Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 218 Kecewa


__ADS_3

"Kenapa bisa Andaru helm itu ada di dalam loker mu"


Andaru yang sedang merokok melihat kearah adiknya lalu mengangkat bahunya. Mereka berdua sekarang sedang ada di rooftop sekolah. Pagi-pagi sekali mereka sudah ada di sini.


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa ada di lokerku. Mungkin ada yang ingin bermain-main denganku dan sangat sialnya malah Ayu yang melihatnya. Tentu saja dia melaporkannya pada polisi temannya dia yang kecelakaan. Aku yakin dia masuk ke sekolah ke sini hanya untuk mencari bukti saja"


"Ya aku pun berpikir seperti itu, dia masuk kemari bukan untuk belajar tapi untuk mencari bukti temannya, mencari orang yang menabrak temannya. Apakah kau akan mendiamkannya terus seperti ini. Apa kau akan membalasnya, sepertinya kita harus sedikit memberinya pelajaran Andaru. Dia tidak boleh semena-mena di sekolah ini kita yang punya sekolah ini bukan dia"


"Iya kita yang berkuasa di sini bukan dia, maka dia harus mengikuti aturan kita. Dia sudah membuat aku tak di percaya lagi oleh Mama, dia adalah orang yang cukup berbahaya untuk kita nantinya"


"Tapi untuk helm itu apa sudah dimusnahkan, lebih baik dimusnahkan saja jangan disimpan sembarangan"


"Sudah aku musnahkan Aksa jadi tenanglah. Dia tidak akan pernah bisa menemukannya lagi. Dia tidak akan pernah bisa menemukan bukti itu lagi"


"Baguslah kita harus cepat-cepat membuat rencana, karena kalau kita terus diam saja dia akan keenakan dan terus mencari bukti di sini. Kalau Ayah sampai tahu tentang itu mungkin dia akan sangat marah apalagi mama, aku tak mau sampai itu terjadi "


"Ya kau benar "


Andaru melihat kearah lapangan dirinya tak sengaja melihat ada Tante Sani.


"Kau lihat itu bukannya itu tante Sani"


"Iya kemarin ponselnya Aliya disita sama guru bahasa Indonesia baru itu dan kayaknya sih Aliya harus ambil ponselnya sama orang tua. Baru sekarang sih ada guru yang berani sama dia dan panggil orang tuanya langsung"


"Bagus deh buat kasih pelajaran juga sama dia, ngapain di kelas main ponsel "


"Hemm bener "


Mereka berdua tak saling berbicara mereka hanya fokus dengan pikiran mereka masing-masing. Memikirkan bagaimana cara untuk membuat Ayu jera dan tidak macam-macam lagi pada mereka.


...----------------...

__ADS_1


Ayu yang baru sampai di kantor polisi segera masuk ke dalam ruangan inspektur tanpa memberi salam "Bagaimana apakah sudah ketemu buktinya"


"Selamat pagi Ayu duduklah jangan terburu-buru duduk dulu "


Ayu dengan cepat segera duduk dan berhadapan dengan inspektur "Tidak ada bukti itu, sudah aku kerahkan beberapa orang untuk pergi ke sekolah dan membongkar loker Andaru, tapi tidak ada bahkan aku sudah pergi ke rumah Andaru untuk mengintrogasinya tapi nyatanya dia tidak berbohong. Dia berkata jujur"


"Apa kenapa tidak ada, jelas-jelas aku melihat kalau bukti itu ada di sana. Aku tidak bohong aku benar-benar melihatnya. Tidak mungkin mataku rabun aku melihatnya dari dekat aku tidak mungkin salah, aku benar-benar melihatnya "


"Tapi kenyataannya tidak ada, untuk apa aku berbohong padamu Ayu. Aku bahkan menyuruh orang-orang ku untuk membongkar loker Andaru tapi nyatanya tidak ada"


Seketika air mata Ayu mengalir. Inspektur segera beralih duduk berhadapan dengan Ayu "Kau jangan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan salahmu kau tidak usah capek-capek untuk mencari barang bukti biar kami yang mencari di sini"


"Aku tidak bisa diam begitu saja. Sinta adalah temanku dia harus mendapatkan keadilan, dia menjadi tak bisa berjalan di usinya yang begitu muda, dia tak bisa leluasa untuk pergi, kami biasanya jalan-jalan bersama tapi sekarang kami tak bisa melakukan itu, aku sungguh tak bisa melihat keadaan Sinta seperti itu"


"Aku mengerti, aku sangat mengerti "


"Kalau misalnya kau ada diposisi Sinta bagaimana, atau kalau anak perempuan mu mengalami apa yang dialami oleh Sinta apa yang akan kau lakukan, kau pasti akan sangat marah kan "


"Iya, aku akan menemukan bukti itu dan aku sendiri yang akan membawa bukti itu kehadapan mu "


Ayu segera keluar dari ruangan inspektur sungguh dirinya kecewa dengan apa yang dirinya dengar. Kenapa bisa tak ada. Apa Andaru sudah tahu kalau dirinya akan melaporkannya kekantor polisi.


...----------------...


"Jadi ini ibunya Aliya "


"Iya Pak saya ibunya Aliya, jadi apa yang anak saya lakukan sampai saya dipanggil kesekolah "


"Sebelumnya saya minta maaf, mungkin ini hanya masalah kecil tapi kalau didiamkan terus menerus akan menjadi besar. Aliya sudah tak sopan pada saya saat meminta ponselnya, dan pada saat saya tegur dia tak mendengarkannya dia selalu saja membantah "


Sani menatap anaknya yang ada disampingnya dan kembali menatap wajah Pak Renaldi.

__ADS_1


"Maafkan saya Pak, saya sudah gagal mendidik anak saya, kejadian ini tak akan pernah terjadi lagi saya berjanji akan lebih memperhatikan Aliya "


"Bunda apa-apaan kenapa bunda minta maaf itu tak perlu, dia yang salah jangan merendah seperti itu Bunda. Dia hanyalah seorang guru"


"Diam Aliya, saat bunda sedang berbicara seperti ini kau tak boleh menyela itu tak sopan "


"Baiklah Bu, ini untuk ponsel Aliya "


Sani mengambil ponsel itu dan segera berdiri "Terimakasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu "


"Baik Bu silahkan "


Sani keluar terlebih dahulu diikuti oleh anaknya, lalu saat sudah jauh dari ruangan guru Sani memberikan ponselnya.


"Bunda tidak mau sampai kejadian seperti ini, kalau Papih tahu bagaimana, kalau Papih yang datang bagaimana "


"Tapi aku tak salah Bun, aku sama sekali tak salah kenapa sih cuman masalah kecil seperti ini malah diperbesar "


"Kamu harus sopan pada gurumu, kalau tidak ada dia siapa yang akan memberimu pelajaran. Kalau kau sekali lagi membuat masalah Bunda akan bilang sama Papih dan membuatmu masuk ke asrama yang ada di sekolah di Bandung "


"Ohh tidak bunda, aku tidak mau jangan bilang Papih, aku tak mau Bunda "


"Maka jaga sikapmu disini, Bunda tak mau jauh darimu Al, Bunda tak mau sampai Papih memindahkan mu ke asrama. Apalagi juga kakakmu Alvaro tahu dia pasti akan langsung mengirim mu kesana "


"Aku janji tak akan seperti ini, tolong bunda jangan bilang sama Kakak "


"Bunta tak akan bilang kalau kamu ga kayak gini lagi ingat itu. Bunda pulang kamu belajar yang giat ya, ingat jangan membully teman mu "


"Iya Bun, Bunda hati-hati ya "


"Iya sayang "

__ADS_1


Aliya memeluk Bundanya mencium pipi kanannya, setalah itu Bundanya pergi sedangkan dirinya masih diam menatap Bundanya yang keluar dari sekolah.


__ADS_2