Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 61 Penyerangan


__ADS_3

"Aku mau muntah " ucap Bella dengan ketus


Adi memberhentikan mobilnya dan Bella segera keluar benar saja dia memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan semuanya tak ada yang tidak dikeluarkan. Adi dengan setia memijat tengku Bella.


Dengan masih mengawasi sekitar takut takut orang itu akan mengikuti mereka berdua. bisa gawat kan kalau dirinya sendiri tak apa tapi ini membawa Bella dan melibatkannya.


"Sudah aku bilang kan lebih baik makan di rumah saja, itu akan lebih aman "


Bella menarik pakaian Adi dan menyusut mulutnya menggunakan pakaian itu " aku ini ingin makan di luar aku tidak mau makan di rumah. Sudahlah ayo kita pulang aku sudah bete"


Dengan kesal Bella naik lagi kedalam mobil dan menutup pintunya dengan kesal, padahal dirinya masih mau nongkrong nongkrong siapa tau ada orang yang dirinya kenalkan.


Tiba tiba saja dor dor dor, Bella yang kaget sampai tersentak dan melihat keluar jendela, Adi yang baru masuk segera menjalankan mobilnya sambil memegang dadanya.


"Ada apa dengan mu mas "


Namun Adi tak menjawab dia melihat kearah belakang dan ada satu mobil yang mengikuti mereka, " kau bisa menyetorkan Bella "


"Ya aku bisa "


"Berpindah lah kemari, aku akan menghabisi mereka, kau hanya pergi mengendalikan setirnya, "


"Tapi "


"Tak ada waktu ayo cepat "


Bella segera mengambil alis setir meskipun dengan jantung yang berdegup dengan kencang dan rasa takut yang muncul dalam dirinya, Adi membuka kaca jendelanya dan segera menembak kearah mobil itu.


Dor dor dor, suara tembakan bersautan seperti sebuah musik, Adi sesekali memasukan kepalanya saat lawannya menembak, dan Adi kembali lagi menembaki mereka dengan membabi buta.


Mengambil peluru dan Adi yang mempunyai ide menembakan pelurunya kearah ban mobil orang itu, dan membuat mobil orang itu berputar putar dan menabrak bahu jalan.


Adi hanya tersenyum, ternyata musuhnya gampang untuk dirinya lumpuhkan, saat merasakan sakit di dadanya Adi menekannya dan kembali mengambil alih setir.

__ADS_1


"Kau baik baik saja, darahmu banyak sekali "


"Aku baik sayang kau tenang saja, ini sudah hal biasa untukku "


"Tapi "


"Sudah sayangku "


Bella memegang dada Adi, dan hanya bisa melihat darah yang sudah menempel ditangannya, rasa khawatir dan takut menjadi satu, dirinya begitu khawatir dengan keadaan Adi yang seperti ini.


"Kita kerumah sakit saja langsung "


"Tidak usah aku bisa mengobatinya sendiri "


Adi mempercepat laju mobilnya, karena dirinya sudah sedikit kesakitan dan sepertinya darah sudah terkuras banyak.


Saat sudah sampai dirumah Adi masih sempat sempatnya untuk membantu Bella keluar dan mengandeng tangannya, Bella menatap wajah Adi yang sudah berkeringat dingin dan tiba tiba bruk.


Tubuh Adi jatuh, dan Bella tak bisa menahannya " tolong tolong " teriak Bella dengan tangisnya.


Bella mengusap wajah Adi dan memeluk kepalanya ," bangunlah "


"Nona ada apa "


Bella mendongakan kepalanya " Zack tolong dia dia tertembak tolong "


Zack langsung mengangkat tuanya, untungnya disini ada dokter Darma dan Adi langsung diberi pertolongan pertama. Sedangkan Bella masih terduduk dan melihat pakaian dan tangannya yang penuh dengan darah.


"Ada apa ini " teriak Ziva menggelegar saat suaminya dibawa masuk keruangan medis yang memang sudah ada sejak lama dirumah mereka.


Ziva menghampiri Bella yang penuh dengan darah, menarik tangannya untuk bangkit " Ada apa ini, apa yang kau lakukan pada suamiku, Bella kenapa dia berdarah darah seperti itu, apa yang kau lakukan padanya apa Bella, kau ingin membunuh suamiku hah, kau ingin melenyapkannya "


Bella hanya diam saja dengan tatapan kosong dan air mata yang terus saja bercucuran, dirinya masih tak menyangka akan ada kejadian sepeti ini, kenapa tiba tiba ada orang yang menembaki mobil mereka.

__ADS_1


"Bella jawab aku " plak


Ziva menampar Bella, sampai sampai Bella terjatuh, karena badannya begitu lemas dan pikirannya pun kosong" nona " teriak Sera yang berlari kearah Bella dan membangunkannya.


"Jangan kau bau dia Sera aku belum selesai berbicara dengannya "


Namun Sera tidak acuh dia membawa Bella naik kelantai atas, tapi Bella menggelengkan kepalanya " aku ingin disini Sera menunggu mas Adi, aku aku takut dia kenapa Napa "


Ziva kembali mendekati Bella " kau mengkhawatirkan suamiku, sedangkan ini adalah salahmu Bella, kalau saja kau tak banyak maunya mungkin semua ini tidak akan terjadi, kecelakaan ini tak akan terjadi "


"Kau sungguh pembawa sial, kau sungguh perempuan tak berguna yang ada dimuka bumi ini, aku menyesal telah mengenalmu "


"Nyonya tolong stop, nona Bella sedang terpukul, tolong jangan membuat nona makin ketakutan dan sedih "


Ziva menyunggingkan senyumnya saat mendengar pelayananan malah menceramahinya " kau berani padaku" Ziva langsung mencekik leher Sera dengan begitu kuat.


Bella yang melihat kelakuan Ziva segera melepaskan cengkraman nya dari leher Sera dan mendorong Ziva " jangan sakiti Sera, Kau boleh menyakitiku tapi kau tidak boleh menyakiti orang-orang terdekatku ini dalam suasana genting tapi kau malah membuat masalah seperti ini " teriak Bella dengan berapi api.


Ziva mendengus dan bangkit "jangan harap kau bisa bersama suamiku lagi ingat itu perempuan penggoda " Ziva langsung pergi kearah ruangan media.


Bella memeluk Sera dengan erat " bagaimana Sera kalau dia tak selamat, tadi tadi begitu tiba tiba, saat dia masuk, dia sudah berdarah kejadiannya begitu cepat Sera bahkan aku saja belum bisa berfikir ada apa ini sebenarnya, tapi kejadian itu terjadi dengan begitu cepat "


Sera yang masih terbatuk batuk, memeluk Bella kembali, mencoba untuk menopang tubuh nonanya yang sudah lemah " kau tenang nona, tuan Adi adalah laki laki kuat dia sudah sering tertembak dia pasti akan selamat nona lebih baik sekarang ganti pakainya dulu ya, "


Bella menggelengkan kepalanya dirinya tak akan pergi sebelum Adi sadar dirinya akan menunggu, dirinya ingin memastikan keadaannya. Dirinya belum balas dendam dirinya belum melakukan apa yang dirinya inginkan.


Ada rasa campur aduk didalam hatinya, pertama dirinya ingin membalas dendam, kedua dirinya begitu khawatir dan takut kehilangan Adi. Perasaan yang aneh kan.


**


"Detak jantung tuan melemah ayo cepat ambil tindakan, ayo bantu aku ambilkan alat itu dan itu " ucap dokter Darma sambil menunjuknya dan kembali fokus melakukan operasi pada tuan Adi.


Didalam begitu tegang, dekak jantung Adi benar benar berhenti, Darma dengan sekuat tenaga melakukan meyelamatan.

__ADS_1


Dia tak akan mungkin membiarkan tuanya meninggal, bisa bisa dirinya akan dibunuh tuan Anggabaya karena tak bisa menyelamatkan tuan Adi anak semata wayangnya.


Dokter kandungan Bella yang memang membantu mengelengkan kepalanya, Darma sampai mengusap wajahnya dan takut, dirinya memundurkan langkahnya dan menutup wajahnya.


__ADS_2