
"Kenapa kamu selalu saja bertengkar dengan Cempaka, lebih baik kamu sekarang pulang beristirahat. Andaru biar bersama tante saja"
"Itu hanya masalah kecil saja Tante, tolong Tante jangan salah sangka ya dengan kata-kata yang Cempaka tadi katakan, sungguh aku tidak mungkin sekasar itu pada Cempaka dan tidak membolehkannya untuk menemui kakaknya. Aku akan menunggu Andaru di sini saja tidak apa-apa aku di luar tante"
"Lebih baik kamu pulang saja jangan membuat tante pusing, tante di sini sudah banyak melalui banyak hal. Jadi tolong jangan buat masalah lagi Aliya, lebih baik kamu sekarang pulang beristirahat dan besok kamu juga harus sekolah kan"
"Tentu ga marah kan sama Aliya "
"Marah karena apa "
"Karena masalah tadi "
"Engga Tante ga marah udah kamu pulang ya sekarang"
"Iya Tante, kau pulang dulu "
Bella hanya menganggukan kepala, Aliya berjalan kearah luar rumah sakit sesekali juga dia melihat wajah Bella. Masih takut kalau Bella akan percaya kata-kata dari Cempaka.
...----------------...
"Andaru "
Andaru tersenyum saat melihat siapa yang datang, saat pintu dibuka Cempaka begitu khawatir dan Andaru malah tersenyum, Cempaka malah aneh melihatnya.
"Selamat datang Cempaka" Andaru malah menyambutnya juga.
Cempaka dengan sedikit canggung mendekati Andaru dan hanya diam menatap Andaru yang terus saja tersenyum padanya "Akhirnya kamu datang juga kemari, kukira kamu tidak akan datang dan tidak peduli padaku "
Cempaka melihat ke arah Aksa yang diam saja duduk di sana sambil memainkan ponselnya. Kembali Cempaka menatap Andaru "Maaf aku datang telat kemari, kenapa bisa terjadi kecelakaan apa yang kamu lakukan "
"Itu semua keteledoranku, aku melamun jadi ya beginilah, tapi tenang saja ini hanya luka kecil patah tulang biasa saja. Tidak sampai parah aku juga sebentar lagi akan sembuh. Kamu tidak usah khawatir ya. Aku suka kamu yang panik seperti itu "
Cempaka menganggukan kepalanya dan malah memainkan tangannya, tidak tahu harus bertanya apa lagi pada Andaru karena memang sangat canggung sekali.
"Kamu akan di sini kan" Andaru sudah sangat berharap lebih kalau Cempaka akan disini bersamanya.
"Tentu aku akan di sini, tungguin kamu sama Aksa dan Mamah Ayah juga"
"Boleh kamu duduk di sini"
Lagi-lagi Cempaka menatap ke arah Aksa, sekarang Aksa tidak memegang ponselnya dia menatap Cempaka juga lalu sedikit mengeluhkan kepalanya seperti memberikan persetujuan, untuk Cempaka duduk di samping Andaru.
Dengan langkah yang pelan, Cempaka duduk dan tangannya langsung digenggam oleh Andaru dengan sangat erat sekali.
...----------------...
Aliya yang baru saja akan ke parkiran malah mendapatkan telepon. Saat melihat siapa yang menelepon sebenarnya Aliya tidak mau mengangkatnya, tapi ya sudahlah daripada nanti berisik dan mengganggunya lebih baik angkat saja.
"Halo Sinta "jawab Aliya dengan jawaban yang sedikit lebih ceria.
"Halo Aliya. Kenapa kamu tidak datang menjemputku. Aku sudah menunggumu lama di rumah"
"Maaf aku lupa, aku juga sedang sibuk di rumah sakit. Besok aku janji akan menjemputmu seperti biasa aku tidak akan lupa lagi"
"Rumah sakit?"
"Iya Rumah Sakit. Andaru sedang sakit dan aku harus ke sini, tidak mungkin kan aku pacarnya Andaru tidak datang saat pacarku sendiri kecelakaan. Jadi aku harus menjaganya "
"Andaru kecelakaan"
"Hemm "
Tidak ada jawaban lagi, Aliya melihat ponselnya. Siapa tahu malah dimatikan oleh Sinta tapi masih tersambung.
"Sinta" tidak ada jawaban
Kembali Alia memanggil Sinta, tapi sama saja tidak ada jawaban dengan kesal Aliya langsung mematikan sambungan teleponnya. Sangat mengganggu saja.
Aliya kembali berjalan untuk segera pulang dan beristirahat. Menenangkan pikirannya dan memikirkan bagaimana caranya menghadapi Cempaka yang licik.
__ADS_1
Sedangkan Sinta sendiri dia syok saat mendengar Aliya mengatakan kalau Andaru ada di rumah sakit. Air matanya sudah mengalir bahkan ponselnya sampai terjatuh.
"Andaru"
Sinta yang akan bangkit tidak bisa, karena keterbatasan kakinya yang masih belum bisa digerakkan. Sinta memanggil-manggil nama neneknya sambil menangis histeris "Nenek nenek kamu di mana nenek kemarilah"
Tapi neneknya belum juga datang. Sinta sudah sangat ketakutan sekali apa yang terjadi dengan Andaru. Kenapa dia bisa kecelakaan, kemarin dia baik-baik saja tapi kenapa sekarang malah kecelakaan seperti ini.
...----------------...
Cempaka membenarkan bantal yang Andaru gunakan untuk menyangga tangannya. Dengan sangat perlahan Cempaka mencoba membantu kakaknya itu agar lebih nyaman saja saat tidur.
"Apa begini apa sudah nyaman "
"Sedikit lagi lebih ke bawah"
"Baiklah begini"
"Ah ah sakit "
"Ya ampun maafkan aku, maafkan aku yang mama yang sakit biar aku panggilkan dokter tunggu ya tunggu tunggu"
Andaru malah tertawa melihat refleks Cempaka yang begitu heboh. Padahal dia hanya pura-pura saja. Andaru menarik tangan Cempaka dan Cempaka duduk kembali menatap Andaru yang masih saja tertawa.
"Tidak ada yang sakit semuanya baik-baik saja"
"Kamu membuatku takut. Bagaimana kalau benar-benar kamu sakit "
"Tidak ada yang lebih sakit saat ditolak oleh mu, itu lebih sakit dari apa yang aku rasakan sekarang"
"Sudah mulai ke sana, sudah aku bilang kan kita ini kakak adik dan tidak pernah akan bisa bersama. Bisakah kamu menganggapku sebagai adik dan kita menjalani hidup seperti orang di luaran sana"
"Nyatanya aku tidak bisa, kamu bisa kan menjadi pacarku, hanya pacar saja janji "
"Kamu audah gila Andaru, tidak mungkin itu tidak akan mungkin terjadi"
"Aku sangat takut kehilangan kamu"
"Jangan seperti itu, boleh minta peluk, pelukan adik pada kakaknya"
"Rasa-rasanya makin ke sini kamu makin melunjak ya"
Andaru lagi-lagi hanya tertawa mendengar jawaban Cempaka, tapi dia sudah merentangkan tangannya untuk dipeluk Cempaka, sebenarnya hanya sebelah yang dia rentangkan.
"Hanya sebentar peluk aku"
Cempaka mendelikan matanya dan langsung memeluk Andaru, meski jantungnya sudah dag dig dug tak karuan, tapi tiba-tiba saja pintu terbuka dan itu Bianca dia begitu khawatir melihat Andaru.
Sedangkan Cempaka langsung melepaskan pelukannya saat tadi mendengar pintu dibuka. Bianca langsung memelukkan "Kau ini kenapa bisa kecelakaan seperti ini, tadi aku bertemu dengan tante Bella di luar dan juga Om Adi serta Aksa, kamu ini apa-apaan sampai bisa tertabrak tidak biasanya kamu teledor seperti itu Andaru. Aku tidak mau tahu ya kamu harus dirawat di sini sampai sembuh, jangan kabur "
"Iya iya cerewet, aku baik-baik saja. Itu hanya tidak sengaja saja aku juga cuman patah tulang doang tidak mendapatkan luka yang lain"
"Tetap saja itu sangat fatal. Kamu itu ya keterlaluan sekali, makanya kalau memang tidak siap untuk menyetir jangan dulu menyetir menepi lah terlebih dahulu dan rilekskan badanmu dan pikiranmu"
Bianca melepaskan pelukannya dan menatap Cempaka yang ada di belakangnya. Bianca memegang tangan Cempaka dan menariknya lebih dekat Andaru.
"Sepertinya kalian cocok "celetuk Cempaka sambil tersenyum.
Bianca malah tertawa mendengar ucapan Cempaka itu "Kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin aku dan Andaru cocok, yang ada setiap hari kami akan bertengkar. Kita berdua ini tidak pernah akur kalau kamu mau tahu selama aku berteman dengan Andaru kami berdua ini selalu bertengkar. Aksa saja yang kalem dia tidak suka mengajak aku bertengkar, kalau dia selalu saja ingin bertengkar denganku dan tak mau kalah "
"Hei jangan salahkan aku, itu juga karena solusimu tidak baik kau tidak pernah memberikan solusi yang baik Bianca"
"Benarkah begitu, aku selalu memberikan solusi yang benar pada kalian berdua, tapi kamu tidak terima. Kamu tidak mau mendengar ku "
Cempaka hanya bisa tersenyum melihat keakraban mereka berdua dan perdebatan kecil mereka. Sungguh kalau mereka menjadi suami istri mungkin akan sangat cocok. Bisakah dirinya membuat Andaru dan Bianca bersama kita lihat apakah bisa.
...----------------...
Sedangkan Sinta dia sedang sibuk keluar dari dalam rumah, tapi neneknya tidak mengizinkannya, tapi Sinta berhasil sampai gerbang rumahnya saja karena dari tadi neneknya mencoba untuk menahan Sinta untuk tidak keluar dari rumah.
__ADS_1
"Sinta Sinta jangan gegabah, kamu mau ke rumah sakit semalam ini sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu "
"Nenek tolong biarkan aku pergi ke sana. Ini sangat darurat aku harus pergi ke rumah sakit sekarang aku mampu pergi sendirian tanpa siapapun yang menemaniku "
"Tenanglah Sinta, tenang kamu jangan menangis seperti ini dulu, biar nanti kamu berangkat bersama teman-temanmu yang lain, nanti juga di sekolah pasti mereka akan pergi ke rumah sakit menjenguk temanmu itu. Kamu juga bisa ikut dengan mereka jangan gegabah seperti ini "
"Tidak bisa, aku harus pergi ke sana sekarang aku harus menemui Andaru sekarang. Nenek jangan menghalangiku tolong jangan halangi aku dan nanti malah menyakiti nenek"
"Tidak jangan kemana-mana. Tolong jangan ke mana-mana sayang "
"Sinta " panggil Aina yang baru datang .
Sinta langsung menatap nenengnya tidak percaya kalau neneknya memanggil Aina "Nenek memanggil Aina kemari untuk apa, aku bisa berangkat sendiri aku tidak mau ditemani siapapun "
"Ada apa denganmu Sinta kenapa tiba-tiba mau ke rumah sakit "tanya Aina yang masih bingung dengan keadaan Sinta.
"Tolong jangan ada yang halangi aku, aku harus pergi sekarang juga tolong kalian jangan menghalangi jalanku jika tidak mau aku lukai "
Sinta langsung menggerakkan kursi rodanya, sampai-sampai kaki neneknya terlindas, neneknya sampai berteriak Sinta yang kaget langsung memberhentikan kursi rodanya.
"Ya ampun maaf nenek. Maaf aku tidak sengaja , maafkan aku nenek "
Aina yang melihat itu langsung mendorong bahu Sinta dengan kencang "Sebenarnya ada apa dengan dirimu ini sadarlah, kamu jangan membuat nenek menjadi stress seperti ini karena hanya memikirkan kelakuanmu yang tidak waras. Ingin ke rumah sakit malam-malam berpikirlah dengan jernih Sinta "
"Andaru ada dirumah sakit "
"Hanya karena Andaru saja yang ada di rumah sakit tapi kamu bertingkah seperti ini, kamu bertingkah seperti orang gila hanya karena Andaru saja Sinta "
"Diam kamu Aina, diam kamu tidak tahu apa-apa diam kamu jangan terus bicara diam " Sinta bahkan memelototkan kedua bola matanya pada Aina saat berteriak tadim
"Aku tidak akan pernah bisa diam, kamu ini sudah gila, dan seseorang harus memberhentikan mu yaitu aku, aku harus memberhentikan kamu yang sudah tergila-gila pada Andaru, karena seorang laki-laki saja kamu berperilaku seperti ini dan bisa menyakiti nenek kamu"
"Aku bilang dia Aina. Apakah kamu tidak punya telinga. Sudah cukup sudah kamu menghina aku dari tadi"
Sinta malah bangkit dari kursi rodanya, dia bisa berdiri. Aina yang melihat itu kaget dia sampai diam menatap Sinta yang berdiri. Sinta sendiri dia juga kaget dengan dirinya yang bisa berdiri tanpa bantuan siapapun, hanya berdiri dengan kakinya saja Sinta juga diam.
"Sinta kamu berdiri "
Sinta Langsung terduduk kembali. Dia malah melamun pandangannya kosong, Aina yang mulai tenang segera berjongkok dan memegang tangan Sinta.
"Kamu tenang, kita cari tahu sama-sama tentang keadaan Andaru. Aku akan telepon Aksa kembaran Andaru ya, kamu bisa tenang aku akan membantumu ya asalkan kamu tidak ngotot terus ingin ke rumah sakit"
Sinta tidak menjawab. Dia hanya diam saja melamun dan dia juga shock dengan apa yang terjadi pada dirinya, kalau dirinya bisa bangkit menopang tubuhnya sendiri.
Aina segera membawa kursi roda itu untuk masuk ke dalam rumah, neneknya Sinta yang sudah rentan dia mengikutinya dari belakang. Di ruang tamu Aina segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Aksa secepatnya.
"Lihat aku sedang menelpon Aksa kembarannya Andaru, kamu tenang ya kita akan tahu kabarnya dari Aksa sekarang juga"
Untung saja Aksa langsung mengangkat teleponnya "Ada apa Aina malam-malam kamu menelpon, bukannya tidur "
"Maaf Aksa aku mengganggumu, tapi aku ingin menanyakan keadaan Andaru. Apakah dia baik-baik saja"
"Apa Andaru, sejak kapan kamu dekat dengan Andaru "selidik Aksa
Sinta yang tidak sabaran langsung menarik ponsel Aina dan berteriak "Aku yang menanyakan kabar Andaru, bagaimana keadaannya kamu hanya perlu menjawabnya selesai"
"Siapa ini kasar sekali"
Aina kembali mengambil ponselnya dan sedikit menjauh dari Sinta "Maaf Aksa di temanku, kami mendengar kalau ada kecelakaan dan Andaru yang mengalaminya, boleh aku tahu dia kenapa dan bagaimana keadaannya"
"Baiklah aku akan menjawab karena ka?u yang bertanya, bukan perempuan tadi. Siapa dia kasar sekali dia, kalau dia adalah siswa dari sekolahku aku ingin bertemu besok"
"Aksa tolong tenang dulu, dia sedang shock dan sedang ketakutan bisa kamu bantu aku sebentar saja"
"Baiklah baiklah Andaru sudah baik-baik saja dia sudah sadarkan diri dan hanya patah tulang saja tidak terlalu parah. Tapi tetap saja harus dirawat bilang pada temanmu itu tidak usah bertanya tentang keadaan kakakku, karena kami di sini satu keluarga sudah menjaganya, apalagi di sini ada Ayu jadi tidak usah khawatir"
Aksa menekankan setiap kata yang dia ucapkan. Bahkan dia tidak menyebut nama adiknya dengan sebutan Cempaka karena dirinya tahu kalau Aina belum tahu siapa Cempaka yang sebenarnya.
"Emm baiklah, terimakasih Aksa "
__ADS_1
"Tentu sama-sama Aina, lebih baik kamu jauhi teman seperti itu, nanti kamu akan sama-sama tertular seperti dia"
Sambungan langsung dimatikan oleh Aksa. Sinta yang mendengar nama Ayu menggenggam kursi rodanya dengan erat, dia marah sangat marah kenapa harus Ayu yang ada disana.