Princess Pratama

Princess Pratama
Antara hidup dan mati


__ADS_3

Kendra jatuh terkapar setelah melihat sambungna ponsel milik aldo kini menghitam. Dadanya terasa sesak dan juga sangat sakit. Kepala nya pusing seketika.


Ia jatuh ke lantai dengan kepala dan punggung belakang lebih dulu menimpa lantai. Hingga luka yang sudah kali di jahit ituk kni kembali lagi.


"Ken!!!! Tidakk!! Bangun Ken!! Bangun!!" teriak Aldo dengan segera memeluk tubuh Kendra yang tiba-tiba saja sedingin es.


Detak jantungnya pun melemah seketika. Aldo panik. Ia menangis melihat keadaan Kendra. Uwak Lana yang mendengar suara teriakan Aldo segera berlari ke kamar Kendra yang berada di sebelah kamar Ziana yang kini baru saja sadar.


Ketiga orang itu berlari segera menuju kamar Kendra. Tiba disana, ketiganya terpaku dan tertegun melihat Aldo menangis dengan darah terus mengalir di wajahnya.


Ia berteriak memanggil nama Kendra yang sudah pucat pasi. Detak jantungnya pun kini melemah. Yang membuat Aldo semakin histeris.


Ketiga orang yang tertegun itu terkejut saat Aldo bangkit dan membopong Kendra untuk dilarikan kerumah sakit.


Uwak Lana sigap membantu. Ia pun ikut memegang Kendra dan segera dibawa kerumah sakit.


Ia menghubungi papi Tama dan mami Annisa. Kedua ponsel itu tidak terhubung bahkan tidak aktif.


Yang membuatnya semakin gusar dan panik. Uwak Maura duduk di depan bersamanya. Sedangkan Kendra dan Ziana memangku Kendra yang kini semakin dingin tubuhnya.


Aldo terus saja berusaha menyadarkan Kendra dengan cara menggosok tangan dan kakinya. Ia dan Ziana bekerja sama. Jangan tanya seperti apa wajah Aldo saat ini. Wajah itu sembab sekaligus dilumuri dengan darahnya yang terus mengalir.


Ziana yang tidak tahan melihatnya segera membuka hijabnya dan membelitnya di kepala Aldo dengan terus terisak.


Aldo terpaku saat tangan halus itu menyentuh kening dan matanya. Ziana tersedu saat melihat lukanya. Dengan tangan bergetar, ia berusaha menyeka darah itu dengan tisu yang tersedia di mobil Uwak Lana.


Aldo masih menatap Ziana saat mobil mereka sudah tiba dirumah sakit. Uwak Lana segera membuka pintu belakang dimana Kendra dan Aldo berada.


Ziana tidak turun karena tidak memiliki hijab lagi. Tapi Aldo yang sadar akan hal itu, segera merogoh sesutu yang ada di balik kursi kemudi itu.

__ADS_1


Deg!


Deg!


"Hijab hitam? Milik kak Nia??"


Aldo menunduk dengan mata kembali mengeluarkan cairan bening.


"Ya, hiks.. Hijab itu milik Tania. Tetapi belum dipakai. Karena Kendra tidak sempat memberikannya kepada nya. Ambillah! Milik Tania juga milik mu bukan?"


Deg!


"Kalian memiliki suami yang sama. Ayo Tuan!" katanya pada Uwak Lana yang kini tertegun melihat putri sulungnya dan juga Aldo kini turun tergesa setelah bangkar rumah sakit tiba di depan mobilnya.


Kendra segera dilarikan ke IGD begitu pun dengan Aldo. Ia menolak untuk dirawat sebelum tahu keadaan bos nya itu.


Ia tetap kekeuh berada disana menunggu Kendra sadar. Ziana membujuknya dengan cara jika keduanya di letakkan di kamar yang sama.


Kendra segera dipasangkan alat pernapasan karena dirinya yang seperti tidak lagi bernapas. Bernapas, tapi sangat pelan.


Denyut jantungnya pun sangat lemah seiring suhu tubuhnya yang semakin dingin. Wajah tampan kurus itu semakin terlihat pucat.


Aldo tidak henti-hentinya menangis. Ia tidak bisa bersuara karena dokter melarangnya. Yang terdengar di dalam ruangan itu hanya suara isak tangisnya saja.


Kendra seperti terbenam di dalam air hingga ia tidak bisa bernapas. Ia hanya bisa melihat tanpa bisa berbicara. Seluruh tubuhnya membeku saat melihat jika Tania kini semakin turun ke bawah ke dasar sungai.


Kendra ingin menolongnya, tetapi tak bisa. Tubuhnya kaku dan tidak bisa di gerakkan. Ia hanyabisa menagis dan menatap nanar pada Tania yang kini terus tenggelam ke dasar sungai.


Keduanya berada di dalam air yang sama tetapi tidak bisa saling bersentuhan. Kendra menangis. Aldo terkejut melihat Kendra terisak sampai mengeluarkan air mata yang begitu deras.

__ADS_1


Ia duduk disamping bangkar dimana dokter mengizinkannya yang sedang menjahit kembali luka di kepala nya itu.


"Ken.." bisiknya di telinga Kendra yang membuat tangan pemuda itu otomatis memegangntya dengan erat.


Dokter terkejut, tetap[i tetap[ terus menjahit luka itu.


"Maaf Ken.. Maafkan aku.. Aku salah.. Maafkan aku Ken.. Kembalilah.. Jangan tinggalkan aku Ken.. Aku bisa mati berdiri jika kamu seperti ini. Maafkan kesalahan ku Ken.. Maafkan aku.. Hiks.." isak Aldo berbisik di telinga Kendra yang kini antara hidup dan mati saat melihat Tania yang semakin jatuh ke bawah.


Kendra ingin menyentuhnya. Tetapi tidak bisa. Ia terus berusaha menggapainya, tetap saja. Tidak kesampaian.


Aldo semakin merasa bersalah pada Kendra yang kini pasti sedang menderita karena rasa sakit di kepala dan juga batinnya. Bisa terlihat dari cekalan tangannya di tangan Aldo.


Hingga Kendra tergagap dan nafas tersendat kala melihat Tania ada yang membawa dan meninggalkannya seorang diri di bawah air.


Aldo berteriak saat mendengar mesin monitor berdenting panjang tetapi dokter malah diam saja. Mereka tertegun dan terpaku melihat keadaan Kndra yang kini diluar nalar mereka.


Semenatra Kendra masih merasakan sesak dengan dada terus membusung ke atas. Ia melihat Tania yang kini sudah berada di daratan sedang dirinya masih di bawah air.


Ia bisa melihat dengan jelas seorang pemuda yang ia kenal sedang memompa dada Tania dengan terus menangis dan memanggil namanya di tepian sungai di tengah malam buta itu.


"Bangun sayang! Dek! Tania! Jangan tinggalkan kami Princess! Kamu kebanggaan kami! Sadar Tania! Come on!" serunya terus berusaha memompa dada Tania yang terlihat jelas oleh Kendra di bawah air sana.


Kendra terus saja menangis walau kesadarannya semakin menipis. Hingga pemuda yang menolongnya itu berteriak.


"Aaaaahh.. Tidaaakkk!!! Bangun Taniaaa!!" teriaknya dengan mengguncang tubuh Tania yang sudah sedingin es itu.


Kendra merasakan sesak di dadanya. Seluruh paru-parunya terasa penuh dnegan air.


"Hunny.. bangun.. Abang membutuhkan mu Hunny.." ucapnya di dalam air hingga mulutnya semakin di penuhi dengan air.

__ADS_1


Mata itu kian terpejam seiring teriakan seseorang yang menyelamatkan Tania di tengah malam buta itu pun semakin kuat.


__ADS_2