
Tiba-tiba saja keluar air di ruang ganti itu, dan juga ada alarm kebakaran. Ayu menatap tubuhnya yang basah dia makin memeluk tubuhnya dan menatap Budi. mereka masih melakukan perundingan itu.
"Ayolah lepaskan. Apakah kau tidak lihat ada kebakaran apa kalian ingin membuat kami menjadi abu. Lepaskan lepaskan kami berdua apa salah kami sampai-sampai harus diperlakukan seperti ini "teriak Budi
"Diamlah kau anak kampung, sudah kau diam kau pantas diperlakukan seperti ini bersama pacarmu. Kalian sangat pantas ya memakai pakaian seperti ini saja. Kenapa tidak dari dulu saja tidak usah pakai seragam" ucap Galang.
"Ayu ayo katakan sesuatu pada mereka, aku tidak mau mati konyol di sini"
"Galang apakah kita harus tetap di sini"
"Sebentar lagi Abigail, sebentar lagi ada satu hal lagi "
Galang pergi ke arah belakang mereka berdua dan memperdekat mereka berdua "Jangan terus kayak gini dong ayo berdekatan lah kalian akan menjadi artis ayo-ayo "
Ayu dengan kesel menyiku wajah Galang "Sudah aku bilang kan jangan pernah lakukan aku seperti ini. Aku tidak akan melepaskan kalian semua. Kalian semua akan habis olehku nanti, aku akan membalas semua apa yang telah kalian lakukan "
Abigail mulai takut saat Ayu melawan . Apalagi Galang saja sampai kalah wajahnya di siku sampai dia terjatuh "Lang gimana ih "
"Sudah kau pergi saja biar aku selesaikan, nanti aku akan menyusul"
Abigail pergi begitu saja pakaiannya juga sudah basah, alarm terus saja bersuara anak-anak juga pada keluar karena mereka juga takut.
Galang mengambil semua pakaian, handuk yang ada di sana. Ayu mencoba untuk menariknya tapi Galang mendorongnya lalu dia mengunci pintu.
"Jangan main-main denganku gila ya kau buka, sialan kau brengsek "
Ayu dan juga Budi mencoba untuk menggedor-gedor pintu itu tapi tidak bisa pintunya dikunci, "Bagaimana ini Ayu aku tidak mau terbakar, aku masih mau hidup aku tidak mau mati konyol. Ayo lakukan sesuatu"
"Diamlah kau jangan terus bicara, aku juga bingung harus melakukan apa. Di sini kamu bukannya membantu malah membuatku pusing "
Ayu membuka satu persatu loker dan menemukan sebuah kemeja. Dengan cepat dia memakainya. Tubuhnya sudah sangat kedinginan dan amat sangat malu hanya memakai dalaman saja. Mereka sungguh-sungguh membuatnya naik pitam dan membuat dirinya malu.
__ADS_1
"Tolong siapa saja bantu kami. Kami di sini, tolong"
Tiba-tiba saja ada bayangan. Ayu dan juga Budi segera berteriak, kaca dipecahkan oleh orang itu Ayu yang melihat siapa yang membantunya hanya bisa tersenyum sinis. Ayu mengusap air matanya.
Sedangkan Budi langsung memeluk orang itu "Terima kasih kau telah membantuku. Kalau tidak ada kau pasti kami sudah menjadi jagung bakar. Terima kasih atas bantuanmu sungguh-sungguh aku berterima kasih padamu"
Budi langsung pergi begitu saja. Ayu menatap orang itu dengan marah dan meninggalkannya. Dia mengikuti Ayu sampai ke tempat ganti pakaian perempuan. Ayu memasukkan semua pakaiannya dan memakai celana olahraganya.
"Kenapa kamu mengikutiku, pasti kau kan yang melakukan ini Andaru. Apakah kau puas melihat aku dipermalukan seperti ini. Apakah kau puas aku ditelanjangi seperti ini di sini, apakah ini sekolah elit yang sebenarnya tidak punya tatakrama sedikitpun ? "
"Kenapa kau menyalahkan ku, memangnya aku yang merundungmu, tidak kan. Aku sama sekali tidak ikut-ikutan"
"Kau bilang kau tidak ikut-ikutan. Aku tahu semua ide ini ada pada dirimu. Kau yang sudah melakukan ini aku yakin kau pelakunya. Kau sangat menjijikan sekali karena masalah itu saja kau membuat aku harus dirundung seperti ini, karena memang kenyataannya kan kau yang telah menabrak Sinta. Kau yang telah membuat temanku lumpuh dan tidak bisa berjalan sampai kapanpun, kau yang telah melakukan itu"
Ayu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Andaru, lagi-lagi Andaru mengikutinya, tapi Ayu tidak peduli. Sekarang yang harus dirinya lakukan adalah mengambil ponselnya dari Aliya. Jangan sampai video yang tadi tersebar ke mana-mana.
Saat sampai di lapangan Ayu melihat Aliya yang sedang duduk bersama Abigail, perempuan tadi yang telah mem videonya. Galang juga ada di sana dia malah tersenyum ke arahnya.
"Yess "teriak mereka semua.
Setelah mendengarkan ucapan dari kepala sekolah, Ayu mendekati Aliya yang sedang duduk "Berikan ponselku"
"Ya ampun, ada apa denganmu Ayu kenapa pakaianmu berantakan seperti ini, ponsel apa yang kau maksud. Memangnya aku seorang pencuri sampai-sampai kau minta ponselmu padaku. Mana mungkin aku melakukan itu. Tunggu-tunggu biar aku umumkan dulu siapa tahu ada yang mencuri ponselmu "
"Hallo teman-teman dengarkan aku dulu. Apa di sini ada yang mengambil ponsel Ayu, ponselnya ponsel murahan sih ukurannya juga kecil mereknya apa Ayu "
"Jangan main-main denganku Aliya, berikan ponselku"
"Aku tidak tahu di mana ponselmu"
Aliya segera bangkit dan meninggalkan Ayu, tapi Ayu tidak tinggal diam dia mengikuti Aliya sampai di depan mobilnya. Ayu menarik pakaian Aliya dan mereka berhadapan.
__ADS_1
"Ada apa lagi. Sudah kubilang kan tidak ada padaku, aku mau pulang"
Baru juga Aliya akan melangkah Ayu langsung mencengkram tangannya "Sudah aku bilang berikan ponselku jangan main-main"
"Kukira kau tidak bisa menjadi orang kasar. Kau sangat kasar sekali Ayu padaku "
Andaru yang belum masuk ke dalam mobilnya menatap apa yang Ayu lakukan bersama Aliya, dia cukup kagum dengan Ayu yang berani pada Aliya.
"Kubilang berikan ponselku. Apakah kau tuli"
"Sudah aku katakan aku tidak mengambil ponselmu. Untuk apa, apa gunanya untukku. Apakah aku akan lebih kaya lagi saat mengambil ponselmu tidak kan "
Ayu sekarang menarik kerah kemeja Aliya "Berikan ponsel aku sekarang juga. Jangan main-main denganku. Aku bisa lebih kasar dari ini"
"Apakah kau tidak tahu aku, kau jangan macam-macam denganku Ayu. Apakah yang tadi belum membuatmu takut padaku "
"Aku tidak peduli siapa kau, mau kau anak siapa pun aku tidak akan pernah peduli"
"Lepaskan sialan"
Aliya mendorong Ayu, tapi Ayu tidak terjatuh dia menampar Aliya dengan sangat keras. Teman-temannya yang masih ada di sana sampai melongo melihat apa yang Ayu lakukan pada Aliya.
"Kau berani menamparku"
"Iya, aku berani menamparmu memangnya kau siapa sampai-sampai aku harus takut untuk menamparmu. Aku tidak akan pernah takut padamu berikan ponselnya sekarang dan jangan pernah macam-macam padaku. Kalau berani satu lawan satu. Jangan keroyokan seperti tadi kau pengecut "
"Ada apa ini "tegur kepala sekolah.
Aliya menatap kepala sekolah dan menggelengkan kepalanya "Tidak ada, kami hanya sedang bercanda saja tidak ada masalah apa-apa"
"Benarkah lalu pipimu kenapa, kenapa merah ada apa ini ada masalah apa"
__ADS_1
"Tidak ada masalah apa-apa kepala sekolah "Aliya langsung pergi begitu saja meninggalkan Ayu dan juga teman-teman yang lainnya.