
Zee menggerutu kesal dalam hati mengingat Tania. Ingin sekali ia menghajar adik sepupunya itu. Jika bukan karena ingin menjaga amanah Tania, ia pasti sudah mengatakan yang sebenarnya pada saudara iparnya itu.
Zee tersenyum kikuk saat papi Ali dan Kendra kini menatapnya dengan lekat.
"Kakak tidak bisa menjawabnya, Ken. Aku tidak mau berbohong! " gumam Zee dalam hati. "Tanyakan sendiri pada Tania. Tugas kakak sebagai dokter sudah selesai. Pesan Kakak, untuk sementara jangan sentuh dulu Tanianya, ya?" ucapnya pada Kendra yang kini mengangguk pasrah padanya.
"Ya sudah, kakak kerumah papi Lana dulu. Mau ketemu Ziana sekalian memeriksa kandungannya," lanjut Zee yang diangguki oleh Kendra dna papi Ali.
Dari dapur Alkira masuk bersama dengan Gading. Ia meletakkan nampan itu dan menuju ke kamar tania. Setibanya disana, ia melihat Tania yang saat ini terlelap. Alkira tersenyum teduh dibalik niqob hitamnya.
Ia menatap Tania dengan lekat.
Andai aku bisa sepertimu, Kak. Pastilah aku dan bang Gading tidak akan sesakit ini melihat kalian bisa mengandung. Sedangkan aku? Aku tidak bisa seperti kalian karena suatu hal. Ingin aku menangis dan menjerit untuk meluapkan rasa ini. Tetapi, itu tidak mungkin terjadi. Aku hanya bisa sabara sampai dimana kesabaran itu akan lelah mengahdapi kami berdua. Bukan salah suamiku karena tidak bisa membuahi rahimku. Tapi inilah takdir untuk kami berdua.
Aku mencintainya karena Allah. Tidak masalah jika kami tidak memiliki anak. Kami berdua tetap akan bahagia. Tetapi kenapa hati ini rasanya sakit, ya? Saat melihat kalian bisa mengandung benih suami kalian, sementara aku tidak? Batin Alkira dengan air mata sudah menganak sungai dipipinya.
Grep!
__ADS_1
Alkira tersentak saat merasakan pelukan ditubuhnya dari belakang. Ia menoleh ke belakang dan terkejut melihat pemuda yang ternyata suaminya itu.
"Abang," cicit Alkira dengan dada yang siap tumpah.
Gading tersenyum dan mengangguk. "Jangan mengganggu kakak. Ayo, kita keluar. Istirahat dulu. Semua orang sedang istirahat saat ini," ucapnya yang diangguki oleh Alkira.
Keduanya pun keluar dari kamar Tania menuju ke kamar mereka. Sudah tidak ada Kendra dan papi Ali lagi disana. Gading terus menuntun Alkira untuk masuk ke kamar mereka. Kamar Alkira yang terletak disamping kamar Gading.
Sedari kecil, ia tidak pernah ingin berpisah dari Gading sedikitpun. Ia selalu ingin bersama dengan pemuda yang sudah menjadi cinta pertamanya saat ia masih kecil hingga saat ini.
Hingga satu tahun belakangan ini, keduanya terpaksa menikah karena sebuah kejadian yang hampir saja merenggut mahkota Alkira.
Alkira sempat shock berat dan Trauma akan kejadian itu. Jika bukan karena Gading, pastilah Alkira sudah tiada saat ini karena berusaha dilecehkan oleh kakak kelasnya sendiri yang ternyata menyukai dirinya sejak pertama kali ia memasuki sekolah menengah pertama itu.
"Sayang-,"
"Adek tak apa, Bang. Jangan sedih begitu mukanya. Jangan dipikirkan. Adek hanya ingin melihat kakak saja tadi," potongnya cepat saat Gading ingin berbicara padanya.
__ADS_1
Ucapan lirih Alkira yang membuat Gading segera memeluk tubuh chubby sang istri yang kini semakin berisi sejak kejadian itu.
"Jangan pikirkan tentang keturunan. Abang tak masalah jika tidak memiliki keturunan. Anak itu amanah buat kita. Mungkin, saat ini belum waktunya Allah menitipkan amanah itu untuk kita. Maafkan diri ini yang tak sempurna, Sayang." Katanya pada Alkira yang kini menggeleng didalam pelukannya.
"Bukan salahmu karena tidak bisa memiliki keturunan. Kita tidak bisa menyalahi takdir. Semua ini sudah menjadi ketetapan untuk kita berdua. Mungkin, ini ujian untuk kita? Yakin aja. Setiap yang Allah berikan dalam bentuk ujian itu merupakan sesuatu yang harus kita syukuri. Karena apa? Karena Allah tahu. Kita sanggup melewatinya. Aku tak masalah jika tidak memiliki anak. Kita bisa mengangkat anak bukan?" Gading mengangguk dan tersenyum.
Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh chubby Alkira yang semakin berisi saat ini. "Abang sangat menyayangimu, Sayang. Sampai kapanpun kamu tidak akan tergantikan. Inilah jalan Allah dulunya saat bertemu papi. Allah mengambil abi dan Ummi. Tetapi menggantinya dengan papi dan mami. Ternyata inilah tujuannya. Kamu, Sayang. Kamu. Kamu wanita yang sudah ditakdirkan untuk hidup bersama Abang dalam suka dan duka. Tak apa tidak memiliki keturunan. Abang ikhlas. Hanya saja.." Gading semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alkira dan tidak ingin melanjutkan lagi ucapannya itu.
Alkira tersenyum. Ia mengelus pipi halus Gading. Pipi mulus tanpa bulu, kulit putih dengan mata sedikit sipit. Dan ketika tersenyum, tampan sekali. Mirip sekali dengan aktor korea.
"Hanya saja ucapan keluargaku yang selalu bertanya, kapan kamu hamil, Ra? Udah isi belum? Kakak aja udah dua ini! Ck. Basi! Ucapan unfaedah! Emang dia kira, dia itu tuhan apa?" Kesal Alkira yang membuat Gading terkekeh.
"Hem.. Inilah yang selalu menjadi kekuatanku. Dan kamu juga yang menjadi kelemahanku!" Ucap Gading membalik tubuh Alkira dan saling berhadapan dengan sang istri yang kini tersenyum lembut padanya.
"Kamu sumber kekuatanku dan juga kelemahanku, bang Gading. Aku berusaha menahan semua didalam hatiku demi kamu. Aku menutup mata dan telingaku demi kamu. Hanya saja.. Aku takut. Kamulah yang terluka karena keluargaku," lirih Alkira yang dengan cepat dibungkam oleh Gading dengan kecupan dahsyat darinya.
Seseorang dibalik pintu itu mengepalkan kedua tangannya. Ia menyusut bulir bening yang mengalir di pipinya dan segera berlalu darisana.
__ADS_1