Princess Pratama

Princess Pratama
Ingin egois


__ADS_3

Tania menangis tersedu di pelukan Kendra. Ia tidak sanggup untuk kehilangan Kendra. ia ingin egois memiliki Kendra seorang diri.


Tetapi itu tidak mungkin. Satu minggu dari sekarang, ia akan menikahi adik sepupunya. Tania mengurai paksa pelukan itu yang membuat kendra terkejut.


"Kenapa?"


"Abang bisa membatalkan tidak pernikahan itu? Aku tidak rela jika kamu akan menikahi saudara sepupuku? Aku nggak ikhlas dan nggak akan pernah ridho.. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Tidak ingin dibagi dengan siapapun! Termasuk saudaraku!


Aku tidak bisa membayangkan jika kamu nantinya bersatu dengannya.. Memikirkannya saja membuatku sakit. Apalagi jika memang kamu melakukannya??


Aku nggak sekuat itu bang Kendra.. Aku nggak sekuat itu!" seru Tania lagi dengan tersedu.


Kendra kembali memeluk tubuh Tania yang kini bergetar.


"Dengarkan Abang, Hunny. Walaupun Abang menikahinya, tetapi Abang tidak akan menyentuhnya. Ziana tidak ingin melakukan hal itu. Abang pun tidak bisa. Abang menikahinya demi memenuhi janji Ummi dan Uwak Lana. Kamu tenang saja. Kalaupun kami menikah, Ziana tetap adik berstatus istri. Jika hanya sekedar pegang tangan atau berpelukan itu kan wajar? Toh kami berdua sah?"


Tania menggeleng, ia tidak bisa menerima itu. Pelukan pegangan tangan Kendra pada sepupunya itu begitu melukai hatinya.


Katakanlah jika ia cemburu. Ya, Tania cemburu. Bahkan sangat cemburu. Ia tidak bisa melihat hal itu di depan matanya.


Selama ini ia bertahan karena berusaha tegar. Tetap saja, rasanya sakit. Sakit tak berdarah melihat suami sendiri bergandengan dengan calon istri yang merupkan adik sepupunya sendiri.


"Dengar Hunny. Untuk seminggu ke depan. Lupakan mereka semua. Ingat tentang kita berdua saja. Abang melakukan ini untuk masa depan kita. Ada banyak hal yang tidak kamu tahu. Kalau pun kamu tahu.. Nyawa kamu dalam bahaya. Abang tidak mau itu! Jika sampai kamu tiada karena ulahku, maka diri ini akan beneran gila!"


Deg!


"Nggak! Abang nggak boleh bilang begitu! Jika Abang begitu, maka aku akan sama seperti mu! Kehilanganmu sama saja membuat diri ini gila!"


"Hunnyy.."

__ADS_1


"Ingin aku egois untuk memilikimu seorang diri. Baik! Untuk seminggu ini, aku akan melupakan mereka semua. Untuk seminggu ke depan, hanya ada kita berdua. Setelah itu, terserah padamu Bang Kendra.." lirih Tania dengan segera menubrukkan dirinya di dada bidang Kendra yang sudah lumayan berisi setelah tinggal dirumah Uwak Lana.


Bagaimana tidak, dirinya selalu dibuat tertawa saat tinggal disana. Hati dan pikirannya senang karena ucapan Uwak Lana, Uwak Maura, Malik dan Ziana yang selalu saja membuatnya tertawa.


Benar kata orang. Jika tinggal di tempat yang nyaman dan tenang, maka hati pun ikut senang dan nyaman.


Sama seperti Kendra. Selama tinggal disana, ia bisa melupakan sejenak tentang Tania yang sedang merajuk padanya.


Di rumah Uwak Lana ia selalu dibuat tertawa dengan ulah adik sepupunya. Ziana yang memang terkenal begitu lembut tetapi galak itu tak henti-hentinya membuat Kendra tertawa karena Malik selalu saja mengganggu nya yang membuat gadis kecil yang akan ia nikahi seminggu lagi itu selalu ribut dan bertengkar dengan Malik. Uwak Maura dan Uwak Lana selalu dibuat pusing oleh ulah kedua anaknya itu.


Mami Kinara dan Papi Ali hanya bisa tertawa melihat kejadian itu. Mereka pun ikut ada disana menemani Kendra.


Sedikit tidaknya, mereka tahu masalah Tania dan Kendra saat ini. Yang sama masalahnya seperti Gading putera angkatnya dan putri kecilnya yang kini sudah beranjak remaja.


"Hunny??"


"Hem.." jawab Tania masih ingin berlama-lama di dalam pelukan hangat itu.


Yang membuat Tania mengurai pelukannya dan menatap kesal pada Kendra yang kini tersenyum hingga menunjukkan giginya yang putih bersih dan rapi.


Manis sekali senyum itu yang membuat Tania berdecak sebal. Ia mengambil ponselnya dan memberikan pada Kendra.


Sebelumnya, ia memotret kamar mereka. Kendra terkekeh.


"Nah, Kirim ke papi!" ketusnya mendadak jutek.


Kendra terkekeh melihat wajah jutek Tania padanya.


"Siap Permaisuriku! Apapun untukmu! Cup!"

__ADS_1


"Ishhh.." Tania mendesis kesal karena lagi dan lagi putik ranum itu dicuri oleh Kendra.


Kendra mengetik pesan itu dan mengirimnya ke papi Tama.


"Sudah. Ibadah lagi yuk?"


"Hayuk!"


Brukk..


"Aaaaa.. Bukan ibadah ini yang aku iyakan Abang! Tapi ibadah sholat malam! Hhhmmpptthh.."


Mulut Tania dibungkam lagi oleh Kendra yang kini sedang sibuk dengan aktivitasnya.


Di kediaman nenek buyut Tania.


Papi Tama yang baru saja menyelesaikan sholat tahajudnya, segera mengambil ponselnya yang berdenting tiga kali.


Pertanda pesan masuk. Ia duduk di ranjang sambil menyentuh kepala mami Annisa yang masih terlelap.


Wanita cantik yang masih awet muda itu sedang berhalangan setelah malam kemarin di gempur olehnya.


Pagi-pagi, mami Annisa malah kedatangan tamu bulanan nya.


Maaf Pi. Abang yang menculik Tania. Saat ini kami sedang berada di hotel batu putih. Semua ini saran dari Uwak Lana.


Jadi.. Kalau papi mau marah, marahlah sama Uwak. Jangan Abang!


Papi Tama terkekeh. "Sudah ku duga. Pasti dalang penculikan ini adalah kamu Maulana Akbar! Tunggu saja kamu!" katanya masih dengan terkekeh saat melihat pesan gambar yang menunjukkan kamar pengantin keduanya.

__ADS_1


Beliau tersenyum lagi. "Tak lama lagi, aku akan memiliki cucu!"


Ia terkekeh sendiri dengan ucapannya.


__ADS_2