
Aliya yang sudah beres di interogasi memeluk papihnya yang ada disana "Papih kamu kemari "
"Iya aku kemari, bagaimana kamu baik-baik saja kan"
"Aku baik pih aku sangat ketakutan "
Bu Bahar dan Pak Renaldi juga sudah datang, Bu Bahar langsung mendekati Aliya "Aliya kamu baik-baik saja kan "
"Iya Bu aku baik-baik saja"
"Andaru mana "
"Diakan segera keluar sebentar lagi Bu "
Andaru sudah datang dia berdiri di samping Bu Bahar, Sena yang melihat Bu Bahar di sini mengerutkan dahinya "Kenapa Bu Bahar ada di sini bersama Pak Renaldi, bukannya kalian berdua seharusnya mengajar bukannya ada di sini, tugas kalian adalah mengajar"
"Pak kami ini adalah gurunya Andaru dan juga Aliya, sudah sepatutnya kami datang saat murid kami ada masalah seperti ini "
"Ya itu tidak perlu, mereka masih punya orang tua, orang tuanya yang bisa datang kemarin kalian itu hanya seorang guru. Seharusnya mengajar bukan datang kemari untuk mengurusi masalah siswa kalian, kalian itu banyak pekerjaan "
Pak Renaldi yang geram langsung berbicara "Jangan samakan kami dengan yang lainnya Pak, kami di sini memang seorang guru tapi kami juga bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada siswa dan siswi kam. Memangnya salah kami datang kemari ingin melihat keadaan murid kamu ini "
"KamuRenaldi "
Pengacara langsung menarik tangan pak Renaldi "Jangan terlalu berani kamu mau dipecat dari sini, ingat jabatan mu itu apa "
"Memangnya aku salah membela diriku sendiri, dia terlalu banyak menghina bukan berarti dia itu orang yang segala punya bisa berbicara seenaknya, salah aku ingin membela harga diriku ini "
"Sudahlah jangan keras kepala, fokus pada pekerjaanmu "
Saat Pak Renaldi sudah bergabung lagi Andaru baru bicara "Aku minta pada kalian jangan ada yang bilang pada Mamaku ataupun Ayahku, tolong rahasiakan ini semuanya darinya"
"Tentu saja, nanti kita akan bicara di sekolah ya Andaru "ucap Bu Bahar
"Aku akan bicara bersama Pak Renaldi saja"
"Baiklah"
"Sudah kalian mau apa lagi di sini, sudah selesai kan pekerjaan kalian, maka sekarang kerjakanlah pekerjaan kalian yang sungguhan menjadi guru, bukannya mengurusi masalah orang lain Pak Renaldi "ucap Sena dengan sinis.
"Andaru jaga tanganmu jangan sampai tersenggol, agar tanganmu itu segera sembuh "
Pak Renaldi segera menarik tangan Bu Bahar untuk pergi dari sana. Aliya sangat ketakutan kalau Andaru akan marah padanya, sudah terlihat dari raut wajah Andaru kalau dia marah pada Aliya.
"Andaru aku ingin bicara dulu denganmu, ayo kita bicara "
"Bicara apa, semuanya sudah kamu bicarakan di depan Inspektur kan. Apalagi yang perlu dibicarakan. Terima kasih karena kamu sudah menuduhku dengan begitu kuatnya Aliya. Tak kusangka kamu akan melakukan ini, di sisi lain aku melindungimu tapi kamu sendiri malah menjerumuskan ku seperti ini, kamu menjatuhkan ku "
"Tidak, bukan seperti itu Andaru bukan seperti itu. Aku sungguh tidak ingin melakukan itu tapi papihku bilang..."
Aliya langsung menatap papihnya, tapi papihnya malah memelototi Aliya. Otomatis Aliya tak berbicara. Dia juga takut Papihnya akan marah besar padanya. Segini juga papihnya mau membantunya.
Aliya yang melihat ada Cempaka dan juga Aksa kemari langsung menghadang Cempaka, agar tidak mendekati Andaru" Mau apa kamu datang kemari, sudah puas kau melaporkan aku dan juga Andaru. Lihat di antara kami berdua tidak ada yang dipenjara, kamu salah besar telah melakukan permainan dengan kami. Kami tidak akan mudah untuk dikalahkan "
"Memangnya siapa yang melaporkan kalian ke kantor polisi. Aku tidak pernah melaporkannya. Sebelum berbicara itu cari tahu dulu siapa yang melakukannya jangan asal tuduh orang ga baik nanti malah malu sendiri "
"Kamu berani sekali ya, aku benci padamu Cempaka"
"Aku tidak peduli kamu benci padaku. Kakakku ada di sini aku akan menjemputnya apa salahnya aku datang kemari untuk menjemput kakakku, aku kesini bukan untukmu "
Aliya yang akan bicara lagi keburu ditarik oleh ayahnya, Aliya dibawa pergi menjauh dari mereka bertiga.
"Kamu datang juga kemari untuk menjemputku, kamu percaya kan kalau aku bukan orang yang telah melakukan tabrak lari itu"
"Aku percaya tidak percaya, mau bagaimana lagi semua tuduhan malah terarah padamu. Aku juga bingung tapi aku sebisa mungkin akan selalu percaya dengan kata-katamu. Aku pasti akan mendukungmu"
"Baiklah ayo kita pulang" ajak Aksa menggandeng kedua tangan Kakak dan adiknya.
__ADS_1
Baru saja mereka akan melangkah Inspektur sudah menghentikan langkah Cempaka "Ayu kemarilah aku ingin bicara padamu sebentar saja "
"Kalian berdua pergilah dulu ke parkiran, nanti aku akan menyusul ya "
"Yakin tidak mau ditemani "tanya Aksa yang khawatir pada adiknya itu.
"Tidak, aku akan bertemu dengan Inspektur dulu siapa tahu dia ingin mengatakan sesuatu padaku"
"Baiklah"
Setelah mereka berdua pergi Ayu mendekati Inspektur yang menunggu di depan pintu "Ayu Aku ingin bicara tentang masalah Sinta "
"Aku sudah tidak mengurusi masalah itu lagi, katanya Sinta ingin mengurusnya sendiri aku mundur. Aku sudah lelah dituduh yang tidak-tidak olehnya. Percuma aku mencari tahu tentang semuanya tapi nyatanya tidak pernah dihargai olehnya"
"Kamu yang pertama ngotot dalam mencari siapa dalang dari semua ini. Tapi kenapa kamu tiba-tiba mengalah seperti ini, bukannya kamu ingin menuntaskan semua masalah ini ?"
"Ya awalnya aku ingin menutup semua masalah ini semuanya, ingin Sinta mendapatkan keadilan tapi nyatanya dia tidak pernah mendukung ku. Dia hanya menyalahkanku tentang apa yang aku lakukan selama ini, aku sudah lelah Inspektur. Aku mundur dari segala urusan yang Sinta alami"
"Masuklah terlebih dahulu, kita bicara aku tahu kamu sedang marah padanya tapi setidaknya dengarkan dulu aku. Siapa tahu nanti kamu berubah pikiran untuk kembali memperjuangkan temanmu itu dan mencari siapa pelaku yang sebenarnya. Aku akan terus membantumu ayolah masuk dulu jangan keras kepala kalian harus saling memaafkan ya"
Cempaka dengan malas-malasan akhirnya ikut juga masuk ke ruangan Inspektur, dia langsung duduk saja dan bertatapan dengan Inspektur.
Sebenarnya sangat tidak penting untuk membicarakan lagi masalah Sinta, dia kan mau mengurus masalahnya sendiri itu untuk apa lagi dirinya ikut campur. Yang ada dia akan menuduh yang tidak-tidak lagi.
...----------------...
Andaru kembali dipanggil oleh Sena dan juga Aliya. Andaru menatap mereka berdua "Andaru tenanglah dulu kamu jangan marah-marah dulu padaku"
"Jangan marah-marah padamu ? Kamu tahu sidik jari itu ada di semua body motomu, mana bisa sidik jariku ada di setiap body motormu gila aku menempelkan setiap sidik jariku di sana, mana pernah aku menggunakan sepeda motormu tidak pernah Aliya "
"Ini adalah kelakuan Dion. Kamu tahu kan pamannya Budi dia yang melakukan ini dia itu sangat licik. Dia itu pertama memeras ku tapi setelah aku tidak memberikan uang lagi dia malah melakukan ini kan, melaporkanmu menjadi seorang pelaku " ucap Sena mencoba untuk mengompori Andaru dan Aksa yang ada di sana juga ikut dengan kakaknya.
"Tunggu dulu ada satu yang membuatku bingung, kenapa sepeda motor itu bisa ada di tangan pamannya Budi seharusnya sidik jari dia juga ada di sana. Kenapa hanya sidik jariku saja yang ada di sana. Lalu dia mendapatkan dari mana sidik jariku itu, apa kalian bisa menjelaskannya"
"Dia itu laki-laki licik, dia bisa melakukan apa saja Andaru, dia itu mengikuti kasus ini dari awal sampai sekarang. Dia sedang mempermainkan kita semua"
"Kamu tenang saja Ayah kamu tidak akan tahu Mama kamu juga tidak akan tahu. Semua ini akan aku yang mengurus nanti saat sidang kamu bisa tenang dan kami akan menemanimu"
"Enteng sekali kalian bicara, Ayahku bisa tahu kapan saja tentang kejadian ini. Bahkan tanpa kalian Bicara pun Ayahku akan tahu. Aku masih tidak habis pikir saja semua ini bisa tertuju padaku sedangkan yang melakukannya bukan aku sendiri, bukan aku pelakunya "
Andaru menatap Aliya yang diam saja "Dan kamu Aliya kenapa mengatakan kalau aku pernah memakai sepeda motormu, saat tadi diintrogasi kamu ingin aku yang seolah-olah menabrak perempuan itu. Sedangkan aku sama sekali tidak bersalah"
"Bukan begitu, tadi saat diinterogasi aku malah bicara ke mana-mana aku juga bingung mau jawab apa, tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulutku Andaru aku minta maaf"
"Hei Andaru jangan terbawa emosi dulu, tenang saja sudah Om bilang kan om yang akan membantu semuanya kamu bisa tenang"
Andaru manahan amarahnya, dia menatap Sena dengan wajah yang sudah memerah dan ingin meledak karena masalah ini sudah membuatnya sangat pusing sekali "Terima kasih atas bantuannya dan selamat tinggal"
"Andaru aku ingin ikut denganmu"
"Tidak usah ikut denganku Aliya urus lah masalahmu, ingatlah aku bisa mengungkap semuanya nanti di pengadilan. Kamu sekarang tak aman "
Andaru langsung pergi meninggalkan Aliya, Aliya yang takut menghampiri ayahnya "Papi bagaimana kalau Andaru mengatakan semuanya, aku takut sekali Papih "
"Sudah kamu tenang saja"
Sena langsung membawa Aliya pergi dari sana. Kepalanya sudah sangat pusing memikirkan masalah ini.
...----------------...
"Kamu yakin inspektur"
"Iya sidik jari Andaru ada di sana semuanya dan semua ini mengarah padanya"
"Tapi apakah kamu berpikir aneh tidak kalau sidik jari itu ada di setiap body motor itu, aneh sekali kan seharusnya Aliya yang punya motor itu meninggalkan satu sidik jarinya atau dua pasti ada lah bekas-bekas dia atau orang tuanya atau saudaranya. Tidak mungkin kan semua itu sidik jari Andaru, sedangkan Andaru juga mengelak tidak pernah memakai motor itu kan"
"Iya kamu benar sekali tentang masalah itu"
__ADS_1
"Makanya aneh sekali kan Inspektur "
"Kamu mulai membela laki-laki itu, bukannya kamu dulu yang ngotot melaporkannya"
"Bukannya membela inspektur hanya aneh saja kenapa bisa dalam satu motor itu hanya ada sidik jari Andaru saja. Hanya tak habis pikir saja seperti yang tadi kamu ceritakan tentang bagaimana interogasi itu"
"Benar sekali, aku sih malah curiga dengan perempuan itu yang bernama Aliya dia begitu panik saat aku introgasi. Bahkan wajahnya sangat ketakutan seperti dia yang punya salah. Dari raut wajahnya saja sudah bisa terbaca"
"Apa mungkin dia pelakunya ?"
"Aku juga tidak tahu, aku sedang menyelidiki semuanya sekarang kamu peduli dengan Sinta"
"Aku juga pusing hati ini selalu saja kasihan padanya, maksudnya aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya"
"Ya sudah, aku sudah menceritakan semua tentang interogasi ini, masalah yang lainnya kamu serahkan saja padaku. Sekarang lebih baik kamu pulang belajar atau tidur siang atau apapun melakukan yang membuatmu senang"
"Baiklah aku pulang. Terima kasih atas informasinya Inspektur"
"Iya sama-sama"
Cempaka segera keluar dari ruangan Inspektur dia berlari ke arah parkiran dan mencari Andaru bersama Aksa. Ternyata mereka sedang bersandar di mobil.
"Sudah kalian membicarakan apa "tanya Aksa
"Hanya hal biasa saja, mari pulang pasti Mama sudah menunggu kita pulang yuk pulang"
"Ayo ayo ayo"
Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil, Andaru dan Aksa duduk di depan yang menyetir tentu saja Aksa, tidak mungkin Andaru tangannya sedang sakit sedangkan Cempaka sendiri duduk paling belakang sendirian.
...----------------...
Sinta yang belajar dengan Aina begitu tidak konsentrasi karena pikirannya terus saja memikirkan Andaru, tadi dia mengirim banyak pesan. Tapi Andaru tidak memaksa satu pun pesannya itu. Pesannya itu malah diabaikan oleh Andaru.
"Kamu ini ada apa sih Sinta, kita kan sedang belajar. Kenapa kamu dari tadi fokus terus pada ponselmu. Ada apa, apakah ada yang membuatmu khawatir"
"Aku sedang menanyakan kabar Andaru, tapi Andaru tidak membalasnya. Padahal dia dipenjara aku begitu takut kalau dia sampai dipenjara. Padahal dia tak salah "
"Kamu mengkhawatir Andaru, dia itu pelakunya dia yang telah membuat kamu seperti ini. Apakah kamu tidak ingat dengan kejadian itu "
"Tidak mungkin, tidak mungkin Andaru, dia tak mungkin mencelakai aku . Dia itu orang baik "
"Kenapa kamu yakin sekali kalau bukan dia yang melakukannya. Bagaimana kalau dia yang melakukannya, kamu bisa lihat bagaimana kelakuan Andaru disekolah "
"Aku sangat yakin kalau bukan Andaru yang melakukan ini. Aku begitu yakin sekali "
"Aku menjadi aneh padamu dari awal kamu selalu saja membela Andaru dan selalu bertengkar dengan Ayu. Apakah karena Ayu dekat dengan Andaru. Dia sudah menjelaskan kalau mereka berdua adalah saudara, apa lagi yang membuatmu marah padanya"
"Kamu percaya dengan kata-katanya, dia itu pembohong Aina mama mungkin mereka bersaudara"
"Kamu sangat membenci Ayu. Apa yang membuat kamu membenci Ayu apa ini karena Andaru "tanya Aina sekali lagi.
"Ya karena aku mencintai Andaru, makanya aku sangat benci pada Ayu. Dia selalu saja di dekat Andaru. Aku benci padanya aku muak padanya "
"Hanya masalah itu, kamu gila mencintai penjahat yang telah melukaimu kamu ini memang gila"
"Ya aku gila, kalau aku gila kenapa. Kamu tidak berhak mengomentari hidupku, aku mencintai Andaru dia adalah hidupku. Dia adalah segalanya bagiku kamu tidak usah ikut campur. Lebih baik kamu belajar saja dengan Ayu. Belajar dengan perempuan itu, perempuan perebut pacar orang belajar sana dengannya jangan dengan aku"
Aina langsung bangkit dan pergi, tapi bukunya langsung dilempar oleh Shinta "Kamu lupa dengan bukumu ini, bawa sana jangan tinggalkan di sini aku tidak akan mau mengantarkan buku ini ke rumahmu, tidak sudi aku"
Kembali Sinta melemparkan buku Aina yang masih ada di sana dan juga kotak pensilnya "Bawa semuanya jangan mengotori rumahku dengan buku-buku mu ini"
Aina mengambil semua buku-bukunya dan juga pensilnya yang berantakan "Jangan pernah anggap aku lagi temanmu Aina. Aku bukan lagi temanmu enyahlah dari kehidupanku jangan ada disampingku, aku tidak butuh kalian semua aku tidak butuh rasa kasihan dari kalian semua. Kalian semua adalah orang-orang munafik"
"Kamu yang munafik, tanpa kamu suruh pun aku akan menjauhi orang sepertimu bisa-bisa aku tertular gila olehmu"
Aina langsung saja pergi meninggalkan Sinta, sedangkan Sinta sendiri Langsung menangis.
__ADS_1