Princess Pratama

Princess Pratama
Saling terbuka


__ADS_3

Sepulangnya dari makam Oma dan Opa, saat ini Tania dan Kendra sedang duduk di ruang tamu bersama Papi Tama dan mami Annisa.


Kedua orang itu merasa sedikit aneh dengan kedua anak muda itu. Apalagi Tania yang begitu kentara terlihat jika dirinya sedang memendam amarahnya saat ini.


Papi Tama bukanlah orang lain baginya. Ia merupakan lelaki pertama yang sudah membuat Tania bermimpi jika dimasa depan. Ia akan mendapatkan suami seperti papi Tama.


Seorang lelaki yang sayang istri dan anaknya tanpa berniat menduakannya. Sedangkan ini? Baru sehari menikah berselang berapa jam saja, dirinya sudah dibuat sport jantung dengan pengakuan sang suami padanya.


Istri mana yang tidak terluka jika ia mendengar itu langsung dari suaminya? Sakit? Sudah pasti. Tapi Tania tetap harus sabar.


Terkadang rasa marah itu sangat sulit untuk disembunyikan sama halnya seperti cemburu. Wanita bisa bertahan dari rasa sakit, tetapi tidak bisa bertahan sedikit pun dari rasa cemburu.


Inilah yang Tania rasakan sekarang. Memikirkan Kendra akan menikah lagi entah dengan siapa, seperti apa orangnya, cantik atau tidak, baik lebih darinya, atau apapun itu. Tania tidak bisa menerima itu.


Hatinya begitu panas mengingat ucapan Kendra yang akan menduakannya.

__ADS_1


Jika pernikahan sebagian orang itu tidak saling suka dan cinta, tidak masalah. Tapi ini? Keduanya sudah saling mencintai sedari kecil.


Cinta yang berasal dari cinta monyet berlanjut hingga ketika dewasa.


Papi Tama menatap Tania dengan lekat. Ia tahu, jika sedang terjadi sesuatu dengan keduanya saat ini.


"Tania.. Kendra.. Papi mau bicara. Bisa kalian fokus dulu sama apa yang Papi ucapkan?"


Kedua anak muda itu menoleh bersamaan. Karena sedari tadi keduanya menunduk dengan tatapan menuju ke tangan mereka yang bertaut dengan saling berdiaman.


Mami Annisa memegang tangan Kendra dan menggenggamnya. Sekuat tenaga Kendra menahan buliran bening itu agar tidak meluncur ke pipinya.


Ia menarik paksa ujung bibirnya saat mami annisa memegang tangannya.


"Kalau ada masalah, dibicarakan. Jangan saling berdiaman seperti ini. Maaf kami berdua ikut campur dalam rumah tangga kalian. Hanya saja, mami merasa jika kalian berdua itu sedang menghadapai masalah." ucap Mami Annisa yang diangguki oleh Kendra.

__ADS_1


"Saling terbuka dan jujur itu lebih baik. Jujur memang menyakitkan. Daripada berbohong tapi akhirnya ketahuan? Sakitan yang mana?"


Deg!


Jantung tania berdegup tidak karuan saat tangan hangat sang papi menyentuh buliran bening yang mengalir di pipinya.


Tania tidak kuasa untuk menahan tangis jika dihadapan sang papi. Cinta pertamanya.


Begitupun dengan Kendra. Ia terisak. Kedua orang tua itu menghela nafas berat.


Ternyata benar dugaan keduanya. Sedang terjadi guncangan masalah pada keduanya saat ini. Hingga keduanya sedikit berjarak seperti ini.


"Jujur Nak. Kalian itu ada masalah apa agar kami bisa membantu. Mami tidak sanggup melihat keterdiaman kalian seperti ini." imbuh Mami Annisa yang masih dijawab dengan isakan lirih keduanya.


"Saling terbuka jika ada masalah. Jangan saling diam seperti ini. Tidak akan ada jalan keluarnya kalau kalian berdua berdiaman seperti ini. Bangun komunikasi yang baik. Ceritakan, kemudian cari jalan keluarnya. Untuk Tania.. Dengarkan dulu apa yang Kendra katakan baru setelahnya putuskan dengan baik." Ujar Papi Tama pada Tania

__ADS_1


"Begitu juga dengan mu bang. Jujur itu lebih baik. Tetapi setelah kamu mengungkapkan kejujuran mu, coba pahami isi hati istrimu. Tanyakan pendapatnya. Apa dan bagaimana sebelum kamu berbuat. Karena jika kamu salah langkah, bukan kamu saja yang menanggungnya, Tania juga." Timpal Mami Annisa yang semakin membuat Kendra menagis tersedu.


__ADS_2