Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 286 pelajaran yang berharga


__ADS_3

Andaru keluar dari dalam sekolah dia malah bertemu dengan Pak Renaldi, tapi itu tidak membuat Andaru takut.


"Mau ke mana Andaru pelajaran akan segera dimulai"


"Aku mau pulang "


"Kenapa pulang, pelajaran saja belum dimulai masa mau pulang. Ada apa dengan mu, sedang marah pada seseorang mari kita bicara"


"Tidak perlu aku hanya perlu bernafas dengan stabil, semuanya kan baik-baik saja"


Andaru membuka pintu mobilnya dan pak Renaldi malah ikut masuk dan duduk disamping Andaru. "Mari kita pergi"


"Kau harus mengajar "


"Ini kita akan belajar ayo "


Andaru yang masa bodoh akhirnya melajukan mobilnya dengan membawa guru ini, guru yang selalu bertemu dengan ayahnya.


Andaru menjalankan mobil dengan sangat kencang, Pak Renaldi menatap Andaru "Kenapa menjalankannya harus seperti ini, kau akan melanggar rambu lalu lintas pelankan"


"Sudah aku bilang kan jangan ikut aku "


"Kau sekarang sedang marah dan melampiaskan semuanya pada mobil mu ini, menjalankannya dengan cepat seperti ini"


Andaru masih diam saja, tepat sekali saat lampu merah Andaru berhenti "Ku kira kau akan menerobosnya "


"Lebih baik aku antarkan bapak kembali ke sekolah, bapak itu harus mengajar bukannya ikut denganku"


"Kenapa tidak, aku tidak ada pelajaran di pagi ini, maka aku bisa ikut denganmu dan kau nanti bisa mengantarkanku kembali ke sekolah kan"


"Memangnya aku ini taksi "


"Lebih baik kita belajar, daripada kau pulang ke rumah dan nanti akan ditanyakan oleh ibumu"


"Belajar apa "


"Ikuti aku saja, setelah lampu merah ini belok kiri "


Andaru tanpa banyak bicara langsung mengikuti kata-kata pak Renaldi. Terserah dia sajalah ikuti saja apa mau dia ini. Dari pada nanti bermasalah dengan ayahnya.


...----------------...


Semua orang menatap Sinta, yang ada di kantin semuanya menatap dia, tidak ada yang tidak menatapnya. Sinta yang merasa aneh menetap ke arah Aliya.


"Kenapa dengan mereka "


Aliya menatap orang-orang yang tadi menatap Sinta untuk tak melakukan itu. Mereka dengan patuh melakukannya dan tidak menatap Sinta lagi. Mereka takut dengan Aliya.

__ADS_1


"Maafkan mereka karena telah melihatmu seperti alien, mereka memang seperti itu kalau ada anak baru, dulu juga saat Ayu baru datang kemari mereka melihat Ayu seperti itu"


"Benarkah bukan karena kursi rodaku"


"Tidak, tidak mungkin mereka seperti itu, mereka hanya asing saja denganmu"


Sinta menganggukan kepalanya, Cempaka datang kemeja mereka dan menatap Sinta "Kita perlu bicara Sinta "


Sinta malah diam menatap Ayu dengan tatapan yang kesal "Kita perlu bicara Sinta apakah kau tuli "


"Ya sudah kau bicara saja di sini"


"Aku perlu bicara berdua denganmu"


"Bicara saja di sini, tidak ada yang aku sembunyikan dari Aliya maka kau langsung saja bicara di sini. Jika itu penting aku tidak mau kemana-mana"


Aliya dan Galang malah tertawa. Cempaka menatap mereka semua lalu pergi begitu saja "Bagus Sinta, kau harus sedikit keras pada Ayu. Kalau tidak dia akan terus mempermainkanmu jangan mau dipermainkan oleh seorang Ayu ingat itu, dia itu begitu licik dia adalah ular "


Sinta hanya menganggukan kepalanya Bu Bahar datang kemeja mereka dan menatap Galang "Galang aku ingin bicara denganmu ayo ikut aku keruangan ku"


Galang menatap Aliya "Ikut Galang dia akan memberikan mu kejutan cepat "


"Baiklah "


Bu Bahar berjalan terlebih dahulu dan Galang mengikutinya dari belakang. Meskipun tak tahu akan membicarakan apa.


...----------------...


Andaru memberhentikan mobilnya sesuai apa kata dari Pak Renaldi, dirinya dan Pak Renaldi hanya menatap seorang laki-laki yang stroke sedang disuapi oleh seorang nenek-nenek.


"Kenapa kita kemari dan kenapa kau tidak turun "


"Kita sedang belajar Andaru. Aku ingin memperlihatkan bagaimana emosi yang bisa membuat kita melukai seseorang, seperti yang sedang kau lihat di sana"


"Apakah itu korban mu "


"Iya aku selalu ingat tentang apa yang pernah aku lakukan pada orang itu, aku sangat menyesal sekali bahkan aku kemari hanya beberapa bulan sekali. Aku sungguh tidak tega melihat dia harus terus duduk di kursi roda kau harus bisa lebih mengendalikan emosimu Andaru, kau tidak bisa terus bermain-main seperti ini"


"Aku tidak pernah bermain-main "


"Mungkin menurutmu kau tidak pernah bermain-main, tapi suatu saat kau akan mengingat itu semua. Jadi kau harus lebih bisa mengendalikan semua emosimu dalam masalah apapun dan dalam hal apapun"


"Lalu apa yang sekarang kau rasakan "


Pak Renaldi menatap Andaru "Aku menyesal aku sangat malu. Aku tidak pernah berpikir kalau akan kejadian seperti ini. Mungkin saat di sekolah kita bermain-main dengan teman kita seperti memukul, meninju atau bermain dengan berlebihan itu membuat kita senang, tapi kenyataannya semua itu akan berakhir seperti ini"


Pak Renaldi menahan nafasnya lalu kembali menatap Andaru "Makanya aku sangat tidak suka kalau ada yang membully dan aku tidak akan membiarkanmu untuk menjadi aku yang selanjutnya, mari kita pergi dan kita belajar kembali"

__ADS_1


Andaru langsung menyalakan mobilnya dan pergi dari tempat itu, sedangkan Pak Renaldi sedang mengusap air matanya.


...----------------...


"Aku sekarang berdiri di hadapan danau, danaunya begitu indah sangat luas aku sekarang masuk dan ke dingin, aku segera keluar dari dalam danau itu "


Bu Bahar malah seperti meledek dan berjalan mengelilingi Galang "Sekarang aku menemukan air terjun hatiku tenang, aku begitu rileks dan ingin bersantai"


"Aku begitu bahagia, sepertinya kau harus mencobanya Bu "


"Benarkah " ucap Bu Bahar


Galang membuka matanya dan menganggukan kepalanya"Iya Bu cobalah, itu pasti akan sangat menyenangkan "


"Baiklah "


Bu Bahar segera memejamkan matanya "Baiklah "


"Aku sama sepertimu ada di sebuah danau, aku juga masuk ke dalam danau itu banyak sekali ikan, di sampingku banyak sekali ikan yang mendekatiku"


"Bunuh saja Bu, bunuh saja ikan-ikan itu jangan sampai dia merebut tempat ibu. Jangan sampai dia melukai ibu"


"Tidak bisa, aku tidak bisa melakukan itu"


"Kenapa tidak bisa Bu, itu sangat mudah sekali kau hanya perlu menangkapnya dan membantingkan ikan itu itu ke daratan dan membunuhnya. Ayo Bu bunuh dia, hancurkan dia satu persatu jangan sampai itu menghalangi ibu "


Bu Bahar langsung membuka matanya dan menatap tajam Galang "Itu kan yang kau lakukan Galang, kau melakukan itu untuk bertahan hidup dan menghancurkan orang-orang di sekitarmu"


"Aku tahu ini akan terjadi dan pertanyaannya pasti akan ke sini. Sepertinya ini sudah selesai Bu, semuanya sudah selesai"


"Galang aku tidak menyuruhmu untuk pergi, duduklah kembali dan kita bicarakan semuanya"


Galang malah memakai almamaternya lalu kembali duduk dan berhadapan dengan Bu Bahar "Ayo katakan padaku, aku mendengarkanmu aku akan membantumu. Ayo katakan semuanya padaku jangan pernah memendam ini sendirian"


"Dengarkan aku Bu Bahar, aku tahu kau perempuan yang pintar yang baik dan bisa melakukan apa saja. Aku tahu kau ingin mengetahui tentang petisi itu, tentang pembully yang ada di sekolah ini dan banyak hal lagi. Aku tahu ini berurusan dengan Lia dengan perempuan itu kan, dia sudah memberitahu tentang petis itu pada ibu kan"


"Lalu tanggapan mu tentang hal itu apa. Apakah kau takut jika sampai semua itu diusut"


"Kenapa aku harus takut, aku melakukan itu hanya untuk lelucon saja, hanya main-main saja jangan dianggap serius lah, kami semua tidak menyakiti siapa-siapa ingat itu Bu"


"Tapi yang kau lakukan itu salah"


"Salah dari mana, lebih baik ibu lebih banyak menonton film di sana akan banyak yang Ibu pelajari, dan ibu akan melihat apa yang kami lakukan seperti di film itu hanya lelucon saja"


Galang langsung pergi meninggalkan ruangan Bu Bahar. Wajah Galang juga sudah sangat kesal dan marah sekali. Lihat saja Lia akan habis ditangannya berani sekali dia memberitahu tentang semua petisi ini.


Padahal masalah ini sudah terkubur cukup lama, kenapa harus terbuka lagi dan diungkit-ungkit kembali.

__ADS_1


__ADS_2