dengan mami, "
"Aku akan membantumu untuk bertemu dengan mamimu. Apakah kamu mau ikut denganku atau mungkin kau ingin bertemu dengan papimu dengan keluargamu ya dengan semua keluargamu, tanpa Adi tahu tapi kau harus kembali lagi padanya nanti setelah anak itu lahir baru kau boleh bebas sepenuhnya"
"Benarkah kau sebaik itu padaku akan membantuku untuk bertemu dengan papiku, dengan semua keluargaku. Apakah dibalik ini tidak ada jebakan"
Ziva menepuk bahu Bella "ya mungkin sikapku waktu itu terlalu kasar padamu, karena aku tidak suka suamiku dibagi dua dengan siapapun itu, tapi aku harus melakukan itu demi seorang anak ya mungkin aku sedikit naif karena pertama aku memang membolehkan suamiku untuk menikah dan setelah menikah aku malah begini tak rela dia terus ada di sampingmu dan kau juga kalau ada di posisiku akan seperti ini kan, tidak akan pernah menerima sampai kapanpun saat suaminya berbagi kasih dengan perempuan lain"
"Ya mana ada perempuan yang mau dibagi tak ada yang mau dibagi, perempuan adalah makhluk pencemburu dan mereka tak akan merelakan apa yang sudah menjadi miliknya dibagi pada siapa pun itu. Tapi jika aku menjadi dirimu aku tidak akan pernah membiarkan suamiku untuk menikah lagi, meskipun aku tidak akan pernah bisa mempunyai anak dan mungkin aku akan melepaskan suamiku saja untuk apa aku pertahankan suami yang memang ingin mempunyai anak tapi harus menikah lagi dengan perempuan lain, aku lebih baik mundur dan aku lebih baik menyerah. Hidup masih panjang dunia masih luas dan aku bisa mengejar karir dan aku juga nanti mungkin bisa menemukan laki-laki yang menerima kekurangan dan kelebihanku nantiny. Sebagian laki laki ada yang egois dan tidak, jika dia memang mencintai kita dengan sungguh-sungguh dia akan menerima apapun kekurangan kita"
Ziva hanya diam dia memilin-milin kukunya lalu menatap kembali Bella "mungkin untuk sekarang kau percaya padaku, aku akan membantumu untuk bertemu dengan keluargamu aku janji tidak akan melakukan apa-apa padamu. Aku janji tidak akan mencelakaimu untuk apa kau pun setelah melahirkan anak ini akan pergi kan dari samping Adi " dengan wajah yang was was
Bella langsung menatap Ziva dengan senyum yang sedikit mengejek "kalau misalnya suamimu tidak mau melepaskanku bagaimana ? "
"Tidak mungkin dia sudah berjanji padaku setelah kau melahirkan dia akan melepaskanmu. Jadi bagaimana tawaranku apakah kau mau aku bantu untuk bertemu dengan kedua orang tuamu aku hanya ingin membantumu saja tidak lebih, kalau kau memang tidak mau ya sudah aku tidak akan membantumu dan aku juga tak akan memaksa mu "
__ADS_1
Bella hanya diam menatap wajah Ziva dengan begitu fokus apakah dirinya harus ikut dengan Ziva ataukah dirinya harus tidak ikut dengannya, apakah dirinya harus percaya pada Ziva tapi dirinya ini ingin sekali bertemu dengan ayah dan ibunya dirinya begitu rindu apalagi dengan keadaan ibunya yang seperti tadi. Ada apa dengan ibunya sakit apa dia dirinya harus tahu keadaan keluarganya"
Bella menarik nafasnya lalu menghembuskan dan mengganggukan kepalanya "mungkin untuk sekarang aku akan percaya padamu dan ikut padamu aku ingin bertemu dengan keluargaku, aku tidak bisa menahan kerinduan ini lagi aku ingin melihat keadaan semua keluargaku"
"Baguslah anak baik aku akan membantumu untuk bertemu dengan keluargamu. Kau hanya perlu percaya padaku " Ziva langsung mengalihkan pandangannya dan tersenyum licik perangkapnya sudah masuk ternyata kalau orang sedang sedih seperti ini akan cepat masuk perangkapnya.
Dan tanpa Ziva sadari Bella meraba celana leggingnya yang dibalut dengan sepatu boots semata kaki dan apa yang dirinya bahwa tadi ada di dalamnya aman jika ada sesuatu yang mengancam dirinya, maka dirinya akan bertindak.
**
"Aku harus pergi ke kantor. Ada masalah di kantor kalian berdua Ziva Bella jangan bertengkar di dalam mobil dan Zack akan mengantarkan kalian pulang ke rumah, kalian mulai sekarang harus akur "
Ziva menggelengkan kepalanya " tidak usah kau bersama Zack saja pergi ke kantor biar aku dan Bella pulang bersama supir, kamu berdua sudah baikan. Iya kan Bella "ucap Ziva sambil merangkul bahu Bella dan sedikit meremasnya.
Bella pun segera merangkul bahunya Ziva sambil sedikit memukulnya "tentu kami berdua sudah akur mas lihat kami seperti kakak adik kan, kami tidak akan pernah bertengkar tenang saja semuanya aman terkendali, Bella akan bersikap baik dan anggun "
"Benarkah kalian sudah tidak bertengkar lagi" Adi menatap satu persatu mata istrinya mereka hanya tersenyum pada Adi seperti sedang meyakinkan.
"Benar mas mana mungkin kami berbohong, kamu sudah baik-baik saja. Bahkan tadi kami sudah mengobrol banyak dan kami sudah mengenal satu sama lain. Maka tidak ada kekeliruan lagi ataupun salah paham lagi di antara kami berdua. Kami sudah baik-baik saja dan kami akan selalu seperti ini mas "ucap Bella sambil memegang tangan Adi.
"Baiklah aku akan membiarkan kalian pulang bersama sopir dan aku akan memberikan dua pengawal untuk kalian berdua. Ya sudah aku harus pergi dulu ke kantor"
Adi mencium satu persatu jidat istrinya, saat Adi melangkah Bella masih memegang tangannya lalu Bella menyalimi Adi dan tersenyum padanya dengan manis.
Adi hanya melongo dengan perlakuan kecil yang Bella berikan seperti memang Bella adalah istri sesungguhnya penurut dan solehah. Adi dengan salah tingkah segera masuk mobil diikuti oleh Zach dan Bella dengan Ziva pun segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1