
"Sudah siap Andaru sekarang kita pulang "
"Sudah mah Andaru sudah siap "
"Ya sudah ayo kita pulang sekarang "
"Iya mah "
Andaru mengandeng tangan mamahnya yang tak membawa tas. Didepan sudah ada supir yang menunggu mereka.
Setelah mereka masuk, Andaru terus saja menatap mamahnya "Ada apa Andaru kamu menatap mamah seperti itu "
"Apakah mamah pernah menyukai seseorang sampai tak mau melepaskannya "
"Tentu saja pernah, sampai-sampai Mamah melakukan hal gila"
"Maksudnya mah "
"Melakukan berbagai cara untuk mendapatkan laki-laki itu kembali. Mama tidak mau putus darinya"
"Apakah itu ayah "
"Tentu saja bukan, waktu itu umur mamah masih belasan tahun Mama juga pacaran dengan mantan mamah itu sudah hampir 3 tahun atau berapa tahun ya mama lupa lagi sih. Dari SMP kalau tidak salah Mama berpacaran tapi mamah juga tak yakin lupa lagi karena sekarang sudah terlalu cinta sama Ayah kamu"
Andaru tersenyum mendengar penuturan mamahnya ini, Andaru menyenderkan kepalanya di bahu mamahnya "Mamah bahkan sampai mencelakai orang lain, mamah sampai menyusul orang itu kemanapun dia pergi. Tapi semua itu sia-sia sampai mamah bertemu dengan ayah kamu "
"Mamah berhenti mengejar laki-laki itu "
"Iya mamah berhenti karena ayah kamu yang tak membiarkan mamah mengigat mantan pacar mamah. Satu lagi mamah tidak diperboleh kan keluar. Tapi mamah minta kamu jangan meniru apa yang mamah lakukan. Jika perempuan itu sudah tidak mau jangan dikejar. Jika memang dia sudah jodoh kamu dia akan kembali lagi "
Andaru menganggukan kepalanya benar juga kata mamahnya ini. Apakah dirinya harus berdamai dengan cintanya pada Cempaka ?
"Aku jadi penasaran dengan kisah cinta mamah dan ayah "
"Jangan, rumit sekali dan menyakitkan "
"Kenapa bisa "
"Intinya kamu jangan pernah mau tahu "
"Apakah Ayah kasar pada mamah "
"Emm mungkin. Sudah jangan membahas masa lalu kamu mau makan apa sekarang "
"Apa saja, aku akan memakan masakan mamah "
"Baiklah "
Bella mengelus rambut anaknya, dirinya juga tahu Andaru sedang mencintai adiknya sendiri.
...----------------...
Sedangkan teman-teman Aliya sudah datang, mereka binggung dibawa ketempat pemukiman seperti ini. Banyak orang menatap mereka.
Galang dan juga Aliya turun, Aliya binggung kenapa arahnya kemari. Ini bukannya dekat rumahnya Sinta "Tak salah kita kemari "
"Sudahlah ikuti saja mereka jangan banyak bicara. Nanti juga kita akan tahu apa yang akan kita lakukan"
"Hemm menyebalkan sekali "
Paman Dion yang baru juga datang kaget, kenapa kedaerah rumahnya. Apa ini tidak salah. Kenapa harus datang kedaerah rumahnya. Pasti ada yang salah ini.
"Kenapa kemari mau apa meraka kemari "
Paman Dion mau tidak mau mengikut saja. Sekalian pulang mungkin ya. Kalau tahu akan datang kemari tak akan dirinya ikuti tinggal tunggu mereka saja.
Murid-murid yang lain juga binggung, mereka melihat para ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian, membersihkan karpet, menyapu halaman dan masih banyak lagi.
"Kenapa harus kemari pak " tanya Galang
"Inilah pembelajaran kalian, jangan takut hanya belajar saja "
Pak Galang segera membagi tim, ada yang mengechat tembok, ada yang menanam bunga, ada yang membersihkan tanaman dan juga memunguti sampah.
Sedangkan Cempaka sendiri dia menatap rumah lamanya, Cempaka hanya bisa tersenyum sedih melihat rumahnya yang sudah tak terawat.
Dimana sekarang keberadaan mamah Nadia, dirinya tak bisa menemukan mamah Nadia padahal dirinya sangat ingin bertemu dengan mamah Nadia. Tapi sepertinya akan sulit sekali.
Ayahnya pasti menyembunyikannya disuatu tempat, dimana itu ya, apakah Andaru atau Aksa tahu ? tapi tidak mungkin mereka tahu.
Cempaka mengambil selang dan malah memainkan air itu, saat melihat Aliya melewatinya malah disiram. Aliya hanya bisa mengepalkan tangannya saja.
"Dasar ular, sana kau bermain dengan air " teriak Aliya.
__ADS_1
Tapi Cempaka malah tertawa dan kembali menyiram Aliya disekitar kakinya. Aliya yang sedang tidak mau berurusan dengan siapapun segera pergi dari hadapan Cempaka.
"Hallo anak-anak kemarilah ini aku bawa cemilan " ucap nenek Sinta.
Sinta yang memang dari tadi diam dan tidak membantu langsung mengerutkan keningnya melihat kelakukan neneknya. Sangat memalukan sekali neneknya dan ini.
"Nenek apa yang kamu lakukan "
"Ada apa Sinta, aku tidak akan meracun mereka aku hanya ingin memberikan mereka makana "
Nenek Sinta segera bergi dan berteriak kembali "Ayo kemarilah coba "
Budi yang pertama mengambil makana itu, lalu disusul oleh pujaan hatinya Cassandra"Aku memang sedang sangat lapar sekali terimakasih nenek "
"Iya sama-sama, yang lain ayo "
Yang lain malah mundur dan tak mau memakan makanan berminyak itu, Abigail yang melihat temanya lahap memakan gorengan itu langsung menegurnya.
"Cassandra apakah kamu sudah gila memakan makanan berminyak itu"
"Kenapa Abigail ini sangat enak. Ayo kamu coba, pasti kamu juga suka "
Casandra mendekatkan makanannya itu ke mulut Abigail tapi Abigail langsung menepisnya "Tidak mau, aku tidak mau memakan itu ke mana sih temanku yang dulu. Casandra yang selalu mengajakku diet dan juga tak memakan makanan berminyak "
"Ini Abigail aku ada disini "
"Bukan ini bukan temanku, kamu sudah sangat berubah "
"Aku tidak berubah Abigail "
Casandra tersenyum pada Budi, mereka berdua malah berdansa. Memang Casandra sudah ketularan Budi. Dia menjadi aktif dan sering tersenyum pada siapa saja. Bahkan Casandra tak segan memakan makanan yang sama dengan Budi.
Aliya yang sudah selesai mengeringkan kaus kakinya segera mengunakannya lagi, Galang yang melihat itu segera membantu Aliya mengunakan kau kakinya.
"Ada apa denganmu sampai harus membuka sepatu seperti ini "
"Karena ulah ular itu "
"Hemm begitu, sini aku bantu ya. Kamu hanya perlu diam saja "
Galang membantu Aliya juga memakai sepatu setelah selesai mereka berdiri, "Aku akan pergi "
"Mereka tak akan mengizinkan mu "
"Aku tidak peduli, mau mereka marah ataupun tidak yang terpenting aku bisa pergi dari tempat ini, aku sudah melakukan apa yang mereka mau lalu apa lagi"
Aliya melangkah pergi dari hadapan Galang, tapi Aliya memberhentikan langkahnya dan menatap Galang lagi.
"Apakah kamu tidak mau bertanya aku pergi kemana"
Galang mengelengkan kepalanya "Benarkah, aku tak menyangka kamu tak ingin tahu aku pergi kemana. Padahal kamu yang selalu ingin tahu aku kemana"
"Sekarang tidak "
"Hemm baiklah "
Aliya langsung saja pergi dari hadapan Galang, biarkan saja dia mau peduli atau tidak. Yang terpenting dirinya bisa pergi dari tempat ini.
Paman Dion juga dia segera mengikuti kemana Aliya pergi. Akan terus dirinya ikuti kemana perempuan itu pergi. Awas saja dia tak akan pernah bisa lari.
...--------------...
"Cempaka kamu terus saja melihat perempuan yang ada dikursi roda itu "
"Aku ingin bicara dengannya tapi aku masih ragu "
"Ya sudah kalau mau bicara, bicara saja tak usah memendam semuanya. Mau aku antar "
"Tidak usah Aksa. Baiklah aku akan coba berbicara dengannya. Meski tadi aku bicara padamu tak akan bicara lagi dengan Sinta "
Cempaka berlari mengikuti Sinta yang pulang kerumah. Sinta yang memang membelakangi Cempaka malah menyangka itu neneknya.
Saat dia berbalik itu ternyata Ayu "Ada apa kamu kemari "
"Aku tahu kamu marah padaku "
Cempaka duduk dilantai dan menatap Sinta "Kamu kenapa bisa bersama Aliya"
"Kenapa memangnya dia temanku"
"Kamu salah besar otak kamu sedang dicuci, dia itu perempuan jahat"
"Tidak dia adalah temanku, dia yang selalu ada untukku"
__ADS_1
"Benarkah, sudah berapa lama kalian berteman sampai kamu percaya pada dia"
"Bisa kamu lihat "
"Baru sebentar Sinta, tapi kamu sudah percaya dan bergabung dengan teman-temannya"
"Kenapa kamu harus mengurusinya. Siapa tahu aku di sana punya rencana untuk menemukan siapa pelaku yang telah melakukan tabrak lari padaku, kamu juga masuk ke sekolah sana karena ingin mencari itu kan. Tapi sekarang aku tidak butuh bantuanmu. Aku sudah masuk sekolah itu dan aku bisa mencari buktinya sendiri tanpa bantuan"
"Hemm, baiklah kamu bisa mencarinya bersama teman baru mu itu "
Cempaka langsung bangkit dan akan pergi tali Sinta tiba-tiba bertanya "Kenapa kamu ada bersama Andaru ? jauhi dia ingat dia adalah kekasihku "
Cempaka tersenyum dan menghembuskan nafasnya dengan pelan "Kenapa aku tidak boleh ada disamping Andaru, sedangkan aku sendiri adalah keluarnya aku adalah adiknya Andaru. Kamu tidak ketinggalan beritakan saat ada seorang laki-laki datang mencariku dia adalah ayahku sekaligus ayah dari Andaru dan juga Aksa "
Cempaka langsung saja pergi, dia menangis. Sinta masih diam mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Ayu. Kenapa dirinya baru tahu.
...----------------...
Paman Dion terus saja mengikuti Aliya, dia tak mau sampai kehilang jejak Aliya. Sedangkan Aliya sendiri sedang menelfon Bella.
"Tante bagaimana keadaan Andaru sekarang "
"Dia sudah baik-baik saja dan hari ini dia juga sudah pulang"
"Baguslah, aku nanti akan pergi kesana ya Tante "
"Baiklah kamu pergi melihat Andaru, tapi jangan sampai bertengkar dengan anak tante yang bernama Cempaka"
"Emm, iya Tante tak akan. Aku akan mencoba mengenal Cempaka lebih dalam "
"Baiklah "
"Tante apakah Andaru ada disampingmu. Aku ingin bicara dengan mu "
"Emm, maaf Aliya Andaru sedang tertidur lain kali saja ya "
"Baiklah Tante. Aku akan segera kesana "
"Iya "
Sambungan langsung diputuskan. Padahal andaru tidak tidur. Andaru sedang memainkan sebuah games.
Aliya yang baru saja selesai menyimpan ponselnya malah ditabrak dari belakang mobilnya "Sialan siapa itu "
Aliya segera keluar dan paman Dion juga sama keluar "Ya ampun maafkan aku ,aku tidak segaja " sambil melihat kearah mobil.
"Kamu ini bagaimana sih, bisa menyetir tidak sampai-sampai kamu menabrak mobilku"
"Maafkan aku, maafkan aku. Mobilmu juga baik-baik saja kan tak ada yang lecet "
"Iya tapi lain kali kamu harus hati-hati jangan teledor seperti itu "
"Iya baiklah tunggu kamu Aliya kan, iyakan anak pengusaha itu yang selalu tampil di tv nama ayahmu adalah tuan Sena kan"
"Perkenalkan aku Dion pamannya Budi "
Deg Aliya yang kaget sedikit mundur jadi ini orang ini yang mengetahui tentang tabrak larinya. "Emm ya, kita bertukaran nomor telepon saja untuk masalah mobil ini aku harus segera pergi"
"Baiklah ini "
Setelah menyalin nomor itu Aliya segera pergi , sungguh dirinya tak bisa lama-lama bisa-bisa orang ini akan membongkar semuanya. Dirinya harus bertemu dengan papihnya secepatnya.
...----------------...
Adi yang kedatangan Ginanjar kekantornya hanya diam saja menatap orang yang ada didepannya "Jadi ada yang mau kamu bicarakan "
"Saya ingin mengundurkan diri Tuan "
"Ada masalah apa kamu, sampai-sampai mengundurkan diri dan sudah membawa barang-barang kamu juga kan"
"Saya harus segera mengundurkan diri. Mungkin Tuan akan kaget saat mendengar apa yang akan saya katakan di sini tentang masalah tabrak lari itu. Itu adalah ulahnya Aliya dan saya diperbudak oleh Tuan Sena untuk melindungi anaknya, maafkan saya Tuan karena mau mengikuti mereka "
"Aku surat tahu semuanya "
Pak Ginanjar langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Adi yang hanya santai duduk menatap dirinya "Lalu kenapa Tuan tidak bertindak dari awal"
"Aku hanya ingin tahu seberapa hebatnya kalian akan menyembunyikan itu semuanya dariku dan akan menyimpan masalah besar itu dariku. Aku ingin tahu sampai kapan kalian akan siap membuka keseluruhannya padaku"
"Aku ingin mengundurkan diri tuan"
"Begitu saja, lalu tentang pembullyan dan yang lainnya bagaimana. Apakah kamu tak akan tanggung jawab"
"Maafkan saya, karena tidak bisa menjadi kepala sekolah yang baik dan tidak bisa mendidik anak-anak menjadi lebih baik juga. Saya malah membiarkan hal itu terjadi"
__ADS_1
"Memangnya kurang gaji dariku "
Pak Ginanjar hanya diam saja. Sebenarnya gajih dari tuan Adi begitu besar tapi karena dirinya serakah makannya menjadi seperti ini.