
"Tuan Andaru silakan masuk"
Andaru segera masuk ke dalam restoran itu, lalu memesan sebuah cake "Tuan pesanan anda akan segera selesai nanti saya akan antarkan kemeja anda "
"Baiklah segeralah"
"Iya tuan"
Andaru segera berjalan ke arah sebuah meja, di sana sudah ada yang menunggunya "Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggu mu cukup lama "
"Ya aku yang menyuruhmu datang mana mungkin aku tidak datang ke sini. Permainanmu tadi cukup bagus dan itu akan membuat mereka berhenti untuk mengusik mu apakah kau puas "
"Tentu itu adalah ideku yang paling brilian. Kau suka kan dengan apa yang aku lakukan pada Ayu dan juga Budi. Mereka sangat cocok ya menjadi seorang kekasih seperti kita cocok. Aku sangat puas dengan apa yang aku lakukan hari ini "
"Maaf mengganggu ini tuan cake-nya"
"Ya ampun kau memesan kue kesukaan kita berdua, aku senang sekali Andaru " Aliya memeluk Andaru saking senangnya.
Andaru tersenyum dan menganggukan kepalanya "Iya ini kue kesukaan kita. Kau suka kan aku memesankan ini "
"Iya aku suka"
"Lain kali jika melakukan permainan seperti itu jangan membawa-bawa namaku, karena aku tidak melakukannya"
"Ya aku tahu kau tidak ada dalam skenario ini, tapi kau kan yang menyalakan alarm kebakaran untuk menyelamatkan Ayu "
Andara tersenyum dan menganggukan kepalanya "Iya aku, kenapa memangnya. Apakah kau kecewa ? "
"Ternyata kau begitu peduli pada Ayu, saking pedulinya kau menyalahkan alarm itu untuk menyelamatkannya. Bagus juga tapi aku tidak suka kamu melakukan itu "
Andaru makin mendekati Aliya dan tangannya menggapai ponsel Ayu yang ada di dekat Aliya, tapi tangannya langsung ditangkap oleh Aliya "Jika kau ingin ponsel ini maka harus ada sesuatu yang kau berikan padaku. Aku tidak suka kau main ambil saja "
"Tentu aku akan memberikannya padamu "
Aliya makin mendekati Andaru dan mencium bibir Andaru. Mau tidak mau Andaru juga membalasnya. Dengan cepat Aliya memfoto dirinya yang sedang berciuman dengan Andaru.
Setelah ciuman itu lepas Aliya menyenderkan kepalanya di dada Andaru, air muka Andaru sudah berubah menjadi kesal dan muak, tapi untuk membujuk perempuan ini harus seperti ini tak ada cara lain.
"Lihatlah foto ini Andaru bagus kan. Kita seharusnya kembali bersama, kita harus bersama lagi kau tidak akan pernah bisa lepas dariku Andaru, kau akan menjadi milikku selamanya"
Andaru hanya bisa tersenyum saja tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Aliya, dirinya harus sabar demi mendapatkan ponselnya Ayu. Video itu tidak akan pernah tersebar ponsel Ayu sudah ada pada dirinya.
__ADS_1
...----------------...
Paman Dion yang melihat ibunya Ayu segera mengejarnya "Ada apa Dion. Kenapa kau tiba-tiba mengejarku seperti ini apa ada masalah besar "
"Apakah kita bisa bicara dulu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan tentang Ayu ini sangat penting sekali"
"Baiklah ayo kita bicara"
Nadia melangkah terlebih dahulu dan duduk di sebuah tempat yang cukup sepi, karena dirinya tidak mau ada yang mendengarkan pembicara mereka berdua.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan"
Paman Dion segera memperlihatkan foto Ayu dan juga Andaru "Maksudmu ini apa ? "
"Inilah kelakuan anakmu Ayu di sekolah, dia bukannya fokus sekolah tapi malah pergi bersama laki-laki ini. Harus kau tahu juga Ayu telah melaporkan laki-laki ini ke kantor polisi alasannya masalahnya tetap karena Sinta. Dia pergi ke sekolah itu hanya untuk menyelidiki kasus Sinta saja, kau tahu kan kasus itu sudah ditutup dan seharusnya tidak dicari-cari lagi"
"Seharusnya kau mengerti Dion. Kalau kau ada di posisi Ayu pun akan seperti ini. Dia sangat terpuruk dan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Sinta. Aku sadar sekarang anakku sangat tertekan dengan semua ini, dia ingin menemukan orang yang telah melakukan ini pada Sinta agar bisa menebus apa yang terjadi waktu itu"
"Iya aku tahu, tapi sepertinya Ayu belum cocok untuk sekolah di sana. Lebih baik kau kembalikan Ayu ke sekolah dulunya saja. Agar dia bisa berpikir kalau sekolah di sekolah elit itu harus mendapatkan beasiswa dulu, itu tidak mudah aku sudah mempermudah hidup Ayu tapi dia malah mempermainkannya dengan mencari bukti-bukti tentang kecelakaan Sinta. Dia mau jadi detektif ? "
"Aku tidak akan pernah menghakimi Ayu atau menyuruhnya untuk pindah lagi ke sekolah biasa. Tanpa Ayu mendapatkan beasiswa aku bisa menyekolahkan anakku di sana. Kau jangan pernah meremehkan keluargak. Kau tidak tahu siapa aku Dion jadi jangan pernah berbicara seenaknya padaku ataupun anakku"
"Kenapa kau malah jadi mengancamku seperti ini. Seharusnya kau berterima kasih anakmu sudah aku masukkan ke sekolah mewah itu dengan beasiswa, tanpa kau mengeluarkan uang sepeserpun. Pekerjaanmu hanya di butik saja berapa sih penghasilan dari butik itu tidak besar kecil"
Nadia tersenyum miring "Kau baru mengenalku 4 tahun, kau belum mengenalku lama. Jadi kau tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Kita sudahi saja pembicaraan ini karena sudah tidak penting. Aku tidak akan pernah memarahi Ayu atas apa yang dia lakukan dan aku tidak akan pernah menghakiminya ataupun menyuruhnya untuk pindah sekolah lagi"
Nadia langsung pergi dengan hati yang marah. Dion sudah terlalu ikut campur tentang hidupnya, Dion seperti tahu apa yang dirinya rasakan seperti Dion mengenal dirinya saja, tapi yang sebenarnya Dion tidak mengenal dirinya tak ada yang mengenal dirinya di sini.
...----------------...
Ayu yang sedang dikamarnya segera mengganti pakaian. Setelah selesai Ayu mengingat kembali perundungan yang terjadi pada dirinya tadi. Air matanya kembali menetes namun dengan cepat Ayu menghapusnya. Dirinya harus kuat tidak boleh seperti ini.
Ayu membuka laptopnya dan masih melihat fotonya di mana-mana dan banyak sekali hujatan yang menimpa dirinya. Lalu Ayu tak sengaja melihat postingan dari Aliya. Andaru dan juga Alia berciuman Ayu hanya bisa tersenyum saja.
Andaru memang laki-laki sialan, brengsek mereka sepertinya masih berpacaran. Tidak mungkin kan mereka berciuman tanpa alasan seperti ini.
Saat mendengar ada suara bel pintu berbunyi, Ayu segera pergi keluar rumah, tak lupa Ayu juga tadi menutup laptopnya terlebih dahulu. Ternyata itu ibunya.
"Mama kita mau makan apa sekarang"
Mamanya bukan menjawab malah memperlihatkan foto dirinya dan juga Andaru "Ini apa, siapa yang melakukan ini padamu Ayu kenapa kau tidak bicara pada Mama. Apakah ini kelakuan anak perempuan itu yang datang ke butik dengan menangis pilu itu, berikan nomor teleponnya pada Mamah. Biar Mama telepon dia dan marahin dia. Lalu apalagi yang dia lakukan padamu, biar sekalian mamah bicaranya ayo "
__ADS_1
"Tidak mah. Ini hanya salah paham saja, ini bukan salah dia juga. Sudahlah ini hanya masalah kecil ini cuman mainan saja. Mama tahu sendiri kan bagaimana disana, ini hanya mainan saja "
"Tidak bisa seperti itu Ayu. Mama harus berbicara dulu dengan anak itu , setelah berbicara dengannya Mama akan tenang. Berikan ponselmu dan Mama akan menelponnya. Mana ponselmu jangan berbohong lagi pada mama. Mama tidak mau anak mama disakiti. Ayo cepat berikan sayang "
"Ponselku tertinggal di rumah Aina. Iya tertinggal di rumah Aina, aku tadi sempat mampir kerumahnya "
Kau jangan berbohong lagi pada Mama, di mana ponselmu Ayu mamah tahu kamu disakiti disekolah itu "
Nadia segera masuk ke dalam kamar anaknya, mencari ponsel anaknya di tas, di meja belajar, di mana-mana tapi ponselnya tidak ditemukan tidak ada ponsel anaknya.
"Kemana ponselmu Ayu, kenapa tidak ada di sini kau kemana kan ponselmu itu apa anak perempuan itu mengambilnya ? "
"Aku sudah bilang kan Mah ponselku tertinggal di rumah Aina. Untuk apa aku berbohong pada mamah "
Kembali bel berbunyi. Ayu dan juga Nadia segera pergi ke arah pintu saat itu dibuka Ayu kaget melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Selamat siang tante. Saya temannya Ayu saya Andaru "
"Mau apa kau kemari. Ada perlu apa sampai-sampai kau datang ke rumahku "
"Aku hanya ingin mengembalikan ponsel Ayu, tadi terjatuh di lorong saat kebakaran di sekolah. Ada kebakaran tadi Ayu berlari dengan kencang dan menjatuhkan ponselnya. Untung saja aku menemukannya makanya aku ingin mengembalikan ponselnya"
Nadia menatap Ayu sekilas selalu kembali menatap Andaru. Andaru memberikan ponselnya pada Ayu" Kalau begitu saya permisi Tante, Ayu sampai bertemu di sekolah"
Andaru langsung pergi dan Nadia pun langsung menutup pintunya "Kau bisa jelaskan semua ini, apa saja yang terjadi di sekolah. Apa yang tidak kau ceritakan pada Mama. Apa yang sudah terjadi padamu, mama tidak akan pernah marah. Ayo ceritakan semuanya kita bicarakan semuanya ayo jangan dipendam lagi sayang. Mamah janji tak akan marah "
"Tidak ada yang terjadi mah, semuanya baik-baik saja tidak ada yang terjadi "
"Jujur pada mamah Ayu " marah Nadia
"Aku paling tidak suka bila mama sudah seperti ini lagi"
Ayu langsung pergi ke kamarnya tanpa mendengarkan teriakan Mamanya lagi. Ayu duduk di tempat tidur dan membuka ponselnya. Foto dirinya masih ada foto-foto tadi saat dirinya ditelanjangi. Videonya jug ada Ayu tak bisa menahan tangisnya lagi. Sudah menahannya tapi dadanya begitu sesak dan sakit.
Saat dadaku sesak dan sakit seperti ini aku ingin sekali melampiaskannya, tapi aku tidak mau sampai melampiaskannya pada orang lain. Ini belum saatnya aku untuk melampiaskan semua kekesalanku, kemarahanku.
Harga diriku sudah dijatuhkan oleh mereka semua, aku sudah ditelanjangi di hadapan banyak orang aku diinjak-injak, harga diriku tak berharga di sana.
Mungkin dalam sebuah pertempuran harus jatuh bangun dulu untuk menang, aku akan tetap melawan setiap orang yang merundungku.
Tidak apa aku harus kalah berulang kali, tapi aku yakin aku akan membalas mereka. Aku tidak akan pernah menyerah dan aku tidak akan pernah takut oleh siapapun.
__ADS_1