Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 301 mengigat kembali


__ADS_3

Aliya ketakutan saat bertemu dengan paman Dion bergegas pulang, tidak mungkin pergi kerumah Andaru dulu. Hatinya sedang tidak tenang.


Aliya memberhentikan dahulu mobilnya, lalu mengigat bagaimana dirinya meminta perlindungan pada papihnya yang begitu sulit dan harus mendengar caci makinya dulu.


flashback on


Aliya yang baru saja bisa pulang dari sekolah karena banyak polisi dan juga warga yang mengejarnya, langsung masuk kedalam ruangan papihnya.


"Ada apa Aliya kenapa kamu ketakutan seperti itu. Ada apa bicara sesuatu pada Papih "


Tapi Aliya malah langsung menangis dan terduduk lemas di kursi, takut papihnya akan marah besar atas tindakannya ini.


"Ada apa Aliya jangan buat papih binggung ada apa denganmu ini "


"Pih, aku nabrak orang "


"Nabrak orang kamu yakin "


"Iya aku yakin, mana mungkin aku bohong sama papi sejak kapan aku bisa bohong sama papi. Aku benar-benar tabrak orang, tapi itu nggak sengaja dia tiba-tiba aja nyebrang dan aku tiba-tiba aja tabrak dia gimana Pih aku takut dia datang kemari "


"Bodoh kenapa kamu bodoh, papih sudah bilangkan jangan bergaul dengan laki-laki, kenapa kamu bodoh Aliya. Kamu mau dipenjara umurmu yang masih muda"


Aliya malah menangis mendengar penuturan papihnya "Aku tidak mau, aku tidak mau dipenjara papi tolong lakukan sesuatu untuk membuat aku lebih tenang. Agar aku tidak memikirkan semua kesalahan ini. Tapi ini semua bukan kesalahanku sepenuhnya perempuan itu yang tiba-tiba saja menyeberang"


"Tetap saja kamu yang akan disalahkan dasar bodoh kamu. Bagaimana kalau bunda kamu tahu pasti dia akan sedih sekali, kenapa kamu ceroboh Aliya kenapa hah "


"Maafkan aku Papih, aku tidak tahu akan kejadian seperti ini "


"Ya semua juga tidak akan tahu kenapa semua ini bisa terjadi kamu ceroboh, kamu ini sudah papih larang untuk pergi tapi ngotot pergi "


"Ya aku memang salah, aku salah karena telah membantah papih, aku hanyalah anak muda yang suka kebebasan "


"Kamu suka kebebasan tapi malah membawa masalah"


Sena menutup wajahnya dengan kesal, kenapa anak perempuannya begitu nakal, kenapa anaknya juga begitu angkuh padahal ibunya tidak seperti itu.


"Papi tolong bantu aku, kalau bukan Papih siapa yang akan membantuku "


"Minta bantuan saja pada teman-temanmu itu "


Sena langsung saja pergi dari ruangnya dan meninggalkan anaknya sendirian. Aliya yang ketakutan langsung menelfon Galang


"Kenapa Aliya "


"Bagaimana Galang papiku tidak mau membantuku, siapa lagi akan membantuku"


"Coba kamu berbicara pada bundamu untuk membujuk papimu itu agar dia mau, atau kau telepon saja dulu Andaru siapa tahu dia punya solusi yang baik. Bisa saja nanti Andaru minta bantuan pada ayahnya"


"Itu tidak mungkin yang ada ayah Andaru akan melaporkanku ke kantor polisi. Apakah kau bodoh bagaimana ayah Andaru itu "


"Lalu bagaimana lagi"


"Kamu berpikirlah semua ini juga gara-gara kamu, kalau kamu tidak memaksaku untuk menggunakan motor itu dan mengikuti kalian untuk jalan-jalan mungkin semua ini ga akan pernah terjadi"


"Ga bisa gitu, kamu ga bisa salahin aku. Disini bukan hanya aku yang menyuruhmu untuk mencoba motor itu tapi Andaru juga. Kenapa hanya aku yang disalahkan "


"Kamu yang paling parah memaksaku, ingat itu kamu yang paling parah "


"Sudah kamu bujuk dulu saja papih kamu siapa tahu dia mau membantu kamu. Nanti kalau Papih kamu masih ga mau bantu kamu aku akan bertindak "


"Bener ya "


"Iya aku akan bertindak, aku bunuh saja perempuan yang kamu tabrak tadi "

__ADS_1


"Kamu gila "


"Kenapa sekalian saja kan agar dia mati, aku tadi lihat berita kalau dia masih hidup. Bisa saja dia melihat wajah kita atau mengigat salah satu plat nomor motor kita "


"Aku tidak mau terlibat "


"Ya tenang saja. Aku yang akan mengerjakannya sendiri "


"Baik, aku akan coba membujuk Papihku dulu "


"Baiklah berjuang dengan benar "


Aliya tak menjawabnya langsung mematikan sambungannya. Dia memikirkan bagaimana caranya agar papihnya mau membantunya.


Apakah dirinya harus melukai dirinya sendiri agar papihnya percaya. Ya itu bisa dicoba. Benar kita coba apakah papihnya akan masih tak mau membantunya.


Aliya keluar dari ruangan papihnya, baru juga mau naik kelantai dua kekamarnya dirinya melihat bunda dan papinya sedang bersantai.


"Aliya kemari bergabung "


"Engga dulu Bun, Aliya mau kekamar "


Aliya segera pergi kekamarnya dan melakukan apa yang sudah dirinya rencanakan. Aliya mengeluarkan silet yang ada didalam bawah tempat tidurnya.


Memang sengaja dirinya menyimpan itu, entah untuk apa tapi sekarang sangat berguna sekali. Aliya menyayat pergelangan tangannya dengan perlahan meski sakit, sakit sekali perih tapi dirinya tak peduli.


"Ada apa dengan Aliya bee "


"Entah aku tidak tahu "


Sani yang khawatir dengan anak segera naik kelantai atas dan mengetuk pintu kamar sang anak "Aliya kamu kemana, ada masalah apa sayang. Ayo cerita sama bunda, jangan dipendam sendiri ya. Bunda akan bantu, sayang buka pintu "


"Bunda masuk ya sayang "


"Aliya apa yang kamu lakukan, bee kemari bee tolong Aliya bee "


Sani turun kelantai bawa dan menangis"Ada apa "


"Aliya itu lihat Aliya ayo cepat bee "


Sena segera mengikuti langkah istrinya saat masuk kamar sudah banyak darah disekitar anaknya. "Aliya kamu apa-apaan "


Sena segera menyingkirkan silet yang dipegang oleh anaknya dan segera mencari kain untuk memberhentikan pendarahan.


Tanpa banyak bicara lagi Sena membawa Aliya kedalam mobil dan segera meluncur ke rumah sakit. Sedang kan Sani hanya bisa menangis sambil mengusap kepala anaknya.


...----------------...


Aliya sudah ditangani, hanya ada Aliya dan ayahnya saja dirungan ini. Bahkan Aliya sedang menangis.


"Apa yang kamu lakukan, apa kamu sudah gila"


"Percuma aku hidup juga, Papi bahkan ga mau bantu aku untuk menyelesaikan semua masalah ini. Kapan sih aku minta bantuan sama Papi. Baru kali ini aku minta bantuan sama papi masa aku harus selalu minta bantuan sama orang lain"


"Harus begitu caranya"


"Kalau bukan begitu caranya mana mungkin Papi mau mengikuti kata-kataku, mungkin yang ada papih akan memasukkan ku ke dalam penjara"


Sena mengusap wajahnya dengan kesal, harus bagaimana ini apakah harus dirinya mengikuti kemauan anaknya dan memberikan perlindungan pada anaknya yang sudah salah..


Ditatapnya wajah sang anak, Sena yang kasian dan juga tak mungkin melihat anaknya sendiri dipenjara akhinya menganggukan kepalanya.


"Baik Papi akan melindungi kamu agar tidak dipenjara dan masalah ini tidak akan diungkit-ungkit lagi, papi akan membantu kamu"

__ADS_1


"Beneran papih akan bantu aku "


"Ya papih akan lindungi kamu agar kamu tidak dipenjara dan masalah itu ditutup "


"Papih yakin "


"Iya papih yakin, papih akan melindungi kamu. Tapi papih minta kamu jangan pernah lakukan hal ini lagi. Kamu jangan pernah ungkit-ungkit masalah ini"


"Iya aku janji pih, makasih karena papih udah mau bantu aku "


Sena duduk disamping anaknya dan mengusap rambutnya. Memang dari dulu dirinya terlalu tegas pada Aliya, tapi ini juga demi kebaikan Aliya agar menjadi anak yang tangguh.


Aliya yang sudah mulai pulih ingin jalan-jalan siapa tahu korban ada disini dan dirinya bisa melihat bagaimana keadaannya yang sebenarnya.


Aliya terus saja menulusuri rumah sakit, dari lantai 1 sampai lantai 3, Aliya melihat kearah paling pojok dan ada orang yang tadi sempat dirinya lihat.


"Itu kan temannya perempuan yang aku tabrak, apa dia melihat aku, semoga saja tidak "


Aliya melihat perempuan itu memeluk tas dan juga sepatu yang berdarah "Apakah sesedih itu saat teman kecelakaan ? "


Aliya terus saja menatap kearah sana, menatap orang-orang yang sedang menangis "Sayang kenapa kamu ada disini "


Aliya membalikan badannya ternyata itu Andaru "Andaru kamu datang "


"Ya iyalah aku datang, tadi tante Sani telepon kalau kamu coba bunuh diri kamu ini apa-apaan sih"


Aliya langsung memeluk Andaru "Aku cuman takut, aku takut kalau aku sampai di penjara. Gimana kalau mereka tahu"


"Ga akan semuanya akan baik-baik saja Ppak Ginanjar sudah mengatakan kalau kita tidak masuk kedalam sekolah "


"Tapi tetap saja aku takut Andaru "


"Sudah ayo masuk kedalam kamarmu, kamu harus banyak istirahat jangan jalan-jalan seperti ini "


Andaru memapah Aliya masuk lagi kedalam kamarnya, Andaru juga sekilas menatap kearah orang-orang yang sedang menangis itu.


Tiba-tiba saja jantungnya berdetak begitu kencang, entah kenapa, tapi saat melihat perempuan yang menangis itu seperti mengigat Andaru pada sosok adiknya Cempaka yang sudah hilang.


"Kenapa Andaru, kenapa kamu melamun "


"Entahlah aku seperti melihat seseorang yang aku kenal, dan sangat dekat denganku"


"Maksud kamu apa "


"Udah lupain aja, mana yang sakit sekalain tangan "


"Ga ada cuman tangan aja "


"Kenapa kamu sampai nekat hemm " Andaru mengusap wajah Aliya dengan sayang.


"Aku sangat ketakutan sekali Andaru dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku takut kalau ada saksi mata yang melihat, bagaimana aku sangat ketakutan sekali"


"Sudah semuanya aman, aku yakin mereka tidak akan memperpanjang semuanya. Semuanya akan aman dan kita akan tenang. Jangan terus memikitkan semua itu ya"


"Kau yakin "


"Iya aku yakin mereka bukan orang yang kaya. Mereka tidak akan memperpanjang masalah ini. Semuanya harus pake uang "


"Hemm"


Aliya langsung memeluk Andaru dengan erat, rasannya tenang sekali papihnya sudah mau membantunya dan itu sangat menguntungkan sekali untuknya.


flashback off

__ADS_1


__ADS_2